Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 07

Di balik lemari kayu tua yang sempit, napas Kirana tertahan. Tubuhnya menempel rapat pada tubuh tegap Kenan yang masih terasa sedikit hangat sisa demam semalam. Clarissa, yang masih berdiri di dekat meja utama, membolak-balik kertas dengan helaan napas gusar sebelum akhirnya membalikkan badan dan melangkah keluar sambil membanting pintu ruang OSIS.

Brak!

Suara pintu yang tertutup memecah ketegangan. Kirana dengan cepat mendorong dada Kenan, menjauhkan dirinya beberapa langkah hingga punggungnya menabrak rak besi.

"Bisa-bisanya lo malah senyum pas situasi kritis begitu?!" omel Kirana dengan suara berbisik yang ditahan, matanya melotot tajam ke arah Kenan.

Kenan merapikan posisi kemeja dan jas OSIS-nya yang sedikit kusut. Binar samar yang sempat terlihat di matanya mendadak lenyap begitu saja, berganti dengan raut wajah datar yang dingin bagai es, raut khas Ketua OSIS SMA Garuda yang paling ditakuti.

"Nggak ada yang perlu ditakutkan kalau lo nggak melakukan kesalahan," ujar Kenan dingin, suaranya kembali bernada formal dan irit ekspresi. Ia melangkah kembali ke meja kerjanya, mengambil botol air hangat yang dibawa Kirana lalu memasukkannya ke dalam tas tanpa sepatah kata ucapan terima kasih lagi.

Kirana terperanjat. Perubahan sikap Kenan yang secepat kilat membuat dadanya terasa seperti dihantam batu halus. Mana Kenan yang semalam meluk tangan gue sambil melarang gue dekat-dekat sama Rendy? Mana Kenan yang tadi nyender di perut gue?! batin Kirana berapi-api.

"Lo tuh bener-bener ya..." Kirana menggerakkan jarinya di udara, kehabisan kata-kata. "Bunglon aja kalah cepat berubah warna dibanding lo! Baru juga sembuh, udah balik lagi jadi robot!"

Kenan mendongak, menatap Kirana lurus lewat manik matanya yang tajam. "Ini lingkungan sekolah, Kirana. Jangan campur adukkan urusan rumah dengan tugas di sini. Poin pelanggaran lo karena berkeliaran di area ruangan osis tanpa izin resmi masih berlaku."

"Apa?! Poin pelanggaran?!" jerit Kirana tidak percaya. "Gue kesini bawa air hangat buat lo yang lagi pusing! Gue yang ngerawat lo dari semalam!"

"Dan gue tidak pernah meminta lo datang kesini" potong Kenan tanpa beban, menggeser beberapa lembar dokumen di mejanya. "Sekarang kembali ke kelas lo sebelum gue catat nama lo di buku piket."

Muka Kirana memerah padam karena amarah dan rasa malu yang membumbung tinggi. Ia merasa sangat bodoh telah bersikap manis dan mengkhawatirkan cowok tak berhati di hadapannya ini.

"Oke! Bagus!" seru Kirana sinis sambil menyambar tas kecilnya. "Anggap aja gue gak pernah peduli sama lo! Dasar cowok gila!"

Kirana membalikkan badan, melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan membanting pintu ruang OSIS dari luar.

Setelah kepergian Kirana, Kenan terdiam di kursinya. Ia memegangi pelipisnya yang sebenarnya masih terasa agak berdenyut, menghela nafas panjang. Ia memandangi pintu yang baru saja terbanting. 

“Bagus, “batin Kenan. “ Lebih baik dia marah daripada Clarissa atau murid lain makin curiga dan membahayakan posisi Kirana di sekolah ini.”

Di dalam kelas XII IPA 2, Kirana menghentakkan tubuhnya ke kursi hingga meja bergetar. Maya yang sedang mengunyah keripik kentang sampai tersedak.

"Biasa aja kali, Kir! Itu meja gak dosa sama lo," tegur Maya sambil mengelus dadanya. "Gimana tadi? Lo ketemu sama si Ketos?"

"Nggak usah sebut-sebut nama cowok tengil itu lagi di depan gue!" bentak Kirana penuh emosi, melipat tangannya erat-erat di dada. "Gue sumpahin dia kena sariawan sepuluh biji di bibirnya biar makin nggak bisa ngomong!"

Maya memicingkan mata curiga. "Lah, bukannya tadi pagi lo kelihatan khawatir banget pas dia nawarin kotak pulpen? Kok sekarang mendadak emosi tingkat dewa lagi?"

"Gue khilaf! Gue cuma kasihan sama orang sakit, tapi ternyata orangnya nggak tahu diri!" oceh Kirana berapi-api. "Mulai detik ini, gue nggak bakal sudi peduli lagi sama dia. Mau dia pingsan, mau dia masuk jurang, terserah!"

Maya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya. "Aneh lo berdua. Benci tapi nempel terus kayak perangko. Awas loh, makin benci makin jadi cinta."

"Najis tralala!" tukas Kirana cepat, menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan buku pelajaran.

….

Sore harinya, saat bel pulang sekolah berbunyi, hujan gerimis kembali membasahi halaman SMA Garuda. Kirana sengaja melangkah cepat keluar kelas, mengabaikan Maya yang mengajaknya ke kantin terlebih dahulu. Kirana tidak mau berjalan berbarengan atau menunggu Kenan di tempat biasa.

Ia berjalan lurus menuju gang sempit dekat minimarket dengan payung warna kuningnya. Pikirannya sibuk merutuki Kenan. “Lihat aja nanti di rumah, gue mogok kerja! Gue nggak mau nyapu, gak mau nyuci piring! Biar tahu rasa itu cowok sok berkuasa!”

Namun, ketika Kirana tiba di dalam gang minimarket, motor sport hitam milik Kenan belum tampak di sana.

Kirana melirik jam di ponselnya. Pukul 16.15 WIB. Biasanya Kenan selalu tiba tepat waktu, bahkan lebih dulu daripada dirinya. Kirana berdiri di bawah kanopi minimarket, melipat tangannya sambil menghentakkan kaki ke lantai.

Sepuluh menit berlalu.

Dua puluh menit berlalu.

Hujan yang tadinya hanya gerimis kecil perlahan berubah menjadi lebat. Suara gemericik air diatas atap minimarket makin deras. Kirana mulai celingukan menatap ujung jalan raya.

"Mana si Es Batu itu? Jangan-jangan dia sengaja nempatin gue di sini biar kehujanan?" gumam Kirana, rasa kesalnya perlahan berganti menjadi gelisah.

Kirana merogoh ponselnya, hendak mengirimkan pesan singkat. Namun gengsinya menahan jarinya di atas layar. “Nggak! Ngapain gue ngontak dia duluan? Nanti dia kegeeran lagi!”

Tiba-tiba, sebuah mobil Honda Jazz warna merah berhenti tepat di depan gang minimarket. Kaca mobil diturunkan, memperlihatkan sosok Rendy yang mengenakan jaket olahraga tim basket.

"Kirana?!" panggil Rendy sedikit berteriak menembus suara hujan. 

"Lo ngapain berdiri sendirian di situ? Hujannya makin deras loh!"

Kirana tersentak. "Eh… Rendy? Gue... gue lagi nunggu angkot."

"Angkot jam segini jarang lewat gang sini, Kir, apalagi lagi hujan lebat begini," ujar Rendy sambil membukakan pintu penumpang depan dari dalam. "Ayo masuk! Gue anterin pulang. Daripada lo kedinginan di situ."

Kirana ragu-ragu. Di satu sisi, ia sangat ingin menolak karena teringat ancaman Kenan mengenai aturan rumah dan amukan cowok itu kalau melihatnya jalan bersama Rendy. 

Tapi disisi lain, Kenan sendiri yang mengabaikannya dan membuatnya menunggu hampir setengah jam di tengah hujan deras.

“Biarin aja! Lagian Kenan sendiri yang nggak jemput gue! Biar dia tahu gimana rasanya dikacangin” batin Kirana emosi sendiri.

"Beneran gak apa-apa nih, Ren?" tanya Kirana memastikan.

"Santai aja kali, Kir. Kayak sama siapa aja. Ayo naik!" senyum Rendy mengembang.

Kirana melangkah menuju mobil Rendy, melipat payung kuningnya, dan masuk ke dalam kursi penumpang. Mobil merah itu kemudian memutar arah dan melaju menembus tirai hujan menuju kawasan perumahan.

Sementara itu, di koridor utama SMA Garuda, Kenan baru saja selesai menenangkan perdebatan antara pembina ekskul dan pengurus Pensi. Langkah kakinya terburu-buru menyusuri lorong yang sudah sepi. Jas OSIS nya dilampirkan di lengannya, dan wajahnya tampak amat tegang. Ponsel di sakunya bergetar. Kenan merogohnya dan melihat tidak ada satu pun pesan dari Kirana.

Ia melirik jam tangannya. Pukul 16.35 WIB.

"Sial," umpat Kenan pelan, berjalan semakin cepat menuju tempat parkir motor. Rapat mendadak tadi benar-benar menyita waktunya hingga ia lupa mengabari Kirana kalau ia tertahan di ruang OSIS.

Dengan menembus hujan lebat menggunakan jas hujan, Kenan memacu motor sport hitamnya menuju gang minimarket. Hatinya diselimuti rasa cemas. Ia tahu betul Kirana paling benci menunggu dan mudah sekali terserang flu kalau terlalu lama terpapar udara dingin.

Namun, saat Kenan tiba di gang minimarket, tempat itu kosong melompong. Hanya ada genangan air hujan dan beberapa bangku plastik sepi.

Kenan mematikan mesin motornya, melepas helm, lalu berjalan memeriksa area minimarket. Kirana tidak ada di sana.

Kenan merogoh ponselnya dan langsung menekan tombol panggilan ke nomor Kirana. Panggilan pertama, tidak diangkat. Panggilan kedua, dialihkan.

Dahi Kenan berkerut tajam. Rahangnya mengeras menahan amarah dan kekhawatiran yang bercampur aduk. “Dia kemana sih?”

….

Mobil Rendy berhenti tepat di persimpangan jalan masuk menuju kompleks rumah minimalis Kirana dan Kenan. Kirana sengaja meminta Rendy menurunkannya di sana agar Rendy tidak tahu rumah persisnya.

"Makasih banyak ya, Ren. Udah mau repot-repot nganterin gue," ucap Kirana tulus sambil tersenyum.

"Sama-sama, Kir. Santai aja," balas Rendy hangat. "Nanti kalau butuh tumpangan lagi, tinggal kabarin gue aja. Nomor gue kan udah ada di lo."

"Iya, Ren. Hati-hati di jalan," ujar Kirana sebelum keluar dari mobil.

Kirana berjalan menyusuri trotoar kompleks menggunakan payung kuningnya. Begitu sampai di depan pagar rumah, Kirana tertegun melihat motor sport hitam milik Kenan sudah terparkir di dalam garasi. Helmet full face-nya tergeletak asal di atas meja teras, basah kuyup oleh air hujan.

“Dia udah pulang?” batin Kirana, entah kenapa rasa cemas mendadak menyusup ke dadanya.

Kirana mendorong pintu depan rumah yang ternyata tidak terkunci. Suasana ruang tamu tampak gelap dan hening. Hanya ada suara rintik hujan di luar dan gemercik air dari arah dapur.

Kirana melepas sepatunya, melangkah masuk perlahan. 

"Kenan?"

Tiba-tiba, sosok tegap Kenan muncul dari balik lorong dapur. Bajunya setengah basah, rambut hitamnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak sangat dingin, jauh lebih dingin dibanding saat ia menghukum siswa terlambat di gerbang sekolah.

"Dari mana?" tanya Kenan singkat, suaranya bernada rendah dan berat.

Kirana menghentikan langkahnya, mencoba menegakkan kepalanya untuk menutupi rasa gugup. "Dari sekolah lah, dari mana lagi?"

"Naik apa?" cecar Kenan lagi, melangkah mendekat hingga berdiri hanya berjarak satu meter di depan Kirana.

"N-naik mobil," jawab Kirana jujur, namun suaranya sedikit bergetar.

"Mobil siapa?" Kenan menatap Kirana lurus-lurus, tidak memberi ruang sedikitpun bagi Kirana untuk mengalihkan pandangan. 

"Mobil Rendy?"

Kirana menyipitkan mata, rasa kesalnya yang sempat tertahan kembali menyala. "Iya! Mobil Rendy! Kenapa?! Masalah buat lo?!"

"Kirana," panggil Kenan, menyebut nama cewek itu dengan nada peringatan yang teramat jelas. "Gue udah bilang berapa kali? Jangan berhubungan sama Rendy di luar urusan sekolah. Apalagi sampai naik mobil dia."

"Lo pikir gara-gara siapa gue harus naik mobil Rendy?!" bentak Kirana akhirnya meluapkan emosinya. "Gue nungguin lo hampir setengah jam di minimarket! Hujan deras, angin kencang, dan lo nggak ada kabar sama sekali! Telepon nggak ada, pesan nggak ada! Terus sekarang lo mau nyalahin gue gara-gara gue menerima tumpangan orang yang berniat baik mau nolongin gue?!"

Kenan terdiam sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit goyah mendengar tuduhan Kirana. "Gue ada rapat mendadak sama pembina Pensi"

"Alasan!" potong Kirana sinis. 

"Kalau di sekolah lo bisa sok disiplin dan mematuhi aturan, kenapa soal janji jemput gue lo sepelekan? Lo yang bikin aturan jam malam dan jemputan, tapi lo sendiri yang melanggar!"

"Gue nggak menyepelekan lo, Kirana!" tegas Kenan, suaranya meninggi satu oktaf dari biasanya. "Gue datang ke minimarket itu! Gue nyariin lo sampai basah kuyup begini! Tapi pas gue sampai sana, lo udah hilang dan jalan sama cowok lain!"

"Ya lagian siapa yang mau nunggu cowok yang di sekolah aja ngatain gue berkeliaran dan mau nyatat nama gue di buku pelanggaran?!" Ucap Kirana berapi-api. "Gue capek ya, Kenan! Di sekolah lo memperlakukan gue kayak sampah, tapi begitu di rumah lo sok-sokan mau ngatur hidup gue! Kita nikah cuma gara-gara perjodohan orang tua, lo gak punya hak buat sok posesif sama gue!"

Kata-kata Kirana yang terakhir itu bergema di dalam ruang tamu yang hening.

Perjodohan orang tua.

Kenan membeku. Kalimat itu seperti menyentak kesadarannya kembali ke dalam kenyataan pahit. Binar amarah di mata Kenan perlahan padam, berganti dengan tatapan yang sangat kosong dan dingin, jauh lebih membekukan daripada ekspresi biasanya.

Kenan menghembuskan napas panjang. Ia membetulkan posisi lengan kemejanya yang basah, lalu melangkah mundur dua langkah.

"Lo benar," ucap Kenan pelan, suaranya kini kembali datar tanpa emosi sedikit pun. "Kita nikah cuma gara-gara perjodohan. Gue gak punya hak ngatur lo mau jalan sama siapa."

Kirana tertegun, mendadak merasa penyesalan yang sangat besar menyergap dadanya saat melihat perubahan raut wajah Kenan.

"Mulai besok," lanjut Kenan tenang sambil menatap Kirana lurus-lurus. "Lo gak perlu nunggu gue lagi di gang minimarket. Lo bebas pulang naik apa aja, sama siapa aja. Gue gak bakal campuri urusan pribadi lo lagi di luar rumah ini."

Tanpa menunggu balasan dari Kirana, Kenan berbalik dan melangkah pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Suara pintu kamar utama yang tertutup rapat bergema pelan di dalam rumah.

Kirana berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang gelap. Payung kuning di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Hatinya rasanya teremas sangat sakit. Niat awalnya yang ingin memberi pelajaran pada Kenan justru berbalik menjadi tembok pemisah yang kini berdiri semakin kokoh di antara mereka berdua.

"Kenapa... kenapa malah jadi begini sih?" lirih Kirana, menatap tangga kosong yang sepi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Di lantai atas, Kenan berdiri di balik pintu kamarnya yang tertutup. Ia melempar tasnya ke lantai, lalu menyandarkan kepalanya di daun pintu sambil memejamkan mata rapat-rapat. Dada cowok itu terasa sesak, sebuah perasaan asing yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat menghadapi tekanan tugas OSIS terberat sekalipun.

Malam itu, tidak ada sesi belajar bersama. Tidak ada teguran jam delapan malam. Rumah minimalis itu kembali diselimuti oleh hening yang mencekam, mengunci dua insan di dalam kamar masing-masing 

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!