Zoya bermimpi menjadi seorang guru sempurna yang bermoral dan mendidik. Namun, tak disangka ia hamil setelah melakukan one night stand. Awalnya dia hanya mau menghilangkan kekecewaan karena gebetannya berpacaran dengan sahabatnya sendiri, tapi ternyata dia sangat menikmati malam yang memuaskan itu dan berakhir hamil! Lebih parahnya, ayah dari bayinya adalah Alex, paman dari muridnya sekaligus direktur sekolah tempatnya bekerja. Kehamilan Zoya mempertemukan mereka lagi dan Alex memutuskan untuk menikahi Zoya. Namun, pada dasarnya mereka tidak saling kenal. Kira-kira keputusan apa yang akan diambil Zoya, si calon ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rose.rossie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Apa? Menikah? Apakah anda sadar dengan perkataan anda, Pak Alex?" Zoya terkejut dengan ajakan Alex, ia tidak percaya begitu mudahnya dia mengajaknya untuk naik ke pelaminan
Alex lebih terkejut akan penolakan Zoya. Sebelumnya tak pernah ada satu wanita yang menolaknya. Ia berpikir Zoya akan mengalah demi masa depan calon bayi mereka. Ternyata sungguh sulit menaklukkan wanita keras kepala ini.
"Zoya, saya mohon menikahlah dengan saya! Saya akan bertanggung penuh pada calon bayi kita," pinta Alex dengan nada memelas.
Zoya masih tidak menyambut niatan Alex, ia masih takut dibayangi oleh kegagalan pernikahan orang tuanya. Apalagi pernikahan mereka ini tidak dilandasi oleh cinta. Akhirnya mereka berdua hanya diam termangu menunggu jawaban satu sama lain.
"Maaf Pak Alex, saya tidak bisa memberi jawaban sekarang, ada banyak hal yang harus saya pikirkan. Bisakah anda menunggu sebentar." Zoya berharap Alex akan mengerti keadaannya.
Alex pun mengiyakan permintaan Zoya. Ia bersabar menantikan keputusan dari ibu calon bayinya. Berharap jawaban positif yang akan ia dapatkan. Setelah usai bercakap-cakap, Alex berpamitan ke Zoya.
"Saya pamit dulu, Bu Zoya. Saya harap saya mendapat kabar baik kedepannya." Alex berjalan meninggalkan Zoya bersama sekretarisnya.
"Wah, ternyata wanita cantik. Pantas saja sahabatku ini gila dibuatnya," goda Aldo.
"Tapi kalian terlihat canggung untuk dikatakan calon suami istri. Terutama perasaanmu sepertinya hanya perasaan sepihak saja. Apa benar kamu akan menikahi wanita itu?" Kali ini Aldo dalam mode serius menginterogasi Alex.
Alex hanya tersenyum kecut. Entahlah keputusan ini benar atau salah. Ia hanya ingin calon bayinya memiliki keluarga yang lengkap. Mungkin keinginannya ini agak sulit diwujudkan, ditambah lagi calon istrinya seperti memiliki trauma akan pernikahan. Alex menyadari dari jawaban Zoya tadi, ia kekeuh mempertahankan untuk tidak menikah. Hal itu yang agak membuatnya pesimis. Alex dan Aldo pun meninggalkan gedung sekolah dengan perasaan gusar.
...****************...
Siang itu Rena melapor pada Zoya ingin melakukan konseling. Zoya pun langsung mengajak Rena ke ruang konseling. Tampak keduanya terlihat canggung beberapa saat. Akhirnya Zoya pun menanyakan pertanyaan sepele untuk memecah keheningan.
"Anu Rena, apakah pamanmu tidak berkata apa-apa kemarin?" tanya Zoya.
"Tidak, Bu. Om saya selalu sibuk. Hidupnya benar-benar sangat terjadwal. Bahkan ke kamar kecil pun ada jadwalnya," jawab Rena panjang lebar.
"Wah, kalau hidupnya begitu terjadwal, apa jangan-jangan penyatuan kemarin memang sudah ada jadwalnya. Apa dia punya proyek pengembangan spesies," pikir Zoya dalam hati.
Ia cukup lucu menyadari ada orang yang hidupnya lebih kaku dari dirinya, tanpa sadar Zoya tertawa kecil mengingat tingkah Alex.
"Bu Guru, apa saya boleh jujur tentang sesuatu?" kata Rena pelan.
"Tentu saja boleh, Rena. Kamu mau cerita apa, Nak?"
"Kemarin di rumah sakit yang melahirkan adik saya bukan ibu kandung saya. Tapi tenang saja Bu, dia bukan ibu tiri seperti di kisah Cinderella, jadi ibu tidak usah khawatir mengenai itu. Ayah dan ibu saya menikah di umur mereka yang ke dua puluh tahun. Ibu melahirkan saya diumur dua puluh satu tahun. Kalau kata ayah, dulu cinta mereka sangat membara bagai kembang api.
"Bagai kembang api?"
"Iya bu, cinta mereka begitu besar, ditambah lagi karena dilarang oleh kakek dan nenek. Lalu ibu saya meninggal karena sakit saat saya berumur enam tahun. Karena itu saya tidak terlalu mengingat wajahnya. Setelah itu ayah menikah lagi dengan wanita yang lebih muda dua belas tahun darinya. Semenjak itu saya mulai dibesarkan oleh paman saya." Rena merasa lega bisa menceritakan semua masalah keluarganya.
"Kamu bilang dibesarkan oleh pamanmu. Lantas ayahmu?" Zoya tak habis pikir mengapa ayah Rena bisa setega itu.
"Ah, bukan begitu, Bu. Ayah saya menitipkan saya pada paman saya karena kesibukannya, kakek dan nenek saya juga orang yang sibuk, jadi hanya paman saja yang siap menampung saya. Walaupun paman saya baru berumur dua puluh tujuh tahun, tetapi ia orangnya cukup bertanggung jawab," jelas Rena.
"Apa? Dua puluh tujuh tahun. Zoya bisa-bisanya kamu dihamili berondong. Apa kata dunia, Zoya." Zoya mengutuk keteledoran dirinya.
" Bu Zoya, terima kasih sudah mendengarkan cerita Rena," kata Rena.
"Tidak Rena, justru ibu senang kalau Rena mau bercerita. Namun, bukankah kamu penasaran dengan kejadian kemarin di rumah sakit?"
"Saya tidak masalah, Bu. Itu 'kan hidupnya ibu guru. Saya juga tidak kekanak-kanakan untuk berpikir buruk tentang ibu,"
Zoya merasa malu sesaat karena berpikiran buruk tentang muridnya. Ia tidak menyangka bahwa Rena akan memaklumi perbuatannya.
" Bu Zoya, kalau tidak ada yang ingin disampaikan, Rena pamit dulu. Saya harap ibu tidak lelah mendengar curhatan saya." Rena berlalu meninggalkan Zoya sendirian di ruang konseling.
Zoya merebahkan kepalanya di meja. Hari ini ia benar-benar pusing, begitu banyak kejutan mendatanginya. Ia ingin segera pulang menjernihkan pikirannya, tapi apa daya malam ini ada acara makan bersama yayasan, jam pulangnya akan lebih malam. Ia pun sibuk memikirkan alasan membolos dari pertemuan itu. Tentu saja itu bukan hal mudah, apalagi pagi tadi Zoya sudah dimatahi oleh kepala sekolah.