abuse

Apa ini semua kami sama?

.

.

.

.

Takemichi berjalan dengan langkah lunglai.

Matanya sembap karena menangis, sementara tangannya terus menutupi bagian seragam yang telah disobek Mikey sebelumnya.

Udara malam terasa sangat dingin.

Ia memeluk tubuhnya sendiri, berusaha menahan hawa dingin yang menusuk kulit.

Pikirannya masih kacau.

Bahkan matanya tidak lagi fokus memperhatikan jalan di depan.

Bruk!

"Aduh!"

Takemichi menabrak seseorang.

"Kalau jalan lihat-lihat dong!" bentak salah satu pria di depannya.

"M-maaf..."

Takemichi menundukkan kepala.

"Aku tidak melihat tadi."

Pria itu mendengus.

"Kau bicara seolah itu hal sepele."

Matanya menyipit saat melihat seragam Takemichi yang robek.

"Oh? Bukankah itu seragam Toman?"

Beberapa orang di belakangnya ikut memperhatikan.

"Bos, anak ini lumayan manis kalau dilihat."

Bisikan itu membuat sang ketua kelompok tersenyum miring.

Ia melangkah maju dan meraih pergelangan tangan Takemichi.

"Kau kenapa sendirian malam-malam begini?"

Takemichi refleks berusaha melepaskan diri.

"Tolong lepaskan."

Namun cengkeraman itu justru semakin erat.

Beberapa orang lain mulai mengelilinginya.

Tatapan mereka membuat Takemichi merasa tidak nyaman.

Ia mundur beberapa langkah.

"Jangan mendekat."

Namun mereka terus maju.

Tubuh Takemichi mulai gemetar.

"Hiks..."

Air matanya kembali jatuh.

"Tolong..."

Tak ada satu pun yang mendengarkan.

Takemichi benar-benar ketakutan.

"Tolong..."

Suaranya semakin kecil.

"Tolong..."

Bugh!

Sebuah pukulan keras tiba-tiba melayang.

Pria yang memegang Takemichi langsung terjatuh.

"Sialan!"

Suara yang sangat familiar terdengar.

"Apa yang kalian lakukan pada anggota Toman!?"

"M-Mitsuya!?"

Para preman langsung panik.

"Itu Kapten Divisi Dua Toman!"

Mitsuya berdiri di depan Takemichi dengan wajah dingin.

Tatapannya tajam hingga membuat beberapa orang langsung mundur.

"Kalian mau cari masalah?"

"T-tidak!"

Beberapa dari mereka langsung kabur.

Yang lain segera menyusul.

Tak butuh waktu lama hingga gang itu kembali sepi.

Mitsuya menghela napas panjang.

Lalu ia melepaskan jaket luarnya dan menyampirkannya ke bahu Takemichi.

"Takemichi..."

Namun Takemichi tidak menjawab.

Ia hanya menatap kosong ke depan.

Air mata terus mengalir tanpa suara.

Melihat itu, Mitsuya langsung terdiam.

Ia belum pernah melihat Takemichi setakut ini.

"Aku akan menelepon yang lain."

Mitsuya merogoh saku celananya.

Namun sebuah tangan menahan pergelangannya.

"Jangan..."

Suara Takemichi sangat lirih.

Mitsuya membeku.

"Aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Toman."

Takemichi menunduk.

"Terima kasih sudah menolongku."

Ia memegang jaket yang diberikan Mitsuya.

"Nanti akan kucuci dan kukembalikan."

Setelah mengatakan itu, Takemichi berjalan pergi.

Meninggalkan Mitsuya yang hanya bisa mematung di tempat.

...⚪⚪⚪...

Keesokan paginya...

BRAK!

Suara tendangan keras menggema di Kuil Musashi.

Beberapa anggota Toman langsung menoleh kaget.

Mitsuya berdiri dengan wajah penuh amarah.

"Ada apa denganmu, Mitsuya?" tanya Chifuyu bingung.

"Brengsek!"

Mitsuya langsung menarik kerah baju Mikey.

Semua orang terkejut.

"Mitsuya!?"

"Bukankah kau pernah bilang tidak akan menyakiti perempuan, Mikey!?"

Suasana langsung hening.

Mikey menatapnya datar.

"Apa maksudmu?"

"Siapa yang kusakiti?"

"Takemichi!"

Jawaban itu membuat semua orang membeku.

Mikey mengernyit.

"Apa?"

"Takemichi perempuan!"

Deg.

Untuk pertama kalinya sejak kemarin, wajah Mikey berubah.

Ia terlihat benar-benar terkejut.

Mitsuya menggertakkan gigi.

"Semalam aku menemukannya sendirian."

"Kalau aku terlambat sedikit saja, dia bisa saja mendapat masalah besar."

"Dan itu terjadi karena kau merobek seragamnya di depan semua orang!"

Mikey terdiam.

Pikirannya langsung kembali ke malam sebelumnya.

Takemichi yang menangis.

Takemichi yang terus mencoba menjelaskan.

Takemichi yang memohon agar didengarkan.

Namun dirinya tidak memberikan kesempatan sedikit pun.

"Aku..."

Mikey mengepalkan tangan.

Rasa bersalah mulai muncul.

"Aku harus meminta maaf."

Ia berdiri.

"Ayo temui dia."

...⚪⚪⚪...

Sementara itu...

Di markas Tenjiku.

Takemichi masih tertidur pulas.

Kepalanya berada di pangkuan Izana.

Semalam, Takemichi telah menceritakan semuanya.

Mulai dari pengusirannya dari Toman hingga kejadian yang hampir membuatnya trauma.

Dan Izana mendengarkan semuanya.

Tanpa menyela.

Tanpa menghakimi.

Hanya mendengarkan.

"Siapa pun yang membuatmu menangis..."

Izana mengelus rambut pirang Takemichi.

"...aku tidak akan tinggal diam."

"Uhm..."

Takemichi perlahan membuka mata.

Begitu melihat Izana, matanya langsung berkaca-kaca.

"Hueeeeee..."

Ia langsung memeluk pinggang Izana.

"Izana... aku takut..."

Izana tersenyum tipis.

Tangannya mengusap punggung Takemichi dengan lembut.

"Sst."

"Semuanya sudah berlalu."

"Kau tidak diterima di Toman juga tidak apa-apa."

Takemichi mengangkat wajahnya.

"Masih ada aku di sini."

"Jadi jangan menangis lagi."

Takemichi hanya mengangguk pelan.

Cklek.

Pintu terbuka.

"Izana."

Rindou masuk membawa nampan berisi sarapan.

"Ini makanan untuk kalian."

"Oh, Rin."

Izana mengangguk.

"Taruh saja di sana."

Rindou lalu menoleh ke arah Takemichi.

"Bagaimana keadaanmu, Hanagaki?"

"Aku sudah lebih baik."

Takemichi tersenyum kecil.

"Bagus."

Rindou mengangguk puas.

"Kalau begitu habiskan makanan kalian."

"Aku keluar dulu."

Setelah itu ia meninggalkan ruangan.

Tak lama kemudian Izana menyodorkan sepiring makanan kepada Takemichi.

"Ayo makan."

"Baik."

Mereka pun sarapan bersama.

Melihat Takemichi yang kembali bisa makan dengan lahap membuat Izana tersenyum lembut.

"Nah."

Izana menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Agar kau melupakan kejadian semalam, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"

Mata Takemichi langsung berbinar.

"Mau!"

Izana terkekeh pelan.

Takemichi memang mudah kembali ceria.

Cklek.

Pintu kembali terbuka.

Kakucho masuk dengan wajah serius.

"Izana."

"Ada apa?"

"Anak-anak Toman datang."

Senyum Izana langsung hilang.

"Ck."

Ia berdiri.

"Mau apa mereka ke sini?"

"Kemungkinan ingin bertemu Takemichi."

"Izana..."

Kakucho menghela napas.

Namun Izana sudah lebih dulu berjalan menuju pintu.

Wajahnya terlihat dingin.

"Izana, tunggu!"

Takemichi buru-buru berdiri.

Namun Izana tidak berhenti.

"Jangan menghalangiku, Michi."

Lalu ia keluar dari ruangan.

...⚪⚪⚪...

Di luar markas.

Mikey, Draken, Chifuyu, Mitsuya, dan beberapa anggota Toman lainnya sudah menunggu.

Begitu pintu terbuka, semua orang langsung menoleh.

"Heh..."

Chifuyu berkedip.

"Izana ternyata cantik juga."

"Izana..."

Mikey ikut terdiam.

BRAK!

Izana langsung membanting pintu hingga semua orang tersentak.

"Apa yang kalian lihat-lihat?"

Tatapannya tajam.

"Mau kucungkil mata kalian?"

"I-Itu..."

Draken langsung berkeringat dingin.

"Ada perlu apa kalian ke sini?"

tanya Izana dingin.

"Jangan bilang kalian datang untuk membuat masalah lagi."

"Izana!"

Suara Takemichi terdengar dari dalam.

Tak lama kemudian ia muncul di belakang Izana.

Begitu melihat rombongan Toman, tubuhnya refleks menegang.

"Takemichi..."

gumam Mikey.

Namun Takemichi justru bersembunyi di belakang punggung Izana.

"Mau apa kalian ke sini?"

sahutnya waspada.

"Aku sudah tidak ada hubungan dengan Toman."

"Kenapa kalian datang?"

Mikey terdiam beberapa detik.

Lalu ia menundukkan kepala.

Sesuatu yang membuat semua orang terkejut.

"Takemichi."

Suaranya terdengar jauh lebih pelan dari biasanya.

"Maafkan kami."

Takemichi membeku.

"Huh?"

.

.

.

.

...-TO BE CONTINUED-...

Terpopuler

Comments

Kirana yola adiba

Kirana yola adiba

lanjut kak
kaget kan anak toman tau izana dan takemichi adalah prempuan

2023-04-05

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!