Indira, wanita yang lemah lembut dan selalu patuh pada suaminya. Dia berubah seratus delapan puluh derajat karena ulah sang suami, Reno. Pria yang mencampakkannya begitu saja. Pembalasan dendam di mulai oleh Indira. Dan wanita itu, tidak pernah ingin mengakhirinya sampai Reno menderita. Sampai seluruh luka yang dia rasakan, di rasakan pula oleh Reno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dipta Erna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama Dan Teman Lama
Reno dan Indira berjalan cepat ke dalam rumah sakit. Keduanya tampak terburu-buru setelah menerima telepon dari dokter di sana.
"Dokter, bagaimana keadaan mama saya?" tanya Reno ketika keduanya sampai di depan sang dokter.
"Tuan Reno, ada hal baik yang ingin saya sampaikan. Silahkan duduk dulu!" pinta dokter itu.
"Baik dok," jawab Reno sembari duduk di kursi depan meja dokter. Arah mata dokter itu menuju ke Indira.
"Dia?" tanya dokter itu.
"Dia istri saya dok," jawab Reno.
"Ah selamat, ternyata wanita yang beruntung mendapatkan anda," pujinya.
"Dokter bisa saja," jawab Reno. Indira hanya tersipu malu.
"Baiklah, mari kembali ke topik awal. Kemarin saya tanpa sengaja melihat pergerakan jari mama anda," dokter bernama Rachman itu menjelaskan kepada Reno.
"Benarkah itu dok?" Reno tampak begitu bahagia mendengarnya. Dokter pun menganggukkan kepala.
"Tapi baru sekali itu, kita tetap akan mengamati lebih detail lagi. Semoga ada perkembangan yang baik dari mama anda."
"Semoga dok."
Setelah selesai berbincang dengan dokter,Reno mengajak Indira bertemu dengan mamanya. Keduanya menuju ke ruang perawatan milik sang mama.
Indira baru kali ini masuk ke ruang perawatan pasien yang sangat mewah. Dalam hatinya sangat kagum atas apa yang dia lihat.
"Inilah mama ku Indira," Reno masuk ke ruangan itu, di ikuti Indira dari belakang. Gadis itu menatap ke arah wanita yang terbaring lemah di atas ranjang itu. Wajahnya terlihat pucat, meski begitu masih ada garis-garis kecantikan di sana.
Indira akhirnya tahu, dari mana wajah Reno di miliki. Ternyata dari gen mamanya.Keduanya duduk di kursi samping sang mama.
"Sejak kapan mama seperti ini mas?" tanya Indira pada Reno.
"Sudah sangat lama, sejak aku berusia sepuluh tahun mama mengalami koma karena sebuah kecelakaan." Jawabnya, membuat hati Indira tersayat. Dia membayangkan jika itu adalah ibunya. Dia pasti tidak akan sanggup bertahan seperti Reno saat ini.
"Mas, pasti sangat sedih sekaligus harus kuat kan?" ucap Indira.
"Ya, begitulah, yang terpenting saat ini mama bisa kembali sadar." Raut wajah Reno terlihat sangat berharap bahwa berita hari ini adalah awal kesembuhan sang mama.
Indira mengelus punggung tangan mama mertuanya itu. Tiba-tiba Indira merasakan respon darinya.
"Mas!" ucap Indira terkejut.
"Kenapa Indira?" tanya Reno sedikit panik.
"Tangan mama seperti bergerak mas. Aku merasakannya tadi," jelas Indira.
"Benarkah?" Reno kemudian ikut memegang punggung tangan mamanya. Namun tidak ada lagi respon seperti yang Indira rasakan tadi.
"Ma, bangunlah ma. Ini Reno dan juga Reno membawa menantu mama," ucap Reno di dekat telinga sang mama.
Belum juga ada respon yang di dapatkan. Reno tetap tersenyum, mungkin belum saatnya mamanya tersadar.Indira memegang pundak suaminya.
"Sabar mas. Tetaplah berdoa untuk mama," ucap Indira.
"Iya Indira," balasnya.
Keduanya lalu memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Setelah cukup lama berbincang-bincang dengan sang mama. Meski wanita itu belum bisa merespon keduanya.
Indira dan Reno pulang ke rumah. Namun sebelum sampai di rumah. Reno ingin mengajak Indira makan siang terlebih dahulu di restoran yang sering Reno datangi.
"Kita mau kemana mas?" tanya Indira yang memperhatikan mobil tidak masuk ke kawasan tempat tinggal mereka.
"Kita makan dulu ya, ada satu tempat yang harus kamu datangi. Kita belum keluar sama sekali kan setelah di sini?" ajak Reno.
"Iya mas, Indira ikut kata mas saja," balas Indira.
Perlahan keduanya mulai akrab,meski masih ada jarak di antara keduanya. Namun lebih baik dari sebelumnya.
Reno dan Indira sampai di sebuah restoran yang mereka tuju.
"Sudah sampai,ayo kita masuk ke restoran!" ajak Reno setelah membukakan pintu mobil di sisi Indira. Gadis itu keluar dan menganggukkan kepalanya. Sambil mengikuti langkah Reno yang berjalan ke arah restoran.
Dari belakang, Indira mulai terbiasa melihat punggung milik Reno. Jika di perhatikan, tingginya hanya sejajar dengan bahu pria itu.
Keduanya masuk ke dalam restoran. Kesan pertama yang Indira lihat adalah tempat itu bernuansa romantis. Indira mulai gugup,dia baru kali ini pergi "kencan" dengan seorang pria.
Meski Reno sudah menjadi suaminya, namun Indira belum terbiasa dengan pria itu.Keduanya duduk di salah satu meja di sana. Pelayan pun datang menghampiri mereka.
"Kamu mau yang mana?" tanya Reno sambil menunjukkan daftar menu yang di berikan oleh pelayan tadi pada Indira.
"Indira ikut mas saja, yang penting bisa di makan," jawab Indira polos. Membuat Reno tertawa kecil.
"Kenapa tertawa mas?" tanya Indira heran.
"Kamu itu lucu banget sih Indira. Jelas kita ke restoran untuk makan, tentu saja semuanya bisa di makan dong," jelas Reno.
"Hehe iya ya mas," balas Indira sambil menahan malu.
Akhirnya Reno yang memilihkan makanan apa yang akan mereka makan.
"Bagus kan tempatnya?"
"Iya mas,bagus kok," jawab Indira. Sambil menunggu makanannya di siapkan, Reno mengajak Indira mengobrol. Dia mulai nyaman dengan gadis itu.
"Dulu mas sering ke sini bareng mama," tiba-tiba Reno teringat masa kecilnya.
"Benarkah? Berarti banyak kenangan di sini ya mas?" ucap Indira.
"Iya, mas harap suatu saat kita dan mama bisa makan bareng di sini. Juga papa," ada sorot kesedihan dari mata Reno.
"Amin,pasti bisa kok mas. Berdoa terus ya," ucap Indira. Reno menganggukkan kepalanya. Pelayan pun tiba membawa pesanan mereka berdua.
"Ayo makan Indira!"ajak Reno pada gadis itu.
"Baik mas," Indira memperhatikan makanan di depannya itu. Dia belum pernah makan itu sebelumnya.Meski begitu dia tetap memakannya untuk menghargai Reno. Keduanya menikmati makanan mereka.
Setelah selesai makan, Reno dan Indira harus segera pulang. Keduanya keluar dari restoran menuju ke mobil mereka. Ketika hendak masuk ke dalam mobil. Seseorang memanggil Reno.
"Reno!" sapa nya dengan suara lembut. Ternyata dari arah depan mobil Reno dia datang. Seorang wanita cantik yang belum pernah Indira lihat.
"Winda?" Reno mencoba mengingat-ingat siapa wanita itu.
"Iya ini aku Winda," jawab wanita itu.
"Ya ampun,kebetulan sekali bisa ketemu di sini? Mau makan siang?" tanya Reno.
"Iya, kamu dan dia?" Winda menunjuk ke arah Indira dengan tatapan meremehkan penampilan gadis itu.
"Dia istri aku,perkenalkan namanya Indira," Reno mengenalkan Indira pada Winda.
"Indira, ini teman sekampus ku dulu Winda," ucap Reno lagi.
"Halo mbak Winda, saya Indira salam kenal," Indira mengulurkan telapak tangannya.
"Winda," wanita itu meraih tangan Indira namun tidak sepenuhnya. Dan dengan cepat melepaskan tangan gadis itu.
"Oh iya dimana kamu sekarang bekerja Reno?" tanya Winda mengalihkan pembicaraan mereka.
"Aku memiliki perusahaan sendiri Win, kalau kamu?" tanya Reno. Indira merasa menjadi pihak ketiga di sana. Dia tidak mengerti pembicaraan keduanya tentang pekerjaan.
"Aku baru saja resign Ren, biasalah atasannya buatku tidak nyaman. Sekarang masih mencari-cari lagi."
"Oh begitu, ini ambillah siapa tahu butuh bantuan ku," Reno memberikan kartu namanya. Winda menerimanya.
"Baiklah, terima kasih Reno."
"Sama-sama, kalau begitu kami harus pulang dulu Win, sampai jumpa," ucap Reno di tambah senyum khas di bibir pria itu.
"Baiklah, sampai jumpa lagi."
Reno dan Indira masuk ke dalam mobil dan segera melaju ke arah jalan raya. Di dalam mobil, Indira bisa melihat Reno tampak bahagia setelah bertemu dengan Winda tadi.
"Apa Winda itu dulu wanita yang di sukai Reno?" batin Indira menerka.
Sepanjang jalan mereka hanya diam di dalam mobil hingga sampai di rumah.Sesekali Reno melihat ke arah ponselnya. Seperti menunggu seseorang menghubunginya.
Indira hanya diam, dan segera masuk ke dalam mobil. Dia tidak ingin mengganggu pria itu.
Winda menatap kartu nama di tangannya. Dia sedikit terkejut melihat jabatan Reno di perusahaannya.
"CEO utama? Keren sekali? Di tambah dia semakin tampan sekarang," gumam Winda membayangkan wajah Reno.
"Sayangnya sudah memiliki istri, tapi wanita itu berbeda sekali dengan Reno. Seperti wanita dari desa," gumamnya lagi.
"Hai sayang!" dari belakang wanita itu muncul seorang pria yang tiba-tiba merangkulnya. Winda dengan cepat menyembunyikan kartu nama yang di berikan oleh Reno.
"Eh sayang, udah datang! Lama banget sih aku nungguin di sini!" ucap Winda sambil cemberut.
"Maaf ya sayang, aku baru selesai meeting sama atasan tadi," balas Zoni,kekasih Winda itu.
"Oke-oke, ayo cepat kita pesan makanan. Aku sudah lapar sekali!" ajak Winda.
"Baiklah sayang," Zoni lalu duduk di kursi depan Winda. Lalu segera memanggil pelayan untuk memesan makanan mereka. Winda sebenarnya mulai bosan dengan Zoni. Pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Dan terlalu protektif pada dirinya.