Kisah ini tetang Siana Aprilly, gadis keras kepala yang masih belum bisa menentukan arah tujuan hidupnya. Siana hanya bisa mengikuti perkataan dari kedua orang tuanya tanpa protes. Karena Siana juga tidak mau menjadi anak durhaka yang mengabaikan setiap kata tercetus dari mulut orang tuanya.
Dan Siana pun juga tidak begitu memiliki banyak teman. Hanya ada beberapa orang yang dekat dengan Siana. Tapi bagi Siana, siapapun yang berusaha untuk berteman dengannya itu pasti memiliki hal tertentu.
Mereka akan pergi menjauh setelah Siana tidak lagi mereka butuhkan. Dan yang paling menyakitkan, saat Siana butuh bantuan mereka. Tidak ada satu pun dari mereka meluangkan waktu untuk mengulurkan tangan mereka pada Siana.
Sampai di titik, di mana Siana memilih untuk menjadi gadis jahat tanpa ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00.009%
Termenung sendiri berniat enyah dari tempatnya berdiri saat ini. Tapi seorang pemuda yang terlihat seperti berjalan mendekat kearah itu membuat Siana mengurungkan niatnya. Karena Siana hanya ingin tahu__ apa yang akan dilakukan pemuda gila itu.
Sekilas memiringkan kepalanya dengan senyum kecil penuh kegetiran, saat lengkungan sempurna tercetak jelas diwajah pemuda tampan itu. Memang berkharisma__ tapi Siana sulit untuk tertarik dengan pemuda itu.
"Apa yang kau lihat? Sepertinya itu sangat menarik pandangan mu." Cetus Astra kini telah tiba dihadapan Siana-- yang masih diam dengan kening mengerut samar, tanpa sedikitpun senyum di wajah cantiknya.
"Suatu hal yang sangat-sangat menyebalkan." Tidak begitu cepat, dan terdapat jeda-- Siana melontarkan nya dengan kedua mata yang sedikit melotot. Tapi tidak akan membuat Astra takut ataupun memilih untuk berputar balik, untuk menghindar dari Siana.
Malahan__ Astra kini merubah posisi yang perlahan berdiri disamping kanan Siana, pandangan lurus kedepan di mana kedua temannya berada. "Saat kau tidak berada di sekolah. Banyak sekali rumor yang mengarah pada Sean-- di mana dia dalang dari kecelakaan Sebastian. Tapi, tidak ada bukti yang bisa menyudutkan Sean. Apa__"
"Berhentilah menggangguku. Karena aku datang ke sini bukan untuk mencari masalah ataupun menciptakan huru-hara. Aku hanya ingin mendapat surat kelulusan, itu saja." Setiap kata yang keluar dari mulut Siana benar-benar penuh tekanan dan peringatan yang mendalam.
Tapi tidak membuat Astra diam mengalah. Karena niat Astra hanya ingin beradu argumen bersama Siana. "Bagaimana jika hal itu benar? Apa kau akan diam dan membiarkannya begitu saja?"
Diam, membuang napas gusar. Siana memainkan sebentar lidahnya di dalam mulut, sebelum menghadapkan tubuhnya tepat berhadapan langsung dengan Astra. "Jika pun aku diam__ kau pasti akan membalaskannya untuk ku. Itupun-- jika Sean benar-benar salah. Atau, kau tidak lagi peduli jika dia teman mu."
Senyum kecil yang begitu mematikan perlahan tercetak jelas di wajah cantik milik Siana. Membuat Astra berusaha untuk tidak melunturkan senyumannya. Karena jujur saja__ sebenarnya Astra sedikit khawatir akan Siana yang memilih diam membiarkan kasus itu ditutup tanpa adanya pelaku yang diberi hukuman.
"Tidak ada takdir yang bisa disalahkan. Karena hal itu juga tidak bisa diulang kembali. Jadi untuk apa membesarkan hal yang tidak ada buktinya sama sekali." Timpal Siana penuh peringatan, agar Astra tidak lagi membahas topik yang sangat-sangat Siana hindari. Sebisa mungkin-- Siana tidak ingin siapapun membuka pikirannya untuk menggali lebih dalam. Karena Siana tidak mau membuat Evan kecewa padanya.
"Aku hanya__" bukannya tidak berniat menuntaskan perkataannya. Suara Siana begitu cepat menyelanya tanpa rasa bersalah. Karena bgai Siana sendiri-- memberi ruang untuk alasan Astra itu sangat sia-sia. Tidak ada gunanya, ataupun manfaatnya.
"Ingin bicara dengan mu?" Diam sesaat-- Siana menebak apa yang ingin Astra katakan. "Apa kau tidak bosan dengan sikap ku? Apa kau tidak kesal dengan perkataan ku? Apa kau begitu menikmati ocehan tidak jelas dari mulut ku?"
"Siana__"
"Astra!!" Seru Siana, menatap pemuda itu pernah peringatan. Membasahi sekilas bibirnya yang tidak kering, sembari menyisir surai panjangnya ke belakang.
Siana membuang napas gusar, entah kenapa Siana juga tidak bisa meluapkan kekesalannya kepada Astra-- jikapun pemuda itu yang memulainya. Tapi Siana sulit untuk menyinggung perasaan orang, jikapun kalimat yang sering Siana cetuskan itu sangat menyiksa.
Sebentar melihat Astra, kini Siana memilih untuk melangkah pergi dari hadapan pemuda itu dengan napas yang sedikit memburu. Entah kenapa, dadanya merasa sesak sendiri. Tapi berusaha untuk Siana normalkan-- agar tidak ada satupun orang yang melihatnya tengah berada diambang kerapuhan.
Sedangkan Astra hanya bisa diam berisik di tempat. Karena Astrah juga sangat-sangat merasa bersalah akan perkataannya yang mungkin sudah keterlaluan dan melewati batas. "Sepertinya aku salah bicara."
Tangan kanan Astra menyisir rambutnya kebelakang dengan kegelisahan yang sangat luar biasa. Rasanya Astra ingin sekali berlari menghampiri Siana. Tapi kesadaran itu terus menghantui pikirannya untuk tetap diam, memberi ruang pada Siana.
Dan hal itu masih saja tidak luput dari kedua pasang mata yang setia melihat kearah Astra. Kini dua pemuda itu mulai mengerutkan samar kening mereka, akan kepergian Siana. Tanpa berniat beranjak dari duduk mereka untuk menghadiri Astra. Tanpa mereka mendekat-- Astra akan kembali pada mereka untuk mengatakan apa yang sudah terjadi.
Sayangnya__ tebakan mereka salah sama sekali. Kini Astra malah membalikkan tubuhnya. Melangkah ke sembarang arah, dan tidak ada niat sedikitpun untuk kembali pada kedua temannya. Karena Astra ingin menjernihkan pikirannya terlebih dahulu-- tanpa melibatkan siapapun.
Terus melangkah tanpa peduli akan tatapan beberapa murid yang menatapnya penuh kagum. Karena tujuan Astra saat ini adalah perpustakaan. Mungkin di tempat itu isi kepala Astra tidak akan serumit saat ini. Hanya tempat itu yang paling aman dan tenang.
Masuk ke dalam ruangan yang sangat-sangat besar-- dengan refleks Astra mengangguk sekilas, saat kedua matanya tidak sengaja bertemu dengan penjaga perpustakaan. Tanpa senyum yang menghiasi wajahnya, Astra berjalan kearah sudut perpustakaan.
Akan tetapi tubuh Astra tersentak kaget saat munculnya Sellena dari lorong diantara dua rak buku. "Aish__" untungnya Astra berhasil menahan kepalan tangan kanannya yang hampir saja melayang menyapa kepala Sellena.
Sellena yang melihat tangan kekar milik Astra yang berada di udara. Membuat gadis itu sedikit membulatkan kedua matanya. "Apa? Kau ingin memukul ku?" Sungut Sellena dengan kesal.
"Bukan itu__" canggung Astra sekilas meringkan kepalanya, sembari menurunkan tangan kanannya.
"Terus??" Seru Sellena yang terlihat seperti korban. Padahal gadis itu hanya figura yang senang sekali muncul disaat tidak tepat.
"Ada buku yang harus aku pinjam." Cetus Astra yang tidak menunggu tanggapan dari Sellena. Kini Astra memilih melangkah pergi dari hadapan Sellena. Karena menghindar adalah pilihan paling tepat untuk saat ini.
Sellena yang tidak tidak terima dengan sikap Astra. Kini Sellena dengan usil mengikuti kemana perginya Astra. Tanpa peduli jika hal itu akan sangat mengganggu Astra.
"Berhentilah mengikuti ku." Timpal Astra yang secara tiba-tiba membalikan tubuhnya. Hingga kening Sellena begitu cepat mencium dada bidang milik Astra.
"Kenapa? Kau tidak menyukai ku?" Seharusnya kalimat itu tidak Sellena cetuskan. Tapi entah kenapa Sellena hanya ingin mendengar jawaban seperti apa yang akan di cetuskan Astra.
"Bukannya aku tidak menyukai mu. Hanya saja__ seseorang pasti akan langsung menghajar ku jika dia tahu kau bersama ku." Balas Astra yang masih berusaha untuk menormalkan napasnya.
"Siapa? Sean yang kau maksud?" Sekilas Sellena menaikan kedua alisnya. Dan itu langsung mendapat anggukan kecil dari Astra. Tapi tidak di pedulikan sama sekali oleh Sellena.
"Dia tidak akan melakukan itu padamu. Sean akan jauh lebih senang jika aku bersama mu." Penuturan dari Sellena benar-benar membuat Astra mengerutkan keningnya dengan berbagai pertanyaan yang menumpuk di kepalanya.
Dan Astra memilih diam dari pada bersuara. Karena Astra ingin mendengar, kalimat apa lagi yang akan keluar dari mulut Sellena.
"Karena__ Sean akan merasa jika dia punya kesempatan untuk bisa dekat dengan Siana." Satu kalimat tidak terduga keliar dari mulut Sellena. Benar-benar membuat Astra tersenyum hambar.
makasih ya kak semangat jugaa untuk kakak yang mungkin udah mulai di kejar deadline 🤣
aku suka banget sama writing style-nya, dan alur ceritanya juga smooth banget padahal ini aku baru baca chapter 1 loh 🤭🤭.