Kehancuran Harmonia

Kehancuran Harmonia

Harmonia #1

Langit Kota Lainada siang itu bersih, biru tanpa noda awan. Udara berhembus lembut, membawa aroma bunga dari taman kota yang mulai bermekaran setelah musim hujan berlalu.

Di bawah pohon besar yang menaungi bangku melingkar, aku dan teman-temanku duduk bersama, menatap langit tanpa banyak bicara. Wajah-wajah lelah tapi bersahabat menatap satu sama lain seolah diam kami justru berbicara lebih banyak dari kata-kata.

William memandang langit sebentar sebelum akhirnya membuka suara yang tercekat di tenggorokan.

“Hei, Rana… kau tahu? Rasanya makin sulit saja mencari pekerjaan di negeri ini.”

Gerald menoleh, mengangkat alisnya setengah tak percaya. “Lho? Untuk apa kau cari pekerjaan lagi?”

Rana ikut menimpali dengan nada heran, “Iya, bukannya kau sudah kerja di sektor industri?”

Ahmad yang duduk di ujung menatapku penuh tanya. “Apa yang terjadi, Will?”

Aku menghela napas panjang. Jemariku gemetar saat menggenggam gelas plastik berisi kopi dingin yang sudah kehilangan rasa. “Empat tahun kerja banting tulang… tapi gaji tak cukup buat hidup sebulan! Apa itu namanya kerja?!”

Tiba-tiba, emosi mengambil alih. Gelas itu melayang dari tanganku, menghantam lantai semen taman. Suara pecahannya menggema suara yang entah kenapa terdengar seperti puncak dari semua beban yang kupendam.

Rana hanya tersenyum miris. “Aku paham. Sejak Hartfordviel lengser, negara ini seperti kehilangan arah. Semua ikut tenggelam… termasuk kita.”

Aku meremas selembar kertas lamaran kerja yang sudah lusuh, penuh lipatan dan noda kopi. “Sialan! Kertas ini… cuma simbol harapan palsu!”

Gerald menyandarkan punggung ke bangku, menatap langit kosong. “Kalian sadar gak? Dunia makin kacau. Diplomasi hancur, presiden kita berseteru dengan Ternanida... rasanya kayak kita cuma nunggu bom waktu meledak.”

Aku mendongak, suaraku serak. “Kenapa aku harus lahir di zaman penuh kegilaan ini?!”

Gerald tertawa pelan, getir, seperti orang yang sudah pasrah. “Nasib memang suka bercanda.”

Aku berdiri, menghela napas panjang. “Aku pulang duluan. Kepalaku penuh.”

Rana sempat memanggil, “Tunggu, William!”

Tapi aku tak berhenti. Langkahku berat, tapi aku terus melangkah meninggalkan taman itu, meninggalkan tawa yang perlahan memudar.

Rumahku sunyi ketika aku tiba. Lampu ruang tamu redup. Aku menyalakan kompor kecil dan mulai membuat nasi goreng seadanya. Aroma minyak dan bawang memenuhi ruangan sempit itu. Layar ponsel di meja tiba-tiba menyala. Notifikasi berita muncul di layar: “Perang pecah. PBB resmi dinyatakan lumpuh total. Dunia di ambang kehancuran.”

Sendok yang berada di tanganku jatuh, membentur tembok, menghasilkan suara dentum keras yang memantul di dinding ruang makan. Aku menatap layar itu, dada terasa sesak.

“Sial! Kenapa aku hidup di zaman ini?!”

Aku rebah di ranjang usang di pojok kamar, menutup wajah dengan bantal, mencoba menahan amarah dan rasa hampa yang membuncah. Dunia… rasanya sudah terlalu berat untuk kujalani.

Pagi datang tanpa warna. Cahaya matahari menyelinap di sela tirai, tapi tak membawa semangat apa pun. Aku hanya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke lantai. Lalu suara bel rumah memecah keheningan.

“William! Bukain pintu!” terdengar suara yang tak asing. Rana.

Aku membuka pintu, dan di sana dia berdiri, mengenakan jaket abu-abu dengan senyum kecil di wajahnya.

Tapi mata itu… menyimpan lelah yang sama denganku.

“Ada apa?” tanyaku datar.

Rana menarik napas, lalu tersenyum lembut. “Ayo ikut aku. Kita ke bukit. Butuh udara segar.”

Aku menatapnya sebentar. “Udara bisa menyelesaikan masalah?”

“Tidak selalu,” jawabnya lirih. “Tapi kadang cukup untuk membuatmu bertahan satu hari lagi.”

Aku tak menjawab, tapi beberapa menit kemudian aku sudah duduk di kursi penumpang mobil tuanya. Mesin berderu, jalan menanjak menuju bukit di pinggiran kota.

Di atas sana, kami duduk di atas batu besar.

Angin berhembus membawa aroma rerumputan liar. Langit cerah, tapi jauh di kejauhan, seekor pesawat tempur melintas cepat.

“Aku kenal pesawat itu,” kataku sambil menatapnya.

“Kenapa?” tanya Rana.

“Itu pesawat Hasgerl. Negara yang hubungan diplomatiknya lagi panas dengan kita.”

Rana mengepalkan tangan, wajahnya menegang. “Dasar negara brengsek!”

“Mereka mungkin sedang mengintai…” gumamku.

“Kalau iya, lebih baik kita cari tempat aman.”

Aku menggeleng lemah. “Untuk apa? Mungkin lebih baik aku mati saja.”

Sebuah tamparan ringan mendarat di pipiku. Aku tertegun. Rana menatapku tajam, tapi matanya bergetar.

“Jangan bilang hal bodoh seperti itu!” katanya keras.

Aku menunduk, suaraku pelan. “Maaf…”

Suasana menjadi hening sejenak. Angin sore berhembus, membawa dedaunan kering berputar di sekitar kami.

“Ngomong-ngomong…” Rana memecah sunyi. “Aku sewa vila di dekat sini. Mau ikut? Healing… atau apalah.”

Aku menatapnya dengan sedikit senyum miring. “Kencan?”

Rana tertawa kecil.

“Aku cuma sahabatmu. Tapi sahabatmu ini tahu kau butuh tempat tenang.”

Kami menghabiskan sore dengan menatap langit jingga yang mulai tenggelam. Vila itu sederhana tapi hangat. Setelah mandi dan makan malam seadanya, kami duduk bersantai di ruang tamu, memandangi pemandangan dari jendela besar.

“Pemandangan luar biasa,” kataku.

“Makanya aku bawa kau ke sini,” jawab Rana sambil tersenyum.

“Tapi… kau kerja, kan?”

“Lagi cuti. Darurat,” balasnya ringan.

Tiba-tiba, suara menderu terdengar dari langit. Tanah bergetar halus. Aku menoleh ke arah jendela, wajahku menegang.

“Eh, itu apa?”

“Masuk, cepat!!” Rana berteriak, menarik lenganku masuk ke balik dinding.

Ledakan mengguncang bumi. Cahaya oranye menyilaukan mata. Suara menggelegar seperti ratusan naga meraung di langit. Rudal-rudal menghantam kota Iragoni di kejauhan satu demi satu, menghancurkan segalanya.

Ketika akhirnya langit kembali tenang, kami keluar dari persembunyian. Bau asap, debu, dan logam terbakar menyelimuti udara.

Yang tersisa… hanyalah puing. Kota yang dulu hidup kini tak bernyawa. Ambulans melaju di antara reruntuhan. Tentara memenuhi jalanan.

Aku berdiri mematung, menatap kehancuran di depan mata. Dunia kami… telah berubah selamanya.

Terpopuler

Comments

Proposal

Proposal

🔥Daripada Pusying Mikirin Cicilan💸😵‍💫,-Mending Baca Sampe Pencicilan!😎🙂‍↔️,Gimana Ngaa Baper, Kisah Yang Dipenuhi Momen Manis,Kecut Dan Seru Ini Udah Rilis!🌟

-Cindy,Cewek Yang Di Elu-elukan Satu Sekolah Berparas Cantik Dengan Senyuman Semanis Buah Plum,😝😘Ternyata Memandang Kevin Lelaki Yang Sedikit Suram.🫣

Apakah Memang Ada Cinta Modelan Kaya Gini?!🌟
Daripada Penasaran Mending Langsung Digaskan!!🔥

~Telah Dirilis--Tetanggaku Malaikatku

2025-06-16

1

JustError

JustError

masih ga terbiasa dengan tipe dialog seperti ini. Tipe
Nama : "Dialog" ini biasanya untuk naskah yang dibaca aktor dalam pentas.

Kalau dalam novel itu biasanya "dialog," ucap/ujar/dll nama

2025-06-19

0

JustError

JustError

Ide ceritamu menarik Thor. Premis di awal ini sebenarnya udah bagus banget.

Tapi penulisan dialog dan narasi penceritaannya masih kurang untuk membuat pembaca merasakan vibe cerita(ini opini pribadi ya)

Semangat🔥 Baca juga novelku ya, ayo berkembang bareng🔥

2025-06-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!