Indonesia
NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 : Dani Kecil

“Kita doakan dulu.” Pemuda Dekekuoi itu meminta semua saudaranya yang masih hidup untuk mendoakan Ramon dan istri serta 2 anak mereka yang kepalanya saja dikubur.

“Aku enggan mendoakan monster seperti mereka, hidup dari mengambil hidup orang lain.” Salah seorang Dekekuoi yang masih muda itu berkata dengan lantang, umurnya mungkin baru 16 tahun dan dia juga belum terlalu pandai merapal mantra.

“Tidak, ingat spirit Dekekuoi turun temurun, bahwa tidak ada makhluk Tuhan yang jahat, yang ada hanyalah iblis yang mereka menangkan di kepala. Jika saja mereka bisa memenangkan naluri kemanusiaan, sudah pasti mereka takkan menjadi monster yang paling mereka takutkan.”

“Kau terlalu baik untuk orang yang baru saja mencabik leher keluarga kita!” Anak muda Dekekuoi itu berkata dengan sedih, dia menangis, karena yang mati adalah ayah dan kakaknya.

“Sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang yang diberikan Sila dan kemampuan sihir untuk bisa menjadi baik, karena itu adalah bagian dari hidup yang telah diturunkan, dik. Ayah dan kakakmu gugur dalam mempertahankan kebaikan, sekarang aku takkan pernah meninggalkanmu.

“Ayo sekarang kita jemput dulu istri dan anakku Lira, mereka sudah menunggu di gua, setelah itu kita akan pergi ke kota lain, kita tak bisa di sini lagi, bagi desa ini kita telah mati karena dituduk PKI.”

Semua orang setuju, nenek tua, adik kecil yang kelak kalian kenal Rino, guru les musik Dani yang bahkan tidak diketahui sebagai Dekekuoi, kelak kalian akan tahu kenapa dia seberani itu mendatangi markas musuh yang sudah pasti mencabiknya.

Sementara 2 anak Ramon berlari kembali ke rumah mereka, berkemas dan segera pergi menuju rumah keluarga Huron. Saat sampai di sana, mereka duduk dengan badan gemetar, butuh waktu 3 hari untuk sampai karena meski pun bus sudah ada, tapi bus berhenti berkali-kali karena pemeriksaan militer, jalan ditutup, sopir mencari jalur alternatif dan bahkan harus menginap di dalam bus karena proses pemeriksaan yang begitu ketat. Satu persatu orang terus diperiksa dan dipastikan bukan berasal dari partai yang sedang dicari saat itu.

“Jadi, kemana Ur dan Ar, kemana papa dan mama kalian?” Nyonya Huron bertanya, tapi dia tentu mendahulukan mengobati luka kedua kerabat jauhnya. Seorang asisten rumah tangga yang merupakan manusia biasa namun setia dan berbakti turun temurun itu mengobati luka-luka sayat di tubuh anak sulung dan juga anak bungsu yang berhasil datang ke rumah keluarga Huron.

“Ur dan Ar sudah meninggal, dia dibantai oleh sihir Dekekuoi, sedang mama dan papa kemungkinan juga tak selamat karena mereka menghalau musuh dan memaksa kami lari, kami terpaksa lari karena ... setidaknya keluarga Ramon harus ada yang selamat kan?” Er menjawab dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi.

“Bukankah sudah kukatakan, bahwa kita belum siap! Kenapa kalian nekat! Oh Tuhan, saudariku mama Ramon, bagaimana keadaannya sekarang? Kita ... kita harus menjemput tubuh mereka papa!” Nyonya Huron yang selalu dihina di keluarga Ramon itu menangis.

Er dan Or melihat itu langsung bersujud di kaki nyonya Huron.

“Tolong kami, lindungi kami nyonya, kami akan menjadi budak anda jika perlu, maafkan kami karena kami tidak mendengarkan anda, kami mohon ....”

Mereka baru sadar kalau Nyonya Huron adalah sebenarnya keluarga, karena dia begitu peduli pada keluarga Ramon.

“Tidak, kalian bangunlah, kalian keluarga, tinggal di sini bersama Dani, dia butuh dididik oleh kalian, dia masih kecil dan butuh untuk pelatihan dari orang yang paling pintar dan paling kuat.” Nyonya Huron tahu keahlian dua anak Ramon itu, si sulung yang paling kuat dan si bungsu yang paling pintar karena nalurinya tajam.

Tiga hari perjalanan membuat tubuh mereka belum sepenuhnya pulih, tetapi keduanya tidak memiliki waktu untuk beristirahat terlalu lama. Mereka sudah kehilangan dua saudara, kedua orang tua, dan hampir kehilangan seluruh keluarga. Kini mereka harus belajar bertahan.

Dani berdiri di halaman belakang rumah keluarga Huron dengan tubuh yang terlihat seperti anak berusia sepuluh tahun, kecil, kurus, dan wajahnya bahkan masih tampak polos, namun Er tidak tertipu oleh penampilannya.

“Pegang pedang.”

Dani mengambil pedang yang diberikan Er.

Tangannya langsung bergetar.

“Berat.”

Er tertawa.

“Pedang ini bahkan belum seberat tubuhmu.”

Dani mencoba mengangkatnya menggunakan kedua tangan, pedang itu berhasil terangkat tetapi ujungnya langsung menyentuh tanah, sementara Or yang berdiri di samping Er hanya memperhatikan.

“Jangan ajari dia mengandalkan kekuatan.”

Er menoleh.

“Kenapa?”

“Karena dia belum membutuhkannya.” Si paling pintar merasa kekuatan berlebihan itu nantinya tak bisa dikendalikan, cerdas dulu baru kuat.

Or berjalan mendekati Dani.

“Yang perlu kau pelajari pertama adalah melihat.”

“Melihat apa?”

“Gerakan.”

Or mengambil sebuah batu kecil lalu melemparkannya ke arah Dani dan Dani refleks menangkapnya, membuat Er terdiam sementara Or hanya tersenyum.

“Lihat? Dia menangkapnya, bukan?”

Or mengambil batu lain dan melemparkannya lagi, kali ini lebih cepat, Dani kembali menangkapnya.

“Dia tidak melihat tanganku.” Or menunjuk mata Dani. “Dia membaca gerak tubuhku sebelum batu itu dilempar.”

Er mulai memahami maksud adiknya, karena naluri Dani memang berbeda, sehingga latihan pertama bukanlah pedang melainkan menghindar dan Er pun berdiri beberapa meter di depan Dani.

“Kalau aku bergerak ke kiri, kau ke kanan.”

Dani mengangguk, lalu Er tiba-tiba maju dan Dani langsung bergerak, Er berhenti, Dani juga berhenti, kemudian Er kembali bergerak dan Dani menghindar. Semakin lama gerakan Er semakin cepat, namun Dani selalu berhasil membaca arah tubuhnya, sampai akhirnya Er melakukan gerakan palsu dan Dani salah membaca, membuat tubuhnya terjatuh ke tanah.

“Bangun.”

Dani berdiri lagi, tidak menangis, tidak mengeluh, sementara Er justru tersenyum.

“Bagus.”

Dani menatapnya bingung.

“Kenapa bagus?”

“Karena kau tahu rasanya salah.” Er kemudian menyerahkan pedang.

“Sekarang kita mulai dari awal.”

Hari pertama, Dani hanya belajar berdiri. Hari kedua, belajar berjalan dengan pedang. Hari ketiga, belajar menghindari serangan. Hari keempat, belajar menyerang. Namun Er tidak pernah mengajarinya menyerang dengan membabi buta.

“Pedang bukan untuk membuatmu marah.” Er menahan pedang Dani.  “Pedang adalah perpanjangan tubuhmu.”

Dani mencoba kembali dengan gerakan yang lebih tenang, sementara Or berbeda karena ia tidak terlalu banyak mengajarkan teknik melainkan justru memberikan teka-teki, di halaman ia menaruh beberapa benda seperti batu, kayu, daun, pedang, dan tongkat, lalu meminta Dani memilih benda yang menurutnya paling berbahaya, dan Dani menunjuk daun.

Er tertawa. “Daun?”

Dani mengangguk, Or tidak tertaw, dia bertanya, “kenapa?”

“Karena daun itu tidak bergerak mengikuti angin.”

Or tersenyum lebar.

“Benar.”

Er langsung melihat ke arah daun tersebut dan ternyata di balik daun itu ada kawat tipis yang dipasang sebagai jebakan, sejak hari itu Er dan Or sadar bahwa Dani bukan sekadar anak yang memiliki Sila, karena naluri anak itu jauh lebih tajam dan ia mampu merasakan sesuatu yang bahkan tidak terlihat oleh mata, sehingga latihan mereka berubah di mana Er mengajarinya tubuh, Or mengajarinya pikiran, dan Er membuat Dani berlari melewati hutan buatan di belakang rumahnya sambil menghindari serangan pedang kayu.

Or menyembunyikan dirinya di berbagai tempat dan meminta Dani menemukan keberadaannya tanpa menggunakan mata.

Kadang Dani gagal, kadang ia berhasil, namun setiap kali gagal, Or tidak pernah memarahinya.

“Jangan menghafal gerakan.” Or berkata.

“Lalu?” Dani bingung.

“Rasakan.”

Dani memejamkan mata.

“Apa yang harus kurasakan?”

“Bahaya,” Or menjawab.

Malam hari, ketika semua orang sudah tidur, latihan masih berlanjut.

Dani duduk di depan Or.

“Kenapa kalian mau melatihku?”

Or terdiam cukup lama.

“Karena kami tahu rasanya kehilangan keluarga.”

Dani menundukkan kepala.

Or kemudian mengusap rambutnya.

“Kau mungkin masih terlihat seperti anak kecil.” Ia tersenyum. “Tapi kami tidak tahu sebenarnya kau sudah hidup berapa lama.”

Dani menatapnya. Tidak menjawab. Er yang mendengar percakapan itu hanya berdiri di depan pintu. Ia mulai menyadari sesuatu. Dani anak yang hebat meski masih muda untuk ukuran Jagabaya Kasipin.

Namun malam itu, Dani hanya seorang anak yang sedang belajar memegang pedang.

Dan dua keturunan Ramon yang baru kehilangan keluarganya menjadi orang pertama yang mengajarinya bagaimana cara bertarung.

1
Vie Vie Sue
/Good/
Vie Vie Sue: iya. sama2 kk. aku masih disini cuma nungguin karya² kk. sukses selalu ya
total 2 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!