Kenapa semua ini terjadi?
.
.
.
.
Beberapa hari terakhir, para anggota geng mulai merasa curiga dengan tingkah ketua mereka.
Di Toman sendiri, Takemichi terlihat seperti sengaja menjaga jarak dari para anggota, termasuk Mikey dan yang lainnya.
Sudah hampir seminggu berlalu.
Namun Izana belum juga mengumumkan perang terhadap Toman, sementara Takemichi semakin jarang terlihat berkumpul dengan teman-temannya.
"Menurutmu ada apa dengannya?" tanya Draken sambil memperhatikan Takemichi yang sedang menelepon di kejauhan.
Pemuda itu menunduk sambil bergumam pelan ke arah ponselnya.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu," jawab Mikey.
"Dari seminggu yang lalu dia terus seperti itu. Jujur saja, aku mulai sedikit kesal."
Meski berkata begitu, tidak terlihat kemarahan sedikit pun di wajahnya.
"Kenapa?" tanya Mitsuya yang memperhatikan Mikey dan Draken.
"Lihat saja sendiri."
Mereka pun menoleh ke arah Takemichi.
Saat sedang menelepon, Takemichi terlihat menghentak-hentakkan kaki dengan gemas. Sesekali ia berjongkok sambil mencoret-coret tanah menggunakan ranting kecil.
Wajahnya cemberut seperti anak kecil yang sedang bertengkar dengan temannya.
"Lihat kan?" kata Mikey.
"Bukankah dia terlihat menggemaskan kalau diperhatikan lebih dekat?"
Mitsuya dan yang lain ikut mengamati.
Takemichi benar-benar terlihat lucu.
"Jangan bilang kalian berdua..." ujar Pah-chin sambil menunjuk Mikey dan Draken.
"Ah, ayolah," sahut Mikey santai.
"Bukankah Toman akan lebih berwarna jika Takemichi tetap berada di sini? Lagipula, meskipun beberapa dari kalian lurus, aku rasa aku bisa belok kalau yang dihadapiku Takemichi seperti sekarang."
"Uh, aku setuju," kata Draken.
"Tapi Mikey, Takemichi sudah punya Hina," ucap Mitsuya serius.
"Sudah seminggu ini dia tidak menghubungi Hina."
Semua langsung menoleh ke arah Chifuyu yang sejak tadi diam.
"Takemichi bahkan memutuskan hubungan mereka."
"Apa?" seru beberapa orang bersamaan.
"Hina menerimanya dengan cukup tenang. Dia hanya bilang akan menunggu sampai Takemichi berubah."
Chifuyu menghela napas.
"Aku juga tidak tahu apa maksudnya. Yang jelas, Takemichi tersenyum lalu pergi dengan wajah yang terlihat sedih."
"Hmm..." gumam Pah-chin penasaran.
"Begitu ya."
Tak lama kemudian Chifuyu berdiri.
"Sudahlah. Aku akan menghampirinya dulu."
Ia berjalan mendekati Takemichi yang baru saja mengakhiri panggilannya.
"Ne, Takemichi."
"Hm?"
"Kau terlihat sangat kesal. Ada apa?"
"Huwaaaaaa, Chifuyuuuu!!"
Takemichi langsung berhambur memeluknya.
Chifuyu refleks menangkap tubuhnya.
"Hah?"
Ia berkedip heran.
Takemichi terasa lebih kecil dari biasanya.
Tubuhnya juga jauh lebih ramping.
"Sudah, sudah..."
Chifuyu mengusap punggungnya perlahan.
"Ada apa sebenarnya?"
Namun sebelum Takemichi sempat menjawab, beberapa orang yang melihat mereka mulai kesal.
"Oi, Chifuyu! Kenapa kau membuatnya menangis!?" teriak Mitsuya.
"Ano... Mitsuya-kun, aku..." Takemichi mulai panik.
"Ada apa?"
Mikey ikut menghampiri.
Melihat mereka berkumpul, Takemichi justru semakin berkaca-kaca.
"Waaaaaa!! Tolong aku, Mikey-kun!!"
Tangisnya akhirnya pecah.
Semua langsung panik.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Chifuyu.
"Kau butuh bantuan?" tanya Mikey.
"Katakan saja pada kami."
Beberapa orang saling pandang.
Entah kenapa, ekspresi memohon Takemichi terlihat sangat menggemaskan.
"Hiks..."
Tubuh Takemichi sedikit gemetar.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.
Di dalam foto itu terlihat seorang pria berjas dokter dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Siapa dia?" tanya Draken.
"Hiks..."
Takemichi menunjukkan foto itu dengan wajah penuh air mata.
"Tolong cari dia."
"Aku ingin menangkapnya."
BRUK!
Tiba-tiba Chifuyu jatuh terduduk.
"Chifuyu! Apa kau baik-baik saja?" tanya Takemichi khawatir.
"Y-ya... aku baik-baik saja."
Jawaban Chifuyu terdengar sedikit gugup.
"Sial kau, Izana..."
Takemichi menangis dalam hati.
"Aku jadi malu meminta bantuan mereka."
"Memangnya siapa orang ini?" tanya Mitsuya.
Takemichi menarik napas.
"Dia orang yang mengeroyokku dan temanku."
Semua langsung terdiam.
"Dia sangat jahat."
Takemichi menunduk.
"Bahkan dia sempat ingin melecehkanku."
Wajahnya terlihat sedih.
Mata birunya kembali berkaca-kaca.
"Baiklah."
Mikey mengangguk.
"Tapi kau harus tenang dulu."
"Aku akan membantu mencarinya."
Yang lain ikut mengangguk setuju.
"Mikey-kun..."
Takemichi mengangkat wajahnya.
"Kalau begitu, hati-hati."
"Hm?"
"Orang itu gila."
Draken mengernyit.
"Gila?"
Takemichi mengangguk serius.
"Ya."
Ia mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuk.
"Dia benar-benar stres."
"Kami takut kalau kalian kenapa-napa karena dia."
"Jadi kalian harus hati-hati, oke?"
"Ya, ya."
Mikey tersenyum tipis.
"Kami akan berhati-hati."
"Baiklah."
Takemichi akhirnya berdiri.
"Aku pulang dulu. Dadah semuanya."
Ia melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan markas.
...⚪⚪⚪...
Drrrrt...
Drrrrt...
Takemichi mengangkat teleponnya.
"Halo?"
"Bagaimana?"
Suara Izana terdengar dari seberang.
"Apakah kau sudah meminta bantuan Toman?"
"Oh iya, kau juga harus ingat. Ilmuwan itu benar-benar gila."
"Ya."
Takemichi mengangguk.
"Aku sudah meminta bantuan mereka."
"Mereka setuju membantu."
"Aku akan mengabarimu jika menemukan keberadaan orang itu atau mendapatkan obat penawarnya."
"Bagus."
Izana terdengar puas.
"Sekarang datanglah ke markasku."
Tut.
Panggilan pun berakhir.
Takemichi langsung berjalan menuju markas Tenjiku yang berada di Shibuya.
Namun tanpa ia sadari, seseorang melihat dan mendengar sebagian percakapannya.
"Eh?"
Chifuyu yang kebetulan lewat berhenti melangkah.
"Jangan-jangan Takemichi yang membuat perang dengan Tenjiku ditunda?"
Ia mengerutkan kening.
"Tapi kenapa dia terdengar sangat akrab dengan Izana?"
"Oi, Chifuyu!"
Suara Mitsuya membuyarkan lamunannya.
"Ayo ke kedai ramen!"
"Ya, ya! Aku datang!"
Chifuyu segera berlari menyusul teman-temannya.
...⚪⚪⚪...
Sementara itu...
Takemichi akhirnya sampai di markas Tenjiku.
Namun baru beberapa langkah, seseorang menghadangnya.
"Oi, Hanagaki."
Takemichi mendongak.
Di depannya berdiri Hanma. Sementara Kisaki berdiri di sampingnya dengan tongkat pemukul di tangan.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Hanma.
"Minggir."
Takemichi menatap keduanya datar.
"Hah?"
Hanma langsung kesal.
"Ada apa dengan wajahmu itu? Menyebalkan sekali."
"Minggir."
Takemichi mengulang ucapannya.
"Jangan halangi dia masuk!"
Suara lain terdengar dari belakang. Kakucho berjalan mendekat. Luka panjang di dahinya terlihat jelas.
"Ck." Hanma mendecak kesal.
"Malesin."
"Michi." Kakucho tersenyum tipis.
"Kau mau bertemu Izana, kan?"
"Dia sedang menunggumu di dalam."
"Ya, Kaku-chan." Takemichi tersenyum manis.
"Terima kasih."
Senyuman itu membuat Hanma langsung membeku.
"..."
"..."
"Eh?"
Kisaki menoleh.
"Kenapa denganmu?"
Wajah Hanma memerah.
"Hanagaki sangat manis."
Kisaki langsung melotot.
"HEEEH!? KAU BELOK!?"
...⚪⚪⚪...
Takemichi akhirnya masuk ke dalam.
Ruangan markas yang luas itu terlihat rapi dan bersih. Izana sudah duduk menunggunya di atas sofa.
"Bagaimana?" tanya Takemichi sambil duduk di hadapannya.
"Apakah ada kabar?"
Izana menggeleng.
"Aku masih mencarinya."
"Dia sangat sulit dilacak."
"Bahkan aku baru tahu kalau kasus ilmuwan itu melibatkan sesuatu yang cukup besar dan merugikan pemerintah."
Takemichi mengangkat alis.
"Serius?"
Izana mengangguk.
"Sekarang aku bekerja sama dengan polisi dan militer Jepang untuk mencarinya."
"Haih..."
Takemichi menghela napas.
"Aku juga terus mencari informasi tentang identitasnya. Aku menemukan beberapa identitas palsunya."
Izana menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Tapi keberadaan aslinya masih belum diketahui."
"Kalau begitu lihat ini." Takemichi mengeluarkan sebuah map hijau lalu menyerahkannya.
"Aku menemukan beberapa data tambahan."
Izana membuka map tersebut.
Matanya sedikit melebar.
"Kau cukup hebat."
Ia tersenyum tipis.
"Aku bahkan sempat kewalahan menghadapi sistem keamanannya. Identitas ilmuwan itu dilindungi pemerintah Inggris."
Takemichi hanya mengangkat bahu.
"Keberuntungan."
Mereka kembali membaca beberapa dokumen.
Hening sejenak memenuhi ruangan.
Lalu Izana tiba-tiba berbicara.
"Ne, Takemichi."
"Hm?"
"Apakah kau sengaja memanjangkan rambutmu? Kenapa sekarang rambutmu menutupi mata?"
Takemichi langsung menatap Izana.
"Kau juga, Izana."
"Hah?"
"Kalau dilihat lebih dekat, kau seperti sugar mommy."
"..."
Dahi Izana langsung berdenyut.
Takemichi langsung didelik.
"Kau bicara sembarangan."
Izana menyilangkan tangan.
"Kalau begitu..."
Senyum miring muncul di wajahnya.
"Apa kau mau jadi sugar baby-ku?"
Takemichi langsung membeku di tempat.
.
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUED-...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Kirana yola adiba
lanjut kak
2023-04-03
1