Karya ini menceritakan tentang kehidupan seorang manusia yang sulit bahkan hampir tidak mau berbaur dengan sesama. Bahkan selama hidupnya, hanya ia habiskan untuk keluarganya saja. Kehidupan dengan tetangga dan sekitar tak ia pedulikan. Bahkan untuk menyapa pun sangat enggan dilakukan. Hingga akhirnya ia di temukan telah mati membusuk dirumahnya. Tak ada seorang pun yang mengetahui akhir hayatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endah puji astuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Budhe Sumi Sawan
Malam harinya, kami memilih untuk tidur berempat. Ayu memilih untuk tidur dekat tembok, bersebelahan dengan Ibu. Sedangkan aku memilih untuk tidur di tengah-tengah, di antara Ibu dan Bapak.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh, aku belum juga bisa tidur. Suara nafas Ibu yang teratur menandakan jika beliau sudah terlelap. Bapak pun juga sama. Mira tidur menghadap tembok, membelakangi Ibu. Sedangkan aku tetap dalam posisi telentang.
Suara keributan di dapur yang tiba-tiba saja terjadi membuat detak jantungku berdegub dengan cepat. Terdengar seperti seseorang yang sedang mengambil perabotan dari tempatnya dan menjatuhkannya berkali-kali. Aku menoleh ke arah Ibu. Ibu menggenggam tanganku erat. Beliau membuka mata, namun tidak bersuara. Sedangkan Bapak dan Mira terlihat lebih waspada.
Ruang tengah dan dapur hanya di hubungkan dengan sebuah pintu yang di tutup dengan korden. Tadi sebelum tidur, Ibu sudah menutup korden dengan rapat. Namun kini, korden itu sedikit bergeser. Menampakan sedikit saja apa yang terjadi di belakang sana. Mataku tertuju pada sebuah sosok yang berdiri membelakangi kami. Sosok itu berdiri mengarah ke jendela dapur yang menghadap langsung ke kebun belakang rumah. Aku menangis, keringatku mengucur deras. Remang cahaya lampu di dapur mampu membuat kami melihat apa saja yang berada di sana. Seperti tampak sengaja menampakkan wujudnya, sosok Bu Nuri tak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri sejak tadi.
Aku menenggelamkan kepalaku pada lengan Ibu. Menahan suara tangis agar tak terdengar. Sedangkan Mira, ia tampak memeluk lengan Ibu dan tetap menatap ke arah dapur.
Entah berapa lama sosok itu berdiri di sana. Aku kembali terlelap dan terbangun saat matahari sudah mulai terlihat.
Tak ada obrolan di antara kami berempat. Mira pun tampak diam. Menyelesaikan mandi paginya dengan cepat dan segera menghabiskan sarapannya. Begitu pun denganku. Meskipun kami makan bersama di meja makan, namun pagi ini suasana menjadi hening. Aku enggan menanyakan apa yang terjadi setelah aku tertidur semalam. Mira pun juga tampak biasa saja setelah kejadian semalam.
Aku dan Mira berpamitan pada Bapak dan Ibu untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa Bapak juga akan segera pergi ke ladang. Sedangkan Ibu tetap di rumah untuk menjemur beberapa hasil panen yang di bawa Bapak kemarin sore.
Mira berhenti saat melewati rumah Bu Nuri. Lama ia menatap rumah kosong yang berdiri megah dan besar itu.
"Rumah bagus begini, mengapa yang punya malah lebih suka keliling ke rumah-rumah tetangga yang dulu tak pernah dia sambangi meskipun sebentar, ya, Mbak?." Mira berucap sambil menatap lama rumah mewah berlantai dua itu.
"Sudahlah, Mira. Ayo berangkat, keburu siang." aku menarik tangan adikku itu. Bukan takut kesiangan alasan sebenarnya aku memintanya untuk cepat-cepat berangkat. Namun seseorang yang menatap kami dari balkon rumahnya itu lah yang membuatku ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Siang itu, rumah Budhe Sumi tampak ramai. Terdengar suara banyak orang berkumpul dan membahas entah apa. Aku tak berniat untuk mencari tahu apa yang terjadi di sana. Aku lebih memilih untuk langsung pulang saja.
"Mbak, ayo kesana." Mira menggandeng tanganku untuk mengikutinya. Aku menolak.
"Mbak Ayu mau di rumah sendirian?" tanya Mira. Aku terdiam.
"Tuh, lihat. Bapak sama Ibu ada di sana juga." tunjuk Mira.
Hawa dingin langsung terasa manakala kaki ku baru saja melangkah masuk ke rumah Budhe Sumi. Seperti ada seseorang yang mengawasi dari jauh, aku menoleh melihat ke sekitar. Beberapa tetangga seperti Lik Din, Lik Siti dan yang lainnya, ditambah Pak RT juga berada di rumah Budhe Sumi. Kyai Soleh dan beberapa santrinya juga terlihat sedang menunggui Budhe Sumi di sebelah dipan tempat Budhe Sumi terbaring.
Budhe Sumi tampak terbaring lemah di dipan. Di sebelahnya tampak Pakdhe Yoso sedang mengompres serta membaluri tubuh istrinya dengan minyak angin. Budhe Narti rupanya juga ada di rumah Budhe Sumi. Membantu menyiapkan air hangat untuk mengompres tubuh Budhe Sumi. Wajah Budhe Sumi tampak pucat. Matanya menatap nanar ke langit-langit kamar, sedangkan mulutnya terlihat terbuka seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Budhe kenapa, Bu?"
"Nggak apa-apa, Nduk. Budhe hanya kecapean saja." Ibu meletakkan telunjuk di depan bibir. Memintaku untuk tidak banyak bertanya tentang kondisi Budhe Sumi. Biarlah, nanti pasti Bapak atau Ibu pasti akan bercerita sendiri. Atau kalau tidak, Mira atau Budhe Narti yang akan memberitahu.
Sampai malam pun, tak ada satupun yang bercerita mengenai kondisi Budhe Sumi dan juga alasan Budhe Sumi jadi seperti itu. Mira pun sama. Dia tetap tenang dan diam seolah tak pernah mengetahui apa pun. Meskipun takut, tapi jujur saja aku tetao penasaran tentang keadaan Budhe Sumi.
"Budhe Sumi kenapa tadi, Pak?" kali ini aku bertanya pada Bapak. Setidaknya Bapak pasti akan menjawab ketimbang bertanya pada Ibu. Karena Ibu pasti hanya akan bilang kalau Budhe Sumi tidak apa-apa.
"Kaget, Nduk. Sawan sepertinya." jawab Bapak. Aku dan Mira menoleh kompak.
"Memangnya kenapa, Pak?" kali ini gantian Mira yang bertanya.
"Semalam, katanya Budhe Sumi di keloni sama Bu Nuri. Kaget dia, karena tiba-tiba guling yang sedang dia pakai ternyata Bu Nuri." jawab Bapak seketika membuatku merinding. Bagaimana tidak, aku selalu memakai dua guling saat tidur. Apalagi aku merasa nyaman setelah tidur memeluk guling.
"Mbak, kenapa?" Mira menatapku saat aku bergidik ngeri membayangkan jika guling yang ku pakai juga berubah menjadi Bu Nuri.
"Nggak ada." jawabku singkat.
"Lalu, bagaimana kondisinya Budhe Sumi terakhir tadi" kali ini aku gantian menimpali.
"Sudah mendingan, sudah bisa di ajak bicara."
"Loh, memangnya tadinya nggak bisa di ajak ngomong, Pak?" Mira terkejut mendengar ucapan Bapak. Bapak menggeleng.
"Sudah malam, kalian tidur. Besok sekolah." Ibu meminta kami untuk segera berangkat tidur. Namun cerita Bapak mengenai Budhe Sumi yang di keloni sama Bu Nuri membuatku ragu untuk masuk ke dalam kamar.
"Mir, tidur sama Mbak, ya." pintaku pada adikku itu.
"Nggak, ah, Mbak. Mira mau tidur di kamar sendiri saja." ucapnya tegas.
"Bu." kali ini aku berharap pada Ibu.
"Tidurlah, Nduk. Tidak akan ada apa-apa. Jangan lupa berdoa sebelum tidur." aku lemas mendengar jawaban Ibu. Itu artinya aku akan tidur sendiri lagi malam ini.
Ku keluarkan semua gulingku dari kamar. Meletakkannya di ruang tengah dimana Bapak akan tidur di sana. Bapak, Ibu serta Mira menatap ke arahku. Mira tertawa melihatku mengeluarkan guling-gulingku. Sedangkan Bapak hanya diam saja. Ibu menatap lekat ke arah Mira, seketika tawa Mira pun berhenti.
"Mbak, yakin bisa tidur tanpa guling?" ledek Mira. Aku masuk ke kamar dengan membanting pintu tanpa menjawab ledekan Mira.
by the way ,cerita ini tamat kah krn kampung nya sudh jadi kampung mati.Mira dan Ayu pun sudah dewasa dan berkeluarga...😗
maghrib maghrib udh keluyuran 👻👻👻