Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KAELSYA _ After five years

      Cahaya matahari perlahan menyusup melalui celah kecil jendela sel yang berada cukup tinggi di dinding. Sinar itu tepat mengenai wajah Alesya. Keningnya sedikit berkerut. Perlahan, gadis itu membuka matanya.

Untuk beberapa detik, Alesya hanya terdiam di atas ranjangnya, menatap langit-langit sel yang dingin dan pucat. Suasana pagi di dalam ADX Florence terasa begitu sunyi.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Tok... tok... tok...

Suara tongkat menghantam pintu-pintu besi terdengar semakin dekat. Alesya mengangkat kepalanya, Kemudian terdengar suara keras dari balik pintu sel.

"BANGUN! HARI INI ADA PEMERIKSAAN!"

Suara sipir menggema sepanjang lorong.

Alesya menghela napas pelan.

Ia tidak mengetahui bahwa hari ini merupakan jadwal pemeriksaan rutin. Meskipun ADX Florence dikenal sebagai salah satu penjara dengan tingkat keamanan paling ketat, pemeriksaan berkala tetap tidak dapat dihindari.

Terlebih lagi, pemeriksaan kali ini datang atas wewenang khusus. Alesya menoleh ke arah Reana yang masih tertidur lelap. Ia kemudian sedikit menggoyangkan tubuh gadis itu.

"Re..."

Tidak ada jawaban.

Alesya menggoyangkannya sekali lagi.

"Re..."

"Emmm..."

Reana mengerang pelan sambil menarik selimutnya sedikit lebih tinggi.

Beberapa detik kemudian, ia menguap lebar dan membuka mata dengan wajah masih dipenuhi kantuk.

"Hmm... udah pagi?" gumamnya.

Alesya mengangguk.

"Iya. Kita harus keluar, Katanya ada pemeriksaan"

Mata Reana yang semula masih sayu langsung sedikit terbuka lebih lebar.

"Pemeriksaan?"

Belum sempat Alesya menjawab, terdengar suara langkah kaki beberapa sipir semakin mendekat.

KLANG!

Kunci pintu sel terdengar dibuka.

"PERSIAPKAN DIRI! SEMUA NAPI AKAN DIARAHKAN KE RUANG PEMERIKSAAN!"

Alesya dan Reana saling berpandangan. Ada sesuatu dalam nada suara sipir itu yang terasa berbeda dari biasanya. Bukan sekadar pemeriksaan rutin.

Alesya berdiri dari ranjangnya dan merapikan pakaiannya.

Sementara Reana segera bangkit dan mengikuti.

Mereka keluar dari sel bersama para tahanan lainnya, kemudian diarahkan menyusuri lorong panjang dengan pengawalan ketat.

Deretan pintu besi di kanan dan kiri mereka tertutup rapat.

Tak ada yang berbicara.

Hanya suara langkah kaki, rantai, dan sepatu para sipir yang bergema di sepanjang lorong. seluruh tahanan telah diarahkan keluar dari sel masing-masing.

Mereka berdiri dalam barisan panjang sesuai nomor tahanan yang tertera pada pakaian mereka. Para sipir berjaga di sepanjang lorong, memastikan tidak ada seorang pun yang keluar dari barisan.

Alesya berdiri beberapa baris dari Reana. Nomor mereka terlalu jauh untuk memungkinkan mereka berdiri berdampingan. Reana beberapa kali melirik ke arah Alesya. Ada sedikit kegugupan yang terlihat dari wajahnya.

Alesya yang menyadarinya hanya tersenyum kecil.

"Tenang," ucap Alesya pelan

 "Aku di sini."

Reana mengangguk, Mereka kemudian kembali menunggu, Waktu berlalu cukup lama. Satu per satu tahanan dipanggil untuk menjalani pemeriksaan. Alesya masih berdiri di tempatnya ketika seorang sipir tiba-tiba berjalan mendekat.

Langkahnya berhenti tepat di depan Alesya.

"Kamu ikut saya."

Alesya sedikit mengernyit.

"Saya?"

Ia menunjuk dirinya sendiri.

Sipir itu hanya mengangguk.

Tanpa merasa curiga, Alesya akhirnya mengikuti.

Mereka berjalan meninggalkan barisan.

Semakin jauh mereka berjalan, suara kerumunan tahanan semakin menghilang.

Tidak ada percakapan.

Hanya suara sepatu yang beradu dengan lantai.

Tak... tak... tak...

Alesya mulai memperhatikan keadaan sekitar.

Biasanya, tahanan diperiksa di area yang telah ditentukan bersama tahanan lainnya. Namun kali ini dirinya justru dibawa ke bagian bangunan yang jauh lebih sepi. Tatapan Alesya perlahan berubah.

Waspada.

"Ke mana kita?"

Sipir itu tidak menjawab, Beberapa saat kemudian mereka berhenti di depan sebuah ruangan, Alesya memperhatikan pintunya.

Dari perlengkapannya, ruangan tersebut terlihat seperti ruang kesehatan kecil. Ada sebuah ranjang pemeriksaan, beberapa lemari, dan sebuah nakas.

Tetapi tidak ada dokter.

Tidak ada perawat.

Tidak ada petugas medis.

Alesya menatap sekeliling.

"Di sini saya diperiksa?"

"Masuk."

Nada suara sipir itu terdengar singkat, Alesya masuk.

Klik.

Pintu di belakangnya tertutup, Alesya menoleh. Sipir itu ternyata ikut masuk. Kemudian terdengar suara kunci diputar.

Alesya terdiam.

Tatapan sipir yang sebelumnya datar perlahan berubah.

Alesya langsung memahami bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Sipir itu menatapnya dengan cara yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Sudah lama aku menginginkanmu," katanya pelan sambil melangkah mendekat.

Alesya mundur beberapa langkah.

Di balik wajah tenangnya, pikirannya bekerja cepat.

"Menjijikkan..." gumamnya.

Sipir itu semakin mendekat.

"Jangan takut."

Alesya terus mundur hingga bagian belakang kakinya menyentuh ranjang pemeriksaan.

Namun sebelum sipir itu melakukan sesuatu, terdengar suara dari balik pintu kecil di dalam ruangan, Seorang sipir lain keluar. Sipir yang semalam sempat berdiri memperhatikannya ketika Alesya sedang tidur.

Dua orang.

Sekarang Alesya benar-benar menyadari niat mereka.

Namun anehnya, ekspresi wajah gadis itu justru kembali tenang.

Kedua sipir tersebut mulai berdebat kecil mengenai siapa yang akan lebih dulu mendekatinya. Alesya duduk perlahan di atas ranjang, Ia menatap mereka bergantian. Kemudian bibirnya membentuk senyum tipis.

"Ayo sini."

Kedua sipir itu menoleh.

"Aku layani satu-satu."

Nada suaranya terdengar seperti sedang menggoda.

Namun mereka tidak menyadari sesuatu.

Tangan Alesya perlahan bergerak ke sisi ranjang.

Di atas nakas terdapat sebuah pisau bedah kecil.

Jarinya menggenggam benda itu erat.

Sementara kedua sipir masih sibuk berdebat, Alesya menunggu, Menunggu celah. Dan celah itu akhirnya datang.

Sipir pertama tiba-tiba menerjang. Dalam sekejap, ekspresi Alesya berubah.

Tangannya bergerak cepat.

Ia menghindar dari sergapan tersebut, mencengkeram tubuh sipir itu, lalu menusukkan pisau bedah ke bagian pundaknya.

"ARGHHH!"

Sipir itu terhuyung. Alesya langsung menghempaskannya hingga jatuh ke lantai, Sipir kedua terkejut.

"Brengsek!"

Ia segera menarik alat kejut listrik dari pinggangnya.

Alesya bersiap menghadapi serangan berikutnya.

Namun—

BRAKK!

Pintu ruangan tiba-tiba dihantam dari luar, Pintu itu terlepas dan jatuh keras ke lantai. Kedua sipir membeku, Alesya menoleh.

Seseorang berdiri di ambang pintu.

Kael.

Wajahnya merah padam, Tatapannya begitu tajam hingga suasana ruangan seketika berubah. Tanpa sepatah kata pun, Kael melangkah masuk. Sipir yang memegang alat kejut mencoba mengarahkannya kepada Kael.

Terlambat.

Kael mencengkeram tubuhnya dan menghantamkannya ke lantai.

BUK!

Sipir itu tidak sempat melawan. Lalu menghajarnya dengan membabi buta, hingga sipir tersebut tergeletak tak bernyawa. Kael kemudian menatap sipir pertama yang masih tergeletak sambil menahan luka di pundaknya.

Sipir itu mulai panik.

"Jangan... jangan mendekat..."

Kael terus berjalan.

"Kalau kau berani menyentuhku, aku akan—"

Kalimatnya terputus.

Kael sudah berada tepat di depannya, lalu ia mencengkeram kuat leher sipir itu sekan akan bola matanya hampir jatuh dari tempat nya.

sipir itu tidak bisa melawan, lantaran pundaknya kesakitan dan kehabisan darah, hingga akhirnya tewas dengan mata yang melotot keluar.

Beberapa detik kemudian, ruangan kembali sunyi.

Kedua sipir itu mati dengan mengenaskan di tangan nya.

Kael berdiri diam, Napasnya berat, Tangannya masih mengepal. Kemudian perlahan ia menoleh ke arah Alesya masih duduk di atas ranjang.

Tatapan mereka bertemu, Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang berbicara. Lalu mata Alesya mulai berkaca-kaca. Yaa dia ingin terlihat lemah di hadapan kael. Dia mengubah ekspresi wajahnya serapuh mungkin.

Seperti seorang gadis yang baru saja melewati ketakutan besar.

"Hiss..."

Suaranya bergetar.

"Kok kamu telat banget..."

Kael diam.

Alesya turun dari ranjang dan langsung memeluk tubuhnya.

"Aku takut..."

Kael masih tidak menjawab.

Ia hanya berdiri diam, membiarkan Alesya menangis dalam pelukannya.

"Kamu nggak tahu..." suara Alesya terisak.

 "Mereka hampir aja lecehin aku"

Alesya kemudian mendongakkan wajahnya, Matanya sembab. Air mata masih membasahi pipinya.

"Kamu masih nggak ingat aku?"

Tangannya masih melingkar di tubuh Kael.

Kael menatap wajah gadis itu cukup lama, Kemudian tangannya terangkat. Dengan gerakan perlahan, ia menyelipkan beberapa helai rambut Alesya yang berantakan ke belakang telinganya.

"Sedikit."

Alesya langsung mencubit pinggangnya.

"Jangan bohong..."

Kael akhirnya terkekeh kecil.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali di tempat mengerikan itu, ekspresi keras di wajahnya sedikit melunak.

Namun tatapannya masih tertuju pada mata Alesya.

Lama.

Sangat lama.

Ada sesuatu yang tidak bisa disembunyikan Kael.

Rindu.

Lima tahun telah berlalu.

Lima tahun sejak terakhir kali ia melihat gadis yang sekarang berada di dalam pelukannya.

Dan ternyata...

perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang.

...***...

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!