Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Penuh Kegilaan
Lampu kristal raksasa yang tergantung megah di langit-langit Ballroom Hotel Grand Horizon memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Hari ini, Jakarta menjadi saksi atas sebuah perhelatan akbar yang menyita perhatian kalangan elite sosialita kota.
Pernikahan antara Evan Wirya Negara, pewaris tunggal kerajaan bisnis Wirya Group, dan Zaskia Mulandari, wanita dari lingkaran elit yang dikenal ambisius, digelar dengan kemewahan yang luar biasa fantastis. Karpet merah membentang sepanjang seratus meter, dipenuhi dengan taburan bunga mawar putih impor yang didatangkan langsung dari Belanda, sementara alunan musik klasik dari orkestra ternama memenuhi setiap sudut ruangan yang luas itu.
Di ruang rias pengantin eksklusif, di balik pintu kayu berukir emas, Zaskia duduk di depan cermin besar berbingkai lampu LED. Ia mengenakan gaun pengantin bergaya fairytale bertaburkan ribuan kristal Swarovski yang berkilauan di bawah sorotan lampu, lengkap dengan tudung pengantin berbahan sutra tipis yang menjuntai panjang hingga menyentuh lantai. Wajahnya dirias sempurna oleh make-up artist kenamaan, menonjolkan kecantikan yang tajam sekaligus mematikan.
Namun, di balik senyum manis yang dipamerkannya untuk para fotografer majalah mode, ada gejolak psikologis yang mengerikan di dalam diri Zaskia. Saat sang perias keluar ruangan untuk mengambil tambahan aksesori, Zaskia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Bibirnya perlahan terbuka, dan sebuah kikikan tertahan lolos dari tenggorokannya. Kikikan itu berubah menjadi tawa kecil, lalu membesar menjadi tawa lepas yang penuh dengan kegilaan murni.
Zaskia menutup mulutnya dengan tangan yang dihiasi manik-manik mahal, tubuhnya bergetar hebat karena kepuasan yang teramat sangat.
"Hahaha... lihat diriku..." bisik Zaskia pada bayangannya sendiri, matanya melotot liar penuh kemenangan. "Hari ini aku adalah ratu yang sesungguhnya. Aku mengalahkan segalanya. Aku mengalahkan takdir."
Ia teringat pada Rafa Sasmita—wanita yang kini mendekam di sel tahanan yang kotor, dingin, dan bau. Di saat Zaskia berdiri di puncak piramida kekayaan dan kemewahan, Rafa berada di titik terendah dasar jurang penderitaan. Tidak ada lagi yang bisa menolong Rafa. Sean telah hancur, ibunya telah lenyap di sungai, dan ayahnya terkapar tak berdaya.
"Selamat menikmati kebusukanmu di dalam penjara, Rafa," desis Zaskia dengan seringai sadis yang terukir jelas di bibirnya. "Kamu miskin, kamu mandul, dan sekarang... kamu adalah sampah sejarah yang tidak akan pernah diingat oleh siapa pun."
****
Di sudut lain ruangan ballroom yang sama, suasana pesta terasa begitu hangat bagi keluarga besar Wirya Negara. Nena Apriandini, ibu kandung Evan, berdiri dengan anggun mengenakan kebaya modern berwarna champagne yang dipadukan dengan selendang batik sutra klasik. Perhiasan berlian berkilauan di jemari dan lehernya, menandakan status sosialnya yang kini semakin kokoh.
Nena menyesap segelas champagne dari nampan pelayan yang lewat, matanya menatap tajam ke arah altar pernikahan di mana putranya sedang berdiri, menunggu kedatangan sang mempelai wanita. Senyum kepuasan yang mendalam terukir di wajah Nena. Hatinya merasa begitu lega dan bangga. Bagi Nena, pernikahan ini bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan sebuah kemenangan besar atas martabat keluarga.
"Akhirnya..." gumam Nena dalam hati, menikmati setiap detik kebahagiaan semu itu. "Putraku bersanding dengan wanita yang sepadan. Wanita cerdas, kaya, dan berkelas seperti Zaskia. Bukan dengan wanita pembawa sial, mandul, dan miskin seperti Rafa Sasmita."
Nena teringat bagaimana ia dan Zaskia bekerja sama merangkai jaring kebohongan, memutarbalikkan fakta, hingga menyingkirkan siapa saja yang menjadi duri dalam daging rencana mereka. Di mata Nena, tidak ada setetes pun rasa bersalah atau penyesalan. Yang ada hanyalah rasa bangga bahwa ia berhasil melindungi garis keturunan dan harta kekayaan keluarganya dari kehancuran yang hampir dibawa oleh Rafa.
Ketika pintu ballroom terbuka lebar dan alunan musik pengantin mulai mengalun megah menandakan Zaskia berjalan memasuki ruangan, seluruh mata tamu undangan terpukau. Nena bertepuk tangan paling meriah di antara barisan depan, matanya berkaca-kaca penuh haru palsu, menyaksikan putranya kini resmi mengikat janji dengan iblis berwujud bidadari yang akan memastikan kehancuran total bagi musuh-musuh mereka.
****
Sementara itu, di tempat yang sangat jauh dari kemewahan ibu kota, di sebuah bangunan sederhana berbau obat antiseptik di pedalaman Sukabumi, sebuah keajaiban kecil tengah terjadi.
Puskesmas pembantu kecamatan itu tampak tenang di tengah teriknya siang hari. Di salah satu ranjang pasien yang ditutupi tirai putih tipis, jari-jari tangan yang keriput dan penuh luka lebam mulai bergerak perlahan. Kelopak mata yang tertutup rapat selama beberapa hari itu akhirnya terbuka, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon ruangan.
Itu adalah Bu Armayani.
Seorang perawat muda yang sedang mencatat data medis di dekat jendela langsung terperanjat kaget melihat pasien kritisnya sadar. Perawat itu segera berlari memanggil dokter jaga. Dalam hitungan menit, pemeriksaan kilat dilakukan, dan puji syukur terucap dari mulut tenaga medis ketika mengetahui bahwa kondisi Bu Arma telah melewati masa kritis berkat ketahanan tubuhnya yang luar biasa dan penanganan cepat warga desa.
Beberapa jam kemudian, setelah infus nutrisi disuntikkan dan tubuhnya diberi makan bubur hangat, Bu Arma perlahan mampu duduk bersandar pada bantal. Di hadapannya, Pak Karta—petugas desa yang menemukannya di Sungai Citatih—duduk dengan sopan di kursi kayu, didampingi oleh kepala puskesmas setempat.
"Ibu sudah siuman sepenuhnya? Masih ada yang terasa sakit di bagian dada atau kepala?" tanya dokter jaga dengan lembut.
Bu Arma menggeleng pelan, suaranya terdengar sangat serak dan parau, sisa dari hantaman air sungai yang dingin. "Terima kasih, Dok... Terima kasih banyak, Pak Pak ... Kalian sudah menyelamatkan nyawa saya dari maut."
"Sudah takdirnya, Bu. Kalau malam itu tidak kebetulan lewat, entah apa nasib Ibu terbawa arus Sungai Citatih yang ganas itu," jawab Pak Karta sambil menggelengkan kepala. "Sebenarnya, siapa yang tega membuang Ibu ke tempat seperti itu? Orang-orang di desa kami sempat mengira Ibu adalah korban kejahatan besar."
Mendengar kata-kata 'korban kejahatan', kilas balik malam badai di Puncak langsung berputar cepat di kepala Bu Arma. Ia teringat bagaimana ia disekap di gudang tua, bagaimana ia melarikan diri, dan bagaimana iblis berwujud manusia bernama Evan Wirya Negara mengejarnya hingga ia terpeleset jatuh ke dalam sungai deras. Wajah Bu Arma seketika menegang, kemarahan yang membara melampaui rasa sakit fisiknya.
"Mereka bukan manusia..." bisik Bu Arma dengan gigi gemeretak, air matanya menetes perlahan di pipinya yang keriput. "Mereka adalah iblis yang ingin menghancurkan keluarga saya. Putri saya... Rafa... difitnah dan dipenjarakan oleh mereka, sementara suami saya sedang berjuang sekarat di rumah sakit."
Kepala puskesmas dan Pak Karta saling berpandangan dengan rasa iba yang mendalam.
"Ibu harus istirahat dulu, kondisi Ibu masih sangat lemah. Jangan terlalu memikirkan hal-hal berat sekarang," saran sang dokter.
Bu Arma menatap tajam ke arah jendela puskesmas yang menampilkan birunya langit Sukabumi. Ia menggelengkan kepalanya dengan tegas, sorot matanya memancarkan keteguhan hati seorang ibu yang tidak mengenal kata menyerah.
"Tidak, Dok. Saya tidak punya waktu untuk beristirahat," ucap Bu Arma dengan suara yang ditegaskan meski masih bergetar. Ia mencabut selang plester di punggung tangannya sendiri, membuat perawat panik berusaha menahannya. "Saya harus pergi. Saya harus kembali ke Jakarta sekarang juga."