Pertemuan pertama antara Albi dan Ria ini menimbulkan sebuah kesalahpahaman yang mrmbuat kedua orang tua dari masing - masing mereka marah. Namun ketika kedua keluarga itu bertemu mereka malah saling senang dan beruntung dengan kejadian tersebut. Hingga akhirnya, Albi dan Ria ditetapkan menikah dan tinggal di dalam satu atas yang sama. Bagaimanakah cara mereka menghadapi permasalahan rumah tangga dengan otak anak SMA?
Perjodohan part 2, Ria~Albi.
Ria Mehputra Yagsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seven
Ria mendorong kopernya dan memberikan koper itu kepada Albi untuk dibawakan.
"Berapa baju yang lo bawa sih, banyak banget," protes Albi melihat Ria mengepak bajunya hingga tiga koper besar.
"Ini baju gue semua, masih ada sisa malahan," jawab Ria.
"Udah bawa baju sekolah lo aja," titah Albi, Ria menggeleng.
"Kalau gue cuman bawa baju sekolah gimana gue pake buat di rumahnya ntar?" tanya Ria.
"Lo cukup bawa satu koper sisanya bawa lain kali, rumah lo sama rumah gue juga nggak sejauh Bandung-Aceh," jawab Albi, Ria memutar matanya malas.
"Udah dua koper itu simpen dulu, bawa yang pentingnya aja," titah Albi kembali, Ria menyimpan koper yang Albi maksud.
"Udah semua? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Albi.
"Nggak ada," jawab Ria.
"Yaudah kita berangkat sekarang," ajak Albi yang lebih dulu jalan sambil menarik tas koper milik Ria.
Putra dengan anggota keluarga lain tengah menunggu kehadiran pengantin baru itu di meja makan untuk sarapan bersama.
"Albi, Ria, sini makan dulu, makanannya udah siap," ajak Serira yang langsung diterima oleh Albi dan Ria.
Mereka menghampiri keluarga lainnya dan duduk di kursi mereka masing-masing. Albi yang hendak mengambil makanan dengan piringnya langsung dihentikan oleh Serira.
"Albi, sekarangkan kamu udah punya istri, jadi istri kamu yang bakal siapin makanan kamu," ucap Serira membuat Ria sedikit melotot.
"Ayo Ria siapin makanan buat suami kamu," titah Putra. Ria memutar matanya malas dan mau tak mau menyiapkan makanan untuk suaminya.
Albi hanya diam sambil melihat aktivitas Ria yang tengah mengambil makan untuknya. Ia juga sedikit merasa kesal karena makanan yang diambil oleh Ria itu tidak sedikit jumlahnya.
"Udah Ya," ucap Albi.
"Udah diem aja gue ini yang nyiapin," jawab Ria.
"Gue yang ngabisin," balas Albi.
"Iya nih," ucap Ria memberikan piring berisi nasi dengan beragam lauk pauk.
Albi menghembuskan nafas pelan. Baru saja hari pertama ia hidup bersama Ria sudah membuat dirinya naik darah apalagi bertahun-tahun?
Kondisi meja makan itu begitu hening seperti biasanya. Mereka fokus kepada makanan mereka masing-masing hingga suara sendok garpu pun tak terdengar.
Setelah beberapa menit kemudian mereka akhirnya selesai menghabiskan sarapan mereka.
"Kalian mau langsung pulang sekarang? Enggak mau nginep lagi?" tanya Putra memastikan.
"Lain kali kita nginep lagi kok Yah," jawab Albi.
"Yaudah kalian hati-hati ya," balas Putra.
"Ayah, Ayah jaga kesehatan. Ayah jangan banyak bergadang nanti Ria bakal tanya terus keadaan ayah ke kak Rira," ucap Ria, Putra tersenyum.
"Ayah bakal selalu jaga kesehatan kok Ria. Kamu enggak boleh nakal ya, turutin kata Albi jangan jadi istri durhaka!" seru Putra mencubit hidung Ria.
"Ih, nggak lah ayah!" balas Ria yang berusaha menjauhkan tangan Putra dari hidungnya.
"Yaudah Ayah kalau gitu kita pamit dulu. Assalammu'alaikum," pamit Albi.
"Wa'alaikumsalam," balas Putra.
"Kakak-kakak," sambung Albi kembali.
"Iya Albi, hati-hati ya," balas kakak-kakak Ria.
Albi mengangguk lalu pergi disana sambil menggiring tas Ria. Ria yang masih sedih meninggalkan keluarganya itu malah didorong oleh sang kakak untuk cepat masuk ke dalam mobil Albi.
"Udah enggak usah sedih kamu juga masih bisa ke sini kok," ucap Rio sambil menatapnya sendu. Ria mengangguk.
"Dadah kakak," ucap Ria melambaikan tangan.
"Dadah," balas Rio yang juga melambaikan tangan.
Albi pun melajukan mobilnya begitu Ria dan Rio sudah saling bertukar lambaian. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar mereka bisa menikmati jalannya.
.
.
Albi memarkirkan mobilnya di sebuah mall yang berada dekat perumahannya. Ria sedikit kebingungan mengapa Albi mengajaknya kemari, ia pun melirik ke arah Albi.
"Mama gue nyuruh beli perlengkapan bayi, kakak gue mau lahiran," jawab Albi yang sudah menebak bahwa Ria akan bertanya.
"Oh yaudah hayu," balas Ria yang turun terlebih dahulu dan disusul oleh Albi.
Ria berjalan dengan perlahan sambil sesekali melirik ke kanan dan kiri untuk melihat sesuatu yang akan menarik perhatiannya.
"Ria, kesini," ucap Albi menyadarkan Ria bahwa dia jalan kelewatan.
Ria melirik ke belakang dan menyusul Albi begitu Albi telah masuk ke dalam toko bayi.
"Mbak, baju bayi buat yang baru lahir dimana ya?" tanya Albi.
"Oh sebelah sana Dek," jawab pegawai wanita sambil menunjuk ke arah rak-rak yang tak jauh dari mereka.
"Makasih," jawab Albi lalu menghampiri rak itu.
"Lo yang pilih," titah Albi kepada Ria.
"Ih, lo aja," jawab Ria.
"Udah cepetan keburu lahir anaknya," titah Albi kembali, Ria memutar matanya malas.
"Ponakan lo cewek apa cowok?" tanya Ria.
"Cowok," jawab Albi, Ria kemudian mencari baju-baju bayi laki-laki yang menurutnya bagus untuk dipakai.
Ia mengambil beberapa baju yang telah ia pilih. Ia memberikan itu semua kepada Albi dengan wajah yang ceria.
"Nih!" seru Ria.
Albi melihat baju-baju yang Ria pilih. Ia takut ada barang yang Ria ambil namun tak sesuai dengan perintahnya. Dan benar saja, hal itu terjadi.
"Ini kenapa ada baju bayi yang gede?" tanya Albi sambil menunjukkan baju itu kepada Ria.
"Enggak papa Albi itu lucu. Lagian kan dedenya juga bakalan gede jadi pasti kepake. Bilang aja itu hadiah dari gue," jelas Ria, Albi memutar matanya malas.
Ia langsung pergi ke arah kasir untuk membayar semua itu. Sedangkan Ria menunggu di kursi dekat pintu toko.
Ria mengedarkan pandangannya ke seluruh mall dan melihat ada satu toko yang menarik perhatiannya. Dengan sigap, ia langsung berlari ke arah toko itu dan melihat isi didalamnya.
Albi yang telah selesai membayar belanjaannya itu mencari Ria yang tidak ada di tempat asalnya. Ia melirik kesana kemari untuk mencari wanita itu namun tak terlihat oleh indra matanya.
"Mbak, liat cewek yang tadi duduk disini nggak?" tanya Albi kepada pegawai yang ada didekatnya.
"Owh, mbak yang pake baju putih ya? Tadi saya liat dia lari ke arah Sephora," jawab pegawai itu.
Dengan malas Albi melirik ke arah toko yang dimaksud sambil memutar matanya.
"Ya Allah," ucapnya sambil menghampiri toko Sephora.
Ia mencari Ria ke berbagai sudut hingga akhirnya melihat wanita itu sedang asyik mengobrol dengan Spg yang melayaninya disana.
"Ria," panggil Albi, Ria menoleh.
"Albi gue pengen ini!" seru Ria sambil menunjukkan sebuah lipstik incarannya yang sudah lounching.
"Berapa harganya?" tanya Albi.
"Satu juta dua ratus," jawab Spg yang sendari tadi melayani Ria.
Albi terkejut ketika mendengar harganya. Ia melirik kearah Ria yang sedang menunjukkan wajahnya yang memelas.
"Plissss," pinta Ria, Albi menghembuskan nafasnya pelan.
"Itu aja Mbak," ucap Albi kepada Spg yang langsung diangguki oleh sang Spg.
Ria langsung tersenyum senang ketika Albi setuju membelikan lipstik incarannya. Ia langsung pergi mengikuti Spg yang tengah membungkuskan pesanan Ria.
Albi memberikan kartu kreditnya untuk membayar lipstik Ria.
"Ini barangnya, terima kasih banyak," ucap kasir dengan ramah.
Ria mengambil belanjaannya dan mengintip isinya.
Albi langsung menarik tangan Ria dan memegangnya sambil jalan.
"Ih, nggak usah sambil pegangan juga kali!" seru Ria.
"Kalau enggak gue pengang mau kabur ke toko mana lagi lo?" tanya Albi, Ria terkekeh pelan.
"Kan jiwa-jiwa shopping gue masih bergemuruh, jadi susah buat nolak barang incaran gue," jawab Ria.
"Sekarang lo jajan udah nggak pake duit ayah lo! Jadi cukup beli barang yang berguna," ucap Albi.
"Ih! Gue beli lipstik ini juga berguna kali!" seru Ria.
"Berguna apa punya lo aja masih banyak gue liat," balas Albi, kini Ria bungkam.
Ria melirik kearah kanannya dan melihat ada toko ice cream kesukaannya. Ia langsung berhenti di tempat membuat Albi pun ikut terhenti.
"Kenapa lagi Ya?" tanya Albi menahan kesalnya.
"Pengen itu," pinta Ria sambil menunjuk ke arah toko ice cream.
"Lo enggak lihat tadi lo belanja berapa?"
Ria melengkungkan bibirnya dengan muka kecewa.
"Jahat banget lo jadi suami enggak bisa nyenengin istri!" seru Ria dengan wajah sedih.
"Ya Allah kurang nyenengin apa gue udah beliin lo lipstik satu juta!" balas Albi emosi.
"Gue pengen makan ice cream Albi, bukan makan lipstik!" seru Ria kembali sedikit berteriak membuat pengunjung sekitar melirik kearah mereka.
"Astagfirullah," ucap Albi yang langsung menggiring Ria menuju toko ice cream.
"Cepet pilih," titah Albi begitu mereka sudah disana.
"Aku mau ice cream rasa coklat dimix sama rasa vanilla yang ada chococipsnya, pakai topping kacang mede, springkels dan kokocrunch," ucap Ria yang langsung dibuatkan oleh pelayan ice cream itu.
"Ini ice creamnya," ucap pelayan itu memberikan ice creamnya kepada Ria dan Albi memberikan kartu atmnya.
"Ini Kak, terimah kasih," ucap sang kasir dengan ramah. Albi mengambil atmnya dan menyimpannya didompet lalu menggenggam tangan Ria kembali.
"Udah nggak usah jajan lagi kayak anak kecil aja," ucap Albi kepada Ria.
"Gue pengen abisin ini dulu, duduk dulu sebentar kan capek," pinta Ria, Albi hanya menurut.
Mereka pun duduk di kursi yang berada di toko ice cream itu. Ria sangat asik melahap ice cream yang ia pesan, sedangkan Albi hanya melihatnya.
Entah mengapa emosi yang tadi ada tiba-tiba menghilang ketika melihat Ria dengan senangnya memakan ice cream yang Albi berikan. Mungkin ini juga salah satu nikmat suami dalam menyenangkan istri?
Tak lama dari itu tiba-tiba ponsel Albi berbunyi. Ia langsung mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan masuk. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga.
"Hallo,"
"Ha? Udah? Yaudah Albi kesana sekarang,"
Albi menyimpan ponselnya kembali ke saku dan melirik kearah Ria yang juga melihatnya.
"Kakak gue udah pembukaan akhir, kita harus kesana sekarang," ucap Albi. Ria mengangguk dan langsung merangkul Albi sambil melanjutkan memakan ice creamnya.
Albi sempat terkejut dengan perlakuan Ria. Namun itu tidak berlangsung lama karena mereka harus segera pergi kerumah sakit dan melihat keadaan kakaknya.
.
.
"Mama tenang dulu, Ririn kan ditenangin sama suaminya," ucap Muhtaz menenangkan istrinya.
"Gimana mau tenang, lahiran pertama itu bakalan sakit banget Pah, Ririn pasti ketakutan," balas Camila yang mengingat lahiran pertamanya yang begitu menyakitkan.
"Yaudah kamu tenang dulu aja, berdoa semoga Ririn bisa lancar ngelahirinnya," ucap Muhtaz kembali, Camila pun terdiam.
Suster keluar dari ruangan persalinan membuat Camila dan Muhtaz langsung terbangun dan menanyakan kondisi anak mereka.
"Bu Ririn meminta ibunya untuk menemaninya bersalin," ucap suster itu, Camila mengangguk dan langsung masuk ke dalam ruang persalinan.
Muhtaz duduk kembali di tempat duduknya sambil membaca berbagai macam doa agar anaknya itu bisa selamat dari persalinan.
Albi dan Ria baru saja datang dan langsung ikut duduk disamping Muhtaz serta menyadarkannya kalau mereka sudah berada di hadapan Muhtaz.
"Papa, gimana kakak?" tanya Albi, Muhtaz menoleh.
"Kakak kamu lagi bersalin, doain biar enggak harus dioperasi," jawab Muhtaz, Albi mengerutkan alisnya.
"Kenapa emangnya Pa?" tanya Albi.
"Kata dokter kakak kamu ngalamin pendarahan. Buat ngehindarin kekurangan darah, mereka nganjurin kakak kamu buat cecar tapi dia nggak mau," jelas Muhtaz, Ria langsung terkejut dengan penjelasan itu.
Ria dan Albi pun berdoa bersama untuk keselamatan kakak mereka.
Setelah lamanya mereka menunggu, akhirnya Camila beserta Harry keluar dari ruangan persalinan dengan wajah yang sulit diartikan.
Muhtaz, Albi dan Ria langsung terbangun dan menghampiri Camila.
"Ririn dan bayinya selamat, cuman lahiran tadi Ririn harus dicecar buat mencegah kematian salah satunya," Jelas Camila, semua bernafas lega.
Camila langsung melihat kearah Ria. Ia menghampiri menantunya dan mengelus rambut Ria lembut.
"Andai mama kamu ngelakuin hal yang sama," ucap Camila yang tidak Ria mengerti.
"Ma, udah jangan di ingat terus," potong Muhtaz tak ingin membuat suasana menjadi sedih.
"Mama aku kenapa Ma?" tanya Ria penasaran, Camila tersenyum dengan memendung air mata.
"Mama kamu lebih milih pergi daripada lahirin kamu cecar," jawab Camila, Ria masih terbingung.
"Kenapa gitu?" tanya Ria kembali.
"Waktu itu dokter bilang kalau ibu kamu lahir cecar, kamu bakalan cacat. Karena ibu kamu mau kamu sempurna, dia memilih kamu hidup sempurna dan dia pergi," sambung Muhtaz yang melihat istrinya tak kuat untuk menjelaskan.
Ria terdiam begitu mendengar penjelasan yang sebenarnya dari keluarga barunya itu.
Keluarga kandungnya sama sekali tidak memberitahu kebenaran ini. Mereka hanya memberitahu bahwa ibu Ria terkena kanker sehingga Ria harus lahir tanpa ada kasih sayang seorang ibu.
"Mama kamu pun nitip pesen sama mama buat kamu," ucap Camila, Ria langsung menenggak.
"Apa Ma?" tanya Ria semangat.
"Dia pengen anaknya itu menjadi wanita yang baik dan taat kepada agama,"