10. Bayangan yang Meminjam

“Riri—” Ardi hendak menegur, suaranya mengeras.

Namun Rima cepat memotong. Nada suaranya lembut, tapi mengandung bilah tajam yang terselip halus.

“Kevia, semua yang ada di rumah ini… semua harta yang kita miliki, adalah peninggalan mendiang ayah Riri. Jadi wajar kalau Riri merasa lebih berhak. Kamu tidak keberatan, kan, duduk di depan?”

Hening mendadak menggantung. Ardi menatap istrinya dengan sorot mata menyala, berusaha menahan amarah yang mendidih.

Kevia perlahan mengangkat wajah. Senyum tipis terlukis, rapuh tapi berusaha kuat. “Baik,” ucapnya pelan. Ia melangkah ke kursi depan tanpa menoleh lagi.

"Kalau sudah sekolah di tempat yang sama nanti… apa aku tetap dianggap orang asing? " batinnya lirih.

Di samping sopir, ia duduk tegak. Tas sekolah ia dekap erat di pangkuan, seakan benda sederhana itu satu-satunya tameng. Dadanya masih sesak, tapi ia menarik napas dalam.

"Aku nggak boleh nangis. Aku harus kuat." Suara itu bergaung dalam hatinya, terlalu dewasa untuk seorang anak berusia tiga belas tahun.

Mobil perlahan melaju meninggalkan halaman. Debu tipis terangkat, menyisakan keheningan yang tegang di depan teras rumah.

Ardi menoleh tajam ke arah Rima. “Kau terlalu memanjakan Riri. Itu tidak baik.” Suaranya berat, ditahan agar tidak meledak.

Rima menatap balik dengan senyum sinis. “Setidaknya aku peduli, memberi hak anakku. Tidak seperti suamiku… yang bahkan tak memberi hak pada istrinya.”

Ia berbalik, melangkah masuk ke rumah, meninggalkan Ardi dengan rahang mengeras.

Dari jendela kamarnya, Kemala berdiri diam. Matanya merah, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Napasnya terengah seolah menahan tangis.

"Kevia… putriku… sampai kapan kau harus diperlakukan seperti ini?"

Hening itu pecah hanya oleh desir angin yang menyingkap tirai tipis jendela, seolah ikut menyaksikan luka yang tak seorang pun berani ucapkan dengan lantang.

***

Malam itu, meja makan tampak lebih ramai dari biasanya. Aroma bermacam-macam lauk bercampur dengan wangi nasi hangat. Namun di antara…

Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya

Download aplikasi
Terpopuler

Comments

Anitha

Anitha

tuhkan bener Ardi di kasih obat perangsang sama si Pelakor,,dasar rubah betina,walapun kamu kaya tapi hidupmu tidak tenang penuh dengan iblis..

Sepertinya Ardi baru sadar dan menghampiri mereka di ruang makan,kemungkinan besar si Rima lagi manas²in Kemala karena berhasil tidur dengan Ardi dengan cara liciknya..
dan Ardi datang tepat waktu mendengar pembicaraan si Rima...
lalu Ardi Berteriak membentak si Rima..

2025-08-24

3

mery harwati

mery harwati

Tak sabar rasanya nunggu Kevia dewasa, tapi apa boleh buat, novel ini menceritakan Kevia yang masih SMP, kadang logika berpikir, anak SMP bisa apa sih? Tapi klo liat di dunia nyata (bukan dunia halu) banyak anak SD, SMP yang berulah hal² negatif diluar logika, meski ada juga anak SD, SMP yang berprestasi bagus & positf
Kevia, sabar ya tunggu porsi tindakanmu dalam novel ini, semua ada waktunya & ada bagiannya 💪❤️

2025-08-24

2

anonim

anonim

W a d uuuuhhh Riri kau terlalu berterus terang seperti ibumu - tak tahu apa kalau dengan begitu kamu menyakiti hati Kevia.
Kevia yang kuat dan sabar ya.
Makan malam ternoda - Rima menaruh obat di air minum Ardi - Kevia curiga Rima mengaduk air putih dengan ekspresi yang mencurigakan.
Obat telah bereaksi - Ardi korban dari kelicikan Rima.

2025-08-24

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!