KETUA OSIS CANTIK VS KETUA GENG BARBAR

KETUA OSIS CANTIK VS KETUA GENG BARBAR

Ketua OSIS Vs Ketua Geng

Happy reading guys :)

•••

“Mungkin hanya itu yang dapat Ibu sampaikan. Ibu ucapkan terima kasih banyak karena kalian sudah mau meluangkan waktu dan hadir di rapat pada hari ini … Barang kali, ada yang mau ditambahkan oleh Naresha selaku ketua OSIS sebelum kita akhiri rapatnya?”

Naresha Ardhanari Renaya, seorang gadis berparas cantik yang memiliki rambut hitam panjang bermodelkan butterfly bangun dari tempat duduknya. Dengan tinggi 160 cm, ia bisa melihat teman-teman sekolahnya yang berada di dalam ruangan OSIS begitu sangat jelas.

“Karena semua hal yang akan kita lakukan beberapa hari ke depan sudah dijelaskan oleh Ibu Dina … di sini aku cuma mau bilang ke kalian semua agar tetap semangat, terus saling membantu, dan bertanggung jawab dalam kegiatan event tahunan antar sekolah yang akan segera kita laksanakan beberapa hari lagi,” ujar Naresha, mengukir senyuman manis khasnya, hingga menampilkan lesung di pipi kanan yang selalu berhasil mencuri perhatian setiap orang.

Para anggota OSIS laki-laki sontak menelan air liur susah payah, dengan mata tidak berkedip sama sekali saat melihat senyuman Naresha. Rasanya, mereka sekarang seakan sedang berada di surga hanya dengan melihat gadis itu tersenyum. Bahkan, beberapa dari mereka mengeluarkan handphone dan diam-diam mulai mengambil foto candid Naresha—berharap bisa menyimpan senyuman manis itu di dalam galeri untuk selama-lamanya.

Akan tetapi, sebelum mereka terlalu jauh dalam euforia pribadi masing-masing, suara ketukan ringan terdengar dari arah seorang gadis berambut gelombang panjang yang sedang duduk di meja sekertaris, membuat semuanya seketika mulai kembali ke realita.

Nayla Azhariella Makarim—nama gadis itu—menatap tajam ke arah para cowok yang masih sibuk menunduk dengan kamera handphone menyala menghadap ke arah Naresha. “Please, fokus … Ini penting untuk sekolah.”

“Santai aja, Nay. Namanya juga fans,” ucap Naresha, terkekeh pelan sambil menaikkan sebelah alisnya menggunakan gaya menggoda, lantas kembali menatap seluruh anggota OSIS dengan sorot tajam yang penuh akan wibawa, “Tapi, beneran … Aku nggak mau ada yang kerja setengah-setengah. Kita ini OSIS, kita representatif sekolah … Kalau kalian malas-malasan, lebih baik angkat kaki dari sekarang. Deal?”

“Deal!” sahut seluruh anggota secara serempak, seakan terhipnotis oleh perpaduan senyuman manis serta aura intimidasi khas milik Naresha.

Ibu Dina mengukir senyuman tipis dan mulai berdiri dari tempat duduknya. “Baiklah, rapat hari ini selesai. Sekali lagi terima kasih atas kerja samanya … Silahkan beristirahat sebelum kembali menjalankan pelajaran.”

Begitu rapat diakhiri oleh Ibu Dina, para siswa-siswi anggota OSIS seketika bangun dari tempat duduk masing-masing, lalu melangkahkan kaki keluar dari dalam ruangan OSIS seraya berbisik membahas betapa gila aura yang dimiliki oleh Naresha.

Naresha sendiri kembali mendudukkan tubuh di meja kerjanya, menyandarkan punggung ke sandaran kursi seraya mengembuskan napas panjang beberapa kali—berusaha menghilangkan rasa kantuk yang sedari tadi sudah dirinya tahan untuk tetap fokus pada rapat hari ini.

Thalita Meisya Raveena—seorang gadis berambut cokelat sebahu yang duduk di kursi wakil ketua OSIS—mengalihkan pandangan ke arah tempat Naresha berada, sembari menyingkirkan serta menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi indera penglihatan ke belakang telinganya. “Tadi malam lu pulang jam berapa, Sha?”

Naresha menoleh ke arah tempat Thalita berada, lantas menyandarkan kepala di meja kerjanya sebelum memberikan jawaban. “Jam dua … lewat dikit, kayaknya. Gue abis nemenin Nayla muterin dua bar, terus nongkrong di rooftop sampai pagi.”

Thalita memutar bola mata. “Pantesan muka lu kayak baru ditabrak sama Monday Morning.”

“Please …,” ucap Naresha dengan suara terdengar serak dan lelah, tetapi tetap menggunakan nada malas-malas manja khas dirinya, “Senin itu bukan masalah … Yang masalah itu jam pelajaran matematika habis ini.”

Belum sempat menimpali perkataan Naresha, Thalita mengalihkan pandangan ke arah depan saat melihat Nayla berjalan mendekat dengan membawa dua botol minuman isotonik dingin.

“Satu buat lu … dan satu lagi buat si ketua bad girl kebanggaan Batara,” kata Nayla, menyerahkan botol minuman kepada kedua sahabatnya, sebelum mendudukkan tubuh di hadapan mereka.

Naresha mengukir senyuman tipis dan segera mengambil botol minuman itu. “Thanks, Sayang. Lu penyelamat hidup gue.”

“Yah, anggap aja balas budi karena semalam lu nemenin gue …,” ujar Nayla dengan sangat santai, seraya menyibakkan rambut panjangnya, “Tapi, serius, Sha. Lu itu kuat banget, sumpah … Hidup lu itu benar-benar kayak punya tiga shift: pagi jadi ketua OSIS, siang jadi pelajar jenius yang disegani guru, dan malam jadi ratu bar yang dikenal semua orang … Gue tuh kadang suka mikir, lu itu beneran manusia atau setengah vampir, sih?”

“Multi-talenta, Baby,” sahut Nayla, terkekeh pelan sambil membuka botol minumannya, “Gue tuh paket lengkap. Bisa jadi panutan waktu siang dan godaan waktu malam.”

Thalita tertawa pelan. “Nggak usah jauh-jauh dari vampir, Nay … Ini kalau orang tua Naresha tahu kegiatan malam anaknya, fix jantungan mereka.”

Naresha mengangkat bahu santai dan mulai meneguk minumannya. “Makanya gue nggak pernah kasih tahu. Lebih baik mereka mikir gue sibuk ngerjain proposal kegiatan daripada tahu gue baru balik subuh dari bar.”

“Lu beneran gila, sih, Sha.” Thalita bersabda di kursinya sembari mengusap-usap tutup botol minumannya. “Tapi, emang itu, sih, yang bikin lu beda dari cewek biasanya … Semua cewek mungkin bisa jadi pintar, tapi nggak semua cewek bisa jadi pintar, seksi, dan juga liar kayak lu.”

“Dan tetap dikagumi sama satu sekolahan,” sambung Nayla.

Naresha menaruh botol di atas meja lantaran ingin menimpali perkataan kedua sahabatnya. Namun, sesegera mungkin mengurungkan niat kala tiba-tiba saja mendengar dering handphone miliknya berbunyi.

Tanpa menunggu waktu lama, Naresha segera mengambil handphone dari dalam saku blazer sekolahnya, membuka benda pipih itu, lantas mengukir senyuman lebar saat melihat nama ‘New Baby’ di dalam layar.

“New Baby?” ucap Thalita saat tidak sengaja membaca nama orang yang sedang berusaha menghubungi Naresha, “Baru lagi, Sha?”

Naresha hanya terkekeh pelan, lantas menggeser layar ke kanan untuk menerima panggilan telepon itu. Ia seketika merubah nada suaranya menjadi sangat manja, sangat kontras sekali dengan citra ketua OSIS tegas yang barusan dirinya tunjukkan dalam rapat.

“Halo, Baby …,” sapa Naresha dengan nada rendah menggoda, sembari menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

Mendengar nada suara serta melihat ekspresi Naresha yang berubah, Nayla dan Thalita saling pandang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mereka seketika menghentikan obrolan, lantas memperhatikan sang sahabat yang tengah asyik mengobrol dalam panggilan telepon.

Naresha tidak memperdulikan tatapan yang sedang diberikan oleh kedua sahabatnya itu. Ia masih sibuk mengobrol bersama seorang cowok dengan suara terdengar sangat lembut, terkadang diselipi oleh tawa kecil kala dirinya merasa sedikit menikmati obrolannya.

“Iya, aku juga kangen … Hmm? Nggak bisa siang ini, Baby. Aku masih harus sekolah, tapi kalau malam … kita bisa ketemu, kok, kayak biasa.”

Beberapa detik berlalu, Naresha menyudahi panggilan telepon itu, lalu menyimpan kembali handphone ke tempat semula dan menatap wajah cantik kedua sahabatnya dengan senyuman penuh kemenangan.

“Cowok keberapa minggu ini, Sha?” tanya Thalita, disertai nada geli yang tidak bisa untuk disembunyikan.

“Bukan cowok baru, kok,” jawab Naresha santai, sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, “Dia itu yang pernah gue tinggal waktu bosen tahun lalu. Sekarang balik lagi … kayaknya masih tergila-gila sama gue, deh.”

“Lu itu benar-benar mengerikan, Sha,” ucap Nayla, seraya menopangkan dagu, “Sekali masuk ke hidup cowok, cowoknya nggak akan pernah bisa move on.”

Naresha terkekeh pelan. “Makanya, jangan pernah main-main dan tengil sama cewek yang tahu cara mainin perasaan. Bisa gawat nanti.”

“Aduh, aduh, aku takut, loh, Sha,” ucap Thalita, seraya melirik jam tangan branded di tangan kirinya, “Udah jam segini, kita harus balik ke kelas.”

Ketiga cewek itu saling pandang beberapa saat, kemudian mulai bangun dari tempat duduk masing-masing. Namun, sebelum meninggalkan ruangan OSIS, Naresha sempat memandangi pantulan dirinya di kaca jendela—merapikan blazer abu-abunya yang sedikit kusut.

“Hari-hari yang sangat menyenangkan … gue bahagia bisa lahir ke dunia ini dalam kondisi kayak gini. Bad Girl, Play girl, and Midnight Queen … sempurna.”

•••

Suasana koridor gedung utama Batara Senior High School pada pagi menjelang siang ini sangat ramai. Padahal tinggal beberapa menit lagi bel pertanda masuk sekolah akan segera berbunyi, tetapi para siswa-siswi masih terlihat asyik berkeliaran di sepanjang lorong—mengobrolkan tentang berita hangat yang baru beberapa menit lalu menyebar ke seluruh penjuru sekolah.

Saking asyiknya mengobrol, para siswa-siswi itu seketika mengabaikan kehadiran tiga gadis paling mencolok serta berpengaruh di Batara Senior High School—Naresha, Nayla, dan Thalita—yang melangkah santai menyusuri koridor seolah lorong sekolah adalah runway pribadi bagi mereka.

“Eh, emang bener, ya, kalau kak Kai sama anak-anak Valefor kemarin malam bentrok lagi?”

“Beritanya, sih, gitu … kak Kai berusaha ngelindungin anak SMP yang lagi dipalak sama Cerberus.”

“Ih, kak Kai keren banget! Mana katanya dia bikin si ketua Cerberus sampai pingsan … itu bener nggak, sih?”

“Gue denger, sih, gitu dari kakak kelas yang nongkrong di dekat Sevenlight … katanya, kak Kai awalnya cuma diam aja sambil ngelihatin anggotanya ngehadapin Cerberus, terus waktu anak-anak Cerberus udah keterlaluan, dia langsung maju paling depan dan ngebuat ketuanya pingsan dalam satu tendangan.”

“Argh! Kak Kai keren banget! Bisa nggak, sih, gue jadi pacarnya!”

Naresha hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pelan saat mendengar bisik-bisik yang sedang dilakukan oleh para adik kelasnya. Ia sedikit menoleh ke arah kanan dan kiri, menatap wajah kedua sahabatnya secara bergantian sebelum membuka bibir mungilnya.

“Itu anak ngapain lagi sama gengnya?” tanya Naresha dengan suara sangat pelan, seraya mengalihkan pandangan ke arah luar melalui jendela kaca besar yang berjejer rapi di sepanjang koridor.

Thalita melirik sekilas ke arah salah satu adik kelasnya, lantas melipat kedua tangan di depan dada. “Ya seperti yang lagi lu dengerin sekarang. Dia bentrok lagi sama anak-anak Cerberus … dan seperti biasa, kayak lu … setiap dia gerak pasti akan jadi trending topik.”

Ketika sedang sibuk mendengarkan penjelasan Thalita, Naresha tanpa sadar menabrak seseorang yang tengah berjalan dari arah berlawanan, membuat dirinya sontak terjatuh di atas lantai koridor sekolah seraya merintih kesakitan.

“Aduh, pantat gue yang indah nan bahenol ini bisa rusak kalau sering-sering jatuh kayak gini,” gerutu Naresha, meringis pelan sambil mengusap-usap bagian belakang tubuhnya yang baru saja mencium kerasnya ubin koridor.

“Sorry, gue nggak sengaja,” ucap seorang cowok yang telah bertabrakan dengan Naresha, seraya mengeluarkan tangan kanan ke arah gadis berparas cantik itu.

Naresha sedikit mengerutkan kening saat merasa cukup familiar dengan suara cowok itu. Ia secara perlahan mengangkat kepala, sedikit menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas wajah orang yang telah bertabrakan dengannya.

“Kaizen Wiratma Atmaja,” gumam Naresha, saat melihat sosok cowok tampan berambut Messy yang memiliki tinggi 180 cm sedang berdiri di hadapannya—dengan tangan terulur, menawarkan bantuan.

Kaizen mengerutkan kening saat melihat Naresha hanya diam dan tidak membalas uluran tangan yang tengah dirinya berikan. “Oi, Sha, Naresha … lu nggak papa, kan?”

Mendengar pertanyaan Kaizen, Naresha perlahan tapi pasti mulai bangun dari posisi duduknya tanpa menerima bantuan yang telah ditawarkan oleh cowok itu. Ia menepuk-nepuk pelan bagian rok seragamnya dengan sangat anggun, menyibakkan rambut panjang yang menutupi sebagian wajah cantiknya, kemudian menatap Kaizen dengan sorot mata begitu dingin.

“Gue nggak butuh ditolong sama cowok yang suka bikin keributan di jalanan,” ucap Naresha santai dan datar, tetapi cukup tajam hingga membuat suasa di sekitar seketika berubah menjadi sangat hening.

Para siswa-siswi yang semula tengah asyik berbisik-bisik ria kini mulai memperhatikan interaksi antara dua sosok paling berpengaruh di Batara Senior High School: Ketua OSIS dan Ketua Geng Velafor.

Kaizen menarik dan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana, lantas menatap wajah Naresha dengan alis sedikit terangkat serta mengukir senyuman samar.

“Masih sama seperti Naresha yang gue kenal,” celetuk Kaizen, sembari mengusap lembut pipi kirinya yang terasa sedikit gatal, “Gue kira lu udah bisa berubah jadi sedikit lembut karena suka gonta-ganti cowok, tapi ternyata perkiraan gue itu salah.”

Nayla dan Thalita yang berdiri di belakang Naresha seketika menyilangkan kedua tangan di depan dada serta merubah ekspresi wajah menjadi sangat waspada, lantaran mereka tahu bahwa hubungan antara Naresha dan Kaizen itu layaknya seperti petir dan bensin—penuh tegangan, dan kalau bertemu bisa meledak kapan saja.

“Ya udah … gue jalan dulu,” ucap Kaizen santai, memberikan lirikan singkat kepada Nayla dan Thalita sebelum kembali melangkahkan kaki menuju arah berlawanan, meninggalkan jejak suara langkah berat yang entah kenapa terdengar sangat nyaring di tengah keramaian koridor sekolah.

Setelah kepergian Kaizen, Nayla dan Thalita bergegas menghampiri tempat Naresha berada, lalu mulai memeriksa keadaan sahabat mereka itu.

“Lu nggak papa, Sha?” tanya Thalita, sembari memperhatikan serta memeriksa bagian pantat Naresha yang tadi mencium lantai ubin dengan sangat keras.

Naresha hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, lantas tanpa mengatakan sepatah kata pun segera melangkahkan kaki menuju ruangan kelasnya berada—meninggalkan kedua sahabatnya yang masih berdiri di tempat semula.

To be continued :)

Terpopuler

Comments

Vlink Bataragunadi 👑

Vlink Bataragunadi 👑

gelooooo/Facepalm/

2025-09-14

1

lihat semua
Episodes
1 Ketua OSIS Vs Ketua Geng
2 Perjodohan
3 Pertemuan Tak Terduga
4 Rencana Menikah
5 Pernikahan Naresha—Kaizen
6 Tinggal Bersama
7 Tidur Bersama
8 Masalah Dompet
9 Berita Hangat
10 Kangen?
11 Perdebatan
12 Balas Dendam?
13 Lupa
14 Masalah Seragam Olahraga
15 Perdebatan Kecil
16 Laporan Tak Terduga
17 Hukuman Selesai
18 Party
19 Berangkat Bareng
20 Gosip?
21 Handphone Kaizen
22 Meeting Dadakan
23 Permintaan Mama
24 Perjanjian
25 Bertemu Kakek-Nenek Naresha
26 Dinner
27 Naresha VS Elvira
28 Setelah Acara
29 Sarapan Bersama
30 kopi Dari Kaizen
31 Sedikit Perbedaan
32 Laporan Naresha
33 Reaksi Kaizen
34 Naresha Sakit?
35 Kekhawatiran Kaizen
36 Naresha Yang Manja
37 Kedatangan Sekar Dan Sela
38 Pelukan
39 Kembali Seperti Semula
40 Pujian Untuk Kaizen
41 Kekhawatiran Naresha?
42 Sedikit Curiga
43 Kembali Seperti Semula
44 kalung
45 Penyelidikan
46 Cewek Gue?
47 Kaizen Sakit
48 Perubahan?
49 Kekhawatiran
50 Kejadian Tidak Terduga
51 Pernyataan
52 Kebersamaan
53 Hadiah
54 Mandi Bareng
55 Pelukan Pembawa Kenikmatan
56 Keputusan Naresha
57 Sarapan Penuh Cinta
58 Hukuman?
59 Obrolan Dewasa
60 Double date?
61 Kenikmatan Untuk Kaizen Dan Naresha
62 Pagi Setelah Kenikmatan
63 Taruhan Manis
64 Cemburu
65 Papi Kaizen
66 Kaizen Yang Posesif
67 Shopping
68 Keromantisan Kaizen Dan Naresha
69 Chat Manja
70 Cidera
71 Kaizen Posesif
72 Kangen Mabuk
73 Tanda Cinta
74 Ulang Tahun
75 Kekhawatiran Naresha
76 Janji
77 Sumpah Kaizen
78 Bentuk Cemburu
79 Ulang Tahun Keenan
80 Pijitan Kaizen
81 Masalah Handphone
82 Cemburu
83 Ketua Valefor Yang Posesif
84 Kaizen Yang Manja
85 Girls day
86 10 Oktober?
87 Kemesraan Di Pagi Hari
88 Pertandingan Final
89 Rencana
90 Ulang Tahun Kaizen-Naresha
91 Ide
92 Heboh
93 jujur
94 Overprotektif
95 Manja
96 Anak?
97 Live streaming
98 Pagi Yang Indah
99 Console game
100 Olahraga
101 Setelah Malam Panjang
102 Kedatangan Kaizen
103 Mabuk
104 Harapan
105 Malam Panjang
106 Pusing
107 Bucin
108 Malu
109 Obrolan Penting
110 Keputusan Naresha
111 Penjelasan Naresha
112 Berendam Bersama
113 Pelukan Manja
114 Pamer Suami
115 Bucin Di Kantin
116 Peluk Dan Cium
117 Mesum?
118 Setelah Cuddle
119 Masakan Kaizen
120 Olahraga Panjang
121 Imut Dan Cantik
122 Tanda merah
123 Pangeran
124 Mantan?
125 Mantan Naresha?
126 Mimpi Buruk
127 Minum Susu
128 Keceplosan
129 Minum Susu Lagi?
130 Malu
131 Kaizen Si Pemikat Wanita
132 Cemburu
133 Olahraga
134 Nakal Di Ruangan Mertua
135 Ketahuan
136 Godaan dan Ancaman
137 Kaizen Yang Random
138 Serangan Pagi Hari
139 Kaus Kaizen
140 Godaan Naresha
141 Tingkah Naresha
142 Teror
143 Godaan Naresha
144 Masak Bersama
145 Rapat penting
146 Rencana Gila
147 Kekhawatiran Naresha
148 Drama
149 Naresha Mode Perawat
150 Pembalasan
151 Luka Tusuk
152 Permintaan Nael
153 Godaan Pagi Hari
154 Kebahagiaan?
155 Akhir Dari Semuanya
Episodes

Updated 155 Episodes

1
Ketua OSIS Vs Ketua Geng
2
Perjodohan
3
Pertemuan Tak Terduga
4
Rencana Menikah
5
Pernikahan Naresha—Kaizen
6
Tinggal Bersama
7
Tidur Bersama
8
Masalah Dompet
9
Berita Hangat
10
Kangen?
11
Perdebatan
12
Balas Dendam?
13
Lupa
14
Masalah Seragam Olahraga
15
Perdebatan Kecil
16
Laporan Tak Terduga
17
Hukuman Selesai
18
Party
19
Berangkat Bareng
20
Gosip?
21
Handphone Kaizen
22
Meeting Dadakan
23
Permintaan Mama
24
Perjanjian
25
Bertemu Kakek-Nenek Naresha
26
Dinner
27
Naresha VS Elvira
28
Setelah Acara
29
Sarapan Bersama
30
kopi Dari Kaizen
31
Sedikit Perbedaan
32
Laporan Naresha
33
Reaksi Kaizen
34
Naresha Sakit?
35
Kekhawatiran Kaizen
36
Naresha Yang Manja
37
Kedatangan Sekar Dan Sela
38
Pelukan
39
Kembali Seperti Semula
40
Pujian Untuk Kaizen
41
Kekhawatiran Naresha?
42
Sedikit Curiga
43
Kembali Seperti Semula
44
kalung
45
Penyelidikan
46
Cewek Gue?
47
Kaizen Sakit
48
Perubahan?
49
Kekhawatiran
50
Kejadian Tidak Terduga
51
Pernyataan
52
Kebersamaan
53
Hadiah
54
Mandi Bareng
55
Pelukan Pembawa Kenikmatan
56
Keputusan Naresha
57
Sarapan Penuh Cinta
58
Hukuman?
59
Obrolan Dewasa
60
Double date?
61
Kenikmatan Untuk Kaizen Dan Naresha
62
Pagi Setelah Kenikmatan
63
Taruhan Manis
64
Cemburu
65
Papi Kaizen
66
Kaizen Yang Posesif
67
Shopping
68
Keromantisan Kaizen Dan Naresha
69
Chat Manja
70
Cidera
71
Kaizen Posesif
72
Kangen Mabuk
73
Tanda Cinta
74
Ulang Tahun
75
Kekhawatiran Naresha
76
Janji
77
Sumpah Kaizen
78
Bentuk Cemburu
79
Ulang Tahun Keenan
80
Pijitan Kaizen
81
Masalah Handphone
82
Cemburu
83
Ketua Valefor Yang Posesif
84
Kaizen Yang Manja
85
Girls day
86
10 Oktober?
87
Kemesraan Di Pagi Hari
88
Pertandingan Final
89
Rencana
90
Ulang Tahun Kaizen-Naresha
91
Ide
92
Heboh
93
jujur
94
Overprotektif
95
Manja
96
Anak?
97
Live streaming
98
Pagi Yang Indah
99
Console game
100
Olahraga
101
Setelah Malam Panjang
102
Kedatangan Kaizen
103
Mabuk
104
Harapan
105
Malam Panjang
106
Pusing
107
Bucin
108
Malu
109
Obrolan Penting
110
Keputusan Naresha
111
Penjelasan Naresha
112
Berendam Bersama
113
Pelukan Manja
114
Pamer Suami
115
Bucin Di Kantin
116
Peluk Dan Cium
117
Mesum?
118
Setelah Cuddle
119
Masakan Kaizen
120
Olahraga Panjang
121
Imut Dan Cantik
122
Tanda merah
123
Pangeran
124
Mantan?
125
Mantan Naresha?
126
Mimpi Buruk
127
Minum Susu
128
Keceplosan
129
Minum Susu Lagi?
130
Malu
131
Kaizen Si Pemikat Wanita
132
Cemburu
133
Olahraga
134
Nakal Di Ruangan Mertua
135
Ketahuan
136
Godaan dan Ancaman
137
Kaizen Yang Random
138
Serangan Pagi Hari
139
Kaus Kaizen
140
Godaan Naresha
141
Tingkah Naresha
142
Teror
143
Godaan Naresha
144
Masak Bersama
145
Rapat penting
146
Rencana Gila
147
Kekhawatiran Naresha
148
Drama
149
Naresha Mode Perawat
150
Pembalasan
151
Luka Tusuk
152
Permintaan Nael
153
Godaan Pagi Hari
154
Kebahagiaan?
155
Akhir Dari Semuanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!