Ada terselip doa di setiap nama yang diberikan orang tua pada anak-anaknya. Begitu juga seorang perempuan tangguh yang memberikan putri nya nama RIANG. Tentu dia berharap jika putrinya menjadi pribadi yang riang dan selalu bahagia dengan senyuman yang selalu merekah.
Tapi ...ada hal yang membuat gadis yang bernama Riang itu, tak menjadi seriang dulu.
Ini... judul ya ke sekian ya teman2 reader's 🙏🙏🙏 semoga menarik untuk di baca dan bisa dinikmati. Terimakasih 🙏
🤗🤗🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Om? Kenapa Om masih di sini?", ulang Riang. Dia heran karena hanya Ziyad yang ada di dalam ruangan itu.
"Om mau bicara sama Riang dan mamanya Riang juga!", jawab Ziyad.
"Tadi om sudah bertanya sama aku, soal aku takut gunting dan pisau atau nggak kan? Aku juga sudah menjawab, aku yang melukai om-om jahat itu! Apa masih ada lagi yang ingin om tanyakan?", tanya Riang dengan sorot matanya yang tidak suka Ziyad masih di ruangannya.
"Tapi masih banyak pertanyaan yang harus om ajukan sama mamanya Riang."
Riang menatap mamanya seolah sedang bertanya, apakah mamanya bersedia berbicara dengan Ziyad?? Dan citra pun mengangguk pada Riang.
"Mama akan bicara pada pak polisi dulu,Ri! Sebentar ya!", kata Citra.
"Kita bicara di luar!"
"Ngga! Aku mau bicara di sini, tentang kita!", kata Ziyad menoleh pada Riang yang memperhatikannya.
Citra mulai menebak-nebak hal apa yang akan Ziyad bicarakan.
"Dia putri ku?", tanya Ziyad lirih tapi menatap Citra begitu tajam.
Citra tersenyum tipis, ya...Ziyad pantas mempertanyakan status Riang. Sebagai seorang perempuan dan ibu sekaligus, dia merasa sudah tak memiliki harga diri sama sekali di hadapan Ziyad.
"Bukan! Dia putri ku! Hanya putri ku!", jawab Citra tanpa menatap wajah Ziyad.
"Kenapa? Kenapa kamu menjawab seperti itu?", Ziyad masih menatap Citra dengan pandangan tegasnya.
"Karena kenyataannya aku yang melahirkannya."
"Citra! Stop! Cukup Cit!", Ziyad mengangkat kedua tangannya. Riang tampak mendengarkan obrolan dua orang dewasa di hadapannya tanpa ikut berbicara.
"Aku akan membuktikannya dengan tes DNA jika kamu tidak mau jujur mengatakan yang sebenarnya!"
Citra tak berani menatap mantan kekasih yang masih ia cintai hingga detik ini. Lelaki yang sudah menemaninya sejak menginjak bangku SMA. Sosok laki-laki yang berjanji akan menjadi masa depannya. Tapi ternyata takdir tak berpihak pada keduanya...
"Untuk apa kamu mempertanyakan hal seperti itu Zi? Bukankah kamu juga ragu-ragu? Enam tahun, banyak hal yang sudah terjadi, berubah bahkan terlewati bukan?", Citra masih enggan menatap pujaan hatinya itu.
Ziyad memegang kedua bahu Citra dengan sedikit tekanan.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya saat itu Citra....kenapa???", Ziyad mengguncang bahu Citra dengan keras hingga Citra mundur ke belakang beberapa langkah.
Jika umumnya anak kecil akan merasa takut dengan adegan seperti Ziyad dan Citra, Riang justru menatap keduanya datar.
Bibirnya memang diam. Tapi otaknya bekerja keras, Riang merupakan pemikir hebat! Dia akan mencari tahu sendiri tanpa bertanya lebih dulu.
Citra mulai menangis dan terisak pelan. Sungguh! Dia pun merasa berat melakukannya. Tapi Citra tidak ingin membuat masa depan Ziyad hancur karena perbuatan mereka yang di luar batas saat itu.
"Jawab Citra? Jawab! Kenapa Citra!", Ziyad merosot di bawah kaki Citra. Citra mundur ke belakang hingga ia terduduk di sofa.
"Jawab Citra? Kenapa kamu menyembunyikannya dari ku? Kenapa aku harus bertemu dengan darah daging ku justru dalam keadaan seperti sekarang ini Cit? Kenapa....??!!!", Ziyad tergugu.
"Aku...aku hanya tidak ingin merusak masa depan kamu Zi! Pendidikan dan karir kamu lebih penting. Aku ngga mau kamu mengecewakan kedua orang tua mu. Jika memang harus hancur, cukup aku saja yang hancur! Jangan kamu Zi...hiks ...hiks...!"
"Tapi kalau sudah seperti ini, kamu pikir aku tak hancur Cit? Iya? Aku seorang ayah yang tak pernah tahu jika aku memiliki seseorang putri! Sekalinya aku tahu... astaghfirullahaladzim!"
Perlahan adegan di depannya membuat Riang menitikkan air matanya. Pendidikan? Karir? Sepertinya Riang beberapa kali bertanya pada mamanya tentang papanya yang tak kunjung menemui mereka dengan alasan sekolah yang belum selesai. Gadis kecil itu berpikir begitu dalam.
Baik Citra maupun Ziyad, keduanya sama-sama terdiam. Larut dalam kesedihan masing-masing.
"Sudah bertengkarnya?", tanya Riang kepada mamanya yang sudah mulai tenang. Citra menghapus air matanya. Matanya memang selalu sembab akhir-akhir ini.
"Mama tidak bertengkar sayang!", kata Citra. Ziyad bangkit dari lantai lalu menghampiri Riang yang menatapnya intens.
"Apa dia papa Riang yang sering mama katakan? Papa Riang yang katanya masih sekolah?", tanya Riang dengan wajah polosnya. Tapi siapa yang menyangka jika dalam tubuhnya ada jiwa yang tak pernah orang sangka sama sekali.
Mata Citra dan Riang beradu pandang. Citra tak ingin menjawab pertanyaan Riang. Dan Riang sebenarnya juga tak butuh jawaban mamanya karena dia tahu kebenarannya.
Ziyad tampak ragu-ragu ingin mendekati Riang yang kini menatapnya.
"Om polisi, papa ku?", tanya Riang. Ziyad tak langsung mengiyakannya. Dia menatap wajah Riang yang bertanya tapi ekspresi wajahnya tampak biasa saja.
"Bagaimana jika iya, Riang? Apa Riang akan marah, papa baru menemui Riang dan mama Citra sekarang?"
Riang menggeleng.
"Ngga! Riang ngga marah!", jawab Riang yang tak meyakinkan di pendengaran Ziyad.
"Kalo Riang ngga marah, boleh papa peluk Riang?", tanya Ziyad. Riang menggeleng.
"Ngga mau!", jawab Riang. Ziyad menghela nafasnya. Wajar jika Riang bersikap seperti itu.
"Baiklah kalau papa tidak boleh memeluk Riang!"
Riang bergeming. Sedang Citra masih terisak pelan mendengar obrolan Riang dan Ziyad. Setelah menolak Ziyad, Riang merebahkan dirinya lalu menyelimuti tubuhnya hingga dada.
Hati Ziyad semakin hancur saat diabaikan oleh anak kandungnya sendiri. Melihat Riang menyelimuti tubuhnya, Ziyad kembali beralih pada Citra.
Ziyad mengambil berkas tentang perkembangan kasus Citra dan Riang.
"Bacalah?!", pinta Ziyad. Citra menerima berkas dari tangan Ziyad.
Dengan begitu pelan Citra membaca laporan demi laporan. Hingga ia melihat laporan tentang Riang.
"Maksudnya apa ini Zi?", Citra menatap tak percaya dengan isi dari laporan tersebut.
"Riang bukan psikopat! Riang ngga gila! Laporan apa seperti ini!", Citra meletakkan berkas tersebut begitu saja.
"Tapi fakta di lapangan seperti itu", gumam Ziyad.
Citra menggeleng perlahan.
"Bipolar disorder? Ngga! Riang ngga seperti itu Zi? Riang masih kecil??!!", Citra tak percaya dengan apa yang tertulis di berkas laporan.
Ziyad memahami kekalutan Citra. Sebagai seorang ibu pasti dia sangat sedih.
"Kita obati Riang!", kata Ziyad. Citra menatap mata lelaki yang ia puja tersebut.
Benarkah sang putri mengalami hal seperti itu????
****
Terimakasih yang sudah berkenan mampir. Insyaallah mulai besok rajin updatenya 🤭🤭🤭🤭
Kan Lingga dan Galuh sudah selesai. So... insyaallah Mak othor bisa stay tune,🤣🤣🤣🤣 dimari....
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
21.49
saya kira lbh sopan
kerenan dikit ngapa?
apa mak othor juga nulis di app lain...kasihtau donk maak...