Indonesia
NovelToon NovelToon

Nama Author: D'Silent Novel

Sejak Kapan Aku Jadi Sekuat Ini?

4.6 |

Nama Author: D'Silent Novel

Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.

Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.

Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sejak Kapan Aku Jadi Sekuat Ini?
Noveltoon Downloade Noveltoon Downloade
Pendahuluan | Episodes
Updated 280 Episodes
Naik
  |  
Turun
1
Bab 1 — Mimpi Seorang Pembaca Novel Kultivasi
2
Bab 2 — Sistem Kultivasi... atau Sistem Kuli?
3
Bab 3 — Sepuluh Tahun yang Berlalu
4
Bab 4 — Berdagang Demi Menyambung Hidup
5
Bab 5 — Lapak yang Menggemparkan Kota Qingyun
6
Bab 6 — Batu Roh? Apa Itu?
7
Bab 7 — Peri dari Sekte Awan Hijau
8
Bab 8 — Jalan Pulang yang Tidak Biasa
9
Bab 9 — Undangan yang Ditolak
10
Bab 10 — Rumah Sederhana yang Penuh Keajaiban
11
Bab 11 — Formasi yang Menyatu dengan Langit dan Bumi
12
Bab 12 — Buah Persik dari Halaman Belakang
13
Bab 13 — Masakan Seorang Pertapa
14
Bab 14 — Tamu yang Tidak Diundang
15
Bab 15 — Sekte Bayangan Hitam
16
Bab 16 — Kesalahpahaman yang Semakin Dalam
17
Bab 17 — Selembar Kaligrafi
18
Bab 18 — Harga Sebuah Kesalahpahaman
19
Bab 19 — Pedagang Biasa dari Desa Qinghe
20
Bab 20 — Nasihat Seorang "Orang Biasa"
21
Bab 21 — Tiga Orang dari Sekte Awan Hijau
22
Bab 22 — Permintaan yang Tidak Berani Diucapkan
23
Bab 23 — Tulisan yang Mengubah Takdir
24
Bab 24 — Undangan dari Kota Qingyun
25
Bab 25 — Karya Tangan di Dalam Keranjang
26
Bab 26 — Pelelangan yang Menjadi Pusat Perhatian
27
Bab 27 — Gulungan Kuno yang Tidak Dipahami
28
Bab 28 — Patung Kayu yang Menggemparkan Pelelangan
29
Bab 29 — Pengetahuan Baru Tentang Dunia Kultivasi
30
Bab 30 — Belanja dengan Batu Roh
31
Bab 31 — Karya Pengrajin yang Dianggap Harta Karun
32
Bab 32 — Patung Kecil yang Mengundang Keributan
33
Bab 33 — Kabar Tentang Senior Xu Sampai ke Sekte Awan Hijau
34
Bab 34 — Rahasia Akar Spiritual
35
Bab 35 — Keinginan Sederhana Seorang Mortal
36
Bab 36 — Akar Spiritual yang Tidak Bisa Diukur
37
Bab 37 — Tingkatan Akar Spiritual Dunia Tianxuan
38
Bab 38 — Jamuan Sederhana dari Xu Ming
39
Bab 39 — Perubahan di Sekte Awan Hijau
40
Bab 40 — Perjalanan Pertama ke Sekte Awan Hijau
41
Bab 41 — Murid-Murid yang Kebingungan
42
Bab 42 — Seorang Mortal di Tengah Sekte
43
Bab 43 — Perdebatan di Aula Utama
44
Bab 44 — Sebuah Permainan Catur
45
Bab 45 — Ketakutan Tetua Han
46
Bab 46 — Kesalahpahaman Yang Luar Biasa
47
Bab 47 — Kitab yang Tidak Lengkap
48
Bab 48 — Hadiah Perpisahan
49
Bab 49 — Harta yang Mengguncang Sekte
50
Bab 50 — Perubahan yang Mengguncang Wilayah Selatan
51
Bab 51 — Kehidupan Kembali Tenang
52
Bab 52 — Mimpi yang Mustahil?
53
Bab 53 — Tingkatan Harta Karun
54
Bab 54 — Pertemuan di Tepi Jalan
55
Bab 55 — Nama Baru
56
Bab 56 — Awal Kehidupan Baru
57
Bab 57 — Bakat yang Tersembunyi
58
Bab 58 — Seorang Tamu dari Sekte Awan Hijau
59
Bab 59 — Benih yang Dibawa
60
Bab 60 — Menginap Semalam
61
Bab 61 — Hadiah Sebelum Berpisah
62
Bab 62 — Sekte Awan Hijau Kembali Bergejolak
63
Bab 63 — Kesalahpahaman Yang Terus Semakin Dalam
64
Bab 64 — Perintah Ketua Sekte
65
Bab 65 — Pelajaran Pedang Pertama
66
Bab 66 — Seratus Ayunan
67
Bab 67 — Tunas Harapan
68
Bab 68 — Pertumbuhan yang Mustahil
69
Bab 69 — Kabar yang Menggemparkan
70
Bab 70 — Tamu yang Tidak Diundang
71
Bab 71 — Desa yang Terlalu Tenang
72
Bab 72 — Halaman yang Dipenuhi Dao
73
Bab 73 — Kesalahpahaman Dua Sekte
74
Bab 74 — Panen Pertama
75
Bab 75 — Perjalanan ke Kota Qingyun
76
Bab 76 — Kehebohan di Kota Qingyun
77
Bab 77 — Harga yang Tak Terduga
78
Bab 78 — Hadiah untuk Xiao Yu
79
Bab 79 — Pertemuan yang Tidak Disengaja
80
Bab 80 — Penjaga Rumah yang Setia
81
Bab 81 — Benih Baru dan Desas-desus yang Menyebar
82
Bab 82 — Utusan dari Sekte Pedang Langit
83
Bab 83 — Seorang Jenius Pedang yang Tercengang
84
Bab 84 — Secangkir Teh, Sebuah Pencerahan
85
Bab 85 — Sebuah Pedang Kayu
86
Bab 86 — Sekte Pedang Langit yang Terguncang
87
Bab 87 — Latihan yang Sederhana
88
Bab 88 — Tamu dari Paviliun Suara Surga
89
Bab 89 — Sebuah Alunan Qin
90
Bab 90 — Melodi yang Mengguncang Dao Musik
91
Bab 91 — Bimbingan untuk Seorang Musisi
92
Bab 92 — Dunia di Dalam Lukisan
93
Bab 93 — Keputusan untuk Pergi ke Ibukota
94
Bab 94 — Patung Penjaga Rumah
95
Bab 95 — Hari Keberangkatan
96
Bab 96 — Kota Pertama di Perjalanan
97
Bab 97 — Seorang Penikmat Musik
98
Bab 98 — Penginapan Bunga Musim Semi
99
Bab 99 — Sepapan Catur
100
Bab 100 — Seekor Harimau di Tengah Jalan
101
Bab 101 — Tabib yang Baik Hati
102
Bab 102 — Kota Linfeng
103
Bab 103 — Seorang Pendekar Bernama Ye Han
104
Bab 104 — Fondasi dari Segala Fondasi
105
Bab 105 — Berjalan Bersama
106
Bab 106 — Roda yang Kembali Berputar
107
Bab 107 — Ibu Kota yang Semakin Dekat
108
Bab 108 — Gerbang Ibukota
109
Bab 109 — Pertemuan yang Tak Disangka
110
Bab 110 — Tempat Pendaftaran Turnamen
111
Bab 111 — Nama yang Tak Asing
112
Bab 112 — Aula Turnamen Dibuka
113
Bab 113 — Babak Musik Dimulai
114
Bab 114 — Satu Lagu, Seribu Pencerahan
115
Bab 115 — Tepuk Tangan yang Menggema
116
Bab 116 — Menjadi Perbincangan Seluruh Arena
117
Bab 117 — Pertemuan yang Telah Lama Dinanti
118
Bab 118 — Rencana yang Tak Pernah Ada
119
Bab 119 — Babak Berikutnya Dimulai
120
Bab 120 — Sebuah Huruf yang Mengguncang Jiwa
121
Bab 121 — Singgasana Tertinggi
122
Bab 122 — Nilai yang Tak Terbayangkan
123
Bab 123 — Sejarah Baru Turnamen Agung Seratus Seni
124
Bab 124 — Para Petinggi yang Terkejut
125
Bab 125 — Jamuan yang Penuh Kesalahpahaman
126
Bab 126 — Sebuah Permintaan Bimbingan
127
Bab 127 — Arena Cabang Puisi
128
Bab 128 — Sebait Puisi untuk Sebuah Perjalanan
129
Bab 129 — Guru di Balik Langit
130
Bab 130 — Juara Cabang Puisi
131
Bab 131 — Pertemuan di Aula Utama
132
Bab 132 — Cabang Lukisan Dan Tema Sebuah Lukisan
133
Bab 133 — Rumah Dan Arti Sebuah Rumah
134
Bab 134 — Juara Cabang Lukisan
135
Bab 135 — Dunia di Atas Papan Catur
136
Bab 136 — Langkah yang Mengubah Dunia
137
Bab 137 — Juara Cabang Catur
138
Bab 138 — Cabang Terakhir
139
Bab 139 — Kehidupan yang Terukir
140
Bab 140 — Mahakarya Terakhir Dan Penghormatan Seorang Kaisar
141
Bab 141 — Undangan dari Istana
142
Bab 142 — Permintaan Sang Kaisar
143
Bab 143 — Catatan Kultivasi Kuno
144
Bab 144 — Penjaga Perpustakaan
145
Bab 145 — Kitab Tanpa Nama
146
Bab 146 — Kitab Yang Memilih Pembacanya
147
Bab 147 — Halaman Terakhir
148
Bab 148 — Kembali ke Desa Qinghe
149
Bab 149 — Pulang ke Rumah
150
Bab 150 — Utusan Sang Kaisar Dan Tahun Demi Tahun Pun Berlalu
151
Bab 151 — Kehidupan yang Tenang
152
Bab 152 — Sebuah Surat dari Ibukota
153
Bab 153 — Orang-Orang Asing
154
Bab 154 — Desa yang Berubah Tanpa Disadari
155
Bab 155 — Menjaga Sebuah Rahasia
156
Bab 156 — Perjalanan Baru
157
Bab 157 — Memasuki Pegunungan Awan Ungu
158
Bab 158 — Hujan di Pegunungan Awan Ungu
159
Bab 159 — Pertemuan Pertama dan Secangkir Teh
160
Bab 160 — Dua Pecinta Tanaman dan Sebuah Nama
161
161 — Undangan untuk Bermalam
162
Bab 162 — Malam yang Tenang
163
Bab 163 — Obrolan di Taman
164
Bab 164 — Sebuah Hadiah
165
Bab 165 — Kembali Menyusuri Pegunungan
166
Bab 166 — Aroma yang Mengundang
167
Bab 167 — Secangkir Teh di Tengah Gunung
168
Bab 168 — Jalan Pulang
169
Bab 169 — Menanam Harapan Baru
170
Bab 170 — Kuncup di Bawah Cahaya Bulan
171
Bab 171 — Kegelisahan Sekte Awan Hijau
172
Bab 172 — Tamu yang Datang dari Pagi Hari
173
Bab 173 — Rumah yang Semakin Istimewa
174
Bab 174 — Sebuah Permintaan Dari Senior Xu
175
Bab 175 — Orang-Orang yang Membutuhkan
176
Bab 176 — Kedatangan Para Pekerja
177
Bab 177 — Makan Siang yang Hangat
178
Bab 178 — Hari Kedua
179
Bab 179 — Sebatang Pohon Persik
180
Bab 180 — Sebuah Taman Mulai Terbentuk
181
Bab 181 — Jejak Kenangan
182
Bab 182 — Taman yang Mulai Hidup
183
Bab 183 — Kolam Kecil dan Penghuni Baru
184
Bab 184 — Taman yang Semakin Ramai
185
Bab 185 — Pegunungan Awan Ungu
186
Bab 186 — Taman yang Membawa Kedamaian
187
Bab 187 — Kabar yang Mulai Menyebar
188
Bab 188 — Pengembara yang Singgah
189
Bab 189 — Kabar yang Mengusik Hati Para Kultivator
190
Bab 190 — Reuni di Kediaman Xu Ming
191
Bab 191 — Tamu Agung di Hari Panen
192
Bab 192 — Jamuan Sederhana
193
Bab 193 — Setelah Para Tamu Pergi
194
Bab 194 — Sebuah Kerinduan yang Tak Disadari
195
Bab 195 — Laporan dari Sang Pelayan
196
Bab 196 — Patung Burung Legenda
197
Bab 197 — Seorang Tukang Kayu Tua
198
Bab 198 — Kabar dari Alam Atas
199
Bab 199 — Memulai Perjalanan
200
Bab 200 — Tiba di Desa Qinghe
201
Bab 201 — Berkeliling Taman
202
Bab 202 — Teh di Tengah Taman
203
Bab 203 — Malam yang Tenang
204
Bab 204 — Lukisan di Bawah Cahaya Bulan
205
Bab 205 — Nama Yang Indah
206
Bab 206 — Kembali Tenang
207
Bab 207 — Kepulangan Yang Mulia
208
Bab 208 — Pohon Persik yang Dibawa Pulang
209
Bab 209 — Kota Qingyun yang Berbeda
210
Bab 210 — Lukisan yang Belum Selesai
211
Bab 211 — Secangkir Teh di Kota Qingyun
212
Bab 212 — Sebuah Sapuan Kuas
213
Bab 213 — Toko Alat Musik Tua
214
Bab 214 — Pulang ke Rumah
215
Bab 215 — Hari yang Damai dan Tamu Dari Kota Qingyun
216
Bab 216 — Di Bawah Pohon Persik
217
Bab 217 — Bayangan di Utara
218
Bab 218 — Utusan dari Utara
219
Bab 219 — Ketenangan yang Rapuh
220
Bab 220 — Tanda-Tanda yang Tak Wajar
221
Bab 221 — Riak yang Terus Meluas
222
Bab 222 — Para Pencari Jawaban
223
Bab 223 — Simbol yang Terbangun
224
Bab 224 — Tanah yang Kehilangan Kehidupan
225
Bab 225 — Sebuah Keputusan Dan Kerinduan
226
Bab 226 — Awal dari Sebuah Perubahan
227
Bab 227 — Sampai ke Akar
228
Bab 228 — Mencari Akar
229
Bab 229 — Makna di Balik Kesederhanaan
230
Bab 230 — Menelusuri Jejak
231
Bab 231 — Jejak yang Terungkap
232
Bab 232 — Hasil Interogasi
233
Bab 233 — Penyusup
234
Bab 234 — Satu Ayunan Cangkul
235
Bab 235 — Satu Ayunan, Dua Dunia
236
Bab 236 — Penjaga Dalam Bayangan
237
Bab 237 — Sang Penjaga Bergerak
238
Bab 238 — Darah Membuka Jalan
239
Bab 239 — Wilayah Terlarang
240
Bab 240 — Akar yang Tercabut
241
Bab 241 — Petunjuk Terakhir
242
Bab 242 — Para Utusan dari Berbagai Sekte
243
Bab 243 — Kembali Membawa Kabar
244
Bab 244 — Pertemuan Besar
245
Bab 245 — Rapat Di Sekte Pedang Langit
246
Bab 246 — Kesepakatan Dunia Kultivasi
247
Bab 247 — Kehidupan yang Damai
248
Bab 248 — Pesta Panen dan Perjodohan Dadakan?
249
Bab 249 — Gotong Royong Desa
250
Bab 250 — Jejak Tangan Seorang Ahli
251
Bab 251 — Kabar yang Menghilang
252
Bab 252 — Petunjuk Pertama
253
Bab 253 — Jejak yang Mengarah ke Desa Qinghe
254
Bab 254 — Laporan yang Mengubah Segalanya
255
Bab 255 — Tanda yang Mulai Terbangun
256
Bab 256 — Sidang Seluruh Alam Atas
257
Bab 257 — Bersatu Menghadapi Badai
258
Bab 258 — Keberadaan dari Zaman Purba
259
Bab 259 — Serangan Pertama
260
Bab 260 — Bertahan Sampai Titik Darah Terakhir
261
Bab 261 — Jurang Keputusasaan
262
Bab 262 — Air Mata Sang Permaisuri
263
Bab 263 — Aku Ada di Sini
264
Bab 264 — Wibawa yang Bertabrakan
265
Bab 265 — Karena Kau Menyakitinya
266
Bab 266 — Ketika Dunia Kembali
267
Bab 267 — Telapak Tangan dari Langit
268
Bab 268 — Kembali Kedalam Lukisan
269
Bab 269 — Nama yang Mulai Dikenal
270
Bab 270 — Sebelum Berangkat
271
Bab 271 — Kembali ke Alam Bawah
272
Bab 272 — Tempat Semuanya Bermula
273
Bab 273 — Semakin Dekat
274
Bab 274 — Pengakuan di Paviliun Teh
275
Bab 275 — Identitas yang Selama Ini Tersembunyi
276
Bab 276 — Kebenaran di Balik Lukisan
277
Bab 277 — Pesan dari Dalam Lukisan
278
Bab 278 — Alasan untuk Tinggal
279
Bab 279 — Retakan Pertama
280
Bab 280 — Tokoh Utama yang Sebenarnya (Tamat?)
280
Bab 280 — Tokoh Utama yang Sebenarnya (Tamat?)
279
Bab 279 — Retakan Pertama
278
Bab 278 — Alasan untuk Tinggal
277
Bab 277 — Pesan dari Dalam Lukisan
276
Bab 276 — Kebenaran di Balik Lukisan
275
Bab 275 — Identitas yang Selama Ini Tersembunyi
274
Bab 274 — Pengakuan di Paviliun Teh
273
Bab 273 — Semakin Dekat
272
Bab 272 — Tempat Semuanya Bermula
271
Bab 271 — Kembali ke Alam Bawah
270
Bab 270 — Sebelum Berangkat
269
Bab 269 — Nama yang Mulai Dikenal
268
Bab 268 — Kembali Kedalam Lukisan
267
Bab 267 — Telapak Tangan dari Langit
266
Bab 266 — Ketika Dunia Kembali
265
Bab 265 — Karena Kau Menyakitinya
264
Bab 264 — Wibawa yang Bertabrakan
263
Bab 263 — Aku Ada di Sini
262
Bab 262 — Air Mata Sang Permaisuri
261
Bab 261 — Jurang Keputusasaan
260
Bab 260 — Bertahan Sampai Titik Darah Terakhir
259
Bab 259 — Serangan Pertama
258
Bab 258 — Keberadaan dari Zaman Purba
257
Bab 257 — Bersatu Menghadapi Badai
256
Bab 256 — Sidang Seluruh Alam Atas
255
Bab 255 — Tanda yang Mulai Terbangun
254
Bab 254 — Laporan yang Mengubah Segalanya
253
Bab 253 — Jejak yang Mengarah ke Desa Qinghe
252
Bab 252 — Petunjuk Pertama
251
Bab 251 — Kabar yang Menghilang
250
Bab 250 — Jejak Tangan Seorang Ahli
249
Bab 249 — Gotong Royong Desa
248
Bab 248 — Pesta Panen dan Perjodohan Dadakan?
247
Bab 247 — Kehidupan yang Damai
246
Bab 246 — Kesepakatan Dunia Kultivasi
245
Bab 245 — Rapat Di Sekte Pedang Langit
244
Bab 244 — Pertemuan Besar
243
Bab 243 — Kembali Membawa Kabar
242
Bab 242 — Para Utusan dari Berbagai Sekte
241
Bab 241 — Petunjuk Terakhir
240
Bab 240 — Akar yang Tercabut
239
Bab 239 — Wilayah Terlarang
238
Bab 238 — Darah Membuka Jalan
237
Bab 237 — Sang Penjaga Bergerak
236
Bab 236 — Penjaga Dalam Bayangan
235
Bab 235 — Satu Ayunan, Dua Dunia
234
Bab 234 — Satu Ayunan Cangkul
233
Bab 233 — Penyusup
232
Bab 232 — Hasil Interogasi
231
Bab 231 — Jejak yang Terungkap
230
Bab 230 — Menelusuri Jejak
229
Bab 229 — Makna di Balik Kesederhanaan
228
Bab 228 — Mencari Akar
227
Bab 227 — Sampai ke Akar
226
Bab 226 — Awal dari Sebuah Perubahan
225
Bab 225 — Sebuah Keputusan Dan Kerinduan
224
Bab 224 — Tanah yang Kehilangan Kehidupan
223
Bab 223 — Simbol yang Terbangun
222
Bab 222 — Para Pencari Jawaban
221
Bab 221 — Riak yang Terus Meluas
220
Bab 220 — Tanda-Tanda yang Tak Wajar
219
Bab 219 — Ketenangan yang Rapuh
218
Bab 218 — Utusan dari Utara
217
Bab 217 — Bayangan di Utara
216
Bab 216 — Di Bawah Pohon Persik
215
Bab 215 — Hari yang Damai dan Tamu Dari Kota Qingyun
214
Bab 214 — Pulang ke Rumah
213
Bab 213 — Toko Alat Musik Tua
212
Bab 212 — Sebuah Sapuan Kuas
211
Bab 211 — Secangkir Teh di Kota Qingyun
210
Bab 210 — Lukisan yang Belum Selesai
209
Bab 209 — Kota Qingyun yang Berbeda
208
Bab 208 — Pohon Persik yang Dibawa Pulang
207
Bab 207 — Kepulangan Yang Mulia
206
Bab 206 — Kembali Tenang
205
Bab 205 — Nama Yang Indah
204
Bab 204 — Lukisan di Bawah Cahaya Bulan
203
Bab 203 — Malam yang Tenang
202
Bab 202 — Teh di Tengah Taman
201
Bab 201 — Berkeliling Taman
200
Bab 200 — Tiba di Desa Qinghe
199
Bab 199 — Memulai Perjalanan
198
Bab 198 — Kabar dari Alam Atas
197
Bab 197 — Seorang Tukang Kayu Tua
196
Bab 196 — Patung Burung Legenda
195
Bab 195 — Laporan dari Sang Pelayan
194
Bab 194 — Sebuah Kerinduan yang Tak Disadari
193
Bab 193 — Setelah Para Tamu Pergi
192
Bab 192 — Jamuan Sederhana
191
Bab 191 — Tamu Agung di Hari Panen
190
Bab 190 — Reuni di Kediaman Xu Ming
189
Bab 189 — Kabar yang Mengusik Hati Para Kultivator
188
Bab 188 — Pengembara yang Singgah
187
Bab 187 — Kabar yang Mulai Menyebar
186
Bab 186 — Taman yang Membawa Kedamaian
185
Bab 185 — Pegunungan Awan Ungu
184
Bab 184 — Taman yang Semakin Ramai
183
Bab 183 — Kolam Kecil dan Penghuni Baru
182
Bab 182 — Taman yang Mulai Hidup
181
Bab 181 — Jejak Kenangan
180
Bab 180 — Sebuah Taman Mulai Terbentuk
179
Bab 179 — Sebatang Pohon Persik
178
Bab 178 — Hari Kedua
177
Bab 177 — Makan Siang yang Hangat
176
Bab 176 — Kedatangan Para Pekerja
175
Bab 175 — Orang-Orang yang Membutuhkan
174
Bab 174 — Sebuah Permintaan Dari Senior Xu
173
Bab 173 — Rumah yang Semakin Istimewa
172
Bab 172 — Tamu yang Datang dari Pagi Hari
171
Bab 171 — Kegelisahan Sekte Awan Hijau
170
Bab 170 — Kuncup di Bawah Cahaya Bulan
169
Bab 169 — Menanam Harapan Baru
168
Bab 168 — Jalan Pulang
167
Bab 167 — Secangkir Teh di Tengah Gunung
166
Bab 166 — Aroma yang Mengundang
165
Bab 165 — Kembali Menyusuri Pegunungan
164
Bab 164 — Sebuah Hadiah
163
Bab 163 — Obrolan di Taman
162
Bab 162 — Malam yang Tenang
161
161 — Undangan untuk Bermalam
160
Bab 160 — Dua Pecinta Tanaman dan Sebuah Nama
159
Bab 159 — Pertemuan Pertama dan Secangkir Teh
158
Bab 158 — Hujan di Pegunungan Awan Ungu
157
Bab 157 — Memasuki Pegunungan Awan Ungu
156
Bab 156 — Perjalanan Baru
155
Bab 155 — Menjaga Sebuah Rahasia
154
Bab 154 — Desa yang Berubah Tanpa Disadari
153
Bab 153 — Orang-Orang Asing
152
Bab 152 — Sebuah Surat dari Ibukota
151
Bab 151 — Kehidupan yang Tenang
150
Bab 150 — Utusan Sang Kaisar Dan Tahun Demi Tahun Pun Berlalu
149
Bab 149 — Pulang ke Rumah
148
Bab 148 — Kembali ke Desa Qinghe
147
Bab 147 — Halaman Terakhir
146
Bab 146 — Kitab Yang Memilih Pembacanya
145
Bab 145 — Kitab Tanpa Nama
144
Bab 144 — Penjaga Perpustakaan
143
Bab 143 — Catatan Kultivasi Kuno
142
Bab 142 — Permintaan Sang Kaisar
141
Bab 141 — Undangan dari Istana
140
Bab 140 — Mahakarya Terakhir Dan Penghormatan Seorang Kaisar
139
Bab 139 — Kehidupan yang Terukir
138
Bab 138 — Cabang Terakhir
137
Bab 137 — Juara Cabang Catur
136
Bab 136 — Langkah yang Mengubah Dunia
135
Bab 135 — Dunia di Atas Papan Catur
134
Bab 134 — Juara Cabang Lukisan
133
Bab 133 — Rumah Dan Arti Sebuah Rumah
132
Bab 132 — Cabang Lukisan Dan Tema Sebuah Lukisan
131
Bab 131 — Pertemuan di Aula Utama
130
Bab 130 — Juara Cabang Puisi
129
Bab 129 — Guru di Balik Langit
128
Bab 128 — Sebait Puisi untuk Sebuah Perjalanan
127
Bab 127 — Arena Cabang Puisi
126
Bab 126 — Sebuah Permintaan Bimbingan
125
Bab 125 — Jamuan yang Penuh Kesalahpahaman
124
Bab 124 — Para Petinggi yang Terkejut
123
Bab 123 — Sejarah Baru Turnamen Agung Seratus Seni
122
Bab 122 — Nilai yang Tak Terbayangkan
121
Bab 121 — Singgasana Tertinggi
120
Bab 120 — Sebuah Huruf yang Mengguncang Jiwa
119
Bab 119 — Babak Berikutnya Dimulai
118
Bab 118 — Rencana yang Tak Pernah Ada
117
Bab 117 — Pertemuan yang Telah Lama Dinanti
116
Bab 116 — Menjadi Perbincangan Seluruh Arena
115
Bab 115 — Tepuk Tangan yang Menggema
114
Bab 114 — Satu Lagu, Seribu Pencerahan
113
Bab 113 — Babak Musik Dimulai
112
Bab 112 — Aula Turnamen Dibuka
111
Bab 111 — Nama yang Tak Asing
110
Bab 110 — Tempat Pendaftaran Turnamen
109
Bab 109 — Pertemuan yang Tak Disangka
108
Bab 108 — Gerbang Ibukota
107
Bab 107 — Ibu Kota yang Semakin Dekat
106
Bab 106 — Roda yang Kembali Berputar
105
Bab 105 — Berjalan Bersama
104
Bab 104 — Fondasi dari Segala Fondasi
103
Bab 103 — Seorang Pendekar Bernama Ye Han
102
Bab 102 — Kota Linfeng
101
Bab 101 — Tabib yang Baik Hati
100
Bab 100 — Seekor Harimau di Tengah Jalan
99
Bab 99 — Sepapan Catur
98
Bab 98 — Penginapan Bunga Musim Semi
97
Bab 97 — Seorang Penikmat Musik
96
Bab 96 — Kota Pertama di Perjalanan
95
Bab 95 — Hari Keberangkatan
94
Bab 94 — Patung Penjaga Rumah
93
Bab 93 — Keputusan untuk Pergi ke Ibukota
92
Bab 92 — Dunia di Dalam Lukisan
91
Bab 91 — Bimbingan untuk Seorang Musisi
90
Bab 90 — Melodi yang Mengguncang Dao Musik
89
Bab 89 — Sebuah Alunan Qin
88
Bab 88 — Tamu dari Paviliun Suara Surga
87
Bab 87 — Latihan yang Sederhana
86
Bab 86 — Sekte Pedang Langit yang Terguncang
85
Bab 85 — Sebuah Pedang Kayu
84
Bab 84 — Secangkir Teh, Sebuah Pencerahan
83
Bab 83 — Seorang Jenius Pedang yang Tercengang
82
Bab 82 — Utusan dari Sekte Pedang Langit
81
Bab 81 — Benih Baru dan Desas-desus yang Menyebar
80
Bab 80 — Penjaga Rumah yang Setia
79
Bab 79 — Pertemuan yang Tidak Disengaja
78
Bab 78 — Hadiah untuk Xiao Yu
77
Bab 77 — Harga yang Tak Terduga
76
Bab 76 — Kehebohan di Kota Qingyun
75
Bab 75 — Perjalanan ke Kota Qingyun
74
Bab 74 — Panen Pertama
73
Bab 73 — Kesalahpahaman Dua Sekte
72
Bab 72 — Halaman yang Dipenuhi Dao
71
Bab 71 — Desa yang Terlalu Tenang
70
Bab 70 — Tamu yang Tidak Diundang
69
Bab 69 — Kabar yang Menggemparkan
68
Bab 68 — Pertumbuhan yang Mustahil
67
Bab 67 — Tunas Harapan
66
Bab 66 — Seratus Ayunan
65
Bab 65 — Pelajaran Pedang Pertama
64
Bab 64 — Perintah Ketua Sekte
63
Bab 63 — Kesalahpahaman Yang Terus Semakin Dalam
62
Bab 62 — Sekte Awan Hijau Kembali Bergejolak
61
Bab 61 — Hadiah Sebelum Berpisah
60
Bab 60 — Menginap Semalam
59
Bab 59 — Benih yang Dibawa
58
Bab 58 — Seorang Tamu dari Sekte Awan Hijau
57
Bab 57 — Bakat yang Tersembunyi
56
Bab 56 — Awal Kehidupan Baru
55
Bab 55 — Nama Baru
54
Bab 54 — Pertemuan di Tepi Jalan
53
Bab 53 — Tingkatan Harta Karun
52
Bab 52 — Mimpi yang Mustahil?
51
Bab 51 — Kehidupan Kembali Tenang
50
Bab 50 — Perubahan yang Mengguncang Wilayah Selatan
49
Bab 49 — Harta yang Mengguncang Sekte
48
Bab 48 — Hadiah Perpisahan
47
Bab 47 — Kitab yang Tidak Lengkap
46
Bab 46 — Kesalahpahaman Yang Luar Biasa
45
Bab 45 — Ketakutan Tetua Han
44
Bab 44 — Sebuah Permainan Catur
43
Bab 43 — Perdebatan di Aula Utama
42
Bab 42 — Seorang Mortal di Tengah Sekte
41
Bab 41 — Murid-Murid yang Kebingungan
40
Bab 40 — Perjalanan Pertama ke Sekte Awan Hijau
39
Bab 39 — Perubahan di Sekte Awan Hijau
38
Bab 38 — Jamuan Sederhana dari Xu Ming
37
Bab 37 — Tingkatan Akar Spiritual Dunia Tianxuan
36
Bab 36 — Akar Spiritual yang Tidak Bisa Diukur
35
Bab 35 — Keinginan Sederhana Seorang Mortal
34
Bab 34 — Rahasia Akar Spiritual
33
Bab 33 — Kabar Tentang Senior Xu Sampai ke Sekte Awan Hijau
32
Bab 32 — Patung Kecil yang Mengundang Keributan
31
Bab 31 — Karya Pengrajin yang Dianggap Harta Karun
30
Bab 30 — Belanja dengan Batu Roh
29
Bab 29 — Pengetahuan Baru Tentang Dunia Kultivasi
28
Bab 28 — Patung Kayu yang Menggemparkan Pelelangan
27
Bab 27 — Gulungan Kuno yang Tidak Dipahami
26
Bab 26 — Pelelangan yang Menjadi Pusat Perhatian
25
Bab 25 — Karya Tangan di Dalam Keranjang
24
Bab 24 — Undangan dari Kota Qingyun
23
Bab 23 — Tulisan yang Mengubah Takdir
22
Bab 22 — Permintaan yang Tidak Berani Diucapkan
21
Bab 21 — Tiga Orang dari Sekte Awan Hijau
20
Bab 20 — Nasihat Seorang "Orang Biasa"
19
Bab 19 — Pedagang Biasa dari Desa Qinghe
18
Bab 18 — Harga Sebuah Kesalahpahaman
17
Bab 17 — Selembar Kaligrafi
16
Bab 16 — Kesalahpahaman yang Semakin Dalam
15
Bab 15 — Sekte Bayangan Hitam
14
Bab 14 — Tamu yang Tidak Diundang
13
Bab 13 — Masakan Seorang Pertapa
12
Bab 12 — Buah Persik dari Halaman Belakang
11
Bab 11 — Formasi yang Menyatu dengan Langit dan Bumi
10
Bab 10 — Rumah Sederhana yang Penuh Keajaiban
9
Bab 9 — Undangan yang Ditolak
8
Bab 8 — Jalan Pulang yang Tidak Biasa
7
Bab 7 — Peri dari Sekte Awan Hijau
6
Bab 6 — Batu Roh? Apa Itu?
5
Bab 5 — Lapak yang Menggemparkan Kota Qingyun
4
Bab 4 — Berdagang Demi Menyambung Hidup
3
Bab 3 — Sepuluh Tahun yang Berlalu
2
Bab 2 — Sistem Kultivasi... atau Sistem Kuli?
1
Bab 1 — Mimpi Seorang Pembaca Novel Kultivasi
Lihat Semua
Descarga Sejak Kapan Aku Jadi Sekuat Ini? PDF
Lapor karya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!