Gara-gara satu malam dengan pria yang tidak dikenal, membuat seorang wanita cantik bernama Bianca terikat dengan seorang pria dewasa yang lebih tua darinya.
Bianca yang memiliki kekasih dan akan bertunangan siapa sangka justru menghabiskan satu malam dengan paman sang kekasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB_7 Bertemu orang tua Bianca
Napas Bianca tersengal, tangannya memukul pelan dada Bima untuk menyudahi.
Bima bergerak memberi jarak, melepaskan ciumannya. Benang saliva terjalin diantara bibir keduanya, membuat kesan seksi dan menggelora. Bima menempelkan keningnya dengan kening Bianca, napas Bianca memburu dengan dada naik turun. Perlahan tangan besar itu membelai pipinya.
Tidak ada kata yang terucap hanya tatapan keduanya yang saling bertemu, Bianca meraup udara sebanyak-banyaknya. Menetralkan detak jantungnya yang terus berdebar.
Bima menurunkan pandangannya, dan matanya tertuju pada dada Bianca yang terlihat sedikit menyembul dari penyangganya.
"Dia sedikit lebih besar." Gumam Bima dengan posisi yang masih sama.
Bianca yang mendengar langsung mendorong dada Bima membuat pria itu mundur berjarak.
"Mesum!" Kesal Bianca sambil membenarkan kerah bajunya ke atas.
Bima menarik sudut bibirnya, Bayangan malam percintaan mereka terlintas.
"Mereka mainan favorit saya, tentu saja aku tahu ukuran sebelum dan sesudahnya, seperti sekarang. Dia memiliki ukuran yang lebih besar." Bima menunjukan tangannya, matanya menatap Bianca nakal.
Bianca membulatkan matanya, wajahnya memerah karena malu dan juga marah dengan ucapan Bima yang seperti menghinanya.
"Jangan menatapku seperti itu," Bima mengulurkan tangannya, mengusap sisi pipi Bianca.
"Aku tidak tahu akan seperti apa reaksi keponakan ku itu, jika tahu wanita yang akan dia nikahi ternyata sudah tidur dengan-"
Plak
Satu tangan Bianca mendarat di pipi Bima, membuat pria itu menoleh dengan menyunggingkan senyum.
Bianca menatap Bima dengan tangan yang masih terangkat di udara, dia reflek menampar Bima.
"A-aku." Bianca meremas tali tasnya. Dadanya bergemuruh namun juga merasa menyesal.
Bagaimana jadinya jika Geri benar-benar tahu, bagaimana jika semua tahu tentang apa yang terjadi padanya. Bagaimana dengan orang tuanya dan bagaimana jika Geri tidak menerimanya.
"Dengar! Jika kau masih melanjutkan pertunangan itu. Maka kau akan di hantui rasa bersalah itu. Kau tidak akan hidup tenang Bianca." Ucap Bima dengan datar.
Kini mobil melaju meninggalkan tempat sepi itu. Sepanjang perjalanan Bianca hanya diam, namun tidak dengan pikirannya yang rumit.
Tak lama mobil Bima sampai di depan rumah Bianca, malam itu tampak terlihat sepi, namun saat mobil berhenti tak lama pintu rumah Bianca terbuka, dan muncullah kedua orang tua Bianca.
"Papa, Mama." Gumam Bianca yang merasa tidak enak.
Bima menoleh dan melihat kedua orang tua Bianca berdiri di teras.
"Paman sebaiknya anda pergi, atau-"
"Atau apa?" Bima menatap wajah Bianca yang kebingungan.
"Atau masalah yang akan datang." Mendengar ucapan Bianca tentu saja Bima tahu maksudnya.
"Kita lihat, bagaimana kau menyelesaikan masalah."
Blem
"Pam-arggghh!" Bianca menggeram marah melihat Bima yang justru turun dari mobil.
Bianca segera turun, wajahnya tegang melihat kedua orangtuanya.
"Duh, apa yang harus aku katakan." Gumam Bianca mulai takut.
"Selamat malam Om, Tante." Sapa Bima ramah.
"Malam, anda?" Papa Bianca menunjuk Bima, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Dia paman Geri pah, mah!" Ucap Bianca cepat dengan wajah tegang menatap kedua orangtuanya.
"Paman? Bukanya dia?" Lagi-lagi Bianca memotong ucapan papanya membuat Bima mengulas senyum.
"Pah, tadi nggak sengaja ketemu, terus paman Bima antar Bianca." Bianca merangkul lengan papanya, dan menatap Bima sinis.
"Ya, kenapa nggak disuruh masuk."
Bianca menatap mamanya tak percaya, "Paman si-"
"Terima kasih Tante, kebetulan saya juga ada perlu dengan Om Andre." Kali ini Bima yang memotong ucapan Bianca.
Bianca menatap sang papa, dan Bima bergantian. "Kok paman tau nama papa?" Ucapnya tanpa sadar.
Bima hanya tersenyum, begitu juga dengan papa Bianca.
"Sepertinya saya ingat sekarang, Bima ayo masuk."
Bianca melongo melihat papanya justru terlihat akrab dengan paman calon tunangannya itu.
Dan kini justru Bianca yang merasa orang asing.
"Sayang, ayo masuk. Kenapa bengong?" Mama Bianca menatap putrinya yang justru terlihat bengong menatap punggung dua pria yang sudah lebih dulu masuk.
"Ma, mereka?"
"Mama nggak tau, nanti kita cari tau." Mama Bianca menarik tangan putrinya untuk masuk.
Sepanjang waktu Bianca masih dipenuhi rasa penasaran, apa mereka saling kenal atau bagaimana. Kenapa mereka berada diruang kerja lama sekali.
Bianca justru seperti seorang wanita yang menunggu kekasihnya dengan cemas.
"Bi, panggil papa mu gih, makan malam sudah siap." Seru mama Bianca dari dapur.
Bianca yang sedang duduk gelisah langsung berdiri, kesempatan untuk tahu apa yang mereka bicarakan.
Bianca berjalan pelan, agar suara langkah kakinya tak terdengar sampai di depan pintu ruang kerja sang papa.
Bianca mengendap, pintu yang sedikit terbuka membuat Bianca merasa beruntung, telinganya ia tempelkan di celah pintu, jika dilihat Bianca persis seorang penguntit yang penasaran.
"Saya tidak tahu kalau kamu paman Geri." Ucap papa Andre terdengar di telinga Bianca.
"Saya juga tidak tahu kalau Geri akan menikahi anak anda." Balas Bima.
Bianca mengerutkan hidungnya, merasa lebay mendengar ucapan Bima.
Bianca menarik napas, sebelum mengetuk pintu dan memunculkan dirinya.
"Pa, makan malam sudah siap. Mama nunggu di bawah."
Papa Andre tersenyum, "Iya sayang," Papa Andre menatap Bima didepanya, "Ayo sekalian makan malam. Tante Nita pasti sudah masak banyak." Lanjutnya lagi.
Kedua pria itupun segera beranjak, Bianca berdiri di ambang pintu, papa Andre berjalan lebih dulu dan di belakang ada Bima.
"Paman, apa yang kalian bicarakan." Bianca menarik baju lengan Bima menggunakan dua jarinya, seperti mencubit.
Bima terhenti menatap Bianca dengan senyum yang sialnya membuat Bianca terpaku.
"Mau tau aja, atau mau tau banget." Goda Bima membuat wajah Bianca kesal.
"Gak penting juga." Bianca yang kesal pergi begitu saja dengan wajah ditekuk, membuat Bima tersenyum.
"Dasar." Gumam Bima.
Di meja makan, mereka duduk dengan tenang, makan malam kali ini terasa berbeda terutama untuk Bianca, dia tampak seperti obat nyamuk di antara ketiganya. Bianca di cuekin, kedua orang tuanya lebih banyak bicara dengan Bima.
"Jadi nak Bima ini anak Pak Tora?"
"Iya Ma, saat melihat Bima papa jadi ingat dengan beliau." Timpal papa Andre.
Bianca tampak seperti kesal, beberapa kali sendok dan piring beradu dan menimbulkan bunyi yang nyaring.
"Bi, kamu kenapa? Gak suka masakan Mama?" Tanya Mama Nita menatap Bianca.
Semua perhatian tertuju pada Bianca membuat wanita itu sedikit kikuk.
"Nggak Ma, Bi suka kok." Matanya melotot pada Bima yang sejak tadi menjadi pusat pembicaraan.
"Bianca sekarang sudah besar ya Om, dulu pas kecil buang ingus aja nggak bisa, tapi sekarang malah sudah bikin ingus."
what!
Bianca melotot dengan wajah memerah, kedua tangannya mengepal dengan tatapan tajam.
Sedangkan Bima hanya tersenyum tampan, tanpa perduli dengan ucapannya yang ambigu dan membuat Bianca merasa marah.
blm maju sdh mati diax 🤣
makasih Thor upnya🙏😍
tp makanya di kasih pak Candra di makan ga tuh kira" ya