Rencana Menikah

Happy reading guys :)

•••

Kaizen yang sedang asyik memainkan kalung ber bandul bulan miliknya seketika mengangkat kepala saat mendengar namanya telah dipanggil oleh seorang cewek yang cukup familiar untuknya, lantas sedikit membulatkan mata serta mengerutkan kening kala melihat sosok Naresha tengah berdiri di ujung anak tangga.

Cowok itu semakin mengerutkan kening, berusaha memastikan apakah sosok yang sedang dirinya lihat itu benar-benar Naresha. Ia diam beberapa detik, sebelum pada akhirnya merubah ekspresi wajah setelah benar-benar yakin bahwa cewek itu adalah sang musuh bebuyutan—kaget, tidak percaya, senang, dan juga geli.

Gayatri bangun dari tempat duduk saat melihat Naresha hanya diam di tempat, kemudian segera melangkahkan kaki mendekat dan merangkul pundak anak semata wayangnya itu.

“Nah, kalau kayak gini, kan, cantik banget … ini baru Naresha yang Mama kenal,” ucap Gayatri penuh kelembutan, sembari memberikan beberapa ciuman penuh kasih sayang di kedua pipi putih Naresha.

Naresha hanya diam dengan mata masih terpaku pada satu titik—sosok cowok menyebalkan yang kini sedang menyeringai penuh kepuasan, seperti baru saja memenangkan sebuah lotre terbesar di dalam hidupnya—mengabaikan ciuman penuh kasih sayang yang sedang diberikan oleh sang mama. Ia secara perlahan-lahan mulai mengepalkan kedua tangan sempurna ketika satu pertanyaan besar terus-menerus berputar serta menggema di dalam kepalanya: “Apa-apaan ini?”

Kaizen menyandarkan punggung ke sandaran sofa, seraya menggerakkan tangan kanan untuk kembali memainkan kalung bulan yang terpasang rapi di lehernya. Kali ini dengan gerakan santai yang penuh akan kesengajaan—seakan dirinya sedang memamerkan sebuah kemenangan kecil yang membuat hatinya merasa sangat bahagia.

Melihat hal yang sedang Kaizen lakukan, Naresha spontan berdecih pelan, sebelum pada akhirnya mengalihkan pandangan ke arah sang mama yang masih setia mengukir senyuman manis kepadanya.

“Ma, dia yang mau dijodohin sama aku?” tanya Naresha dengan suara sangat pelan—nyaris seperti sebuah bisikan—sambil melirik sekilas ke arah tempat Kaizen berada.

Gayatri hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, lalu segera menuntun sang anak mendekati tempat suami beserta kedua calon besannya berada sekarang.

Naresha sedikit menggigit bibir bawahnya, menatap dua orang paruh baya—ayah dan mama Kaizen—sebelum mendudukkan tubuh di samping kanan tempat sang papa berada, dengan disusul oleh sang mama.

Sekar Laraswati—mama Kaizen—yang sedang duduk anggun dengan mengenakan sebuah dress branded berwarna champagne gold, secara tiba-tiba mengukir senyuman manis penuh kebahagiaan sambil menggenggam kedua tangan Naresha yang berada di atas pangkuan. “Ya ampun … ini Naresha, Mbak? Dia lebih cantik daripada yang di foto.”

Gayatri memberikan elusan lembut di lengan kanan Naresha, seraya mengukir senyuman manis saat mendengar pujian yang diberikan oleh calon besannya itu. “Iya, Mbak … Ini Naresha … makasih, ya, udah dibilang cantik.”

Sekar terkekeh pelan, sembari masih menatap Naresha dengan penuh kekaguman serta kasih sayang sangat mendalam—meskipun ini adalah pertemuan pertamanya dengan gadis berparas cantik itu. “Nggak usah bilang makasih, Mbak. Anak kamu ini … benar-benar luar biasa. Cantiknya udah kayak bintang drama Korea … aku ngerasa beruntung banget bisa punya calon menantu kayak dia.”

Gayatri sontak tertawa pelan saat mendengar ucapan Sekar, lantas membelai lembut rambut Naresha yang dibiarkan terurai indah melewati bahu. “Aduh, Mbak sekar ini bisa aja … aku benar-benar ngerasa bahagia banget kalau Mbak sampai muji Naresha kayak gini.”

“Mbak memang harus bahagia, soalnya punya anak sesempurna ini ….” Sekar memberikan elusan lembut di punggung tangan Naresha, lantas mengalihkan pandangan ke arah sang anak bungsu yang sedari tadi hanya diam. “Kaizen aja mikir kayak gitu, makannya dia langsung setuju waktu mau dijodohin sama Naresha … Bener, kan, Dek?”

Kaizen sontak membelalakkan mata sempurna saat mendengar kalimat yang telah diucapkan oleh sang mama. Ia ingin menggelengkan kepala sebagai jawaban, tetapi sesegera mungkin mengurungkan niat kala mendapati sorot ancaman yang begitu dalam di mata perempuan yang telah melahirkannya itu.

“I-i-iya, Ma,” jawab Kaizen, berusaha tetap tenang meskipun suaranya terdengar sedikit dipaksakan.

Naresha spontan sedikit mengangkat alis kanannya, saat melihat ekspresi serta mendengar nada bicara Kaizen yang seperti baru saja ditodong oleh senjata di bawah meja—dan jujur saja, ia lumayan menikmati momen itu.

Sekar mengukir senyuman penuh kepuasan, layaknya seorang yang baru saja memenangkan hadiah dari mesin capit boneka, lantas kembali mengalihkan pandangan ke arah Naresha. “Lihat, kan? Jarang-jarang, loh, Kaizen bisa tertarik sama perempuan kayak gini … Biasanya dia itu keras kepala dan semuanya harus pakai cara debat dulu.”

“Wah, berarti Naresha pengecualian, ya?” Gayatri menoleh ke arah Naresha, lantas mengukir senyuman penuh akan arti yang sangat sulit untuk dipahami. “Denger, kan, Sayang … Mama yakin masa depan kamu akan bahagia kalau hidup bareng Kaizen.”

Mendengar hal itu, Kaizen hanya bisa tersenyum kecut, lantas kembali menundukkan kepala untuk memainkan kalung berbandul bulan miliknya—satu-satunya pelarian yang dapat dirinya andalkan serta lakukan sekarang ini.

Raditya Wiratma Atmaja—papa Kaizen—yang sedang asyik mengobrol bersama Ardan seketika mengukir senyuman tipis saat mendengar interaksi antara keluarganya dan keluarga sang rekan bisnis. Ia kembali menatap ke arah Ardan, lantas memberikan kode agar rekan bisnis serta sahabatnya itu memulai tujuan dari pertemuan pada malam hari ini.

Ardan mengangguk pelan saat menangkap isyarat dari Radit. Ia sedikit merubah posisi duduknya—sedikit menjadi lebih serius—lantas menatap ke seluruh orang yang ada di dalam ruangan tengah rumahnya, terutama pada dua anak muda yang saat ini sedang sibuk dengan urusan masing-masing—Naresha dan Kaizen.

“Baik,” ucap Ardan dengan sangat tenang dan berwibawa, “Resha dan Kaizen … Papa tahu kalian pasti udah ngerti tentang tujuan pertemuan keluarga pada malam hari ini, tapi … ada sedikit rencana yang berubah … dan Papa sama Radit udah setuju sama hal itu.”

Kaizen seketika menghentikan aktivitasnya, lantas mengalihkan pandangan ke arah Ardan dengan kening mengerut sempurna. “Perubahan? Maksud Om gi—”

“Papa,” potong Sekar dengan sangat cepat, sambil memberikan tatapan penuh arti kepada sang anak bungsu.

Mendengar perkataan serta melihat tatapan yang sedang diberikan oleh sang mama, Kaizen memutar bola mata malas sambil berdecak pelan.

“Iya … maksud Papa gimana?” ulang Kaizen, mengganti panggilan ‘Om’ menjadi ‘Papa’ sesuai perintah sang mama.

Ardan mengukir senyuman tipis saat mendengar perkataan Kaizen, lantas menatap wajah Radit sebelum kembali membuka suara. “Jadi, gini, Kai … rencana awal kami berdua memang mau jodohin kamu sama Resha … tapi setelah kami ngobrol cukup panjang, Papa sama Papa kamu mutusin buat nikahin kalian berdua besok … mumpung besok sekolah libur, kan?”

Naresha sontak membelalakkan mata sempurna saat mendengar penjelasan sang papa, bahkan tanpa sadar dirinya melepaskan genggaman tangan Sekar dan segera bangun dari tempat duduknya.

“Apa?! Nikah?! Papa mau nikahin aku sama dia?!” tanya Naresha dengan suara sangat tinggi, menunjuk ke arah Kaizen sambil menatap wajah sang papa penuh ketidakpercayaan.

Ardan hanya menatap wajah cantik sang anak semata wayang sangat datar, dengan sorot mata menunjukkan ancaman serta kekecewaan yang telah bercampur menjadi satu kesatuan.

Melihat tatapan itu, Naresha sontak menelan air liur sangat susah payah, mulai menurunkan tangan kanan yang masih menunjuk ke arah Kaizen dan kembali mendudukkan tubuh di tempat semula.

Kaizen sendiri hanya diam beberapa detik sambil mengedipkan mata beberapa kali—seakan sedang mencerna semua hal yang baru saja terjadi—sebelum pada akhirnya pelan-pelan mengukir senyuman samar penuh akan arti.

“Jadi, kamu nggak keberatan, kan, Kai, kalau besok nikah sama anak Papa?” tanya Ardhan penuh kelembutan, setelah memastikan sang anak semata wayang diam dan menuruti permintaannya.

Kaizen tanpa berpikir panjang segera menganggukkan kepala dengan sangat bersemangat—tidak peduli ini adalah perjodohan yang dipaksakan atau tidak, lantaran dirinya mulai memiliki sebuah kesenangan serta kejahilan tersendiri di dalam pikirannya. “Iya, Pa … Kai mau … Kai janji akan jagain Resha sebaik mungkin.”

Naresha kembali melebarkan sempurna saat melihat jawaban yang telah diberikan oleh Kaizen. Ia ingin sekali ambil bicara dan menolak ini semua, tetapi sesegera mungkin mengurungkan niat ketika menyadari bahwa sekarang dirinya tidaklah bisa melakukan apa-apa.

“Kaizen Wiratma Atmaja … Apa pun rencana yang lagi lu pikirin sekarang … Gue pastiin lu nyesel udah nikahin gue besok.”

To be continued :)

Terpopuler

Comments

Vlink Bataragunadi 👑

Vlink Bataragunadi 👑

what the..., /Shame//Joyful//Joyful//Joyful/

2025-09-14

1

lihat semua
Episodes
1 Ketua OSIS Vs Ketua Geng
2 Perjodohan
3 Pertemuan Tak Terduga
4 Rencana Menikah
5 Pernikahan Naresha—Kaizen
6 Tinggal Bersama
7 Tidur Bersama
8 Masalah Dompet
9 Berita Hangat
10 Kangen?
11 Perdebatan
12 Balas Dendam?
13 Lupa
14 Masalah Seragam Olahraga
15 Perdebatan Kecil
16 Laporan Tak Terduga
17 Hukuman Selesai
18 Party
19 Berangkat Bareng
20 Gosip?
21 Handphone Kaizen
22 Meeting Dadakan
23 Permintaan Mama
24 Perjanjian
25 Bertemu Kakek-Nenek Naresha
26 Dinner
27 Naresha VS Elvira
28 Setelah Acara
29 Sarapan Bersama
30 kopi Dari Kaizen
31 Sedikit Perbedaan
32 Laporan Naresha
33 Reaksi Kaizen
34 Naresha Sakit?
35 Kekhawatiran Kaizen
36 Naresha Yang Manja
37 Kedatangan Sekar Dan Sela
38 Pelukan
39 Kembali Seperti Semula
40 Pujian Untuk Kaizen
41 Kekhawatiran Naresha?
42 Sedikit Curiga
43 Kembali Seperti Semula
44 kalung
45 Penyelidikan
46 Cewek Gue?
47 Kaizen Sakit
48 Perubahan?
49 Kekhawatiran
50 Kejadian Tidak Terduga
51 Pernyataan
52 Kebersamaan
53 Hadiah
54 Mandi Bareng
55 Pelukan Pembawa Kenikmatan
56 Keputusan Naresha
57 Sarapan Penuh Cinta
58 Hukuman?
59 Obrolan Dewasa
60 Double date?
61 Kenikmatan Untuk Kaizen Dan Naresha
62 Pagi Setelah Kenikmatan
63 Taruhan Manis
64 Cemburu
65 Papi Kaizen
66 Kaizen Yang Posesif
67 Shopping
68 Keromantisan Kaizen Dan Naresha
69 Chat Manja
70 Cidera
71 Kaizen Posesif
72 Kangen Mabuk
73 Tanda Cinta
74 Ulang Tahun
75 Kekhawatiran Naresha
76 Janji
77 Sumpah Kaizen
78 Bentuk Cemburu
79 Ulang Tahun Keenan
80 Pijitan Kaizen
81 Masalah Handphone
82 Cemburu
83 Ketua Valefor Yang Posesif
84 Kaizen Yang Manja
85 Girls day
86 10 Oktober?
87 Kemesraan Di Pagi Hari
88 Pertandingan Final
89 Rencana
90 Ulang Tahun Kaizen-Naresha
91 Ide
92 Heboh
93 jujur
94 Overprotektif
95 Manja
96 Anak?
97 Live streaming
98 Pagi Yang Indah
99 Console game
100 Olahraga
101 Setelah Malam Panjang
102 Kedatangan Kaizen
103 Mabuk
104 Harapan
105 Malam Panjang
106 Pusing
107 Bucin
108 Malu
109 Obrolan Penting
110 Keputusan Naresha
111 Penjelasan Naresha
112 Berendam Bersama
113 Pelukan Manja
114 Pamer Suami
115 Bucin Di Kantin
116 Peluk Dan Cium
117 Mesum?
118 Setelah Cuddle
119 Masakan Kaizen
120 Olahraga Panjang
121 Imut Dan Cantik
122 Tanda merah
123 Pangeran
124 Mantan?
125 Mantan Naresha?
126 Mimpi Buruk
127 Minum Susu
128 Keceplosan
129 Minum Susu Lagi?
130 Malu
131 Kaizen Si Pemikat Wanita
132 Cemburu
133 Olahraga
134 Nakal Di Ruangan Mertua
135 Ketahuan
136 Godaan dan Ancaman
137 Kaizen Yang Random
138 Serangan Pagi Hari
139 Kaus Kaizen
140 Godaan Naresha
141 Tingkah Naresha
142 Teror
143 Godaan Naresha
144 Masak Bersama
145 Rapat penting
146 Rencana Gila
147 Kekhawatiran Naresha
148 Drama
149 Naresha Mode Perawat
150 Pembalasan
151 Luka Tusuk
152 Permintaan Nael
153 Godaan Pagi Hari
154 Kebahagiaan?
155 Akhir Dari Semuanya
Episodes

Updated 155 Episodes

1
Ketua OSIS Vs Ketua Geng
2
Perjodohan
3
Pertemuan Tak Terduga
4
Rencana Menikah
5
Pernikahan Naresha—Kaizen
6
Tinggal Bersama
7
Tidur Bersama
8
Masalah Dompet
9
Berita Hangat
10
Kangen?
11
Perdebatan
12
Balas Dendam?
13
Lupa
14
Masalah Seragam Olahraga
15
Perdebatan Kecil
16
Laporan Tak Terduga
17
Hukuman Selesai
18
Party
19
Berangkat Bareng
20
Gosip?
21
Handphone Kaizen
22
Meeting Dadakan
23
Permintaan Mama
24
Perjanjian
25
Bertemu Kakek-Nenek Naresha
26
Dinner
27
Naresha VS Elvira
28
Setelah Acara
29
Sarapan Bersama
30
kopi Dari Kaizen
31
Sedikit Perbedaan
32
Laporan Naresha
33
Reaksi Kaizen
34
Naresha Sakit?
35
Kekhawatiran Kaizen
36
Naresha Yang Manja
37
Kedatangan Sekar Dan Sela
38
Pelukan
39
Kembali Seperti Semula
40
Pujian Untuk Kaizen
41
Kekhawatiran Naresha?
42
Sedikit Curiga
43
Kembali Seperti Semula
44
kalung
45
Penyelidikan
46
Cewek Gue?
47
Kaizen Sakit
48
Perubahan?
49
Kekhawatiran
50
Kejadian Tidak Terduga
51
Pernyataan
52
Kebersamaan
53
Hadiah
54
Mandi Bareng
55
Pelukan Pembawa Kenikmatan
56
Keputusan Naresha
57
Sarapan Penuh Cinta
58
Hukuman?
59
Obrolan Dewasa
60
Double date?
61
Kenikmatan Untuk Kaizen Dan Naresha
62
Pagi Setelah Kenikmatan
63
Taruhan Manis
64
Cemburu
65
Papi Kaizen
66
Kaizen Yang Posesif
67
Shopping
68
Keromantisan Kaizen Dan Naresha
69
Chat Manja
70
Cidera
71
Kaizen Posesif
72
Kangen Mabuk
73
Tanda Cinta
74
Ulang Tahun
75
Kekhawatiran Naresha
76
Janji
77
Sumpah Kaizen
78
Bentuk Cemburu
79
Ulang Tahun Keenan
80
Pijitan Kaizen
81
Masalah Handphone
82
Cemburu
83
Ketua Valefor Yang Posesif
84
Kaizen Yang Manja
85
Girls day
86
10 Oktober?
87
Kemesraan Di Pagi Hari
88
Pertandingan Final
89
Rencana
90
Ulang Tahun Kaizen-Naresha
91
Ide
92
Heboh
93
jujur
94
Overprotektif
95
Manja
96
Anak?
97
Live streaming
98
Pagi Yang Indah
99
Console game
100
Olahraga
101
Setelah Malam Panjang
102
Kedatangan Kaizen
103
Mabuk
104
Harapan
105
Malam Panjang
106
Pusing
107
Bucin
108
Malu
109
Obrolan Penting
110
Keputusan Naresha
111
Penjelasan Naresha
112
Berendam Bersama
113
Pelukan Manja
114
Pamer Suami
115
Bucin Di Kantin
116
Peluk Dan Cium
117
Mesum?
118
Setelah Cuddle
119
Masakan Kaizen
120
Olahraga Panjang
121
Imut Dan Cantik
122
Tanda merah
123
Pangeran
124
Mantan?
125
Mantan Naresha?
126
Mimpi Buruk
127
Minum Susu
128
Keceplosan
129
Minum Susu Lagi?
130
Malu
131
Kaizen Si Pemikat Wanita
132
Cemburu
133
Olahraga
134
Nakal Di Ruangan Mertua
135
Ketahuan
136
Godaan dan Ancaman
137
Kaizen Yang Random
138
Serangan Pagi Hari
139
Kaus Kaizen
140
Godaan Naresha
141
Tingkah Naresha
142
Teror
143
Godaan Naresha
144
Masak Bersama
145
Rapat penting
146
Rencana Gila
147
Kekhawatiran Naresha
148
Drama
149
Naresha Mode Perawat
150
Pembalasan
151
Luka Tusuk
152
Permintaan Nael
153
Godaan Pagi Hari
154
Kebahagiaan?
155
Akhir Dari Semuanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!