Perjodohan? Bukan! Ini pemaksaan! Ya, Lidya terpaksa harus bersedia dinikahi oleh seorang pengusaha ternama di kota ini demi menyelamatkan kondisi keuangan dan juga masa depan keluarganya.
Menikah dengan pengusaha ternama kedengarannya seperti hal yang seru. Bergelimangan harta dan kemewahan, mendadak terkenal, serta berbagai keuntungan lain yang diimpikan oleh para wanita pada umumnya.
Sayangnya, kisah pernikahan Lidya tidak seindah drama Korea yang sering ditontonnya. Lidya harus menjalani hari-hari pernikahan yang kelam bersama suami yang kejam dan arogan. Rio, suami Lidya, tidak pernah tertarik apalagi mencintai Lidya. Ia selalu menganggap Lidya tidak lebih dari seorang perempuan miskin, rendahan, dan tidak berguna.
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di balik kesederhanaannya, Lidya memiliki identitas tersembunyi yang hebat.
Bagaimana Lidya menjalani hari-hari pernikahan tanpa cinta dan menaklukkan hati Rio yang bengis dan kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mona Lina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wedding Party
Nyonya Harmoko menyambut kedatangan Rio dengan wajah ramah dan bahagia. Semua sudah diatur sedemikian rupa seolah ada kunjungan dari sebuah kerajaan penting di negara ini.
Rio tetap bertahan dengan wajah angkuhnya. Dia sama sekali tidak berupaya membalas keramahan Nyonya Harmoko, calon ibu mertuanya.
"Lidya! Bergegaslah, Rio sudah menunggumu sejak tadi!" Teriak Nyonya Harmoko.
Lidya keluar kamar dengan terburu-buru. Dia keasyikan mengerjakan tugas kuliahnya hingga lupa janjinya dengan Nyonya Baskoro.
Nyonya Harmoko menatap putrinya dengan tatapan mencela. Wanita itu kesal sekali melihat Lidya yang membuat Ario menunggu sekian lama.
Rio bangkit dan keluar dari rumah Lidya tanpa mengucapkan sepatah kata. Nyonya Harmoko memberi tanda agar Lidya segera mengikuti Rio. Lidya merutuk di dalam hati namun tidak membantah maminya.
Driver Rio membukakan pintu mobil untuk Lidya. Lidya mengangguk dan tersenyum tipis pada driver tersebut.
Lidya mencoba mengingat-ingat mobil yang saat ini ditumpanginya. Tidak banyak orang yang memiliki mobil mewah seperti ini di kota.
Mobil Rolls Royce Ghost berwarna hitam itu memasuki halaman komplek pertokoan elite yang luas. Sesuai perintah Nyonya Baskoro, mereka akan memesan gaun pengantin untuk Lidya. Nyonya Bakoro ingin Lidya dan Rio tampil maksimal sebagai pasangan pengantin di hari pernikahan mereka nanti.
Rio turun dari mobil mewahnya dengan angkuh. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Lidya. Lidya tidak perlu menunggu instruksi dari Rio. Nyonya Baskoro sudah menjelaskan padanya apa yang harus dilakukannya. Lidya mengikuti Rio yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam sebuah toko yang didekorasi begitu mewah.
"Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" Seorang pelayan toko menggunakan blazer berwarna hitam bergegas menghampiri dan menyapa Rio dengan sopan.
"Hemmm... Persiapkan gaun pengantin untuk kami." Ujar Rio sambil melirik ke arah Lidya yang berdiri di belakangnya.
"Baik, Tuan. Kami memiliki design terbaru. Mari, Nona. Saya fikir anda akan sangat menyukainya." Pelayan toko berkata dengan gaya persuasif.
Lidya mengikuti pelayan toko masuk ke ruangan khusus. Seorang designer muda menyambut Lidya dengan senyuman ramah.
"Mbak, Nona ini ingin memesan gaun pengantin terbaru." Ujar sang pelayan toko.
"Ohhh... Iya, Nona. Saya punya beberapa pilihan. Anda akan sangat menyukainya." Seru designer muda tersebut.
"Batu swarovski menjadi favorit para calon pengantin saat ini." Designer tersebut menunjukkan sebuah gaun pengantin yang terlihat sangat mewah di etalase depan.
Butiran-butiran swarovski berkilauan indah terkena pantulan sinar lampu toko. Detail motif gaun pengantin itu benar-benar sempurna. Siapa pun yang melihatnya akan terpukau.
"Ini serasi sekali dengan anda, Nona." Ujar sang designer.
"Hemmm..." Lidya menggumam pelan.
Gaun pengantin itu memang terlihat cantik di mata Lidya. Namun Lidya tidak begitu bersemangat karena pernikahan ini bukanlah pernikahan impiannya.
Rio tiba-tiba muncul. Lidya menyerahkan keputusan pada Rio. Rio tidak ingin ambil pusing. Ia memilih mengikuti saran dari designer muda itu. Ia ingin cepat-cepat keluar dari toko tersebut.
Waktu berjalan begitu cepat. Semua persiapan pernikahan Rio dan Lidya sudah sempurna. Wedding Organizer terbaik yang disewa oleh Rio bekerja dengan professional. Semua terpukau dengan penampilan pengantin wanita. Ya, Lidya terlihat cantik sekali di hari pesta pernikahannya.
Tidak ada yang tahu betapa suramnya hati Lidya hari itu. Dia menyembunyikan ekspresi sedihnya di balik wajah cantik dan senyum ramah yang elegant. Polesan make up semakin menambah sempurna tampilan Lidya hari itu.
Rio, sang pengantin pria juga terlihat gagah sekali. Semua tamu undangan memuji keserasian pasangan pengantin itu.
Alunan musik mengalun merdu. Ribuan tamu undangan masuk bergantian ke dalam ballroom hotel bintang lima termewah di kota itu. Semua hadirin menikmati hospitality terbaik.
Sesi pemotretan pasangan pengantin nyaris saja amburadul jika seandainya team fotografer tidak bekerja dengan sigap. Para fotografer berusaha keras mendapatkan pose-pose terbaik dari pasangan pengantin yang terlihat aneh ketika difoto. Seperti sebuah kemesraan yang dipaksakan.
Namun para fotografer berusaha memaklumi. Terkadang beberapa pasangan pengantin memang aneh. Kesabaran dan kelihaian fotografer benar-benar diuji di sini.
"Mereka terlihat serasi sekali!" Nyonya Harmoko berseru bahagia.
Pak Harmoko hanya berdehem pelan sambil sesekali beramah-tamah dengan beberapa orang tamu yang menyalaminya.
Lidya baru benar-benar bisa menghirup oksigen setelah prosesi pernikahan dan resepsi selesai. Ia merasa sangat lelah, lelah fisik dan mental.
Tatapan Rio yang sinis dan tajam betul-betul membuat Lidya merasa terintimidasi dan tidak nyaman.
"Semoga aku tidak harus serumah dengan dia setelah pernikahan ini." Lidya berdo'a dalam hati.
"Ayo, cepat!" Rio berkata pada Lidya dengan suara setengah membentak.
Lidya berusaha mematuhi perintah Rio meski dalam hatinya ia ingin sekali memaki laki-laki angkuh yang ada di hadapannya itu atas sikapnya yang sombong itu.
"Dia pikir aku ini siapa? Bertingkah semaunya gitu!" Lidya menggerutu di dalam hati.
Semakin hari, Lidya semakin merasa geram dengan sikap Rio di hadapannya. Lidya berani bersumpah, dia tidak punya kepentingan sama sekali dengan pernikahan ini. Dia tidak mencintai Rio, bahkan tidak sedikitpun ada ketertarikannya di dalam hatinya pada sosok Rio. Rio bukan tipe Lidya sama sekali.
Jika banyak perempuan berusaha mendekati Rio karena harta yang dimilikinya, maka itu tidak berlaku sama sekali bagi seorang Lidya.
Lidya memiliki harta pribadi yang melimpah, ia tidak kekurangan sama sekali. Memang benar, kedua orang tuanya sedang pailit. Namun diam-diam Lidya sendiri justru sedang membangun kekuatan finansial yang menakjubkan!
Lidya kecewa berat dengan papi dan maminya. Mereka telah menjatuhkan harga diri keluarga dengan perjodohan ini. Sehingga kini, dirinya sama sekali tidak berharga di mata suaminya. Lidya paham kondisi itu. Oleh sebab itu dia tidak bisa sepenuhnya marah ataupun membenci Rio.
Namun Lidya juga menyadari apa yang sedang dirasakan oleh kedua orang tuanya. Ini seperti buah simalakama. Lidya bingung siapa yang harus disalahkan atas takdir yang menimpanya saat ini.
"Apakah aku harus menyalahkan takdir? Menyalahkan Tuhan?" Lidya menjerit di dalam hati.
Semua ini terjadi karena sebuah keterpaksaan. Lidya terpaksa, begitu pula dengan Rio. Rio tidak menyukainya sama sekali. Tidak ada cinta di antara mereka. Bahkan tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk menumbuhkan benih-benih cinta di dalam pernikahan ini.
Lidya dan Rio mulai masuk ke neraka yang sesungguhnya. Mereka berdua adalah korban untuk kepentingan keluarga. Hari-hari yang suram seolah sudah siap menyambut mereka. Setidaknya begitu bayangan halusinasi di fikiran Lidya.
Masih dengan gaun pengantin yang indah dan mewah, Lidya duduk dengan anggun di dalam mobil mewah Rio. Entah kemana mobil itu akan membawanya, Lidya sudah pasrah.
Lidya merasa lelah. Dia hanya khawatir jika tiba-tiba dirinya pingsan di dalam mobil tersebut. Dia tidak boleh pingsan di samping laki-laki berwajah kejam itu. Dia berupaya mati-matian untuk tetap kuat. Perjalanan hidupnya masih panjang.
Lembaran baru hidup Lidya baru saja dimulai.
***
untung ndak lumuten nunggunya/Facepalm/