Prespektif Danny
Rasanya seperti terjebak dalam salah satu mimpi burukku.
Anggun tersungkur tepat di depan kakiku, wajahnya pucat dan berlumuran darah. Suasana di ruangan itu seketika menjadi mencekam.
"Bajingan yang melakukan ini kemungkinan hanya ada dua orang," kata Cindy geram sambil berlari keluar pintu, sementara Adelia sudah mencabut ponselnya dan menelepon polisi. (Omong-omong, kami dilarang membawa ponsel, tapi saat ini Erza tidak protes.) "Abil dan Arinda."
"Jangan memfitnah sembarangan," potong Erza seraya maju sambil melepas topengnya. "Kenapa kemungkinannya bisa hanya mereka berdua? Memangnya apa alasan Abil bekerja sama dengan Arinda mencelakai Amirudin dan Zaidan, mengganggu acara tahunan The Judges, bahkan kemungkinan besar menghancurkan organisasi yang sudah menjadikan kami orang-orang paling berkuasa di sekolah ini?"
"Erza benar."
Kami semua menoleh ke arah pintu dan melihat sesosok anggota The Judges berjalan masuk dengan angkuh. Sosok itu melepas topengnya, dan tampaklah wajah Abil yang ramah. Aku ingat, tadi malam dia tampak sengit dan marah, jelas-jelas merupakan kandidat yang bagus sebagai tertuduh. Tapi malam ini dia tampak begitu menyenangkan, sehingga sulit sekali membayangkan dia sudah mencelakai Amirudin, Zaidan, dan kini Anggun, dengan cara yang sangat keji.
"Kami anak-anak The Judges," kata Abil sambil melayangkan pandangan pada kami semua. "Apakah kalian tahu artinya? Benar-benar tai artinya? Kami ini anak-anak remaja, yang tadinya hanya bisa bermain dan bersenang-senang, dan kini mendadak mendapat kehormatan untuk mengendalikan seluruh sekolah yang besar ini, mulai dari pekerja-pekerja kecil hingga anggota akademi. Kami mengendalikan masalah ekonomi yang berarti puluhan miliar sebulan, bisa meminta fasilitas apa saja, bisa memecat siapa saja, dan bisa mengeluarkan murid yang mana saja."
Ucapan terakhir diucapkan dengan nada mengancam.
"Buat apa aku, atau Arinda, mengacaukan kedudukan kami yang begini bagus?" tanya Abil sambil mengangk…
Berenkarnasi Menyelematkan Kahancuran Keluarga
Bab 38 : Korban Terakhir
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 83 Episodes
Comments