⚜TAMAT⚜
"Tolong jangan sentuh saya!. Karena kita bukanlah muhrimnya."
Bahkan pandangan mata gadis yang sama sekali belum menutup auratnya tersebut tertunduk seketika, kala pria itu mengulurkan tangannya.
Khadijah Rahman adalah seorang gadis muda yang memiliki pandangan hidup luas tentang agama.
Dirinya adalah seorang anak perempuan tunggal di keluarga Asyidiq Rahman. Papa Khadijah adalah seorang pengusaha kaya raya yang memiliki usaha di bidang kuliner. Bukan hanya itu saja, Asyidiq juga berprofesi sebagai seorang pendakwah dilingkungan rumahnya.
Karena hal itulah yang membuat Khadijah termotivasi untuk mendalami ilmu agama seluas mungkin.
Tapi, hingga suatu hari Khadijah harus mengalami hal memilukan dalam hidupnya. Beberapa orang berandalan telah sengaja menodainya. Dan hal itu sempat membuatnya berputus asa dan ingin mengakhiri hidupnya sejak peristiwa nahas itu terjadi.
Akankah ada sebuah keajaiban untuk Khadijah ?
Simak kelanjutan kisahnya yah ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TikaPermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali
"Rencananya mulai hari ini saya ingin memasukkan putri saya dipondok segera." jelas Rahman pada Yudho yang telah menjamunya di ruang tamu.
Lelaki pengurus ponpes milik yai Mumtaz tersebut sedikit terkejut dengan permintaan Rahman yang terkesan mendadak. Biasanya, setiap orang tua murid calon santri maupun santriwati disana akan menyurvei terdahulu bagaimana keadaan sekitar dan kawasan setempat.
"Oh, tentu tentu. Boleh saja, asal ibu dan bapak telah berkeyakinan teguh terhadap pondok ini." Ia pun segera mengambilkan berkas untuk segera mengurus segalanya hari itu juga.
Dari luar, samar terdengar derap langkah kaki sayup-sayup tengah berjalan beriringan.
"Eh,gus." sapa Yudho dengan sedikit membungkuk dan tersenyum.
Serentak seluruh anggota keluarga Rahman pun menoleh ke arah belakang dan melihat kehadiran seorang yang di sapa sebagi gus.
"MasyaAllah, dokter Al ."
"Eh bukan, gus Al?" sapa Rahman yang kikuk juga menentukan panggilan untuknya.
"Ah bapak, cukup panggil nama saya saja." imbuhnya dengan ramah dan sopan.
Sebuah pemandangan yang tak pernah Khadijah dapati ketika bertemu Al selama dirumah sakit, Al yang terbiasa menggunakan baju dinasnya sebagai seorang dokter kini tengah berbalut pakaian khas islami. Sebuah celana kain hitam dan jubah putih panjang beserta peci putih.
Pesona Al saat itu, seketika menghipnotis pandangan Khadijah dengan tatapan terperangah.
"St ..." panggil Bilal dengan sebuah isyarat karena melihat sang adik tak berkedip sedetikpun.
*
*
*
"Jadi, bapak telah memutuskan hal itu saat ini." sahut Al yang tengah mengajak Rahman berbincang cukup jauh dari keluarganya.
"Haaa, iya dok." Rahman menarik nafasnya dengan begitu berat.
"Saya harap putri saya disini mendapatkan pengalaman spiritual yang sebaik mungkin, agar ia bisa lebih baik dikedepannya. inshaAllah." imbuh Rahman.
Al hanya mengangguk dengan seksama menyimaknya.
"Tapi ..." seru Rahman yang kembali risau.
Seakan mengerti tentang kegelisahan Rahman, Al pun menjawabnya sebelum hal itu terucap dari mulut Rahman .
"Jangan risau pak, inshaAllah semua akan berjalan sesuai kehendak Allah."
"Kami disini juga akan menjaga Khadijah sebaik mungkin."
Al menguatkan keyakinan Rahman kembali sebelum ia meninggalkan sang putri disana.
"Saya bersyukur, Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan ini dokter Al."
"Anggap saya seperti putra bapak sendiri, dan cukup panggil Al saja. Bapak lebih tua dari pada Al, jadi kurang bagus didengarnya." pinta Al dengan santun.
Keduanya pun berbalik untuk menjumpai keluarganya kembali.
"Sudah mama urus semua berkasnya pa, " jelas Fatimah yang sudah memegang sebuah map merah muda yang berisikan data Khadijah untuk mengikuti semua pengajaran diponpes tersebut.
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Nak, kami semua pamit dulu ya. Jaga diri sebaik mungkin disini, karena ini kota orang bersikaplah dengan baik selama disini."
Semua nampak memeluk Khadijah untuk yang terakhir kalinya disana, tapi ketika Fatimah yang terakhir kali memeluknya. Tangisnya pun pecah seketika, air mata berderai tiada henti. Karena hatinya begitu berat melepas sang putri semata wayangnya.
Tak ada lagi yang akan selalu mengganggu dirinya dipagi hari yang tengah menyiapkan sarapan didapur.
Berbeda dengan Khadijah, seakan ingin menyembunyikan tangisnya. Ia sama sekali tak berkata apapun ketika perpisahan itu berlalu. Hanya menganggukkan kepalanya setiap kali.
"Selamat datang di ponpes kecil milik ayah saya ini, semoga kamu betah disini ya." sambut Al dengan baik dan terkesan merendah.
"Kecil?" gumam Khadijah sambil memutar kedua bola matanya berkeliling ponpes sekitar.
"Sebentar ya, sebentar lagi mbak Komar akan membantu kamu berkemas."
Setelah cukup lama menunggu sambil berbincang dan saling menjaga jarak, Komariyah yang tiba dibelakang keduanya membuat sebuah kode cukup keras.
"EHEM!" dengan suara lantang Komariyah membuat nada paling tinggi yang ia miliki. Matanya membulat besar sambil melirik ke arah Khadijah yang begitu jauh lebih cantik darinya.
"Mas, kan kata yai nggak boleh berdua-duaan seperti ini." cela Komariyah dengan wajah menyeramkan dan melipat kedua tangannya.
"Ini siapa si, kayaknya bukan ibu Al. Apalagi cewek Al, rasanya nggak mungkin banget. Orang kaya boneka lidi-lidian begitu bentuknya!" gumam Khadijah yang begitu menyoroti setiap penampilan Komariyah disana.
...BERSAMBUNG...
ters berkarya
thooor yg buanyak....jangan lupa kopiii
jangan lupa ngopiiii...biar up'y banyak
up yg banyak...😊😊😊