Bab 3 — Pertunangan yang Berakhir

Su Yun tidak terlalu memikirkan Su Gui Mu.

Setelah kembali ke gubuk, ia segera mengeluarkan semua bahan yang dibelinya.

Penawar racun.

Obat pemulihan.

Darah Serigala Hitam.

Bubuk obat.

Dan tiga potong jantung harimau yang masih menyimpan energi spiritual cukup kuat.

Dalam kehidupan sebelumnya, Su Yun membutuhkan bertahun-tahun untuk mengetahui penyebab kultivasinya berhenti.

Ia pernah mendatangi banyak tabib.

Mencari ahli terkenal.

Mempelajari berbagai metode pengobatan, bahkan mempertaruhkan nyawanya memasuki wilayah berbahaya.

Semua itu dilakukan demi memperbaiki tubuhnya.

Ironisnya, masalah yang menghancurkan hidupnya ternyata bukan karena ia kehilangan bakat.

Tubuhnya mengalami kelainan spiritual langka yang menghambat jalur energi di dalam tubuhnya.

Sulit dideteksi.

Namun bukan berarti tidak dapat disembuhkan.

Masalahnya, ketika Su Yun menemukan cara penyembuhannya dalam kehidupan pertama, semuanya sudah terlambat.

Kali ini berbeda.

Ia sudah memiliki pengetahuan itu.

“Selama tubuh ini bisa dipulihkan...”

Su Yun memandangi telapak tangannya.

“Bakatku juga akan kembali.”

Ia baru hendak mulai mengolah bahan ketika suara geraman berat terdengar dari luar.

Grrr...

Su Yun menoleh.

Seekor binatang besar berwarna ungu berdiri tidak jauh dari gubuk.

Tubuhnya hampir sebesar sapi dewasa. Dua tanduk kokoh tumbuh di kepalanya, sementara aura spiritual samar menyelimuti tubuh berototnya.

Di belakang binatang itu terdapat sebuah kereta mewah.

Su Yun langsung mengenali lambang pada sisinya.

“Keluarga Bai.”

Tatapannya berubah sedikit.

Rupanya mereka akhirnya datang.

Ia mengambil barang-barangnya lalu memasuki gubuk.

Krek.

Pintu terbuka.

Seorang pria tua berambut putih sudah duduk di depan meja reyot miliknya.

Cangkir teh retak berada di tangannya.

Pemandangan itu tampak aneh.

Kereta mewah di luar.

Pakaian mahal.

Namun tamunya duduk di sebuah gubuk yang bahkan hampir roboh.

“Tuan Muda Su.”

Pria tua itu berdiri dan memberi salam.

“Sudah lama tidak bertemu.”

Su Yun meletakkan barang-barangnya.

“Anda sudah melihat keadaanku.”

Ia menarik kursi.

“Jadi kita tidak perlu berbasa-basi. Untuk apa Anda datang?”

Pria tua itu sedikit terkejut.

Su Yun yang didengarnya seharusnya pemuda pemarah, pemabuk, dan mudah kehilangan kendali.

Namun orang di hadapannya sangat tenang.

“Kalau begitu saya langsung ke tujuan.”

Ia mengeluarkan sebuah amplop putih.

“Di dalamnya terdapat surat berharga senilai tiga puluh ribu koin roh. Dapat dicairkan di bank mana pun.”

Tiga puluh ribu.

Jumlah yang sangat besar bagi Su Yun saat ini.

Namun ekspresinya tidak berubah.

Pria tua itu melanjutkan.

“Saya datang atas perintah Nona Bai.”

Su Yun sudah mengetahui kalimat berikutnya.

“Nona kami telah diterima oleh Sekte Pedang Abadi. Bakatnya mendapat pengakuan, bahkan masa depannya di sekte sangat menjanjikan.”

Ia berhenti sejenak.

“Karena itu, pertunangan antara Anda dan Nona sudah tidak sesuai lagi.”

Hening.

“Pihak Keluarga Bai berharap pertunangan tersebut dibatalkan.”

Pria tua itu mendorong amplop ke depan.

“Tiga puluh ribu koin roh ini adalah kompensasinya.”

Su Yun memandang amplop tersebut.

Dalam kehidupan sebelumnya, kejadian ini pernah membuatnya marah.

Harga dirinya terluka.

Ia merasa dihina.

Namun sekarang?

Su Yun hampir ingin tertawa.

Setelah mengalami hidup dan mati, pertunangan seperti ini tidak lagi berarti apa-apa.

“Ambil kembali.”

Pria tua itu mengerutkan kening.

“Anda menolak pembatalan pertunangan?”

“Tidak.”

Su Yun mulai membuka bungkusan berisi bahan obat.

“Aku setuju.”

“Lalu mengapa—”

“Kalau Nona Bai ingin membatalkan pertunangan, biarkan dia mengatakannya sendiri.”

Su Yun mengambil sebilah pisau.

“Tidak perlu membayar.”

Pria tua itu menatapnya beberapa saat.

Kemudian ia berdiri.

“Baik.”

Ia keluar dari gubuk.

Tak lama kemudian, tirai kereta terangkat.

Seorang wanita muda turun perlahan.

Gaun kuning muda membungkus tubuhnya dengan anggun. Kulitnya putih, wajahnya cantik, dan sebuah pedang ramping tersembunyi di balik pakaiannya.

Bai Yan.

Tunangan Su Yun.

Atau lebih tepatnya...

mantan tunangannya sebentar lagi.

Bai Yan memasuki gubuk.

Su Yun bahkan tidak mengangkat kepala.

Ia sedang membuat beberapa lubang kecil pada jantung harimau.

Setelah itu, darah Serigala Hitam dituangkan sedikit demi sedikit ke dalamnya.

Bai Yan memperhatikan tindakannya.

Aneh.

Namun ia tidak datang untuk membicarakan itu.

“Su Yun.”

“Hmm?”

“Aku ingin membatalkan pertunangan kita.”

Pisau Su Yun tetap bergerak.

“Oke.”

Hanya satu kata.

Bai Yan terdiam.

Ia telah membayangkan banyak kemungkinan.

Su Yun marah.

Memohon.

Mengancam.

Atau setidaknya mempertanyakan alasannya.

Namun tidak ada satu pun yang terjadi.

“Kau... setuju?”

“Ya.”

Su Yun mulai menumbuk jantung harimau agar darah di dalamnya menyerap lebih sempurna.

Bai Yan mengerutkan kening.

Entah mengapa, respons itu justru membuatnya tidak nyaman.

Seolah-olah pertunangan mereka sama sekali tidak berarti bagi pria ini.

“Kalau begitu ambillah kompensasinya.”

Amplop diletakkan di meja.

Su Yun akhirnya mengangkat kepala.

“Sudah kukatakan, aku tidak menginginkannya.”

“Kau tidak membutuhkannya?”

“Tidak.”

Bai Yan mencibir.

“Menjaga harga diri?”

Su Yun kembali menunduk.

“Bukan.”

“Kudengar kau berutang dua ribu koin roh kepada Su Gui Mu. Tiga puluh ribu cukup untuk melunasi utangmu dan membuatmu hidup nyaman cukup lama.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa menolak?”

Tangan Su Yun berhenti.

Ia menatap Bai Yan.

“Karena pertunangan kita bukan barang dagangan.”

Bai Yan terdiam.

“Kau ingin pergi, silakan.”

Su Yun kembali bekerja.

“Aku tidak akan menahanmu. Tapi aku juga tidak membutuhkan uang untuk menerima keputusanmu.”

Tatapan Bai Yan berubah.

Pria ini...

benarkah Su Yun yang sama?

Rumor mengatakan ia menghabiskan hari dengan arak dan perjudian.

Namun orang di hadapannya berbeda.

Tenang.

Tatapannya bahkan tidak menunjukkan kesedihan ketika melihat dirinya.

“Baik.”

Bai Yan mengambil kembali amplop.

“Karena kau bersikeras, jangan menyesal.”

Ia berbalik.

“Tunggu.”

Langkah Bai Yan berhenti.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Akhirnya.

Ia menduga Su Yun berubah pikiran.

“Apa?”

Su Yun menatapnya.

“Aku juga ingin mengatakan sesuatu.”

“Katakan.”

“Semoga kau tidak menyesal.”

Senyum Bai Yan menghilang.

Beberapa detik mereka saling menatap.

Kemudian Bai Yan berbalik tanpa mengatakan apa pun.

Pintu tertutup.

Tak lama kemudian terdengar geraman binatang dari luar.

Kereta Keluarga Bai pergi.

Su Yun kembali menunduk.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kesedihan.

Bai Yan hanyalah bagian kecil dari kehidupan yang pernah dijalaninya.

Ia bahkan hampir melupakan wanita itu.

Orang yang benar-benar disesalinya hanya satu.

Qing Er.

“Lebih baik begini.”

Su Yun kembali bekerja.

Sepanjang hari, ia hampir tidak meninggalkan gubuk.

Lubangi.

Tuangkan darah Serigala Hitam.

Tumbuk.

Campurkan bubuk obat dalam takaran tertentu.

Kemudian ulangi.

Kesalahan sedikit saja dapat membuat energi spiritual di dalam bahan menjadi terlalu liar.

Pengalaman lima belas tahun membuat gerakannya sangat terampil.

Jika seorang tabib melihatnya, mungkin ia akan terkejut.

Sulit membayangkan pemuda delapan belas tahun memahami pengolahan bahan sedalam ini.

Menjelang malam, Su Yun akhirnya berhenti.

Keringat memenuhi dahinya.

Di hadapannya telah tersedia bahan awal yang diperlukan untuk memulihkan tubuh.

Namun ini baru permulaan.

Pengobatan sebenarnya membutuhkan beberapa bahan lain.

Dan bahan terpenting tidak dapat dibeli begitu saja di wilayah Keluarga Su.

Itulah alasan ia menyewa Kuda Roh Hitam.

“Besok aku harus pergi.”

Su Yun menyimpan hasil olahannya dengan hati-hati.

Jika semuanya berjalan sesuai ingatannya, ia bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan.

Setelah itu...

kelainan spiritual dalam tubuh ini dapat mulai disembuhkan.

Su Yun berbaring.

Tubuhnya lelah.

Matanya perlahan terpejam.

Namun belum lama ia hendak tertidur—

“Cepat!”

Suara keras terdengar dari luar.

Su Yun langsung membuka mata.

“Kelilingi tempat ini!”

Suara langkah kaki menyusul.

Bukan satu atau dua orang.

Setidaknya belasan.

“Bajingan itu berani mempermainkanku!”

Suara tersebut terdengar semakin dekat.

Su Yun mengenalinya.

Su Gui Mu.

“Begitu masuk, jangan beri dia kesempatan melawan!”

Terdengar suara senjata ditarik.

“Hajar dia sampai tidak bisa bangun!”

Su Yun bangkit dari ranjang.

Tatapannya berubah dingin.

Akhirnya mereka datang juga.

Dalam kehidupan sebelumnya, mungkin dirinya akan panik menghadapi belasan orang.

Tetapi Su Yun sekarang bukan pemuda delapan belas tahun yang hanya tahu mabuk dan berjudi.

Kultivasinya memang masih tahap keenam.

Namun pengalaman bertarungnya?

Lima belas tahun hidup antara kematian telah mengajarinya jauh lebih banyak daripada yang bisa dibayangkan Su Gui Mu.

Su Yun perlahan mengambil botol bubuk obat dari atas meja.

Ia menimbangnya sebentar di telapak tangan.

Kemudian tersenyum.

“Datang diwaktu yang tepat.”

Bang!

Pintu gubuk ditendang hingga terbuka.

Beberapa bayangan langsung menerobos masuk.

Su Yun berdiri diam di tengah ruangan.

Botol kecil berada di tangannya.

Tatapannya tenang.

“Kalau kalian memang ingin mencari masalah...”

Jarinya perlahan membuka tutup botol.

“...jangan salahkan aku karena menjadikan kalian bahan percobaan.”

......................

Bersambung...

Episodes
1 Bab 1 — Kembali Lima Belas Tahun
2 Bab 2 — Utang Dua Ribu Koin Roh
3 Bab 3 — Pertunangan yang Berakhir
4 Bab 4 — Teknik Iblis Misterius
5 Bab 5 — Mengadu Dua Harimau
6 Bab 6 — Warisan Pedang Misterius
7 Bab 7 — Ujian Tujuh Pedang
8 Bab 8 — Mengalahkan Diri Sendiri
9 Bab 9 — Misi Buah Bulan Sabit
10 Bab 10 — Buah Bulan Sabit dan Kristal Surgawi
11 Bab 11 — Jebakan di Lembah Bulan Sabit
12 Bab 12 — Umpan Bernama Kristal Surgawi
13 Bab 13 — Menyusup ke Sarang Sekte Iblis
14 Bab 14 — Menembus Sarang Iblis
15 Bab 15 — Menunggu Pedang dari Langit
16 Bab 16 — Kristal Surgawi
17 Bab 17 — Jalan Buntu
18 Bab 18 — Serangan Balik Seorang Murid Roh
19 Bab 19 — Enam Puluh Ribu Koin Roh
20 Bab 20 — Turnamen Tiga Tahunan
21 Bab 21 — Taruhan Su Dong Fang
22 Bab 22 — Haus Akan Kekuatan
23 Bab 23 — Seleksi Turnamen
24 Bab 24 — Siapa yang Nomor Satu?
25 Bab 25 — Menang dalam Satu Pukulan
26 Bab 26 — Tak Ada Belas Kasihan di Arena
27 Bab 27 — Makan Marmer Mentah
28 Bab 28 — Jurang Kekuatan
29 Bab 29 — Kemenangan yang Menggemparkan
30 Bab 30 — Satu Serangan, Satu Nyawa
31 Bab 31 — Hukuman untuk Su Yun
32 Bab 32 — Dunia di Balik Sarung Pedang
33 Bab 33 — Pedang Pertama dari Sarung Abadi
34 Bab 34 — Tamu yang Datang Membawa Tekanan
35 Bab 35 — Harga Sebuah Kekuatan
36 Bab 36 — Di Balik Sebuah Kemenangan
37 Bab 37 — Pertempuran di Gunung Gu Jue Xin
38 Bab 38 — Pedang Penutup Langit
39 Bab 39 — Perburuan Belum Berakhir
40 Bab 40 — Jalan Baru Sang Pendekar Pedang
41 Bab 41 — Rumput Sembilan Daun
42 Bab 42 — Menantang Para Ahli Pengobatan
43 Bab 43 — Kesalahan yang Nyaris Merenggut Nyawa
44 Bab 44 — Raja Pil
45 Bab 45 — Panggilan dari Keluarga Su
46 Bab 46 — Sekali Latihan, Dua Keuntungan
47 Bab 47 — Ujian Wajib
48 Bab 48 — Memasuki Gunung Tulang Bela Diri
49 Bab 49 — Dia Memilih Pergi
50 Bab 50 — Balas Dendam Tak Harus Menunggu Sepuluh Tahun
51 Bab 51 — Niat Membunuh dari Balik Bayangan
52 Bab 52 — Jeritan Minta Tolong
53 Bab 53 — Tak Membiarkan Saksi Hidup
54 Bab 54 — Kalau Berani, Masuklah!
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Bab 1 — Kembali Lima Belas Tahun
2
Bab 2 — Utang Dua Ribu Koin Roh
3
Bab 3 — Pertunangan yang Berakhir
4
Bab 4 — Teknik Iblis Misterius
5
Bab 5 — Mengadu Dua Harimau
6
Bab 6 — Warisan Pedang Misterius
7
Bab 7 — Ujian Tujuh Pedang
8
Bab 8 — Mengalahkan Diri Sendiri
9
Bab 9 — Misi Buah Bulan Sabit
10
Bab 10 — Buah Bulan Sabit dan Kristal Surgawi
11
Bab 11 — Jebakan di Lembah Bulan Sabit
12
Bab 12 — Umpan Bernama Kristal Surgawi
13
Bab 13 — Menyusup ke Sarang Sekte Iblis
14
Bab 14 — Menembus Sarang Iblis
15
Bab 15 — Menunggu Pedang dari Langit
16
Bab 16 — Kristal Surgawi
17
Bab 17 — Jalan Buntu
18
Bab 18 — Serangan Balik Seorang Murid Roh
19
Bab 19 — Enam Puluh Ribu Koin Roh
20
Bab 20 — Turnamen Tiga Tahunan
21
Bab 21 — Taruhan Su Dong Fang
22
Bab 22 — Haus Akan Kekuatan
23
Bab 23 — Seleksi Turnamen
24
Bab 24 — Siapa yang Nomor Satu?
25
Bab 25 — Menang dalam Satu Pukulan
26
Bab 26 — Tak Ada Belas Kasihan di Arena
27
Bab 27 — Makan Marmer Mentah
28
Bab 28 — Jurang Kekuatan
29
Bab 29 — Kemenangan yang Menggemparkan
30
Bab 30 — Satu Serangan, Satu Nyawa
31
Bab 31 — Hukuman untuk Su Yun
32
Bab 32 — Dunia di Balik Sarung Pedang
33
Bab 33 — Pedang Pertama dari Sarung Abadi
34
Bab 34 — Tamu yang Datang Membawa Tekanan
35
Bab 35 — Harga Sebuah Kekuatan
36
Bab 36 — Di Balik Sebuah Kemenangan
37
Bab 37 — Pertempuran di Gunung Gu Jue Xin
38
Bab 38 — Pedang Penutup Langit
39
Bab 39 — Perburuan Belum Berakhir
40
Bab 40 — Jalan Baru Sang Pendekar Pedang
41
Bab 41 — Rumput Sembilan Daun
42
Bab 42 — Menantang Para Ahli Pengobatan
43
Bab 43 — Kesalahan yang Nyaris Merenggut Nyawa
44
Bab 44 — Raja Pil
45
Bab 45 — Panggilan dari Keluarga Su
46
Bab 46 — Sekali Latihan, Dua Keuntungan
47
Bab 47 — Ujian Wajib
48
Bab 48 — Memasuki Gunung Tulang Bela Diri
49
Bab 49 — Dia Memilih Pergi
50
Bab 50 — Balas Dendam Tak Harus Menunggu Sepuluh Tahun
51
Bab 51 — Niat Membunuh dari Balik Bayangan
52
Bab 52 — Jeritan Minta Tolong
53
Bab 53 — Tak Membiarkan Saksi Hidup
54
Bab 54 — Kalau Berani, Masuklah!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!