Indonesia
NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:473
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 – Hari yang Hampir Sempurna

“Takdir tidak pernah memberitahu kapan seseorang sedang menjalani hari terakhir sebelum hidupnya berubah.”

--

Tidak semua hari yang indah lahir dari sesuatu yang luar biasa, sebagian besar justru datang dalam bentuk yang paling sederhana. Pagi yang cerah dengan secangkir kopi yang masih hangat, mendapat pesan singkat dari orang yang dicintai, dan keyakinan bahwa hari esok akan sama baiknya dengan hari ini.

Pagi itu Alina membuka matanya lebih awal dari biasanya, cahaya matahari masuk melalui sela-sela tirai kamar, memantulkan warna keemasan pada meja kerja kecil yang dipenuhi oleh buku sketsa.

Di salah satu sudut meja, terdapat bingkai foto dirinya bersama Birendra saat menghadiri pameran desain perhiasan dua tahun lalu. Foto itu selalu berhasil membuatnya tersenyum, ia meraih ponselnya, salah satu pesan masuk sejak lima belas menit yang lalu.

Birendra

Jangan lupa sarapan. Hari ini jadwalmu padat.

Tak ada kata selamat pagi yang diberikan oleh pria itu, juga tidak ada kalimat romantis maupun emoji hati yang tersemat dalam pesannya, hanya sebuah pengingat sederhana, meski begitu hal-hal kecil seperti itulah yang membuat Alina selalu merasa dicintai.

“Siap, Pak CEO.” Alina membalas pesan tersebut dengan singkat, dan tidak lama balasan pun ia terima.

“CEO sedang rapat, yang membalas pesan ini adalah calon suamimu.” Membaca pesan tersebut spontan membuat Alina terkekeh. Gelak kecilnya itu membuat Hendra yang tengah menyiram tanaman di halaman menoleh ke arah jendela kamar.

“Ketawa sendiri.” Suara sang ayah terdengar samar. “Pasti Birendra.” Alina hanya tersenyum malu sebelum buru-buru mematikan layar ponselnya.

--

Hari itu suasana kantor terasa sedikit berbeda. Lobi utama dipenuhi beberapa contoh dekorasi untuk acara peluncuran koleksi Aurora. Tim pemasaran mulai berdiskusi mengenai tata letak panggung, pencahayaan, hingga posisi setiap etalase yang akan menampilkan karya terbaru mereka.

Kesibukan itu membuat seluruh divisi bergerak lebih cepat, Alina hampir tidak sempat duduk sejak pagi. Ia berpindah dari ruang desain ke ruang produksi, kemudian menuju studio fotografi untuk memastikan seluruh sampel telah selesai dibuat.

Di sela-sela kesibukannya, ia beberapa kali berpapasan dengan Celine. Namun berbeda dengan beberapa hari lalu, kali ini mereka justru lebih sering bekerja sama. Tanpa disadari, Alina mulai menikmati diskusi-diskusi kecil yang mereka lakukan.

Celine memiliki sudut pandang yang berbeda, ia terbiasa melihat desain dari sisi pasar internasional, sementara Alina lebih mengutamakan cerita dan nilai emosional. Anehnya, dua pendekatan yang berbeda itu justru saling melengkapi.

“Kalau bagian ini dibuat terlalu simetris, kesannya jadi kaku.” Celine menunjuk salah satu sketsa dan Alina memperhatikannya beberapa saat.

“Kalau dibuat sedikit miring bagaimana?” Alina mengambil pensil lalu mengubah sedikit bentuk kelopaknya. Beberapa detik kemudian ia tersenyum. “Lebih hidup.” Pungkas Alina.

“Kan?” Seru Celine. Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya sama-sama tertawa kecil.

Dari balik dinding kaca ruang desain, Birendra memperhatikan keduanya. Tanpa sadar ia ikut menghembuskan napas lega. Sejujurnya, sejak Celine kembali ke Indonesia, ada satu hal yang cukup mengganggu pikirannya. Itu bukan soal hubungan mereka, melainkan karena ia takut Alina merasa tidak nyaman.

Birendra sangat mengenal Alina, Alina bukanlah tipe yang mudah marah, jika ada sesuatu yang mengganjal, ia justru memilih untuk memendamnya sendiri. Itulah yang paling di takutkan oleh Birendra.

Menjelang siang, Celine mengetuk pintu ruang CEO, tangannya membawa beberapa revisi desain cincin. “Aku rasa ini yang terakhir.” Birendra menerima map itu.

Tatapannya kini berhenti cukup lama pada gambar cincin dengan enam kelopak melati yang kini terlihat jauh lebih anggun. Lengkungan emasnya dibuat lebih lembut, kelopak-kelopak kecil itu memeluk berlian utama tanpa terlihat berlebihan, sederhana dan terasa hangat.

“Bagaimana?” Tanya Celine yang membuat Birendra tersenyum simpul.

“Ini dia.”

“Yakin?” Celine mencoba memastikan dan Birendra langsung mengangguk mantap. “Kalau begitu, selamat.” Ia menutup map itu perlahan. Namun Birendra sedikit tak mengerti ucapan selamat yang diberikan oleh wanita itu.

“Untuk apa?”

“Karena sebentar lagi hidupmu berubah.” Ruangan sejenak dipenuhi tawa ringan. Tidak ada lagi pembahasan mengenai desain, dan tidak ada lagi revisi. Desain itu sudah memasuki tahap final dan cincin tersebut akhirnya selesai. Kini tinggal menunggu hari ketika ia akan berpindah dari sebuah kotak beludru menuju jari wanita yang sejak lama telah memenuhi hati Birendra.

Sore harinya, pekerjaan akhirnya sudah sedikit berkurang. Alina duduk sendirian di balkon kecil lantai enam seraya menikmati secangkir teh hangat, sudah lama ia tidak memberi waktu pada dirinya sendiri meski hanya untuk sekedar diam.

Angin sore berhembus lembut, langit Jakarta perlahan berubah menjadi jingga. Langit yang semula biru kini dipenuhi oleh semburat oranye yang memantul pada gedung-gedung tinggi di kejauhan.

Tak lama kemudian, seseorang datang membawa dua gelas kopi—Birendra. Tanpa banyak bicara, ia duduk disamping Alina. Keduanya memandang langit bersama, keheningan yang tercipta tidak terasa canggung, justru terasa seperti rumah.

“Aurora hampir selesai.” Suara Birendra memecah keheningan antara mereka dan Alina mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya.

“Semua orang sudah bekerja keras.”

“Kamu yang paling keras.” Alina terkekeh mendengar ucapan itu.

“Kamu juga.” Timpal Alina.

Beberapa menit berlalu tanpa adanya percakapan antar mereka. Sesekali angin menerpa beberapa helai rambut Alina hingga menutupi wajahnya, Birendra yang menyadari itu pun langsung menyingkirkannya ke belakang telinga wanita itu.

Gerakan sederhana itu begitu ringan, namun berhasil membuat jantung Alina berdetak sedikit lebih cepat. “Kenapa?” Alina langsung menoleh ketika menyadari Birendra sedang memperhatikannya, lalu pria itu pun langsung menggeleng cepat.

“Nggak apa-apa.” Tatapannya begitu tenang, seolah sedang memastikan sesuatu dan sedang menghafal wajah perempuan dihadapannya. “Sedikit lagi,” batin pria itu.

Sedikit lagi semua persiapan akan selesai, sedikit lagi ia akan bisa membawa Alina menemui ibunya secara resmi, sedikit lagi ia bisa meminta izin kepada Hendra, dan sedikit lagi mereka akan memulai hidup baru.

Malam itu, rumah Keira dan Raka dipenuhi tawa. Mereka baru saja selesai menyusun rak buku yang dibeli beberapa hari lalu bersama Alina. Buku-buku favorit Keira tersusun rapi, sementara Raka masih sibuk memasang satu foto pernikahan mereka di ruang keluarga.

“Kok miring?” Keira memiringkan kepalanya untuk melihat presisi dalam bingkai tersebut.

“Apanya?”

“Fotonya.” Jawa Keira singkat dan membuat Raka mundur dua langkah.

“Lurus.” Tutur Raka usai memperhatikan bingkai foto yang sudah terpajang di dinding.

“Nggak.”

“Lurus.”

Perdebatan kecil itu pun terus berlangsung untuk beberapa waktu, namun akhirnya mereka sama-sama tertawa dan Raka pun menurunkan kembali bingkai itu.

“Kamu aja deh yang pasang.” Keira langsung menggeleng sambil tersenyum.

“Aku juga nggak bisa.” Pada akhirnya mereka memasangnya bersama-sama. Sederhana, namun penuh kebersamaan.

Di malam yang sama, sebuah kotak beludru biru akhirnya ditutup rapat. Birendra menyimpannya kembali ke dalam laci meja kerjanya. Untuk terakhir kalinya ia tersenyum sendiri. Besok, ia berencana menemui Hendra Maheswari untuk meminta restu, lalu mulai menyusun hari yang selama lima tahun ini ia impikan.

Birendra segera mematikan lampu ruang kerjanya sebelum melangkah keluar. Tanpa ia sadari, ditempat lain takdir juga sedang menyiapkan sebuah perjalanan. Perjalanan yang akan mengubah hidup semua orang yang ia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!