Prespektif Cindy
"Cindy, mau kabur ke mana kamu? Pelajaran sudah mau dimulai!" seru Pak Rofidin, guru BK yang selalu mengawasi kami.
"Saya kebelet, Pak! Udah nggak tahan lagi! Rasanya ginjal saya mulai sakit..." jawabku dengan nada panik.
Pak Rofidin menatapku dengan muka tidak senang. "Dari tampangmu, kelihatan banget kamu mau bolos."
"Nggak, Pak!" seruku sambil memasang wajah tersinggung. "Pak, saya pergi dulu, ya!"
"Tunggu dulu. Kamu mau ke mana, Cindy?"
Dasar guru lintah. Nempel aja kayak prangko. Mungkin lebih baik kuceritakan saja alasan sebenarnya. Siapa tahu dia bisa ditakut-takuti dengan nama The Judges.
"Begini lho, Pak. Saya diundang untuk menghadiri acara seleksi The Judges..."
"Ah, bohong kamu!" seru Pak Rofidin kaget. "Tidak mungkin!"
"Dasar guru kurang ajar." Serius, Pak! Ini buktinya. Saya dapat undangan hitam!"
Selama dua detik, Pak Rofidin memandangi undangan hitam yang ku serahkan padanya. "Begini saja, saya ikut kamu ke tempat pertemuannya. Kalau kamu memang diterima di sana, saya akan melepaskan kamu."
Sekarang giliran ku yang menatap si guru BK dengan curiga. "Bapak pasti cuma mau ikut-ikut meeting organisasi rahasia itu, kan?"
Eh, gila. Wajah Pak Rofidin jadi merah. Huahahaha...
"Ya udah, Pak. Boleh deh, bapak ikut, selama bapak nggak bikin malu saya." Akhirnya aku punya kesempatan untuk mengucapkan kata-kata ini pada Pak Rofidin.
Dengan girang, Pak Rofidin menguntitku menuju perpustakaan. Ah, sudahlah, mungkin guru BK ini lagi bosan.
Sejujurnya, aku heran banget dengan pertemuan kali ini. Selain tempatnya yang rada aneh (memangnya apa yang mau kami lakukan di perpustakaan?), waktunya juga tidak wajar. Biasanya kan kami melakukannya malam-malam supaya bisa melakukan ujian tanpa ketahuan pihak-pihak lain yang tidak bersangkutan. Kenapa tiba-tiba sekarang dilakukan pagi-pagi begini? Apa kini mereka mau kami melakukan sesuatu di depan publik? Ah, tidak mungkin. Dibanding tempat-tempat lain di sekolah, saat ini perpustakaan adalah tempat yang pali…
Berenkarnasi Menyelematkan Kahancuran Keluarga
Bab 41 : Hari Penentuan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 83 Episodes
Comments