Bagaimana jika dua anak yang berasal dari golongan konglomerat menikah? Akan semewah apa hidupnya nanti? Dan seberapa besar kebahagiaan yang mereka dapatkan?
Kisah cinta romansa yang dibumbui dengan bermacam pelajaran yang akan mengantarkan mereka ke perjalanan perjalanan kehidupan tingkat dua.
Tokoh utama laki-laki bernama Cakra Argamentasi. Cakra yang menghabiskan hari-harinya didalam kamar hanya untuk bermain aplikasi Tuktuk, memutuskan untuk melanjutkan hidupnya ke tingkatan lebih serius. Agar dirinya lepas dari zona malas dan ingin mencari kenyamanan dari dunia luar.
Sedangkan si tokoh utama wanita bernama Gabrillae Citra Piyaninka. Perempuan yang memiliki cita-cita menikah muda. Keinginan gila, membuat semua laki-laki berbondong-bondong menginginkannya sebagai seorang Istri. Terlebih lagi, Citra itu kaya, mempunyai karir & citra bagus. Banyak lelaki yang ingin memilikinya, namun harapan itu kandas mengingat Citra adalah perempuan kaya. Mereka mundur karena insencure.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lila Widya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
...Selamat membaca🦎...
...-CICAK🦎-...
"Gurunya di mana?"
Pagi-pagi sekali Citra membangunkan Cakra, menyuruhnya agar Cakra menemani dirinya latihan menari balet. Cakra sempat ingin menolak permintaan Istrinya, namun ia sadar, bahwa Citra sedang marah kepadanya.
Citra memakai sepatu baletnya, lalu mengangkat bahunya. Sebenarnya, Citra berbohong kepada Cakra. Ia mengatakan bahwa Teman-teman dan Gurunya telah menunggunya di ruangan ini. Citra terpaksa, karena ingin berduaan dengan Cakra.
Tapi sebelumnya, jangan salah paham dulu. Citra hanya ingin mengetahui lebih dalam tentang Suaminya. Ia hanya ingin mendekatkan dirinya kepada Cakra. Citra ingin menjadi seorang Istri yang berbakti kepada Suaminya.
"Kamu latihan sendiri?" tanya Cakra lagi.
Citra tidak menjawab pertanyaan Cakra. Citra harap, pengelihatan Cakra masih sehat. Cakra menghela
napasnya, lalu mengernyitkan keningnya. Apakah Istrinya masih marah dengannya?
Citra mulai melakukan pemanasan dan peregangan sebelum latihan menari balet. Sepanjang Citra latihan, Cakra hanya mengamati Istrinya dengan diam. Sesekali Cakra meminum air, karena bosan.
Sepuluh menit sebelum Citra mengakhiri latihannya, Cakra berlari kecil, melakukan olahraga pagi. Cakra juga merasa, ia harus hidup sehat.
"Udah mau jam 9. Mau pulang sekarang?" tanya Cakra kepada Citra.
Cakra harus pulang ke rumah untuk mandi, karena hari ini adalah hari pertamanya ia bekerja. Hari ini, Cakra sangat bersemangat untuk mencari uang.
Citra menganggukkan kepalanya. Saat sudah di depan rumah, mereka saling bertatapan. Citra berusaha menahan tawanya, karena sepertinya Suaminya juga tengah menahan tawa. Dua detik kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak.
Citra membuang wajahnya sembari tertawa. Lima menit telah berlalu, dan Suami Istri ini masih sibuk tertawa hingga merasakan perutnya sakit. Sebenarnya, apa yang mereka tertawakan. Hanya karena saling bertatapan, mereka berdua bertingkah seperti ini. Lihatlah, para Pelayan pun bingung dengan tingkah Tuan dan Nyonyanya.
"Kenapa ketawa?" tanya Citra yang masih tertawa.
Cakra berusaha untuk meredakan tawanya. "Lo nganterin gue kerja pake gaun?" tanyanya.
Tidak ada suara tawa. Citra menatap gaunnya. "Kenapa? Lebih bagusan pake dress?" tanya Citra bingung.
Citra memicingkan matanya, menatap pakaian Suaminya. Cakra memakai outfit kaos hitam dengan outer jaket dan celana jeans. Sedangkan dirinya memakai gaun pesta yang berwarna putih.
Cakra ingin meledeki Istrinya, namun niatnya ia urungkan. Mengingat bahwa Citra sedang marah dengannya, Cakra lebih memilih untuk menyimpan kata-kata yang mungkin akan terdengar menyakitkan. Cakra akan mengeluarkan kata-kata itu, ketika nanti malam, atau ketika Citra sudah tidak marah lagi dengannya.
Cakra menatap sebuah jas di tangan Istrinya. "Ini," Citra menyodorkan jasnya.
Cakra tidak mengambilnya. "Udah makan?" tanya Cakra kepada Istrinya.
Citra menggelengkan kepalanya pelan. Tadi Citra ingin memasakkan Cakra makanan untuk bekal kerja nanti. Namun Citra ingat, bahwa dirinya tidak bisa memasak. Karena kepepet, Citra juga barusan mandi bebek.
"Makan dulu." kata Cakra menyuruh Citra.
"Hah? Iya, Citra panggil Bibi dulu biar siapin makanannya, ya."
Cakra mencekal lengan Citra. "Gak usah. Kamu aja yang makan. Kamu mau 'kan temenin aku kerja?" cakap Cakra bertanya kepada Istrinya.
Citra tersentak kaget. Tampak ada kegaguman di wajahnya. Demi apapun, Suaminya ini terlihat sangat tampan. Citra terpesona selama beberapa detik.
Cakra menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban Istrinya. "Citra, ikut?" tanya Citra bingung.
Cakra melepas cekalannya, kemudian menganggukkan kepalanya menjawab. "Mau?" tanyanya.
Citra tampak ragu, namun ia menyetujuinya. "Ganti baju dulu. Pakenya baju santai aja."
Namun, bukannya masuk ke dalam rumah, Citra sibuk memandangi Suaminya. Cakra mengerutkan keningnya. "Pakai gaun, gapapa?" tanya Citra.
"Kenapa?" tanya Cakra balik.
Citra melirik sekitarnya, lalu berdehem pelan. "Citra enggak punya baju santai."
Cakra membulatkan matanya terkejut. "Punyanya gaun sama dress aja." lontar Citra lagi.
Beginikah rasanya memiliki Istri kaya raya? Wajahnya yang sangat cantik, membuat rasa malu Cakra bertambah. Rasanya, detik ini juga Cakra ingin menjadi lebih kaya dari Istrinya.
Citra mengatakan itu tanpa menatap Cakra. Rasa aneh-ia merasa seperti penjual gaun dan dress. Bagaimana tidak? ada tiga buah lemari besar yang hanya berisi gaun dan dress saja di dalamnya.
"Apa tidak boleh, menemani Cakra dengan memakai gaun ini?" tanya Citra hati-hati.
Gaun putih yang harganya setara sepeda motor baru keluaran tahun ini. Cakra menelan ludahnya. Memang, mereka berdua sama-sama kaya. Tapi bedanya, Citra kaya karena uang dirinya sendiri. Sedangkan Cakra, ia mempunyai gelar kaya raya, karena Ayahnya.
Walaupun ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Dan ia juga menjadi seleb terkenal, namun begitu, Citra masih jauh dibandingkan dengan Cakra.
Disaat Cakra sibuk memanjakan dirinya di atas ranjang, berbeda dengan Citra. Disaat Cakra tidur, Citra selalu bekerja. Disaat Cakra melakukan siaran langsung sepanjang hari, Citra mengikuti dan mendapat juara di berbagai jenis lomba. Salah satunya, balet dan juga menulis buku.
Citra memiliki segudang prestasi. Tidak akan habisnya jika orang-orang menghitung berapa banyak prestasi dan apa saja yang Citra dapatkan selama ini.
Cakra menggelengkan kepalanya. Ia berpikir, sepertinya memang benar ucapan para netizen waktu itu. Pendidikan itu sangat berarti bagi perempuan. Apalagi disaat dia sudah berumah tangga.
"Pakai baju aku aja." kata Cakra sembari tersenyum.
"Baju-Pakai baju Cakra?" tanya Citra menunjuk dirinya sendiri.
Setelah memakai baju Suaminya, Citra berlari kecil menghampiri Cakra dengan senyuman lebarnya. Rasanya ia sangat senang. Citra memakai baju Suaminya yang besar itu. Bau parfum bajunya, membuat Citra tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Ada rasa aneh, dan nyaman. Ada rasa senang juga di dalamnya. Citra berdiri di depan Cakra seraya menyengir lebar.
"Lucu." ungkap Cakra ketika menatap penampilan Istrinya.
Citra itu tinggi. Namun, ketika memakai baju miliknya, entah kenapa, Citra terlihat seperti anak kecil yang sangat cantik.
Sial, Cakra terpesona dengan Citra.
"Ayo," ajak Cakra mengulurkan tangannya untuk menggemgam tangan Citra.
Citra menatap telapak tangan itu selama beberapa detik. Sepertinya, ia telah terhipnotis oleh Suaminya sendiri. Dan tanpa sadar, Citra membalas genggaman Cakra.
Namun saat tiba di depan gerbang, Citra mengingat sesuatu. Ia menghentikan langkahnya. "Cakra, kamu kerja di mana?"
Cakra menunjuk sebuah gerobak di depan gerbang. Itu adalah gerobak bakso.
Citra tercengang, terkejut. Sangat terkejut. Ia menatap wajah Suaminya yang tengah tersenyum.
Benarkah?
"Jualan bakso?" gumam Citra.
Alih-alih menjawab, Cakra memilih untuk mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang. Alis Citra berkerut, bingung.
"Bakso cicak resmi di buka."
...-CICAK🦎-...
Citra menatap kagum makanan yang berbentuk bulat itu. Sangat besar. Ia lalu mengalihkan tatapannya ke Cakra.
"200 cabang di 27 provinsi."
Mendengar itu membuat Citra bertambah kagum dengan Suaminya. Lihatlah, sekali buka, langsung 200 cabang.
Dan parahnya lagi, semua di cabang itu semuanya rame. Hari ini mereka kelelahan melayani para pembeli. Laris manis. Bakso ayam dengan nama cicak itu, menjadi sorotan media.
Citra menopang dagunya di atas meja. Setelah melihat langsung ke salah satu cabang di dekat rumahnya, Citra membasahi bibirnya. Jujur saja, Suaminya itu keren.
Citra tidak menyangka bahwa Cakra sudah menyiapkan ini dari jauh-jauh hari. Tadi Cakra jujur kepada dirinya, bahwa modalnya ia ambil dari semua tabungan yang ia punya. Citra terharu mendengarnya.
"Kok gak bilang-bilang?" tanya Citra kepada Suaminya.
Cakra menahan tawanya. "Kenapa? Ini hadiah aku buat kamu," ucap Cakra.
Citra mengembangkan senyumnya.
Ia semakin bersyukur karena memiliki Suami seperti Cakra. Citra merasakan pipinya bersemu. Dengan cepat ia masuk ke dalam dapur dan mencuci wajahnya.
Sedangkan Cakra yang melihat itu, terkekeh geli. "Cakra gitu. Ini berkat ide para Penggemar," gumamnya senang.
"Kayaknya gue harus ngadain giveaway buat semua para Penggemar gue."
Citra keluar dari dapur membawa sesuatu, yang membuat Cakra memudarkan senyumnya. Itu adalah sebuah gayung.
"Cit-"
Cakra tidak melihat rasa marah ataupun kesal di wajah Citra. Di sana terlukis wajah yang terlihat senang.
"Kenapa?" tanya Citra dengan senyumannya.
Cakra terdiam. Ia menduga Istrinya pasti akan marah kepadanya.
"Cakra, kamu gak perlu sembunyiin ini dari aku." Kata-kata Citra membuat Cakra berdiri kaku.
Citra menarik kursi, lalu duduk di depan Cakra. "Aku merasa enggak berguna jadi Istri kamu," ucap Citra pelan.
Cakra menelan salivanya dengan susah payah. "Kita udah jadi Suami Istri. Aku bener-bener pengen tau semuanya tentang kamu." Citra diserang dengan rasa bersalah.
Citra menunjuk sebuah gayung yang di sana terdapat sebuah tulisan. Citra menarik tangan Suaminya, lalu menggemgamnya erat.
"Jujur ya," pinta Citra.
Cakra mengangguk lemas. Citra juga harus mengetahui hal itu.
"Cakra pengen pergi ke pulau Kelinci, ya?" tanya Citra kepada Suaminya.
Cakra mengangguk. "Itu cita-citanya Cakra?" tanya Citra lagi.
"Iya, udah dari dulu."
"Aku gak suka sama kelinci. Tapi aku pengen ke pulau.. itu," beritahu Cakra.
"Nenek aku yang suka sama hewan yang namanya kelinci. Itu tulisan Nenek. Waktu kecil, Nenek nyuruh aku buat ke pulau itu. Tapi aku benci sama namanya kelinci."
Citra mulai mendengarkan curhatan Suaminya. "Makanya, di sana ada permintaan ketemu Nenek satu jam aja," kata Cakra.
"Nenek kamu, udah, gak ada?" tanya Citra hati-hati.
"Masih."
"Terus-"
"Ada masalah di antara kami. Keluarga kami sudah hancur." Citra tidak bisa berkata-kata lagi.
"Nenek aku, terkena kutukan." Cakra melemahkan suaranya.
Citra terkejut, tetapi rasa itu ia sembunyikan. "Kutukan orang jahat." lanjut Cakra dengan mata merah.
Citra semakin mengeratkan genggamannya, ketika merasakan tangan Suaminya dingin. "Maaf ya, aku gak bermaksud," cicit Citra.
Cakra tersenyum tipis. "Gapapa, besok kamu bakalan tau kalo ketemu sama Nenek," katanya.
Cittra menatap Cakra lekat. Citra tau, Cakra menyembunyikan rasa rapuh dan sedihnya. Bahkan Suaminya masih tersenyum kepadanya, seolah ia adalah pria yang kuat.
"Citra boleh nanya?" Cakra mempersilahkan Istrinya bertanya kepadanya.
"Kutukan apa yang terjadi di keluarga kalian?" tanya Citra.
"Gue kaga tau." Citra menelan ludahnya. Sepertinya ia sudah salah mempertanyakan ini.
"Gue sendiri kaga tau. Hanya Nenek yang tau. Orang tua gue, mereka sama sekali kaga tau," jelas Cakra.
Sudut mulut Cakra terangkat. "Suatu hari nanti, lo bakalan tau. Sekarang, makan bakso dulu."
Cakra melepas genggamannya, lalu menyuapi Istrinya pentol dan kuahnya. "Enak?" tanya Cakra menaruh harapan.
Citra mengangguk senang. Ia kembali menerima suapan Suaminya dengan semangat. "Suka! Enak banget!" puji Citra.
"Gimana kalo..."
"Kita lomba makan bakso yuk!" ajak Citra yang diangguki semangat oleh Cakra.
"Lima menit, oke?"
Cakra menuangkan baksonya ke dalam gayung. Dan Citra terkejut luar biasa melihatnya. Mata Citra membulat sempurna.
"Hati-hati panas," kata Cakra mengingatkan.
Citra menatap Cakra penuh arti. Secepat itukah, mengganti topik pembicaraan?
"Satu, dua, tiga!"
Citra gegelapan. "Bhentar! Bhentar!" Citra mengunyah pentolnya cepat.
Cakra mengeratkan genggamannya pada gayung, lalu memakan baksonya dengan lahap. "Aku menang, menang!" teriak Cakra ketika detik-detik terakhir.
Citra panik. Ia menelan pentol karena merasa takut di kalahkan oleh Suaminya. "Cit-Citra menang!" pekik Citra senang.
Cakra melototkan matanya tak percaya. Ia mengambil gayung Citra, lalu terkekeh. Memang benar habis.
"Citra menang!"
"Hadiahnya apa?" Mata Citra berbinar-binar.
...-CICAK🦎-...
Haiii!!
Apa cuma aku yang gemes sama mereka?😭
NEXT LAGII?