Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

balasan Budi yang penuh keraguan

Namun, aku tak beranjak. Kakiku terpaku di aspal dingin, tak sanggup melangkah pergi. "Kau baru saja menyelamatkan nyawaku. Izinkan aku membalas sedikit kebaikan itu."

Ia menoleh tajam seketika, matanya menyala penuh kemarahan yang tak kusebabkan. "Jangan merasa begitu berharga. Aku tak menolongmu karena kasihan. Pergi sebelum aku berubah pikiran!"

Meski diusir dengan kasar, aku tetap diam di tempat. Sekeliling benar-benar sunyi—tak ada orang, tak ada kendaraan, tak ada benda yang bisa kugunakan. Hanya kami berdua di bawah cahaya remang lampu jalan yang redup. Dengan tekad bulat, aku merobek bagian bawah bajuku secukupnya—kain bersih yang masih tersisa—lalu melipatnya jadi perban. Saat mendekat untuk mengikat lukanya, ia mendorongku cukup keras hingga aku terhuyung mundur, tumitku tergeser di atas batu-batu kerikil.

"Kubilang PERGI!" bentaknya makin tinggi, suaranya pecah menahan rasa sakit yang menyayat.

Aku menatapnya ragu namun teguh, tak mundur selangkah pun. "Ibu pernah berpesan: jika orang berbuat baik padamu, engkau harus membalas sebaik-baiknya. Aku hanya menjalankan ajarannya."

Ia menyeringai sinis—senyum yang tak sampai ke matanya, tatapannya sulit dimengerti, penuh keraguan dan kepahitan yang mendalam.

"Kalau sungguh mau balas budi… temani dan layani aku di sini malam ini?"

Aku mundur spontan, tumit bergeser di aspal kasar hingga nyaris terpeleset. Wajahku pucat pasi, napas tercekat di tenggorokan, mataku panas hampir menangis lagi—takut, heran, kecewa bercampur sesak hebat yang menekan dada. Namun, ia segera memalingkan wajah, suaranya kaku dan berat menahan rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan, "Baiklah… lakukan apa yang kau mau." Ia mengangguk samar, tangannya masih mencengkeram erat luka di lengannya, tak berani menatapku lagi.

Aku mengembuskan napas lega perlahan, lalu mendekat kembali dengan langkah hati-hati. Berkali-kali aku meliriknya diam-diam, tapi setiap gerak kecilnya membuatku mundur kaget—canggung, takut, dan rasa malu yang memuncak. Perlahan ia membuka kancing bajunya satu per satu, memperlihatkan tubuh berotot yang kokoh namun kini ternoda darah yang menyebar gelap di kulitnya. Aku cepat memalingkan wajah, pipiku membara, rasa malu dan canggung memenuhi dada hingga sesak.

"Jangan berlagak segan begitu. Lakukan saja," ucapnya dingin dan datar, seolah tak peduli seberapa canggung aku merasa.

Aku memberanikan diri maju pelan, suaraku lembut nyaris berbisik, "Maaf kalau menyakitimu… izinkan aku melihat lukanya sebentar."

Mataku tertuju penuh pada luka lengannya yang masih merembes darah segar. Tanganku gemetar hebat saat hendak menyentuh kulitnya, keringat dingin membasahi telapak tanganku. Sangat hati-hati, kubentangkan kain sobekan itu, lalu mengikatnya perlahan—cukup kencang untuk menahan pendarahan, namun tak menekan berlebih. Sepanjang waktu itu, pandanganku hanya tertuju pada luka itu saja, tak berani melihat ke mana pun lain. Jarak kami begitu dekat; setiap kali ia meringis menahan sakit, aku bisa merasakan hembusan napas beratnya yang memburu di udara. Tanpa sadar, ia diam-diam menatapku tajam namun tenang—meneliti setiap gerak tanganku, setiap raut wajahku, seolah berusaha membaca siapa diriku sebenarnya.

Selesai mengikat perban, dadaku terasa jauh lebih lega—seolah beban berat terangkat dari pundakku. Saat mengangkat kepala dan menoleh tiba-tiba, ekspresiku kaku dan bingung: mata kami bertemu tepat. Lengan kanannya seketika melingkar di pinggangku, menarikku kembali hingga tubuhku jatuh ke dalam pelukannya yang kokoh dan tak tergoyahkan. Kedua tanganku tanpa sadar menekan dadanya untuk memberi jarak sedikit, seluruh tubuhku masih gemetar hebat—ketakutan, kebingungan, dan jantung yang berpacu liar seolah mau melompat keluar dari rongga dada.

Suaranya berat, dalam, penuh curiga yang nyata dan tak bisa disembunyikan.

"Bukankah ini yang kau mau?"

Aku berusaha melepaskan diri, namun lengannya sekuat baja—tak bergeser sedikit pun meski aku berjuang sekuat tenaga.

"Sengaja kau ke sini memancingku?" bisiknya tepat di dekat telingaku. Napasnya hangat dan berat menyentuh kulit leherku. "Berpura-pura polos, diam-diam siapkan cara agar aku tertarik. Kenapa sekarang menolak?"

Wajahnya makin mendekat, hidungnya hampir menyentuh pipiku. Ketakutan melumpuhkan seluruh tubuhku, pikiranku kosong melompong. Tanpa sadar, tanganku menekan tepat di lukanya yang baru saja kubaluti. Ia tersentak hebat, genggamannya lepas seketika—rasa sakit yang tajam mengalahkan segalanya.

Aku mundur terhuyung cepat, jantungku mau meledak di dada. Sekilas melihatnya meringis menahan sakit yang tajam, namun ketakutan lebih besar dari rasa iba. Tak boleh lama di sini. Tanpa menoleh ke belakang, aku berlari sekuat tenaga—meninggalkannya sendirian di lorong gelap itu, bayangannya makin mengecil di belakangku.

Berlari terus tanpa henti, napasku kacau dan terengah, hingga bangunan rumah sakit tampak samar di kejauhan. Langkahku dipercepat, pikiranku hanya satu: Aslan. Sudah terlalu lama aku meninggalkannya sendirian di sana, pasti ia cemas dan bingung.

Masuk ke rumah sakit, langkahku terdengar nyaring di lantai keramik dingin yang mengkilap—seolah menegurku karena pergi terlalu lama. Di depan pintu kamar, aku berhenti sejenak, menyeka wajah yang berantakan, menyisir rambut dengan jari, merapikan baju yang kusut—menyembunyikan segala ketakutan dan kekacauan di mataku—baru kemudian memutar gagang pintu perlahan.

Pasien lain sudah tidur lelap, napas mereka teratur di bawah selimut putih. Aslan juga tidur tenang di ranjangnya, wajahnya masih pucat namun napasnya terlihat lebih stabil. Aku berdiri diam menatapnya lama, mataku perlahan berkaca-kaca lagi. Pikiran kusut kembali menyerang: biaya operasi belum terpenuhi sama sekali, enam ratus juta masih angka yang mustahil, tak tahu dari mana mencari uang sebanyak itu, dan aku hampir saja…

Aku duduk di kursi kayu di tepi ranjang, menyandarkan punggung ke dinding yang dingin, lalu memejamkan mata sejenak—berusaha mengistirahatkan tubuh yang terasa hancur lelah, berusaha menenangkan hati yang masih berdebar kencang karena kejadian di lorong gelap tadi.

Keesokan paginya, aku terbangun karena riuh rendah obrolan dan langkah kaki di lorong luar. Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai, bercampur dengan suara klakson dan kicau burung dari jalan raya. Ternyata aku tertidur duduk semalaman, kepala bersandar di tepi kasur Aslan. Kubuka mataku yang terasa berat, pandanganku masih kabur dan kabut. Saat meluruskan tubuh perlahan dan menatap ranjang di depanku—Aslan sudah bangun. Ia berbaring tenang, menatapku tanpa berkedip sedikit pun, matanya jernih dan penuh tanya yang tak terucap.

"Sejak kapan bangun? Masih sakit?" tanyaku bingung, segera menyentuh keningnya untuk memeriksa suhu tubuhnya.

Ia menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibir pucatnya. "Sudah tidak sakit lagi."

Tiba-tiba perutku berbunyi keras memecah keheningan pagi, disusul bunyi serupa dari perut Aslan. Wajahku memerah padam karena malu yang tak tertahankan. Cepat berdiri sambil memaksakan senyum sebisaku. "Kalau begitu… Kakak beli makanan sebentar ya. Tunggu di sini, jangan ke mana-mana."

"Iya, Kak."

1
Wawan
Mawar buatmu Thor ...🌹
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
@Semua orang
kasihan mereka berpisah dari org tuanya hidup gelandangan lagi.
@Semua orang: nggak mau ngebayangin hidup diri sendiri aja banyak pikiran
total 2 replies
@Semua orang
dasar setan
Putry Chan: aku sneng klo emosinya terasa berati aku berhasil yah sebenarnya menurut ku sih ini kurang sih klo di bandingkan punya mu itu
total 1 replies
@Semua orang
beuhhhhhh
Putry Chan: sebenarnya aku suka klo ada yang jujur gitu ya klo aku ada kekurangan bilang aja gitu 😮‍💨
total 1 replies
@Semua orang
aku mampir lagi.
Putry Chan: sepertinya suasana hatiku lagi bagus aku kasih gif poin deh
total 1 replies
Kusyg Ki
tumben lama
Kusyg Ki
😍😍😍😍
Wawan
Iklan dan mawar 🌹 buat cerita ini 🔥✍️
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Wawan
Sip sip sip 👍
Wawan
Semakin menarik ...🌹✍️
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Maya 摩耶
oh ganti pov
Putry Chan: iyh cerita aslinya GK kek gini tapi aku ubah sedikit di bab awal biar lebih menarik 🤭
total 1 replies
Nona Coffee
pas awalnya tegang banget bacanya dan nyesek rasanya😭
Nona Coffee: iya ya Kak, karna kebanyakan baca novel sama nonton film heheh jadinya ya gini🤭
aku tiap hari dracin mulu sampai bosan😅
total 10 replies
Myz Pena
zara flashback... sepertinya ini kisa yang menyedihkan untuk perjalanan zahra kecil 🤧
Myz Pena
apa yang sebenarnya ibunya sembunyikan ? 😭😭
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 8 replies
@Semua orang
pertanyaan gw ini si Zara itu bakal istri kedua atau gimana, aku berhenti jajak di sini. See you at kelapak. no blm like
Putry Chan: maksih udh mampir
aku jawab ya bener dia nikah tapi hanya nikah kontrak aja dan suaminya ini menikahi dua wanita sekaligus alasan nya bibi nya trlalu percaya dengan hal tahayul/ramalan
agak susah klo di jelaskan knp percaya sama ramalan kek gitu karena harus ke cerita ke alur mundur dulu tentang bangsawan kuno agak lumayan rumit
TPI nanti Zara jadi istri satu² nya tapi agak lumayan berat sih
total 1 replies
@Semua orang
udh ah, gw aja hidup banyak wanti²
Putry Chan: mksih udh ingetin
total 4 replies
@Semua orang
hidup lagi sulit ah, berarti bapak di Zara itu mata² bayaran kan.
Putry Chan: sebenarnya bukan tapi ibu dan bapak Zara itu berasal keluarga bangsawan kuno yang lagi incer oleh leluhur mereka
total 1 replies
@Semua orang
injet
@Semua orang
sad banget ah.
Putry Chan: ini itu mengalir begitu sja di kepala ku , tapi menurut aku pribadi wajar sih namanya juga darkromansa, walaupun ini novel pertama ku aku udah pernah baca manhwa angsat jadi menurut ku ini masing mending 😅
total 1 replies
Wawan
1 iklan dan mawar buat cerita ini 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!