`KISAH CINTA YANG BERACUN`
Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.
Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.
Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.
Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.
Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`
Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.
Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.
Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.
Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10_ Otak Licik dan Bantuan Internasional
BAB 10_ Otak Licik dan Bantuan Internasional
Suasana di kamar mandi perempuan kelas 11 terasa membeku. Lea masih berdiri mengikis sisa kepanikannya di depan cermin, menatap pantulan wajahnya sendiri yang memucat.
Materi Olimpiade Sains dan Hukum tingkat Provinsi bukan sekadar pelajaran SMA biasa. Itu adalah kumpulan soal logika rumit, kasus hukum berliku, dan kalkulasi terapan yang butuh waktu berbulan-bulan untuk dikuasai. Bagi Alia sang anak genius, tes ini adalah sarapan pagi. Namun bagi Lea yang hobi bolos dan lebih familiar dengan deretan brand fashion ternama, soal-soal itu tidak ubahnya deretan tulisan hieroglif Mesir Kuno.
`"Pikir, Lea, pikir..."` bisik Lea pada dirinya sendiri, mengetukkan ujung kuku manicure-nya ke permukaan marmer wastafel. `"Aku tidak mungkin belajar dalam empat jam. Tapi aku juga tidak boleh kalah dan berlutut di depan si berengsek Teo itu."`
Satu detik kemudian, sebuah ide gila terpikir di kepalanya. Mata karamel Lea membelalak berbinar.
Ia merogoh saku rok sekolahnya, mengambil ponsel perak berenkripsi internasional yang tadi pagi ia setel ke mode `Do Not Disturb`. Lea menggeser kuncinya, mengabaikan puluhan panggilan terlewat, dan langsung menekan satu nomor kontak di daftar teratas.
Panggilan internasional itu menyambung. Hanya butuh dua kali nada dering sebelum suara berat, sedikit serak, namun penuh kepanikan dan emosi menyapa dari ujung telepon.
`"Lea?! Demi Tuhan, Lea Anggita! Kamu di mana?!"`
Itu suara `Liam`. Mahasiswa tingkat atas di salah satu universitas ternama Melbourne yang selama ini memanjakan Lea dengan barang-barang bermerek dan perhatian ekstra. Pria yang rela melakukan apa saja demi Lea—termasuk memanfaatkan kemampuan akademis tingkat tingginya.
`"Liam..."` panggil Lea pelan.
`"Sweetheart! Kamu sadar tidak sudah membuatku gila tiga hari ini?!"` nada suara Liam meninggi, campur aduk antara amarah yang tertahan dan kecemasan mendalam. `"Aku mendatangi apartemenmu di South Yarra dan kosong! Aku datang ke sekolahmu, mejamu kosong! Aku hampir saja hilang akal dan mau lapor polisi! Kenapa kamu tiba-tiba mematikan ponsel dan menghilang ke Jakarta tanpa memberitahuku?!"`
Lea mendengus geli secara samar dalam hati. `Pria ini benar-benar mudah dikendalikan`, batinnya. Namun, Lea tahu persis cara menaklukkan pria yang sedang di puncak amarah. Ia sengaja mengembunkan matanya, mengubah nada suaranya menjadi sangat lembut, manja, dan bergetar seolah hendak menangis.
`"Liam... sayang... jangan galak-galak, dong. Aku takut..."` bisik Lea manis dengan nada merajuk yang begitu tipis.
Hening seketika di ujung telepon. Emosi meluap-luap yang tadi ditahan Liam seolah menguap dalam hitungan detik saat mendengar panggilan 'sayang' dari bibir Lea.
`"L-Lea... kamu... kamu menangis?"` intonasi Liam mendadak melunak seratus delapan puluh derajat. Kehebatannya sebagai mahasiswa paling dominan di kampusnya runtuh total hanya dengan satu kata manja dari Lea. `"Maaf, sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya... aku sangat mengkhawatirkanmu. Kenapa kamu harus ke Indonesia sendirian?"`
`"Aku ada masalah besar di sini, Liam,"` adu Lea sambil menyandarkan punggungnya di tembok kamar mandi, memainkan ujung rambut karamelnya dengan gaya manja khasnya. `"Ada orang jahat di sekolah ini yang memperlakukanku dengan sangat buruk. Dia menantangku dalam tes akademis jam satu siang nanti. Kalau aku kalah, dia akan mempermalukanku di depan semua orang."`
`"Apa?! Siapa bajingan yang berani melakukan itu padamu?!"` suara Liam kembali mengeras oleh emosi protektif. `"Katakan padaku siapa dia! Aku bisa memesan tiket penerbangan ke Jakarta siang ini juga untuk—"`
`"Tidak perlu terbang ke sini, sayangku,"` sela Lea cepat, mengelus tombol ponselnya seolah sedang mengelus pipi Liam. `"Kamu kan pacarku yang paling pintar, paling tampan, dan paling bisa kuandalkan di seluruh Melbourne. Aku cuma butuh otak encermu dalam waktu tiga jam ke depan."`
Liam terdiam sejenak, sedikit bingung namun dadanya membumbung tinggi oleh pujian bertubi-tubi dari Lea. `"Standby... untuk apa, Lea?"`
Lea menyunggingkan senyum liciknya di depan cermin. `"Aku akan menyelundupkan kamera tersembunyi berukuran mikro dan earpiece nirkabel ke dalam ruang ujian. Kamu cukup duduk manis di kamarmu di Melbourne, baca soal yang ditangkap kameraku, lalu bisikkan semua jawabannya ke telingaku lewat earpiece. Ya, kan, sayang? Kamu mau kan membantuku?"`
`"Apa?! Kamu menyuruhku membantumu melakukan kecurangan akademik lintas negara?!"` Liam kaget setengah mati. Pria akademis yang selalu meraih nilai sempurna itu tidak pernah membayangkan Lea akan memintanya menjadi dalang kejahatan ujian.
`"Ini bukan kecurangan, Liam... ini demi menyelamatkan pacarmu yang cantik ini,"` bisik Lea dengan nada paling manja yang sanggup ia keluarkan, menggigit bibir bawahnya seolah Liam ada di depannya. `"Kamu mau melihat aku berlutut dan menangis di depan pria lain? Kamu tega biarkan orang jahat itu menang dan tertawa di atas penderitaanku? Kamu tidak sayang lagi ya sama aku?"`
Pertahanan Liam runtuh tanpa sisa. Ia menghela napas panjang, memasrahkan seluruh prinsip akademisnya demi gadis di ujung telepon.
`"Baik... baik, astaga, Lea. Kamu benar-benar membuatku gila,"` desah Liam pasrah. `"Kirimkan sinyal kameranya ke server pribadiku sekarang. Aku akan menyiapkan dokumen referensi, sistem pencari jawaban cepat, dan langsung membisikkan jawabannya begitu soalnya muncul di layarmu."`
`"Terima kasih banyak, Liam sayang! Kamu memang pahlawanku yang paling hebat!"` puji Lea dengan nada riang sebelum menembakkan kalimat pemungkas, `"Nanti malam setelah ujian selesai, aku telepon lagi ya. Muaah!"`
`Tut.`
Lea mematikan sambungan telepon dengan senyum puas yang merekah lebar. Bantuan dari Melbourne sudah aman di genggamannya. Kini, tinggal satu masalah teknis lagi: bagaimana cara Lea mendapatkan alat peretas, kamera kancing baju, dan earpiece berukuran nano dalam waktu kurang dari tiga jam di Jakarta?
`"Aku butuh anak nakal yang paham teknologi di sekolah ini..."` gumam Lea seraya mengetukkan jari di dagu.
Ingatannya melayang pada informasi yang pernah Alia ceritakan dulu. Di Ozawa School, ada seorang murid penyendiri dari kelas 10 yang terkenal sebagai peretas independen dan penyedia alat-alat terlarang bagi anak-anak nakal yang ingin menyontek—seorang siswa bernama `Danu`.
Tanpa membuang waktu, Lea merapikan seragamnya, mengoleskan tipis lip gloss di bibirnya, dan melangkah keluar dari kamar mandi dengan percaya diri.
Niat awalnya berpura-pura menjadi Alia yang polos kini sepenuhnya lebur. Lea bertindak dengan naluri liarnya sendiri: memanfaatkan pria kaya di luar negeri, menggunakan taktik licik, dan merangkul sisi gelap Ozawa School.
Dalam kurun waktu dua jam berikutnya, Lea berhasil menemui Danu di belakang laboratorium komputer. Dengan memberikan imbalan sepasang jam tangan mewah—hadiah dari Ethan yang kebetulan dibawa Lea di dalam tasnya—Danu tanpa ragu menyerahkan satu set kancing baju berisikan kamera HD mikro dan earpiece sekecil biji beras yang tak akan terlihat oleh pengawas ujian.
Pukul `sepuluh tiga puluh` menit siang, bel menuju ruang seleksi Olimpiade bergema di seluruh area Ozawa School.
Lea melangkah menuju ruang ujian kelas 11 dengan earpiece yang sudah terpasang sempurna di dalam lubang telinganya. Kamera kancing baju di blazernya sudah terhubung secara real-time ke layar laptop Liam di Melbourne.
Di depan pintu ruang ujian, Teo Ozawa sudah berdiri menyandarkan punggungnya di dinding. Pria itu menatap Lea dengan senyuman miring yang meremehkan, melipat kedua tangannya di dada.
`"Masih punya keberanian untuk datang, Alia?"` ejek Teo saat Lea berjalan mendekatinya. `"Aku sudah menyiapkan panggung di aula untuk acara kamu berlutut sore nanti."`
Lea menghentikan langkahnya tepat di hadapan Teo. Ia mendongak, menyunggingkan senyum paling anggun dan penuh rahasia yang pernah Teo lihat.
`"Simpan senyuman kebanggaanmu itu untuk sore nanti, Tuan Muda,"` bisik Lea halus, jemarinya sengaja menepuk pelan bahu blazer Teo. `"Pastikan lututmu tidak gemetar saat kamu harus menyapu sepatuku nanti."`
Teo memicingkan matanya, sedikit tertegun oleh ketenangan Lea yang sama sekali tidak goyah.
Tepat saat itu, suara lembut Liam terdengar jernih berbisik langsung di dalam telinga kanan Lea melalui earpiece rahasianya:
`"Tes, tes... Lea, sayang, koneksi kamera sudah aktif. Aku sudah bisa melihat ruangan ujianmu dari laptop. Semua dokumen jawaban sudah siap di layarku. Mari kita hancurkan orang jahat yang mencoba mengganggu pacarku ini."`
Senyum Lea makin lebar dan beracun. Permainan curang kelas internasional baru saja dimulai.