Indonesia
NovelToon NovelToon
Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Status: tamat
Genre:Cinta Beda Dunia / Mata Batin / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Horor / Tamat
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: Asma Khan

🔎Check Jerat Karma Suami GoibKu🧩
⚠Kisah ini, putri dari Azzam dan Bella🧩

Manusia boleh berharap, melambungkan asa setinggi langit. Namun, ingatlah bahwa takdir selalu menjadi garis kehidupan setiap hamba. Ketetapan yang tidak tertulis, tetapi nyata adanya.

Najwa punya bagian batu permata dari mantan suami ibunya yang seorang iblis. Secara tidak langsung, dia menjadi incaran para makhluk di bumi. Sifat keras kepala dan teguh pendirian menjadi tongkat Najwa Humaira untuk membebaskan sebuah tanah keramat dan keluarga yang terkena dampak dari pertikaian tersebut.

“Jangan panggil aku Putri Iblis!”

Ketika satu rahasia terungkap dan berakhir, kisah lain dengan rahasia baru tengah berproses menuju pertemuan takdir. Bagaimana kehidupan Najwa Humaira selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Pengakuan Najwa

Sebagai seorang adik yang ingin kakaknya tetap berpikir positif. Abil berusaha bersikap sangat normal. Dimana ia menyembunyikan fakta terbesar dalam hidupnya yaitu memiliki teman dari dunia lain. Gelang ditangan kanan dengan liontin berbentuk kunci merupakan rumah bagi teman-teman gaib.

Bukan bermaksud untuk menduakan Allah, ia hanya berteman dengan makhluk lain yang tidak panas ketika sholat dan melakukan ibadah lainnya. Selain itu tidak ada niat lain yang menyeleweng dari ajaran agama, maka semua aman sebagaimana mestinya.

Lima belas menit kemudian, Bella dan Abil keluar dari dapur membawa nampan yang menampung mangkok mie spesial ala chef kakak beradik. Mie kuah merah dengan topping berlimpah menjadi menu makan pengganjal malam mereka. Kebersamaan itu semakin lebih terasa karena canda tawa tanpa mengurangi batasan masing-masing.

"Abi, kata Ka Wawa tadi siang, dia mau bicara sesuatu serius, loh." celetuk Emir di sela obrolan santai mereka hingga mengalihkan perhatian semua orang yang serentak menatap Najwa penuh tanya.

Tatapan mata secara bersamaan jelas membuatnya grogi. Kenapa jadi begitu canggung? Ia pun tak paham karena jujur niat hati sudah berubah dan tidak ingin berkeluh kesah lagi. Semua yang terjadi di sekolah akan lebih baik jika tetap disimpan saja, tapi sekarang tidak punya pilihan lain.

Najwa meletakkan sendok buah kembali ke mangkuk, lalu mengubah posisi duduknya agar nyaman. "Abi, Bunda, Paman, Emir. Sebelumnya aku minta maaf karena apapun yang akan menjadi topik pembahasan agak jauh menyimpang dari kehidupan manusia."

"Disini kita semua tahu tentang sejarah keluarga yang bersinggungan dengan mereka para makhluk tak kasat mata, terutama dengannya yang tak bisa disebut. Abi dan Bunda ingin aku pindah sekolah karena melihat situasi tidak lagi kondusif. Benar 'kan?"

Najwa mencoba untuk mencari kata yang tepat untuk menyampaikan semua maksudnya agar tidak menjadi salah paham. Apalagi sebagai anak pertama, maka ia harus bersikap lebih dewasa. Alih-alih memperumit keadaan, gadis itu kembali melanjutkan pembicaraan yang sensitif.

"Disini bukan anak lain yang menjadi kekhawatiranku, melainkan bangunan yang kini ditempati para siswa dan seluruh guru serta pengurus sekolah. Tanah dari bangunan itu merupakan tanah perbatasan. Dimana disana menjadi pintu gerbang dunia kita dan dunia mereka.

"Jangan menatapku seperti itu," Najwa menghela napas pelan, "Aku sengaja mencari tahu sejarah dari bangunannya serta silsilah yang selama ini ada. Sayangnya beberapa hal tidak bisa kutemukan dan alasanku tetap bertahan karena semua orang yang harus diselamatkan. Apakah salah membantu sesama?"

Azzam merenung, ia tengah mencerna niat sang putri. Bella berulang-ulang membaca istighfar. Emir hanya bisa melongo seraya geleng-geleng kepala karena memiliki kakak yang benar-benar pecinta sosial, sedangkan Abil masih santai seperti dipantai.

Satu kepastian yang tidak bisa diganggu gugat adalah Najwa itu versi Bella masa lalu. Bedanya hanya jalan cerita dan sikap yang diputuskan. Pertanyaannya adalah apakah tindakan kali ini lebih berbahaya dari yang sudah terjadi? Mampukah tetap bertahan ketika tahu benar semua itu tidaklah mudah? Satu persatu sebab dan akibat harus dipahami.

"Wawa, sejauh mana pertarungan di antara kalian? Fisik atau non-fisik?" Abil bertanya tanpa beban, tetapi hatinya tetap bertahta pada keyakinan.

Najwa belajar untuk mengendalikan diri, "Non-fisik, bukankah masih aman?"

Aman? Ketika semua bersinggungan dengan para makhluk gaib. Dimana letak kata aman yang dimaksudkan? Tentu tidak ada, tetapi sepertinya gadis itu tidak paham bahwa dunia alam gaib jauh lebih dipenuhi kabut kepalsuan. Mau, tak mau sebagai seorang Paman mencoba untuk meluruskan situasi yang agak membingungkan.

"Kita permudah saja ya," Abil mengambil tumpukan mangkuk bekas mie, nampan dan juga gelas kosong yang ada diatas meja. Lalu membentuk benteng pertahanan seperti tengah menyiapkan strategi perang karena prinsip harus ditunjukkan agar mudah dipahami.

Dua mangkuk menjadi penahan satu nampan sehingga area meja berubah menjadi pagar dan masing-masing dibelakang memiliki personil gelas yang dianggap sebagai makhluk hidup. "Manusia," Abil menunjuk sisi bagian kanan meja, lalu beralih ke bagian kiri. "Makhluk gaib. Kehidupan sudah memisahkan perbedaan alam serta dimensi ruang dan waktu."

"De, kamu belajar semua itu?" tanya Azzam menyela penjelasan Abil karena ia tak menyangka sang adik ipar sampai mengetahui teknik demo yang sudah lama dilupakannya.

Abil mengangguk dengan kerlingan mata nakalnya, "Najwa, kita mungkin hidup berdampingan tapi jangan lupakan fakta bahwa manusia dan mereka memiliki kodratnya masing-masing. Jika boleh jujur, ini bukan sekedar tanah bangunan seperti yang kamu maksud. Iya 'kan?"

Seperti tengah ketahuan mencuri saja. Di hadapan Abil semua rahasianya seakan terungkap tanpa ada tedeng aling lagi. Entah kenapa perasaan semakin tidak tenang dengan keadaan yang ada. Apalagi kedua orang tua dan adiknya kembali menatap tanya.

"Ibu dan anak sama ya, Ka Bella terbiasa untuk bertindak gegabah meski demi keluarga dan keponakanku terbiasa untuk menyimpan rahasia dari fakta yang diungkapkan. Mau aku yang cerita atau kamu? Ingat ya, kita ini keluarga." sambung Abil menyudutkan Najwa.

Dimana gadis belia yang semakin merasa serba salah itu langsung menundukkan pandangannya. Tidak tahu harus menyikapinya keadaan yang ada seperti apakah rasa harapan terdalam dari hatinya bisa menjadi penolakan nyata oleh keluarga sendiri. Bukankah sulit berkata kebenaran yang belum siap untuk diperdengarkan?

Tiba-tiba usapan tangan hangat mengalihkan rasa takut dan cemas yang membelenggu hati serta pikirannya. Bunda menatapnya penuh kasih sayang, wanita itu selalu berusaha menekan ego demi menjaga keseimbangan emosi kedua anaknya. Seperti yang ia lakukan pada Najwa.

"Aku tidak bisa pindah karena terikat dengan tempat itu. Jika tanya kenapa, jujur saja aku tidak tahu kepastiannya. Seingatku setelah satu bulan menjadi siswa, di hari itu saat jam olahraga terjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku.

"Aku berdiri ditengah para siswa teman sekelas, tiba-tiba gambaran orang-orang kesurupan menyerang kepala hingga tanpa sadar sebuah janji terucap dari bibir ini." Wawa menerawang ingatan yang sebenarnya ingin dilupakannya, "Aku berjanji akan menjadi penghalang antara dua dunia. Kurang lebih itulah alasan ...,"

"Wawa! Apa kamu tahu resikonya dengan keputusan yang kini menjadi masalah? Abi hanya berpikir situasi tidak sedemikian rupa, tapi ternyata," Azzam mencoba menahan diri karena ia sadar akan niat hati sang putri tidaklah salah, hanya saja tindakan nekat Najwa bisa berdampak pada keluarga.

Wajar manusia memiliki insting melindungi. Akan tetapi terkadang manusia lupa bahwa ego di zaman sekarang semakin lebih tinggi dari apa yang di perjuangan. Bantuan tulus saja, bisa diartikan cari perhatian. Miris sih, tetapi seperti itulah kenyataan yang memang semakin riskan.

"Percuma untuk berdebat atau memberikan pembelaan atau memutuskan ultimatum, Ka. Semua sudah terjadi, maka hanya tinggal satu cara yang tersisa. Apakah Najwa mau melakukan itu atau kekeh dengan pilihannya yang bisa menyeret keluarga. Bagaimana Wawa?" Abil menatap Najwa lebih lembut lagi karena bagaimanapun gadis belia itu keponakannya sendiri.

Sebagai seorang ibu memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan anaknya. Ia tak ingin ada masalah baru setelah satu masalah berakhir, "Cara apa yang kamu maksud, De?"

1
Ela Jutek
dan End juga
Ela Jutek: heem dah
total 2 replies
Mrs.Helio Tropium
kaget aku thor,tiba2 ada tulisan End 😂 sehat2 ya thor,sampai jumpa di BAB selanjut nya
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ: 🤧maaf, Ka. Tak berdaya diriku, ide ada, nulisnya blum mampu. 🤧 moga stay sabar menanti ku ka 🤭
total 1 replies
Ela Jutek
sepertinya ibu Cinta ada rasa nie
Ela Jutek: bisa di liat kok
total 2 replies
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Lengkap sudah, ada yang serius ada yang biasa aja ampun dah. Padahal kan ini topiknya cukup mencengkram, begitulah keunikan meraka ya.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Saat ibunya sedang ingin memberikan sebuah pencerahan pada putrinya malah ada suara yang tak terduga, jadi terhambat kan kalau udah gitu.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Ya ampun dari nada bicaranya tampaknya Abil adalah orang yang sangat periang hingga membuat orang lain merasa nyaman dengannya.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Kalau orang yang sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini memang tidak akan menjadi resiko besar, asalkan makhluk itu tidak menggangu nya itu sudah cukup.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Kasian sekali Azwa yang tidak banyak tau setelah hal yang tak mampu di ingat olehnya, selama ini juga ia sudah berusaha mandiri tanpa perlu membuat orang tuanya terlalu cemas terhadapnya.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Benar, situasi saat ini benar - benar sedang tidak baik bagi Bella untuk bertemu sahabatnya itu. Ia harus menahan rindunya meski sudah lama
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Apa lagi yang lahir itu bukan sepenuhnya dari hasil antar manusia, namun percampuran antara manusia dan ras Iblis. Mungkin saja ada sedikit perbedaan
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Tidak bisa di bayangkan jika hal ini sering terjadi, tentu akan membuat diri merasa sangat risih. Untung juga makhluk itu sudah pergi
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Benar dengan mengingat Allah tentu akan membuat makhluk tersebut jadi segan, dan tidak akan terlalu berbuat yang macam - macam.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Sefati Winari
Hmm... Jika publik sudah tau tentunya harus siap menerima setiap kritikan yang mereka berikan, bagi yang mau mengerti tentu tidak akan mengatakan hal yang tidak baik.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Asrita Sirnia
Minta di jahit aja mulutnya ini orang, apa lagi kalau sampai di tempat ramai dan ada yang mendengarnya bisa salah paham itu pasti.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Asrita Sirnia
Wah... Tentunya sesuatu yang tak terduga itu cukup membahagiakan bagi Bella, akhirnya ia bisa bertemu juga dengan orang yang sangat ia rindukan.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Asrita Sirnia
Pasti masih ada rasa bingung untuk saat ini, keinginan yang entah bisa ia wujudkan tentunya hanya akan membuatnya sedikit frustasi bercampur rasa sedih.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Asrita Sirnia
Ada kelebihan dan kekurangan jika mata batin terbuka, bagi orang yang tidak siap tentu saja hanya akan memberikan tekanan besar. Beda halnya bagi orang yang ingin mencari tau suatu masalah tanpa rasa takut pada apa pun selain Allah SWT.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Asrita Sirnia
Abil sangat berani, tentu saja para makhluk itu jadi segan nantinya jika sampai kalah. Sekarang meraka hanya bertahan dan meremehkan kemampuan Abil.
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Asrita Sirnia
Ya ampun kadang gak habis pikir ya lagi di sekolah ada aja yang datang ganggu, apa karena masalah tempatnya yang angker atau pun hal lainnya. Cukup menegangkan
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Asrita Sirnia
Masya Allah... Jika orang yang sangat pintar memahaminya tentu ada banyak pelajaran yang bisa ia ambil dan di amalkan setiap hari.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!