“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Pintu kamar Tiara tertutup pelan.
Tiara berdiri beberapa saat di depan pintu, memandangi kamar yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya berbagi suka dan duka bersama Haikal.
Namun malam ini, kamar itu terasa begitu asing.
Dadanya masih terasa sesak mengingat semua kejadian di pesta ulang tahun ibu Permana tadi.
Tatapan orang-orang.
Bisikan mereka.
Cara Intan menindasnya dengan terang-terangan.
Dan yang paling menyakitkan adalah sikap Haikal.
Suaminya itu berdiri di sana, melihat semuanya, tetapi sama sekali tidak membelanya.
Bahkan ketika Intan dan Bu Rumi membuatnya dipermalukan, Haikal justru membela perempuan itu.
Tiara mengusap sudut matanya yang mulai basah.
"Sudah cukup."
Ia tidak ingin menangis lagi.
Dengan langkah mantap, Tiara berjalan menuju lemari pakaian. Ia membukanya, kemudian mulai mengambil pakaian satu per satu.
Dimasukkannya pakaian ke dalam koper.
Baju kerja.
Daster.
Gaun.
Beberapa barang pribadi.
Tangannya memang gemetar, tetapi ia terus bergerak.
Ia sudah mengambil keputusan.
Pernikahan ini harus berakhir.
Selama ini Tiara selalu berusaha bertahan. Ia mencoba menerima kenyataan bahwa suaminya menginginkan perempuan lain. Ia mencoba memahami alasan Haikal ingin menikahi Intan.
Namun semakin lama, semakin jelas bahwa Haikal tidak akan pernah bisa bersikap adil.
Bukan hanya karena Intan adalah perempuan yang dicintainya.
Tetapi karena Haikal memang sudah menempatkan Intan jauh lebih tinggi daripada dirinya.
Bahkan malam ini, Tiara melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Haikal rela membiarkan dirinya terluka demi melindungi Intan.
"Untuk apa aku bertahan?" gumam Tiara lirih.
Air mata akhirnya jatuh.
Ia cepat-cepat menghapusnya.
"Aku juga berhak bahagia."
Baru saja Tiara hendak memasukkan beberapa pakaian terakhir, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Haikal masuk.
Wajah pria itu masih terlihat tegang.
"Tiara."
Tiara tidak menoleh.
Ia terus melipat pakaian.
"Aku sedang sibuk, Mas."
Haikal mengerutkan kening ketika melihat koper besar di atas tempat tidur.
"Kamu mau pergi?"
Tiara berhenti sejenak.
"Ya."
"Ke mana?"
Tiara menutup koper itu sebagian.
"Pergi dari rumah ini."
Haikal menghela napas panjang.
"Jangan membuat masalah baru, Tiara."
Tiara menatap suaminya.
"Masih aku yang membuat masalah?"
"Aku datang bukan untuk bertengkar."
"Lalu?"
Haikal terdiam beberapa detik.
Kemudian berkata dengan nada tegas.
"Kamu harus minta maaf kepada Intan."
Tiara sampai tertawa kecil.
Tawa yang terdengar begitu hambar.
"Minta maaf?"
"Iya."
"Untuk apa?"
"Karena tadi Intan dipermalukan banyak orang."
Tiara menatap Haikal tidak percaya.
"Dan itu salahku?"
"Kalau kau tidak membuat suasana menjadi seperti itu, Intan tidak akan dipermalukan."
Tiara menggelengkan kepala.
"Kau mau aku minta maaf padanya?"
"Iya."
"Aku bahkan tidak melakukan apa pun, Mas."
"Tiara!"
"Dia dipermalukan orang banyak karena kelakuannya memang menjijikkan."
Haikal mengepalkan tangan.
"Jaga ucapanmu!"
"Mana ada wanita terhormat yang mau menjadi gundik pria beristri?"
Tamparan keras mendarat di pipi Tiara.
PLAK!
Tubuh Tiara terhuyung.
Kamar mendadak sunyi.
Tiara memegang pipinya.
Matanya membulat.
Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Haikal menamparnya.
Haikal sendiri tampak terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya.
Tangannya gemetar.
"Tiara..."
Tiara tidak menjawab.
"Maaf."
Haikal menelan ludah.
"Aku... aku minta maaf."
Namun beberapa detik kemudian, pria itu justru berkata dengan suara yang lebih rendah.
"Kau membuat aku kehilangan kesabaran."
Tiara tersenyum pahit.
"Bahkan setelah menamparku, Mas masih menyalahkanku?"
"Aku tidak bermaksud—"
"Sudah."
Tiara mengangkat tangannya.
Ia tidak ingin mendengar alasan apa pun.
"Kalau memang seperti ini akhirnya, ayo kita cerai saja, Mas."
Haikal terdiam.
Tiara menarik napas panjang.
"Aku tidak tahan hidup bersamamu."
"Kauu serius?"
"Sangat serius."
"Kau pikir perceraian itu mudah?"
"Aku tidak bilang mudah."
Tiara kembali memasukkan pakaian ke dalam koper.
"Tapi aku tahu satu hal. Aku sudah tidak bahagia bersamamu."
Haikal menatapnya tajam.
"Kalau kau memaksa cerai, kau akan jadi gembel di luar sana, Tiara!"
Tangan Tiara berhenti.
Ia menoleh.
Wajahnya memang basah oleh air mata, tetapi tatapannya tidak lagi menunjukkan ketakutan.
"Lebih baik aku menjadi gembel tapi hatiku tenang..."
Tiara menarik napas.
"...daripada hidup jadi istrimu tapi hatiku terluka setiap hari."
Haikal terdiam.
Kalimat itu seperti menghantam dadanya.
Namun kesombongannya masih menguasai dirinya.
"Baik."
Suara Haikal terdengar dingin.
"Kalau kau memaksa."
Tiara menatapnya.
"Aku akan menceraikanmu sekarang juga, Tiara."
Tiara terdiam.
Ia berharap Haikal akan berubah pikiran.
Ia berharap suaminya akan menghampirinya, memeluknya, dan mengatakan bahwa semua perkataan tadi hanya karena emosi.
Namun Haikal tidak melakukan itu.
Pria itu justru berdiri tegak di hadapannya.
Kemudian mengucapkan kata-kata yang membuat seluruh dunia Tiara seakan runtuh.
"Aku menceraikanmu."
Tiara memejamkan mata.
Air mata mengalir deras.
Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan.
Pernikahan yang selama ini ia perjuangkan akhirnya berakhir hanya dengan beberapa kata.
Haikal terdiam.
Mungkin untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa kalimat yang baru saja diucapkannya tidak bisa ditarik kembali begitu saja.
Tetapi Tiara tidak menunggu.
Ia menutup koper.
Menguncinya.
Kemudian menarik koper itu turun dari tempat tidur.
Krek.
Roda koper bergesekan dengan lantai.
Tiara berjalan menuju pintu.
Haikal hanya memandanginya.
"Tiara..."
Langkah Tiara berhenti.
Namun ia tidak menoleh.
"Apa?"
Haikal membuka mulut.
Tidak ada kata yang keluar.
Entah mengapa, melihat Tiara benar-benar pergi membuat dadanya terasa sesak.
Selama ini ia berpikir Tiara tidak akan pernah meninggalkannya.
Ia mengira perempuan itu akan selalu bertahan.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, Haikal melihat bahwa Tiara benar-benar bisa pergi.
Tiara kembali menarik kopernya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia melewati ambang pintu kamar.
Dalam hati, Tiara mengucapkan kalimat terakhir kepada lelaki yang pernah begitu dicintainya.
'Selamat tinggal, Mas. Semoga hidupmu bahagia dengan Intan seperti apa yang kamu bayangkan.'
Ia menahan tangis.
'Semoga suatu hari nanti, kau tidak menyesal telah melepaskanku demi wanita itu.'
Bersambung.....