Persahabatan mereka berawal ketika keduanya masih kanak kanak, mereka bertemu saat kecelakaan kecil yang menimpa salah satu diantaranya, Sejak kejadian itu terjalinlah persahabatan hingga usia mereka remaja. Sampai akhirnya terjadilah insiden kesalahpahaman yang mengharuskan mereka terikat dalam sebuah pernikahan.
Bagaimana lika liku kisah mereka selanjutnya?
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan mereka?
Penasaran????? Ikuti yuk?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙼𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚒𝚂𝚎𝚗𝚓𝚊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Keluarga Yang Rumit
***
Mansion keluarga Arya Winata
Ayah Bastian pulang dari kantor, sesaat menjelang makan malam. Suasana dirumah nampak lengang. Seperti tak berpenghuni.
Begitulah semenjak nyonya besar memutuskan tinggal dimension ayah Bas, suasana rumah tidak lagi seperti dulu, tak ada keceriaan, yang ada hanya ketegangan.
"Assalamualaikum" sapa ayah Bastian
"Waalaikumsalam." jawab bunda Farah tersenyum, lalu meraih tangan suaminya dan menciumnya takzim. Kemudian mengambil alih tas kerja suaminya.
"Mandi dulu yah, pasti capek aku sudah siapkan air hangat. " ucap bunda Farah.
"Baiklah,,, anak anak pada kemana bun,,,kok sepi?" tanya ayah Bastian sembari berlalu menuju ke kamarnya.
"Mereka ada dikamarnya" jawab bunda Farah lalu kemudian masuk ke dapur membuatkan minuman hangat untuk sang suami.
Setelah siap, beliau membawa minuman tersebut ke kamar. Ayah Bastian baru saja selesai berpakaian, ketika bunda Farah masuk kekamar.
"Ini teh jahenya yah, minumlah selagi hangat" ucapnya seraya mengulurkan tangannya memberikan secangkir teh jahe hangat kesukaan ayah Bastian.
"Terimakasih bun" sahut ayah Bastian tangannya menerima cangkir tersebut.
Farah hanya tersenyum tipis.
"Aku kebawah dulu ya yah, menyiapkan makan malam" ucap bunda Farah selanjutnya.
"Ada apa dengan Farah, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu" guman ayah Bastian.
Makan malam tiba, ayah Bastian berjalan kearah meja makan. Tampak bunda Farah sedang menyiapkan hidangan dan lainnya dibantu oleh seorang asisten.
Eyang Hanum juga sudah duduk disalah satu kursi yang khusus untuknya.
Tak lama kemudian Abiyan dan Alissa muncul dan duduk kursinya masing masing.
"Kalian ini mau jadi apa, seharusnya sebagai anak muda, kalian itu sudah berada dimeja makan sebelum kami datang, ini malah kebalikannya," ucap eyang Hanum ketus.
Semua terdiam, tidak ada yang menyahut.
"Apa semua sudah berubah semenjak wanita kampung miskin itu datang kerumah ini,,,tidak ada unggah ungguhnya sama sekali " lanjutnya lagi
"Maksud ibu apa? Kenapa ibu selalu membawa bawa wanita kampung segala, kenapa ibu tidak langsung menyebut namanya saja Safira. Lagipula Safira sudah tidak tinggal dirumah ini bu, bagaimana mungkin dia menghasut orang orang yang ada disini, sedangkan semenjak dia meninggalkan rumah ini, sampai sekarang tidak pernah sekalipun dia datang lagi kesini.
Semua akses yang berhubungan dengan keluarga inipun sudah diputus dan diblokir olehnya, semua sesuai permintaan ibu kan, sekarang sudah 12 tahun berlalu dan ibu masih saja menyalahkannya? Dan menjadikan dia kambing hitam atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Bahkan saat perceraian, dia sama sekali tidak ada menuntut apa apa dariku, aku memberikan sahamku atas nama Zeya, karena bagaimanapun dia adalah putriku, putri kandungku yang sah dimata hukum dan agama, " sahut ayah Bastian
Bastian Arya Winata, atau Ayah Bastian yang adalah ayah kandung Zeya, sebelumnya memiliki dua istri, yaitu ibu Safira (ibunya Zeya) istri pertama dan bunda Farah istri kedua (ibunya Abiyan dan Alissa) Kedua istrinya hidup rukun berdampingan, keduanya bisa saling menerima dan memberi, bahkan mereka sudah selayaknya kakak beradik, namun karena mendapatkan tekanan mental yang terus bertubi tubi, dan juga ancaman dari eyang Hanum yang memang tidak menyukainya sejak awal, maka ibu Safira yang akhirnya menggugat cerai ayah Bastian.
Setelah perceraian ayah Bastian sangat terpuruk hingga depresi, karena rasa bersalahnya pada mantan istri pertamanya tersebut. Berkat kesabaran dan ketulusan bunda Farah ayah Bastian akhirnya bisa sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala.
Namun tetap saja jika menyangkut mantan istrinya dan putri sulungnya atau ada yang menyinggung tentang mereka, maka ayah Bastian jadi sangat emosional (bukan berarti harus marah marah ya, bisa saja sedih, terharu atau perasaan tidak terima) (ini kalo menurut saya lho ya, tidak tahu kalo menurut pandangan orang lain)
"Halaaah, memang benar kan semenjak wanita kampung itu, datang kerumah ini, semua jadi menentang ibu, termasuk Farah dan juga kamu., apalagi anak anakmu itu, gak tahu aturan" lagi lagi eyang bicara dengan ketus.
"Bu, kenapa ibu seperti ini, kenapa ibu segitunya membenci Safira dan Zeya? Apa salah mereka bu, apa karena kisah cinta masa lalu ibu yang tidak kesampaian pada ayah Safira, sehingga ibu melampiaskan kebencian ibu padanya,...
Deg,,, bukan hanya eyang Hanum yang terkejot, tapi juga bunda Farah dan anak anak.
" Apa maksudmu Bastian" tanya eyang Hanum memotong perkataan ayah Bastian.
"Aku sudah tahu semuanya bu,,, aku mohon hentikan rasa kebencian ibu pada mereka, sebelum ibu menyesali semuanya.
Kita tidak akan pernah tahu, bahwa orang yang sangat kita benci, bisa jadi orang yang akan berjasa pada kita suatu saat nanti,,, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, jika Tuhan sudah berkehendak, maka kita yang hanya manusia biasa bisa apa?" Ucap ayah Bastian. Beliau sangat kecewa.
"Kamu tidak usah ikut campur urusan ibu Bastian, urus saja istri dan anak anakmu itu, yang semakin tidak ada adab." ujar eyang Hanum dengan suara lancang.
Bunda Farah hanya diam tak menanggapi, karena sudah kebal, jadi beliau santai aja.
"Eyang putri,,, kenapa marah marah terus? Ayah tau gak, tadi dimall eyang juga marah marahin kak Ze loh, padahal kak Ze udah nolongin eyang yang tasnya diambil jambret " ucap Ica alias Alissa polos.
Dia dari tadi diam diam memperhatikan sikap eyangnya yang menurutnya tidak masuk akal. Alissa meskipun masih kecil tapi dia sangat peka..
"Video apa sayang" tanya ayah pada Ica.
Namun belum juga, Ica menjawab pertanyaan ayahnya, eyang Hanum sudah menyela...
"Ya jelas saja dia yang menolong, supaya terlihat seperti jagoan, padahal sebenarnya, dianya yang berkomplot dengan para jambret itu, eyang itu sudah hafal luar kepala dengan trik orang kampung miskin itu, otaknya isinya cuma bagaimana mengambil hak milik orang lain." sahut eyang dengan nada tinggi.
"Tapi eyang, sebagai orang yang mengaku dirinya seorang yang terhormat dan berpendidikan, tidak seharusnya eyang berbicara seperti itu, mempermalukan kak Ze didepan umum, emang eyang pikir berkelahi dengan orang jahat tidak beresiko, salah langkah sedikit, nyawa taruhannya, apalagi tadi salah satu jambretnya bawa senjata tajam. Harusnya eyang bisa menghargai usaha orang lain. Eyang selalu menganggap bahwa diri eyang adalah orang yang terhormat, tapi tidak bisa menghormati orang lain,, selalu bangga berpendidikan tinggi, tapi sikap eyang malah seperti orang tidak berpendidikan.
Ibu Safira juga berpendidikan tinggi, buktinya dulu menjadi sekretaris ayah, tapi beliau sangat rendah hati, dan tidak sombong, Dan ibu Safira selalu baik pada kami, seharusnya beliaulah yang pantas disebut wanita terhormat, karena beliau bisa menghargai dirinya sendiri dan menghormati orang lain." ucapan Biyan sontak membuat semua yang berada dimeja makan terdiam, dan mengalihkan pandangan mereka kearah Biyan. Mereka tidak menyangka Biyan yang cuek dan acuh, bisa berbicara seperti itu.
"Nah, kamu bisa lihat sendiri anakmu ini Bas,,, tidak tahu adat sopan santun, pasti sudah kena hasutan si wanita kampungan itu, " ketus eyang Hanum.
"Maaf eyang, Biyan sudah besar, bisa membedakan mana orang yang tulus dan tidak, sekarang Biyan tanya sama eyang, apakah eyang pernah mengajari kami tentang sopan santun, atau apakah pernah eyang mencontohkan, sikap sopan santun pada kami, pernahkah eyang berkata lembut pada kami?
Dan kalo Biyan boleh memilih ikut siapa,,, maka dengan tegas Biyan akan memilih tinggal bersama ibu Safira, keluarga yang penuh kehangatan, dan bersahaja. disana Biyan bisa menjadi diri sendiri, berbaur tanpa memandang status sosial. Bersama mereka Biyan bisa merasakan arti sebuah keluarga,. Sementara disini, semua harus sesuai aturan, seperti robot aja,
Maaf,,, Biyan sudah muak dengan semua ini. " Biyan mengakhiri ucapannya, dan beranjak dari tempat duduknya. Dia meninggalkan meja makan, lalu kembali kekamarnya.
Perkataan Biyan tak urung membuat ayah dan bundanya merasa tertampar kenyataan. Dia tidak menyangka Biyan ternyata sudah mengerti bagaimana kehidupan keluarganya yang rumit dan penuh drama. Lalu ayah teringat ucapan Ica tentang video.
"Ica, video apa yang Ica bilang tadi? Coba ayah lihat" pinta ayah.
Ica memberikan ponselnya pada ayah, dia menunjukkan beberapa aplikasi yang memuat video tentang Zeya. Ayah Bas yang langsung paham pun membuka aplikasi yang dimaksud putrinya. Damm....
Muka ayah Bas berubah, menegang menahan amarah, tangan terkepal meremas ponsel, beliau berusaha untuk tetap waras, dan mengendalikan emosinya. Setelah tenang,
"Ibu benar benar sudah keterlaluan, apa ini bu, apa ini sikap seorang yang katanya terhormat dan berpendidikan yang selalu ibu banggakan. Aku benar benar tidak mengenal ibu" ucap ayah Bas lirih, beliau sangat kecewa dengan ibunya.
"Seharusnya ibu bisa mengendalikan diri , bukan malah mempermalukannya. Sebenarnya jika dia mau, bisa saja dia menyerang balik ibu, tapi itu tidak dilakukannya karena dia menghormati ibu sebagai orangtua. Dan lihatlah meskipun dia masih muda, tapi dia pandai sekali mengendalikan dirinya, tak nampak kemarahan di wajahnya, dia tetap tenang dan tersenyum menanggapi perkataan ibu,,,
Seharusnya kita perlu belajar tentang etika padanya. Dan Safira yang selalu ibu bilang dia wanita kampungan telah berhasil mendidiknya dengan baik.
Sebagai ayah aku merasa seperti pecundang, karena yang tak pernah ikut berperan mendidiknya, bahkan menemuinya saja, hanya jika ada waktu luang, dan sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang tangguh, yang tidak terbang ketika tersanjung, dan tidak tumbang ketika terhina." ujar ayah Bas panjang x lebar.
"Ica sayang, belajarlah seperti kak Ze, bukan berarti meniru jadi seperti kak Ze, tapi jadi gadis yang tangguh dan mandiri seperti kak Ze, contoh sifat baiknya, selalu menebarkan kebaikan pada siapa saja, tanpa memandang status" ayah Bas berkata seraya mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
Biyan keluar dari kamar, membawa tas ranselnya dan berjalan menuju keluar.
Bunda Farah yang melihat buru buru berdiri dan mengejar Biyan diikuti ayah Bas
"Kamu mau kemana nak? tanya bunda dengan nada lembut.
"Biyan pergi bun, pergi ke tempat, dimana Biyan bisa diterima dengan hangat dan tulus. Maafin Biyan yah. Biyan janji suatu saat nanti akan jadi seseorang yang bisa ayah banggakan" ucap Biyan tanpa menoleh.
'pergilah nak, jangan jadi pecundang seperti ayah, dimanapun kamu berada semoga Allah selalu melindungimu' gumam ayah dalam hati.
......................
Maaf juga karena baru selesai bacanya, karena selalu nggak sempet.
Soalnya kalau ada waktu pun, aku baca ceritanya yang on going dulu, biar nggak ngerusak retensinya😔🙏
Terimakasih banyak-banyak untuk Ibu❤️❤️