Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Baru
Kehadiran Grace membuat Norman tampak gelagapan sekarang.
"Sa–yang, kenapa kau ada di sini? Bukannya katamu ada urusan di butik?" kata Norman sambil melirik Mona sekilas.
Mona mendadak cemberut.
Grace pun beranjak dari sofa sambil melangkahkan kaki mendekati Norman.
"Iya, aku memang ada urusan, tapi Carmen yang mengambil alih tugasku."
Norman mendadak diam. Hanya matanya yang berkedip berulang kali.
Melihat hal itu, senyuman manis yang sejak tadi tergambar di wajah Grace terus merekah.
"Kenapa kau seperti tidak senang sih, sayang?" kata Grace sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Norman. Melalui ekor matanya, ia dapat melihat wajah Mona yang tampak jengkel.
Mona mengepalkan tangan, tetapi Norman tidak menyadari hal itu.
Norman malah fokus pada sosok di hadapannya. Pria itu tersenyum kecil.
"Um, bukan tidak senang. Aku hanya terkejut saja. Lagipula, kenapa semalam kau tidak ada di kamar, sayang?"
"Aku tertidur di ruang makan karena masih jet lag," balas Grace, kini memandang ke arah Mona. Mata yang sebelumnya berbinar-binar seketika menjadi datar.
"Kenapa kau masih berdiri di sini? Keluar sana, lanjutkan tugasmu sebagai sekretaris."
Grace mengucapkan kata sekretaris dengan penuh penekanan.
Mona mendadak gugup saat ditatap Grace. Demi mengatasi rasa gugup yang melanda, ia mengeluarkan dehaman.
"Hm, sepertinya Pak Norman lupa mengatakan kalau sekarang saya mengerjakan tugas di ruangan ini bersamanya," katanya sambil melirik Norman singkat.
Grace menaikkan alis sebelah kiri lalu melirik Norman, masih dengan posisi tangan terlilit di leher pria itu. "Sejak kapan?"
Seingat Grace, sebelum ia menempuh pendidikan di Milan, meja kerja Mona berada di luar. Grace menduga perselingkuhan itu terjadi saat dia dan Norman berjauhan.
Norman tersenyum kikuk. "Sejak kau menempuh pendidikan, sayang. Aku sengaja memindahkan meja kerja Mona ke dalam agar tugasnya dapat selesai dengan cepat."
Grace perlahan menurunkan tangannya dari leher Norman.
"Baiklah." Kemudian ia melirik Mona kembali.
"Ya sudah, kalau begitu lakukan tugasmu sebagai sekretaris. Mengapa berdiri di sini terus? Tidak sopan sekali. Kau sengaja ingin menguping pembicaraan kami, 'kan?"
Sontak, balasan Grace membuat Norman dan Mona terperangah. Dalam sekejap mata, Mona tampak berkaca-kaca.
"Grace, ada apa denganmu?! Mona hanya berdiri di sini saja kok!" Norman langsung angkat bicara dengan raut wajah menahan kesal saat melihat Mona mulai menangis.
"Sudah, Pak. Saya minta maaf, Bu Grace. Saya tidak bermaksud menguping pembicaraan Ibu dan Bapak," kata Mona sambil sedikit menundukkan kepala dan sesekali mengusap air matanya.
'Cih, memuakkan sekali! Pandai sekali dia berakting! Dia pikir hanya dia saja yang pandai bersandiwara!' batin Grace.
"Ya ampun, suamiku sekarang berani sekali membentakku. Padahal aku sangat merindukannya. Dia jarang sekali datang ke Milan menemuiku akhir-akhir ini. Apa salahku? Aku cuma tidak suka ada orang yang menguping pembicaraan. Apa dia lupa dengan hal-hal yang kusuka dan tidak kusuka..."
Tiba-tiba Grace ikut menangis, tersedu-sedu sambil sesekali menggelengkan kepala dengan pelan.
Respons Grace membuat Norman tertegun. Sebab, ini kali pertama dia melihat Grace menangis. Selama enam tahun menikah, dia tak pernah melihat Grace menangis. Grace dikenal sebagai wanita yang memang dingin dan jarang mengekspresikan perasaannya.
Dengan cepat, Norman menarik tangan Grace lalu menarik sang istri ke dalam pelukan.
"Sayang, bukan begitu. Aku minta maaf, sudah jangan menangis."
Grace tidak mendorong tubuh Norman. Ia malah menelusupkan wajahnya ke dada bidang pria itu.
Sementara Mona, yang tadinya menangis, air matanya mendadak berhenti. Rahangnya seketika mengeras hingga urat-urat di lehernya terlihat.
"Pak, kalau begitu saya duduk di meja kerja, permisi."
Saat melontarkan kalimat itu, Grace semakin kencang menangis sambil menggelengkan kepala ke kanan dan kiri sehingga menyebabkan Norman tak mendengar Mona.
"Sudah, sayang. Jangan menangis. Aku minta maaf, ya. Aku tidak bermaksud membentakmu tadi," kata Norman berusaha menenangkan Grace.
Mona merasa diabaikan. Dengan wajah menahan kesal, dia melangkah cepat menuju meja kerjanya.
Dalam pelukan Norman, Grace menyeringai tipis. Dia sempat mendengar perkataan Mona barusan.
Tak lama kemudian, Grace sudah tampak tenang. Kini ia duduk di pangkuan Norman dengan mesra dan manja, sementara pria itu tengah menghubungi kolega.
Selagi Norman sibuk menelepon, Grace mencuri-curi pandang ke arah Mona. Wanita itu terlihat sangat kesal.
Dari tatapan wanita itu, Grace tahu kehadirannya mulai mengusik.
"Sayang, sebentar lagi aku ada rapat," kata Norman setelah selesai menutup panggilan.
"Aku akan menunggumu di sudut ruang rapat," kata Grace sambil mengalungkan tangan di leher Norman.
Mendengar hal itu, kerutan di kening Norman muncul. Sebab, ini pertama kalinya Grace mau menemaninya bekerja. Selama ini Grace hanya mampu bertahan sekitar dua jam di kantor.
"Yakin? Kami selesai rapat mungkin siang. Kau tidak pergi ke butik, sayang?" tanya Norman.
"Yakin. Aku masih merindukanmu. Kenapa kau seolah-olah tidak senang dengan keberadaanku di sini, Norman? Apa kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Grace sambil menyipitkan mata.
Norman mendadak berkeringat dingin.
"Astaga, bukan begitu, sayang. Aku hanya heran saja. Biasanya kau tidak mau lama-lama di sini. Semenjak pulang dari Milan, kau terlihat berbeda, lebih..."
Norman terlihat ragu-ragu. Perkataannya menggantung di udara.
"Lebih apa?" tanya Grace, kini wajahnya tampak serius.
Norman tersenyum tipis. "Lebih beda saja. Sekarang lebih manja."
"Jadi kau tidak senang dengan perubahanku ini?"
"Tentu saja aku senang, sayang. Sudah, kalau kau mau ikut masuk, ayo. Aku mau bersiap-siap dulu."
Norman tiba-tiba mengecup singkat pipi kanan Grace.
Grace terkejut. Namun, sebisa mungkin ia bersikap tenang.
Dengan cepat, ia bangkit berdiri sambil melihat Norman beranjak dari kursi dan berjalan cepat menghampiri Mona.
Grace membelakangi Norman dan Mona. Kini ia menatap dingin kaca raksasa di depannya sambil mengusap pipi kanannya dengan sangat kasar.
Tak lama kemudian, Grace pun menemani Norman rapat di ruangan tersebut. Rapat sedang dimulai. Beberapa karyawan mulai memaparkan laporan di depan Norman.
Beberapa pasang mata, khususnya kaum adam, curi-curi pandang ke sudut ruangan, memperhatikan wanita cantik yang sedang menunggu suaminya sambil bermain ponsel.
Norman menyadari hal itu. Sedari tadi wajahnya tampak masam melihat Grace diperhatikan oleh beberapa pria muda.
"Sial, seharusnya Grace tidak aku izinkan masuk," gumam Norman tanpa sadar.
Mona yang duduk di sampingnya sedari tadi wajahnya langsung memerah. Dengan berani, wanita itu menyikut Norman sedikit.
Norman tersentak. Dengan cepat, ia menoleh ke samping lalu melototkan mata karena dia tidak pernah mengizinkan Mona menyentuhnya ketika berada di hadapan karyawan.
Norman buru-buru mengalihkan pandangan ke depan lagi.
Reaksi yang ditunjukkan Norman membuat Mona hanya mampu mengepalkan tangan di bawah meja. Dia memalingkan wajah dan tanpa sengaja menoleh ke arah Grace yang sekarang tersenyum-senyum kecil sambil melihat ponsel.
Mona menatap Grace dengan sangat tajam tanpa diketahui wanita itu.
Pukul dua belas siang, rapat akhirnya selesai. Satu per satu karyawan mulai meninggalkan ruangan. Norman berjalan lebih dulu, diikuti Mona yang masih membahas beberapa hal terkait rapat tadi.
Grace berjalan di sisi lainnya sambil memainkan ponsel. Sesekali ia melirik ke arah Norman dan Mona yang berada beberapa langkah di depannya.
Dari kejauhan, Grace melihat seorang pegawai berjalan ke arah mereka sambil membawa dua gelas kopi.
Tatapan Grace berhenti sejenak pada gelas-gelas tersebut.
Ia memperlambat langkah, membiarkan Mona berjalan sedikit lebih dekat ke arahnya. Ketika pegawai pembawa kopi itu hampir berpapasan dengan mereka, Grace mengangkat wajahnya dari ponsel.
Kakinya bergerak sedikit ke depan, sangat cepat.
Pegawai tersebut tersandung dan kehilangan keseimbangan. Salah satu gelas kopi di tangannya terlepas, sementara gelas lainnya ikut terguncang.
"Awh!"
Jeritan Grace dan Mona terdengar hampir bersamaan.
Kopi panas tumpah mengenai pakaian keduanya.
Pegawai itu langsung panik. "Maaf, Bu! Maaf, saya tidak sengaja!"
Norman yang melihat kejadian tersebut segera menghampiri mereka. Tangannya refleks memegang pundak Mona. "Kau tidak apa-apa?"
"Norman!"
Grace langsung berseru dengan nada tinggi. "Aku ini istrimu! Kenapa kau lebih mengkhawatirkan Mona daripada aku? Lihat, aku juga terkena kopi!"
Beberapa karyawan yang masih berada di sekitar mereka spontan menoleh.
Grace kembali berkata,"Orang-orang bisa berpikir kau memiliki hubungan dengan Mona!"
Bersambung ~
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣