Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup Handal
# Penyusup Handal #
Sora berpikir, setelah pengasuhnya pergi beristirahat, ia sudah bebas dari senam jantung yang sedari tadi membuatnya berkeringat dingin.
Langkah kakinya membawa Sora mencari Ino sambil bersenandung. Seperti dugaannya, pemuda itu sedang berada di dalam kamar mandi. Ketukan berulang di pintu tak membuahkan jawaban. Hanya terdengar gemericik air wastafel yang terus mengalir. Khawatir terjadi sesuatu, jemari Sora terulur memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci.
"Ehh... Ino, kau pakai masker yang mana itu?"
Sosok yang sedang mengenakan sheet mask tersebut hanya menoleh tanpa mengucap sepatah kata pun karena takut maskernya terlepas. Tawa Sora pecah seketika. Ia tak menyangka pemuda yang terlihat manly di luaran sana ternyata punya ritual malam sebelum tidur. Ino melambaikan tangan, memberi isyarat agar lawan bicaranya mendekat untuk membantu membersihkan sisa riasan yang masih melekat.
Senyum geli mengulas di wajah Sora ketika jemari Ino mengusap kulitnya dengan sangat teliti. Ini pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan seorang pria tampan. Dalam hati, Sora hanya berharap rona merah di pipinya tidak tertangkap mata Ino.
Usai urusan riasan selesai, Ino mendorong tubuh Sora ke dalam shower room untuk mandi, sementara ia sendiri keluar ruangan. Pemuda itu berbaring santai di sofa sambil memainkan ponsel untuk membunuh waktu.
"Ino, apa kau mau mandi juga? Aku tidak punya baju tidur berukuran besar, tapi kau bisa mengganti kaos mu. Ada banyak kaos oversize milikku di walk-in closet, kau boleh pakai."
Ino duduk lalu melepaskan masker dari wajahnya. Ia heran mengapa seorang perempuan bisa mandi dalam waktu yang sangat singkat, sangat berbanding terbalik dengannya yang suka bertapa lama di toilet. Sora hanya menaikkan bahu. Rasa malas selalu menyerang setiap kali pulang kuliah, jadi membilas tubuh seadanya sudah cukup daripada pingsan karena kelelahan.
Ino bangkit menuju kamar mandi dan meminta bantuan untuk diambilkan pakaian yang ditawarkan tadi. Namun, belum sempat pintu dirapatkan, Sora mendadak menyusul masuk karena mendengar pintu kamarnya kembali diketuk. Sebelum Ino sempat bersuara, gadis itu lebih dulu berjinjit dan membekap mulutnya erat-erat, sementara tangan yang lain memberi isyarat agar tetap diam.
"Sora... Sayang, buka pintunya. Ayah sedang di rumah, kenapa kau langsung masuk kamar? Buka pintunya."
Kepanikan langsung menyerang. Sora tidak menyangka ayahnya ingin menemui dirinya di kamar, tidak seperti biasanya. Mungkin karena ia melewatkan makan malam dan pulang terlambat, sang pengasuh sudah mengirimkan laporan rutin. Tanpa buang waktu, Sora menyeret lengan Ino keluar dari kamar mandi, lalu mendorongnya masuk ke dalam walk-in closet yang terletak tepat di depan ruangan tersebut.
"Cepat masuk dan cari tempat bersembunyi, Ino! Jangan sampai Ayahku menemukanmu. Aku belum menulis surat wasiat dan belum siap dieksekusi! Please...jangan bersuara."
*TOK... TOK... TOK...*
Tn. Mubis kembali mengetuk pintu kamar sang putri sambil memanggil namanya. Beliau tidak menyerah begitu saja.
*CKLEK...*
"Hehee... Ayah? Aku kira Ayah sudah istirahat bersama Bunda, makanya Sora tidak berani mengganggu. Sora habis mandi. Tadi terlambat pulang karena makan bersama teman kampus yang ulang tahun. Apa besok Ayah masih libur? Bisa kita ngobrol besok saja, Yah? Sora capek banget, pegal-pegal habis bikin patung tadi siang."
Tn. Mubis mengangguk mengerti, lalu membelai lembut kepala anak kesayangannya. Besok beliau ada kunjungan akademik ke luar kota selama tiga hari, karena itulah ia ingin menemui sang putri terlebih dahulu.
*BRUKK... BLUK... BLUK...*
"Suara apa itu? Apa kau membawa pulang teman-teman urakanmu lagi? Awas saja, Ayah harus cek langsung. Jangan coba mengela, bisa saja itu maling yang menyusup ke rumah kita!"
Sekuat apa pun Sora mencoba menghalangi dengan berbagai alasan, sang ayah bukan sosok yang mudah dibujuk. Beliau masih paranoid dengan insiden penyusupan minggu lalu saat sedang tugas bisnis. Belum lagi ingatan saat melihat putrinya membawa teman-teman wanita urakan yang berani mengonsumsi alkohol di kamar. Walau Sora tidak ikut meneguk minuman tersebut, tetap saja pengawasan ketat harus diberlakukan.
Mata Tn. Mubis menyisir setiap jengkal ruangan. Memang kamar itu terlihat rapi dan bersih, tidak ada sepatu atau tas lain selain milik putrinya, serta tidak ada bau rokok maupun alkohol. Namun, pria paruh baya itu merasakan ada yang aneh dari gerak-gerik Sora yang seolah-olah berdiri pasif menutupi akses masuk ke walk-in closet. Firasatnya mengindikasikan ada sesuatu yang disembunyikan.
"Sora... apa ada yang bersembunyi di dalam sana? Pencuri? Teman berandalanmu? Atau jangan-jangan kau membawa teman pria masuk?!"
Intonasi tajam itu sukses membuat pertahanan Sora runtuh. Gelengan kepala dan bentangan tangan yang menutupi pintu menjadi satu-satunya jawaban gagap yang bisa ia berikan. Tn. Mubis mengangguk kepala lalu membalikkan badan seolah sudah puas. Namun, tepat saat helaan napas lega keluar dari mulut Sora, sang ayah mendadak melempar ponselnya ke arahnya.
Refleks, Sora melompat menangkap benda pipih tersebut agar tidak hancur menghantam lantai. Dengan posisi kuda-kuda dan kedua tangan yang tak lagi menghalangi pintu, ia baru menyadari kebodohannya. Celah sempit itu dimanfaatkan Tn. Mubis untuk menerobos masuk dan membuka pintu walk-in closet.
(Matilah kau, Sora!) batinnya pasrah, bersiap menerima hukuman.
"AAAAAAAA...!"
"Maaf Nona... maaf saya tidak melihat apa-apa! Maaf... segera pakai pakaianmu dan keluar temui saya!" Tn. Mubis keluar sambil menutup mata dengan telapak tangannya, membuat Sora melongo kebingungan. Pria tua itu lalu mengarahkan putrinya untuk duduk di sofa menunggu sang 'teman' keluar.
"Ayah... Sora bisa jelaskan."
Tn. Mubis mengambil posisi duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan sang putri. Isyarat tangannya meminta agar pembelaan diri itu ditahan dulu. Betapa syoknya Sora saat sosok yang keluar dari ruangan baju itu tampak mengenakan gaun putih miliknya, lengkap dengan wig pendek cokelat kesayangannya! Pemuda bertubuh jangkung itu berjalan menunduk malu-malu, sesekali membetulkan tali gaun yang melorot dan menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan gestur feminin yang amat luwes.
"Jadi, siapa temanmu kali ini, Sora?"
Sora membisu. Bagaimana bisa ia menjawab jika rahangnya saja terasa hampir lepas melihat pemandangan di depannya? Pertanyaan itu akhirnya diulangi sekali lagi.
"Entahlah Ayah... siapa dia...?" sahut Sora linglung.
Tn. Mubis menggelengkan kepala, menghela napas, lalu memperbolehkan sosok bergaun itu duduk di sebelah putrinya untuk diinterogasi. Ino melangkah pelan, tampak amat menikmati perannya malam ini. Sementara di sampingnya, tatapan mata Sora terus mengunci pergerakannya tanpa berkedip sedikit pun.
"Maaf Pak... eh, Tuan. Saya teman Sora yang baru pindah ke kota ini. Karena belum punya teman, dia mengajak saya menginap untuk belajar bersama. Saya malu karena fisik saya berbeda dengan gadis-gadis lain, Tuan. Saya takut semakin dirundung kalau tidak bisa mengejar pelajaran," tutur Ino dengan nada suara lirih yang dibuat-buat.
Tn. Mubis kembali menghela napas, menatap iba pada sosok yang sedang memilin ujung gaun dengan raut memelas tersebut. Beliau berpikir mungkin pola asuhnya belakangan ini terlalu mengekang, hingga sang putri harus bersembunyi-sembunyi saat ingin membawa teman. Mengingat Sora adalah anak tunggal yang sering ditinggal sendirian, berteman dengan pengasuh dan satpam tentu membosankan. Beliau lantas memastikan apakah Ino merokok atau minum alkohol, dan jawaban santun yang diterima terasa sangat memuaskan.
"Besok saya ada kegiatan di luar kota dan Bunda ikut. Kalau kau mau, kau boleh menginap di sini menemani Sora, tapi tetap dalam pengawasan Bibi. Panggil saja saya Paman. Tolong bergaullah dengan baik, jangan aneh-aneh."
Mendengar penawaran tersebut, wajah di balik wig cokelat itu mendadak berbinar seraya mengulangi ucapan terima kasih berkali-kali.
"Tidak! Tidak bisa, Ayah. Dia tidak boleh di sini lama-lama!" potong Sora spontan.
Reaksi defensif itu menyulut rasa heran di benak sang ayah. Beliau menasihati putrinya bahwa menolak niat baik teman secara terang-terangan adalah tindakan yang kurang sopan. Benar saja, Ino langsung tertunduk murung seolah siap menumpahkan air mata.
"Ayah... dia punya rumah sendiri. Orang tuanya pasti khawatir. Kalau aku yang menginap lama di rumah orang, apa Ayah tidak khawatir?"
Tn. Mubis manggut-manggut memahami sudut pandang putrinya. Namun, penyamar di sebelah Sora kembali bersuara dengan getaran emosi yang kian meluap.
"Saya ini anak yatim, Paman. Ibu saya sibuk kerja siang malam demi menghidupi saya. Kerabat lain tidak ada yang peduli. Kakak saya juga sudah di surga bersama Papa... Dari dulu saya dikucilkan dan tidak pernah punya teman..."
Setitik air mata menetes, jatuh tepat di punggung tangannya. Ruangan itu seketika diselimuti kesedihan mendalam. Tn. Mubis menyenggol kaki putrinya, memberi isyarat tegas agar segera menenangkan sang teman. Dengan kaku, jemari Sora terulur mengelus punggung Ino.
"Ino... maafkan aku ya. Aku tidak bermaksud menolakmu..."
"HUAAAAA...!"
Tanpa peringatan, sosok bergaun itu merengkuh tubuh Sora erat-erat hingga tangisnya pecah. Di balik pelukan hangat tersebut, bisikan terima kasih terdengar karena Sora bersedia menerimanya. Sora membeku di tempat. Sang ayah memberi kode agar ia menepuk-nepuk punggung lawannya. Maksud sang ayah sangat baik, mengajari empati. Namun, hanya Sora yang tahu kenyataan mengerikan di balik skenario ini, sosok yang sedang menangis tersedu-sedu menggunakan gaun putih ini adalah Axcelino Pierce, pewaris Pierce Group yang kekar, berbahaya, dan dikenal sebagai bad boy kampus.
Melihat kondisi mulai tenang, Tn. Mubis berpamitan untuk istirahat. Begitu daun pintu benar-benar tertutup rapat, Sora menghentakkan tubuhnya melepaskan diri dari dekapan tersebut.
"Ino, Ayahku sudah pergi! Cepat ganti bajumu... Kenapa kau malah tidur di kasurku?! Kau tahu kan kita ini berbeda?!"
Tangisan yang baru saja bergema mendadak lenyap tanpa bekas. Ekspresi menyedihkan di wajah Ino berganti menjadi senyuman manis nan jahil. Ia menyingkap selimut di sebelahnya, lalu menepuk-nepuk bantal memberi ruang agar Sora bergabung.
*BRUKKK!*
Satu tendangan telak dari Sora sukses membuat pemuda itu tersungkur dari atas ranjang.
"AWWW... Sora! Pinggangku sakit sekali!" ringisnya sambil memegangi pinggang.
⭐⭐⭐⭐⭐
Akting Ino di depan Ayah Sora memang patut diacungi empat jempol, berapa lama Ino bisa mengelabui mereka?
> Jangan lupa berikan Vote, Comment, dan masukkan Sweet & Psycho ke dalam *Library* kalian agar tidak ketinggalan kelanjutan bab berikutnya! Dukungan kalian sangat berarti buat semangat update Author. Sampai jumpa di BAB 8! 🖤✨