"Kamu butuh uang?" Tanya Tasya pada wanita didepannya.
"I, iya." Jawab wanita itu singkat. Dia terlihat sedikit dan sungkan berbicara dengan Tasya.
"Entah ini bisa disebut pekerjaan atau tidak. Tapi tentunya ini bisa memberimu uang." Sambung Tasya menyakinkan wanita itu.
"Apa itu, nona?" Kini wanita itu mulai penasaran.
"Izinkan aku untuk menyewa rahim milikmu."
Btw,,, cerita ini hanya fiksi belaka ya. Maaf-maaf kalau ada kesalahan baik kata maupun penulisan. Dan juga kalau mungkin ada kesamaan nama orang, tempat dan situasi, author mohon maaf. Keep enjoy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shoffan Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Good Bye
"Bu?! Ibu gak salah mau ngomong kan?" Linda langsung menahan ibunya dengan mengenggam tangan ibunya dengan erat. Dirinya tahu ibunya sangat mencintai pria yang kini berstatus ayahnya itu. Sudah puluhan tahun mereka lalui dan cinta ibunya masih sangat jelas mencintai Bastian. Hal itu terpancar tanpa ada kebohongan. Namun Ayu hanya memandangi Linda sambil tersenyum hangat. Ia juga membalas genggaman tangan anaknya itu dengan kedua tangannya.
"Hah?! Oke kalau itu mau kamu. Mari kita bercerai. Aku juga udah muak hidup kayak begini terus!" Terang Bastian yang berjalan ke dalam kamar.
"Bu, ibu seriusan? Gak lagi bercanda kan? Bilang sama aku kalau yang barusan ibu ucapin itu bohong." Linda masih sangat tidak yakin ibunya akan menggugat orang yang sangat ia cintai itu. Di mata Linda, perceraian bukankah solusi untuk menyelesaikan masalah keluarga mereka. Dan yang terpenting adalah ia tak mau kehilangan anggota keluarganya, meski perlakuan ayahnya selalu kasar padanya.
"Maaf, nduk. Maafin ibu. Ibu sudah gak kuat," Jelas Ayu yang secara tiba-tiba terjatuh dalam posisi duduk. Batin Linda yang melihat ibunya seperti ini menjadi semakin sakit. Sakit sedalam-dalamnya. Ia ikut terduduk di samping ibunya dan memeluk ibunya seolah memberikan kekuatan kepadanya.
Keduanya meluapkan emosi mereka masing-masing dengan sama-sama menangis. Di satu sisi Linda tidak ingin kedua orang tuanya untuk berpisah. Namun di sisi lain ia paham terus memjalani hubungan tidak sehat seperti ini hanya akan menyakiti ibunya saja. Hingga ia hanya bisa menghargai keputusan ibunya, meski pasti akan berat untuk keduanya.
"Ay, ayah, ayah mau kemana?" Heran Linda yang melihat ayahnya keluar dari kamar dengan membawa koper dengan pakaian seperti ingin pergi.
"Mau apalagi, tentu saja mau pergi. Bukannya ibumu sudah menggugat cerai?"
"Ta, tapi bukan berarti ayah langsung pergi begitu saja. Setidaknya menginaplah malam ini, ayah mau pergi kemana semalam ini." Hati Linda memang sakit mendengar hinaan ayahnya. Tapi dirinya tidak bisa memungkiri semua ucapan ayahnya karena memang begitulah kenyataan yang ada. Dan sebagai anak kandung dari ayahnya, dia masih menyimpan rasa cinta untuknya.
"Benar, mas. Kamu tinggal lah di sini dulu. Setidaknya sampai kita benar-benar bercerai." Ayu mencoba menghapus air matanya. Ia kemudian berdiri dengan dibantu oleh Linda.
"Gak perlu. Biar aku pergi saja. Sudah muak aku lama-lama di sini." Cercah Bastian menghiraukan keduanya dan langsung keluar begitu saja dari rumah itu.
Kini tersisa Ayu dan Linda di sana. Linda yang tak tega melihat ibunya menangis histeris hanya bisa memeluknya agar ibunya bisa kuat menghadapi kenyataan ini. Dia mengelus pelan punggung ibunya dan memberikan sandaran kepada ibunya agar tetap kuat.
"Sudah, bu. Ini memang berat, tapi kita juga harus kuat. Dan kalau ibu gak kuat harus cerai sama ayah, mending gak usah cerai saja, bu." Tukas Linda masih dalam posisi berpelukan dengan ibunya. Seketika itu juga ibunya melepaskan pelukan mereka.
"Gak bisa, Lin. Ibu dan ayahmu memang sepertinya harus bercerai. Ibu gak mau kamu terus menerus di salahkan di sini. Lagipula ayahmu susah melupakan tanggung jawabnya pada kita. Malah sering bertindak kasar. Jadi bercerai adalah jalan agar ayahmu itu sadar." Balas ibunya dengan keteguhan hati yang tersisa. Ia kemudian menatap anaknya dengan intens. "Oh, iya. Ngomong-ngomong, gimana lamaran pekerjaan kamu? Ada yang dapet?"
"Maaf, bu. Aku belum bisa dapet pekerjaan." Jawab Linda sekenanya meski sebenarnya ia dapat satu pekerjaan namun ditolaknya karena bertemu dengan si Erick yang mata keranjang. Dan tiba-tiba otaknya mengingat kembali kejadian dengan wanita misterius tadi. "Apa aku harus terima tawarannya?"
lanjut thor