Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Ikut Perang
Lantai marmer yang dingin di sudut kamar utama seolah menjadi saksi bisu penderitaan batin Serena Amaryllis. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas lantai keras tersebut karena kelelahan, Serena memejamkan mata dengan napas berat sambil merutuki semua ekspektasi halunya tentang kehidupan pernikahan seorang istri mafia.
"Sialan..." batin Serena meratap pilu.
"Dulu aku pikir jadi istri seorang pemimpin mafia itu bakal hidup enak, dicintai secara ugal-ugalan oleh suami, hidup bagaikan ratu yang dilayani puluhan pelayan, dan bebas belanja tas branded sepuasnya tanpa batas limit. Tapi apa kenyataannya sekarang?!"
Selama seminggu resmi berstatus sebagai istri Sergio, Serena benar-benar merasa tersiksa lahir batin. Alih-alih diperlakukan seperti ratu, ia justru dijadikan seperti budak korporat lintas generasi. Sergio dengan kejam memperlakukannya layaknya seorang pelayan pribadi. Meskipun ia tidak harus membersihkan seluruh sudut mansion yang luasnya minta ampun itu, tetap saja pekerjaan yang diberikan suaminya sudah di luar batas kewajaran.
Bayangkan saja! Selama seminggu ini, Sergio bolak-balik menyuruhnya membuatkan kopi berulang kali dengan alasan rasanya tidak cocok di lidah sang mafia, mulai dari terlalu manis, terlalu pahit, hingga tidak ada seninya. Belum lagi pria itu pernah dengan tanpa dosanya menyuruh Serena memijat kaki sofa kamar seolah sofa itu adalah makhluk hidup yang butuh relaksasi. Dan yang paling menyebalkan, setiap hari ia harus berkutat di dapur untuk memasak menu sesuai selera lidah Sergio yang super rewel.
Tadinya, kemarin lusa, Serena sempat berniat balas dendam dengan menaburkan bubuk cabai super pedas ke dalam makanan Sergio. Namun, niat suci itu harus ia urungkan sekuat tenaga begitu ia teringat tragedi sup neraka yang justru berakhir membinasakan bibirnya sendiri. Kapok? Jelas. Tapi kesal? Setengah mati!.
"Awas saja kau, Tuan Mafia kutub utara... Kalau aku punya kesempatan kabur atau kalau kamu mati tertembak, aku bakal joget di atas kuburanmu!" maki Serena pelan dengan suara berbisik, melampiaskan kekesalannya sambil menendang-nendang udara di lantai.
Setelah puas mengumpati dan mendoakan hal-hal buruk tentang suaminya, Serena menghela napas panjang. Ia berniat memejamkan mata untuk melanjutkan sesi tidur siangnya yang tertunda. Namun, baru saja matanya terpejam beberapa detik, telinganya mendadak menangkap suara bising yang memecah keheningan siang hari di luar mansion.
Dorr! Dorr! Dorr-dorr!
Mata Serena langsung terbuka lebar. Ia terperanjat dari lantai marmer. Suara apa itu? Apa ia tidak salah dengar? Jantungnya berdegup, bukan karena takut, melainkan karena gelombang rasa penasaran yang mendadak melonjak. Ia baru saja mendengar suara tembakan, bukan hanya sekali, melainkan beruntun, disusul teriakan-teriakan panik dan langkah kaki berlari dari para penjaga di luar koridor.
Tanpa pikir panjang, rasa kantuknya langsung menguap entah ke mana. Serena bangkit berdiri, melangkah cepat, bahkan beralih menjadi berlari kecil menuju pintu kamar karena rasa penasarannya sudah mencapai ubun-ubun. Perang antar mafia?! Ini beneran adegan aksi nyata yang selama ini cuma bisa ia tonton di layar kaca atau baca di novel!.
Begitu tangan Serena meraih gagang pintu dan membukanya separuh, tiba-tiba sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangannya dengan kasar. Tarikan kuat itu membuat tubuh Serena terhuyung ke depan hingga menabrak dada bidang seseorang yang terasa sekeras baja.
Serena mendongak kaget. Sepasang mata biru terang yang dingin, tajam, dan mematikan langsung menyambut pandangannya. Itu Sergio. Pria itu tampak mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung, memegang pistol jenis Glock di tangan kanannya, memancarkan aura bahaya yang pekat.
"Apa yang kamu lakukan berkeliaran di luar kamar, hah?" tanya Sergio dengan suara rendah, berat, dan penuh penekanan yang serius.
Alih-alih merasa ciut atau ketakutan melihat suaminya memegang senjata api di tengah situasi genting, Serena justru mengerjap polos.
"Aku dengar suara tembakan berkali-kali di luar, jadi aku penasaran. Siapa yang lagi perang?" jawab Serena jujur tanpa filter.
Sergio menyipitkan mata kelamnya, menatap wanita di depannya dengan rasa tidak percaya yang amat sangat. Otak sang mafia besar benar-benar dibuat pusing tujuh keliling oleh cara berpikir istrinya ini. Situasi di luar sedang kacau balau, musuh dari klan saingan datang menyerang mendadak, terjadi baku tembak berdarah di halaman depan, dan gadis ini... justru ingin keluar karena penasaran menonton perang?! Apa perempuan ini sudah kehilangan kewarasannya sepenuhnya?!.
"Kamu gila, Serena?!" desis Sergio tajam, rahangnya mengeras menahan emosi.
"Di luar sedang terjadi penyerangan! Musuh membabi buta, dan nyawa taruhannya, tapi kamu malah mau menonton?! Kembali ke kamar sekarang!"
Sebelum Serena sempat mendebat, dari ujung koridor, Calum muncul dengan napas sedikit terengah, memegang senapan laras pendek. Pria berambut putih pucat itu langsung melapor dengan cepat.
"Tuan, gerbang sektor timur dijebol. Pasukan musuh mulai mendekat ke teras utama. Kita harus segera mengamankan area ini!"
Sergio mengangguk sekilas, lalu melirik Calum dengan tatapan dingin penuh perintah. "Calum, bawa dia ke ruang bawah tanah atau kamar aman sekarang juga! Dan pastikan dia tidak keluar sampai situasi terkendali!"
Mendengar perintah itu, mata Serena melotot lebar. Ia meronta-ronta di dalam cengkeraman Sergio.
"Aku tidak mau! Lepasin! Aku mau ikut melihat perang di luar!" tolak Serena keras kepala, sama sekali tidak ada rasa takut di wajahnya.
Sergio nyaris murka mendengar perlawanan itu. Ia mencengkeram kedua bahu Serena, mengguncangnya pelan agar wanita itu sadar.
"Jangan membantah ucapanku, Serena! Ini bukan tontonan sirkus atau film laga di bioskop! Nyawamu taruhannya!" bentak Sergio murka, suaranya menggelegar di tengah suara tembakan susulan yang kembali terdengar dari kejauhan.
"Biarin! Aku penasaran sama strategi perang mafia asli! Kalau aku dikurung di kamar, mana seru?!" protes Serena ngotot, masih berusaha melepaskan diri.
"Cukup, Nyonya! Jangan membuat pekerjaan saya semakin sulit!" suara dingin Calum menyela. Tanpa membuang waktu lagi dan mengabaikan protes serta omelan Serena, Calum langsung menarik lengan gadis itu dengan kasar untuk menyeretnya menjauh dari koridor utama.
"Ih, lepasin tanganku kutub es! Tanganku sakit, woy! Aku mau nonton Sergio tembak-tembakan!" jerit Serena kesal sambil terus memberontak, kaki dan tangannya meronta-ronta sepanjang diseret oleh Calum melewati lorong mansion yang mulai dipenuhi asap tipis dan bau mesiu.
Sergio berdiri sejenak di tempatnya, menatap punggung Serena yang diseret menjauh sambil terus mengomel dengan suara nyaring. Sang mafia menghela napas panjang dengan kasar, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Di tengah hujan peluru dan pertumpahan darah yang sedang terjadi di luar sana, baru kali ini seorang musuh atau bahkan istrinya sendiri berhasil membuat kepalanya pusing bukan karena peluru, melainkan karena kelakuan ajaib yang sama sekali tidak punya rasa takut.
"Selesaikan dalam waktu sepuluh menit, jangan biarkan ada yang lolos!" geram Sergio pada para anak buahnya yang berlari melintas, sebelum akhirnya ia berbalik melangkah menuju garis depan pertempuran dengan amarah yang kini terfokus penuh pada para penyerang yang berani mengusik ketenangan mansionnya dan merusak waktu istirahat istrinya yang tidak waras itu.
Bersambung...
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔