Berada dalam jarak yang hanya terpisahkan tembok antara dirinya dengan Jingga, tentu membuat Galaxy ingin menghambur mendekap Jingga.
Namun dia hanya bisa menunggu diapartemen Zico, menahan serpihan rindunya pada Jingga yang sudah seperti pusaran badai cosmic. Puing-puing kenangan manis menjelma menjadi gemuruh rindu yang terombang ambing di kedalaman hati Galaxy.
Senyuman yang awalnya mengembang berubah menjadi mendung dan meredup. Hatinya remuk, seolah mendapatkan hantaman gelombang yang membawa duka. Memporak-porandakan hatinya, dan hanya Galaxy sendiri yang paham betapa hancurnya dirinya saat ini.
Klik
Pintu apartemen Zico terbuka, Kala masuk dengan menenteng belanjaan di kanan dan kiri tangannya. Attar langsung menghampiri Kala, dia meraih satu paper bag dari tangan Kala dengan tangan kirinya.
Kala tidak menolak, dia hanya diam dan langsung berjalan menuju kearah dapur. “Aku belikan bahan mentah, kalian bisa masak sendiri.” Kala mengeluarkan barang belanjaannya dari paper bag, kemudian memasukkannya ke dalam kulkas.
Satu paper bag lagi dia biarkan karena itu akan dia gunakan untuk membuat makan malamnya dengan Jingga nanti.
Attar berdiri menyandar pada meja pantry, dia sama sekali tidak memalingkan tatapannya dari Kala yang mondar mandir memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas.
Grep
Attar meraih pinggang Kala. “Maaf,” ucapnya menatap lekat mata Kala.
Kala melepaskan tangan kiri Attar yang setengah melingkar pada perutnya. “Tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang perlu di maafkan juga,” ucapnya dengan nada datar.
“Maaf karena sudah menyakiti dan membuatmu menangis,” jawab Attar menatap sendu pada Kala.
“Lupakan saja! Semua sudah berlalu, aku yang harus minta maaf. Karena selalu mengganggumu,” Kala dengan sangat tenang dan santai mengucapkan hal tersebut, lebih tepatnya dia berusaha keras untuk menenggelamkan rasa yang dia miliki pada Attar.
Attar tersenyum kecut, Kala yang ada di sampingnya saat ini bukan lagi gadis yang berisik dan selalu menempel saat bertemu dengannya. Dia berubah menjadi pendiam dan terkesan dingin, sangat berbeda dengan princess Kala yang selalu merecokinya. Attar tiba-tiba merindukan Kala yang dulu, yang berisik dan riang.
Kala mengeluarkan minuman kaleng dari microwave, dia membawanya ke ruang tengah dan duduk di sana berhadapan dengan Galaxy. Menyusul Attar juga ikut duduk di samping Galaxy.
Klak.
Kala membuka kaleng minuman dan menegaknya seperempat teguk, dia kemudian menghela napas.
“Jingga mengalami kebutaan psikogenik (psikosomatis), dalam dunia medis di kenal dengan kebutaan histerik atau fungsional. Benturan ringan yang terjadi saat kecelakaan hanya membuat penglihatannya kabur kurang lebih satu sampai dua minggu,” Kala menjeda ucapannya sebentar, dia mengusap sudut matanya yang kembali berair.
“Dalam kasus Jingga, lebih dari satu minggu dia tidak bisa melihat dengan jelas. Awalnya dokter mengira dia hanya mengada-ada, karena semua hasil pemeriksaan dan CT scan tidak ada masalah. Dia hanya mengalami cedera kepala ringan (trauma visual cortex), tidak ada kerusakan fisik pada retina, sa raf optik maupun otak. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan psikologis, dari sana dokter mendapatkan hasil penyebab psikosomatisnya karena mengalami tekanan emosi dan trauma. Aku rasa kalian berdua paham apa penyebabnya,” ucap Kala.
Galaxy semakin merasakan sesak di dadanya, dia mengepalkan tangannya kuat. Penyesalan begitu besar menghinggapinya, andai saja dia lebih awal bisa jujur pada Jingga. Andai saja dia lebih awal bisa mencegah Langit untuk tidak mendekati Xabiru maupun Rain, hanya ada kata andai yang merasuk dalam pikirannya.
Sementara itu Attar masih bingung bagaimana bisa Jingga tiba-tiba ada di Jepang bersama Kala.
“Bagaimana kamu bisa membawanya ke Jepang?” pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Attar.
Kala kembali menghela napas.
Flashback on
Jingga berjalan ke luar dari rumahnya sambil melamun, bahkan pak Didu yang menyapa diabaikannya.
Drrtt … drrrt
📞 “Kak Jingga ada di mana? Aku menuju rumah Manggala,”
📞 “Aku tunggu di sini. Aku ada gerbang rumah Manggala,”
📞 “Apa terjadi sesuatu?” tanya Kala yang mobilnya sudah masuk kearea rumah Manggala, dia bahkan sudah melihat Jingga yang berdiri di gerbang sambil melamun dan masih melakukan panggilan telepon dengannya saat itu.
Belum sempat Kala meminta supir untuk berhenti, Jingga justru sudah masuk ke dalam mobil lain yang Kala cukup tahu milik siapa.
“Ikuti mereka ya, kak. Jangan sampai ketahuan kak Attar,” pintanya pada supir sekaligus orang kepercayaan Kala.
“Siap, nona.” Riko melajukan mobi…
Serpihan Badai Rindu Cosmic Galaxy Senja
Rindu Kala yang dulu
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 225 Episodes
Comments
Mikhaila Zea
ka yullllll dobelllll dongggh
2025-08-13
0
Mikhaila Zea
biru terlalu egoisssss
2025-08-13
0
Mikhaila Zea
dasar manusia ½ons
2025-08-13
0