Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

beban yang hanya bisa di pendam

Aku keluar ruangan, menyusuri lorong menuju jalan raya. Gedung-gedung mewah di sekelilingku membuatku ragu—takut uang sisa di saku tak cukup bahkan untuk satu porsi nasi di sana. Akhirnya, kutemukan warung sederhana yang tampak murah di ujung jalan. Masuk dengan langkah ragu, tatapan tajam para pengunjung yang duduk di sana membuatku gugup setengah mati. Namun, aku tarik napas dalam, berusaha tetap tenang, lalu memesan satu bungkus nasi sederhana—yang paling murah, yang ada di daftar paling bawah.

Saat menunggu pesanan, sepasang ibu dan anak lewat di depanku hendak membayar. Anak itu tiba-tiba menutup hidungnya rapat dengan tangan, menatapku penuh jijik yang tak disembunyikan, “Bu, dia bau sekali! Menjijikkan!”

Ibunya menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan merendah yang menusuk hingga ke tulang, lalu membentak pelayan dengan suara keras dan tajam, “Kenapa kalian izinkan pengemis masuk ke sini? Orang lain jadi tak selera makan!”

Pelayan hanya tersenyum kaku, bingung tak tahu harus menjawab apa. Aku menunduk dalam, tak sadar menghirup baju sendiri dengan ragu. Bergumam nyaris tak terdengar, suaraku bergetar menahan sakit, “Tidak… tidak bau kok…”

Aku pergi mendengus kasar. Ambil pesanan, bayar pas harga, berjalan kembali ke rumah sakit.

Di ruang rawat lain, pria itu duduk di tepi ranjang. Lengan kirinya dibalut rapi. Tubuh tegap berisi luwes, bahu lebar kokoh terlihat samar di balik kemeja hitam pas rapi; kancing atas terbuka memperlihatkan leher dan dada bidang. Rompi menonjolkan bahu, lengan digulung rapi sampai siku, jas panjang tergantung santai di tangan kiri, tangan kanan di saku celana rapi halus.

Wajah rahang tegas, kulit putih bersih meski cahaya remang. Rambut pirang keemasan bergelombang halus sedikit berantakan alami. Mata biru pucat jernih seperti es menatap tajam tenang ke pria di hadapannya. Bibir terkatup rapat, jakun bergerak saat menelan ludah. Hanya diam duduk, wibawanya kuat menekan udara ruangan.

Di hadapannya, pria berjaket hitam rapi sempurna. Rambut hitam berkilau disisir rapi, tubuh tinggi tegap, jas mahal pas bentuk tubuh. Rahang tegas, tatapan dalam dingin tajam tembus pandang. Tato rumit gelap samar jelas di lehernya, tanda bukan orang biasa.

“Tuan, jangan lakukan hal sembrono lagi,” nada datar terselip khawatir jelas. “Nyonya Elina sangat cemas mendengar kejadian semalam.”

Sementara itu, di depan rumah sakit, kakiku terhenti. Wanita berpakaian rapi modis bersih menatapku merendah jijik dari atas ke bawah.

“Jadi kau gadis yang dibicarakan orang?” suaranya keras penuh angkuh. “Katanya pura-pura minta bantuan padahal penipu pengemis! Tempat usahaku sepi karena kau! Biasanya penuh pagi begini, sekarang tak ada yang berani datang!”

Tubuhku gemetar hebat takut, diam terima makian tanpa bela diri. Ia maju, mendorongku keras hingga jatuh tersungkur di aspal kasar. Satpam hanya diam, tak bergerak menolong.

“Minggir pergi, dasar pembawa sial!” tunjuk jari tajam. Lihat kantong makananku, sambar paksa. Aku cegah, tapi tenaganya jauh lebih kuat.

“Lihat apa kau beli? Makanan ini? Ini sampah!” Ia banting kantong ke tanah, injak nasi lauk berkali-kali dengan sepatu hak tinggi mahal, meluapkan amarah. “Makan saja sampah itu!”

Pergi begitu saja. Aku terpaku diam, air mata tumpah, hidung panas menahan sakit hati. Tatap makanan hancur bercampur debu, dada sesak berat tertimpa batu besar. Tunduk dalam, menangis tanpa suara sendirian.

Di ruang rawat, pria berkemeja hitam menatap lurus, nyala amarah mulai terlihat di mata birunya. “Aku sendiri cari siapa yang berani berbuat ini.”

Temannya hembus napas panjang pelan. “Syukur Tuan selamat. Tapi sebaiknya kita pulang sekarang.”

Ia bangkit dari tepi ranjang, tak menoleh, melangkah keluar mantap tegas.

Dari balik kaca mobil mewah gelap, ia saksikan semuanya dari awal hingga akhir. Duduk tenang di kursi belakang, tatap tajam ke arahku yang terisak, tanya pelan tegas, “Siapa gadis itu?”

Sopir menoleh sedikit, menjawab dengan penuh hormat, “Berdasarkan keterangan petugas, Tuan. Gadis itu datang kemarin sore membawa adik laki-lakinya yang terluka parah. Mereka yatim piatu, Tuan. Dia berjuang keras mengumpulkan uang besar untuk operasi segera adiknya.”

Ia diam sejenak, pandangannya tak lepas dariku yang hancur di bawah sana. Bayangan pertemuan kami semalam di lorong gelap muncul kembali—perban yang diikat dengan tangan gemetar, wajah yang memerah karena malu, pelukan yang ia tolak dengan ketakutan.

“Pasti dia gadis yang sama…” gumamnya dalam hati, matanya menyelami setiap gerak-gerikku yang rapuh. “Apakah aku salah menilai dia?”

“Jalan.”

“Baik, Tuan.” Mobil melaju perlahan menjauh tanpa aku sadari sama sekali.

Tak tahu ada yang awasi perihal yang kualami. Isak pelan, bangkit perlahan, seka air mata kasar, cari warung lain demi beli makanan untuk Aslan.

Tak lama kemudian, kembali ke kamar rawat yang penuh keluarga pasien. Langkah tenang, paksa senyum tipis, duduk tepi ranjang Aslan. Letakkan bungkusan baru di meja samping kasur, buka ikatan pelan, dorong mendekat padanya.

“Makanlah dulu.”

Ia menerimanya, dahi berkerut penuh tanya yang polos. “Tapi Kakak… Kakak sudah makan?”

“Sudah, tadi di warung,” jawabku bohong sambil tersenyum lebar—seolah tak ada apa-apa, seolah tadi tak ada makanan yang diinjak, tak ada kata-kata yang menghancurkan hatiku. Hati terasa hangat melihatnya makan dengan lahap, namun tiba-tiba aku teringat sesuatu, lalu segera bangkit berdiri.

“Kakak mau ke mana?” tanyanya penasaran, mulutnya masih penuh makanan.

“Sebaiknya ke kamar mandi cuci muka,” jawabku tetap tersenyum, lalu keluar dari ruangan dengan tenang.

Di wastafel, cuci wajah berkali-kali dengan air dingin tenangkan hati kacau. Kata kasar orang masih berputar di kepala. Ingin bersihkan diri, tapi lihat cermin, mata kananku terasa aneh. Dekat wajah perlahan, sentuh kelopak mata pelan—tak bisa jelaskan rasanya beda dari biasanya.

Teringat pesan Ibu. Tangan merogoh saku, keluarkan botol kecil pemberiannya. Rindu Ayah Ibu sesak dada kembali. Tapi pesan Ibu jelas: ada saatnya harus minum isinya. Gumam pelan, “Mungkin sebaiknya bersihkan diri dulu.”

Setelah bersih, tetap pakai baju yang sama. Tak ada ganti lain, uang sisa tipis bahkan tak cukup beli makanan layak—tadi hanya sanggup satu bungkus untuk kami berdua. Elus uang tipis, telan sedih dalam. Harus hemat mulai sekarang, meski perut melilit perih lapar, tahan sekuat tenaga.

Lihat cermin lagi: baju lusuh berdebu, noda tak bisa hilang, rok bagian bawah robek sisa kejadian semalam. Tiba-tiba terlintas pria berambut pirang itu. Apakah dia baik-baik saja? Lukanya sudah tidak sakit? Dia selamatkan nyawaku, tapi aku belum temukan cara cepat dapat uang selamatkan Aslan.

Banyak pertanyaan berputar kacau tanpa jawaban. Tangan sedikit gemetar, keluarkan botol kecil itu lagi, tatap lekuk bentuknya lama diam.

Di dalam kamar, Aslan terbaring lemah. Matanya tak lepas menatapku termenung di jendela.

“Kakak… ada apa sebenarnya?”

Aku tersentak kaget, seolah terbangun dari lamunan yang panjang dan gelap. Menggeleng lemah, memaksakan senyum tipis kembali menghiasi wajah yang lelah ini.

“Tidak apa-apa, Lan. Kakak hanya… memikirkan banyak hal saja. Tidak perlu khawatir, ya?”

1
Wawan
Mawar buatmu Thor ...🌹
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
@Semua orang
kasihan mereka berpisah dari org tuanya hidup gelandangan lagi.
@Semua orang: nggak mau ngebayangin hidup diri sendiri aja banyak pikiran
total 2 replies
@Semua orang
dasar setan
Putry Chan: aku sneng klo emosinya terasa berati aku berhasil yah sebenarnya menurut ku sih ini kurang sih klo di bandingkan punya mu itu
total 1 replies
@Semua orang
beuhhhhhh
Putry Chan: sebenarnya aku suka klo ada yang jujur gitu ya klo aku ada kekurangan bilang aja gitu 😮‍💨
total 1 replies
@Semua orang
aku mampir lagi.
Putry Chan: sepertinya suasana hatiku lagi bagus aku kasih gif poin deh
total 1 replies
Kusyg Ki
tumben lama
Kusyg Ki
😍😍😍😍
Wawan
Iklan dan mawar 🌹 buat cerita ini 🔥✍️
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Wawan
Sip sip sip 👍
Wawan
Semakin menarik ...🌹✍️
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Maya 摩耶
oh ganti pov
Putry Chan: iyh cerita aslinya GK kek gini tapi aku ubah sedikit di bab awal biar lebih menarik 🤭
total 1 replies
Nona Coffee
pas awalnya tegang banget bacanya dan nyesek rasanya😭
Nona Coffee: iya ya Kak, karna kebanyakan baca novel sama nonton film heheh jadinya ya gini🤭
aku tiap hari dracin mulu sampai bosan😅
total 10 replies
Myz Pena
zara flashback... sepertinya ini kisa yang menyedihkan untuk perjalanan zahra kecil 🤧
Myz Pena
apa yang sebenarnya ibunya sembunyikan ? 😭😭
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 8 replies
@Semua orang
pertanyaan gw ini si Zara itu bakal istri kedua atau gimana, aku berhenti jajak di sini. See you at kelapak. no blm like
Putry Chan: maksih udh mampir
aku jawab ya bener dia nikah tapi hanya nikah kontrak aja dan suaminya ini menikahi dua wanita sekaligus alasan nya bibi nya trlalu percaya dengan hal tahayul/ramalan
agak susah klo di jelaskan knp percaya sama ramalan kek gitu karena harus ke cerita ke alur mundur dulu tentang bangsawan kuno agak lumayan rumit
TPI nanti Zara jadi istri satu² nya tapi agak lumayan berat sih
total 1 replies
@Semua orang
udh ah, gw aja hidup banyak wanti²
Putry Chan: mksih udh ingetin
total 4 replies
@Semua orang
hidup lagi sulit ah, berarti bapak di Zara itu mata² bayaran kan.
Putry Chan: sebenarnya bukan tapi ibu dan bapak Zara itu berasal keluarga bangsawan kuno yang lagi incer oleh leluhur mereka
total 1 replies
@Semua orang
injet
@Semua orang
sad banget ah.
Putry Chan: ini itu mengalir begitu sja di kepala ku , tapi menurut aku pribadi wajar sih namanya juga darkromansa, walaupun ini novel pertama ku aku udah pernah baca manhwa angsat jadi menurut ku ini masing mending 😅
total 1 replies
Wawan
1 iklan dan mawar buat cerita ini 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!