"Kenapa tidak kau katakan jika cinta itu mulai memudar. kenapa tidak jujur jika nama ku di hatimu telah digantikan olehnya, Kenapa kau terus berpura-pura menerima ku di hidupmu, kita bisa selesaikan semuanya, kita bisa akhiri kisah cinta kita, kenapa kamu justru menyakiti perasaan ku teramat dalam"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daisha.Gw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tantrum
Author POV
"ceraikan perempuan miskin itu Zidan" Zidan beralih penuh menatap sang ibu, sendok di tangannya berhenti bergerak. Zidan kembali makan, ia abaikan Dewi sang ibu.
"Zidan!" bentak Dewi karena anaknya mengabaikan ucapannya.
"apa sih mah!" kali ini Zidan tidak kalah tinggi.
"ceraikan Inayah, kamu tuli, akhiri hubungan kalian" Kali ini Zidan menghempas sendok nya ke atas piring, terdengar sekali bunyi piring yang saling beradu dengan sendok dan garpu. Zidan menatap penuh Dewi.
"kita sudah sepakat sejak awal, Zidan akan nikahi Karina dan tidak akan melepaskan Inayah" tegas Zidan.
"apa sih yang buat kamu tergila-gila dengan perempuan miskin itu, kamu di kasih makan apa sama dia sampai berani bentak mamah, Zidan!"
"terserah!" Zidan pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapannya, Karina menahan pergelangan tangan Zidan untuk kembali duduk di tempatnya.
"duduk sayang" Zidan menurut pada Karina, tidak ada bantahan yang pria itu berikan pada istri keduanya itu, begitulah Zidan, Zidan akan lakukan apapun yang di inginkan Karina kecuali jika permintaan itu untuk menceraikan Inayah, Karena Zidan tidak akan pernah bisa melakukannya.
"Duduk sayang, habiskan sarapan mu" di bawah meja, Zidan menggenggam erat jari-jari Karina untuk meredam emosinya karena ulah Dewi, Karina mengusap-usap punggung tangan Zidan dengan ibu jarinya, apa yang Karina lakukan benar-benar mampu menenangkan Zidan kembali, begitulah istimewanya Karina di hati Zidan, wanita yang dulu katanya tidak akan bisa menggantikan sosok Inayah di sana, tapi nyatanya ia salah, satu tahun pernikahan mereka terjadi, tepat anak perempuan mereka lahir, Zidan mulai tumbuhkan rasa cinta di hatinya untuk karina, rasa cinta itu yang perlahan-lahan membuat nama Inayah mulai tergantikan, wanita bermata teduh yang dua belas tahun menemani hidupnya.
Inayah POV.
Aku tidak tau bagaimana cara membujuk Aska, anak ku sedang tantrum, Aska berguling-guling di lantai dengan baju sekolah nya, habislah sudah baju sekolah itu kembali kusut. Aku hanya duduk di sofa dengan tangan memijat kepala ku yang mulai terasa pening menyaksikan kelakuan Aska.
Anak kecil ku mengamuk karena ia ingin di hari kedua sekolahnya di antar papahnya, bagaimana mau di antar, Zidan saja belum ada pulang sejak kemarin.
"nak, sudah ya, kita harus berangkat sekolah sayang"
"nggak mau, Aska mau papa, Aska mau di antar papah ke sekolah, Aska mau papa" Aska menjerit meraung-raung.
Ya Allah, aku benar-benar kehabisan cara untuk membujuk Aska, tadi malam Zidan sudah bilang akan pulang minggu ini, itu berarti masih tiga hari lagi, apa yang harus ku lakukan sekarang, sudah hampir pukul 8 pagi, dan Aska masih berguling-guling seperti ini, aduh bikin pusing aja kamu nak.
"Aska, mau papa, Aska mau papa, Aska mau papa" Aku benar-benar kehabisan cara, ku tinggalkan Aska sendiri di sana, kepala ku pusing sekali, aku tidak tau kenapa, sejak semalam suntuk sebenarnya aku merasakan nyeri, ku pikir sakitnya akan hilang seperti biasa setelah pagi, tapi kepala ku terus berdenyut hingga pagi. Apa lagi di tambah dengan tingkah Aska, rasanya kepala ku ingin terbagi dua.
"mamah" teriakan Aska mengiringi langkah kaki ku naik ke lantai dua, mungkin hari ini aku akan meminta ijin sekolah Aska karena tidak bisa berhadir dulu, apa kata mereka ya, baru dua hari sudah ijin saja, ya mau gimana lagi, kepala ku sakit sekali di tambah Aska yang sepertinya menolak untuk kesekolah jika tidak dengan papahnya.
"mama" sepertinya anak ku mengejar masuk ke kamar karena ku abaikan, aku duduk dengan menumpu kepala ku di atas meja rias.
"akhhh, kenapa sakit sekali"
"mamah" Aska menarik-narik bajuku, aku tidak tau apakah tarikan putra ku itu teramat kuat atau aku yang mulai kehilangan keseimbangan, aku terjatuh dari kursi. Aska menjerit sejadi-jadinya memanggil namaku, aku tidak pingsan, aku masih sadar sekali, sadar dengan rasa sakit yang ada di kepalaku, bahkan aku merasakan darah segar kental mulai mengalir melalui rongga hidungku.
"ma--mah mamah kenapa ma--mah, as--Aska minta maaf, mamah, maaf jangan marah sama Aska mah" Aska pasti ketakutan dengan darah yang mengalir keluar dari hidung ku, ku bersihkan darah itu dengan punggung tangan, kemudian aku berusaha untuk bangun meskipun rasanya ada sesuatu yang berat sekali menimpa kepala ku. Tangan ku bergetar meraih Aska yang Menangis menjerit-jerit untuk ku peluk.
"si--sini sayang, ma--mamah nggak ma--rah, sini nak" Aska langsung memeluk ku begitu erat, ia lingkaran tangannya di leherku, pasmina yang ku kenakan sudah tidak berbentuk lagi, aku mengusap punggung Aska yang bergetar ketakutan.
"maafin Aska mah, maaf"
"huus, sudah nak, mamah nggak marah"
"hidung mama berdarah, pasti karena Aska nakal, ya"
"nggak sayang, ini berdarah karena mama pusing kepalanya, bukan karena Aska"
"Aska janji nggak nakal lagi, Aska janji nggak guling-guling lagi, Aska janji nurut apa kata mamah, Aska nggak mau mama sakit kepala lagi, Aska nggak mau"
"iya sayang iya" ada apa dengan ku, kenapa sakit sekali, aku sering sakit kepala tapi tidak separah ini, bahkan sampai keluar darah, apa yang salah dengan ku, apa aku harus memeriksa kesehatan ku, aku takut, jujur aku takut.
....
Setelah berpikir akhirnya ku putuskan untuk tidak mengantarkan Aska sekolah dulu, aku butuh istirahat, Aska juga butuh di tenangkan, Aska terkejut saat aku jatuh tadi, ia terus merasa bersalah dan meminta maaf.
Aku mengayun-ayunkan Aska di gendongan ku, tubuh anak ku itu sudah cukup besar dan terasa berat, tapi Aska suka jika aku mengayun nya seperti ini, dia lebih cepat tidur nya.
Tuh kan benar, Aska sudah tidur saja, padahal baru sepuluh menitan, Aska sudah tidak menggunakan baju sekolah nya, aku sudah menggantinya dengan baju rumahan. Ini sebenernya sudah jam 12 siang, Aska tadi sempat tantrum lagi dan menolak untuk mengganti bajunya tapi setelah dibujuk akhirnya dia menurut juga.
Ku letakkan dengan hati-hati Aska ke tempat tidurnya, aku juga harus bersiap untuk sholat dan istirahat sebentar, sepertinya aku hanya kecapean saja, makanya tadi mimisan, akunya saja yang penakut.
Ku dirikan Sholat Dzuhur di dalam kamar, setelah itu aku tidur sebentar.
....
Author POV
"Kapan nih Zidan... Nesha dapat adik lagi?" ibu-ibu berbaju merah itu menyenggol bahu Zidan.
"nanti Bu, tunggu Nesha agak besar dikit, kesian kalau nanti cinta Papanya dibagi, iya kan sayang?" Karina melirik Zidan, sebenarnya ini bukan tentang adik baru untuk Nesha, dan Zidan paham betul, Kemana arah ucapan sang istri.
"iya" jawaban Zidan singkat.
"tuh bu, jadi jelas ya, Zidan itu nggak mau bukannya apa, takut saja Nesha mendapatkan kasih sayang yang kurang di umur yang masih terlalu kecil"
Zidan tersenyum, mengiyakan ucapan istirnya.
Tidak ada satupun dari mereka yang mengenali Inayah sebagai istri Zidan, yang mereka tau hanyalah Karina, Karina putri bungsu anak pemimpin perusahaan yang begitu berjaya.
Sedangkan Inayah hanyalah anak dari orang tua pensiunan PNS, bukan pengusaha seperti Karina dan Zidan. Selama menjadi istri Zidan, Inayah di sembunyikan dari publik, Inayah dengan ketulusan hatinya, tidak pernah sedikitpun merasa di kucilkan atau di asingkan dari keluarga suaminya sendiri.
Inayah tidak peduli juga, ia juga tidak berharap di akui, yang penting ada Zidan di sampingnya. lima tahun sudah mereka menikah, tidak pernah sekalipun orang tua atau keluarga Zidan datang menginjakkan kaki di rumah Inayah dan zidan tempati, mungkin mereka juga sudah tidak mengenali wajah cucu mereka, yang juga tidak pernah mendapatkan pengakuan dari mereka.
Sebenarnya orang tua Inayah meminta anaknya untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Zidan, ia takut anaknya tidak bisa di hargai karena perbedaan status mereka, tapi Inayah dan Zidan terus saja meyakinkan keduanya dan berkahir dengan restu dari orang tua Inayah.
Ternyata apa yang di khawatirkan orang tua Inayah benar-benar terjadi sekarang, anaknya tidak pernah di anggap oleh keluarga suaminya, bahkan putri mereka di selingkuhi.
Sakit sekali jika menjadi Inayah, berusaha tegar di ata semua permasalahan hidupnya.