Pernikahan Naresha—Kaizen

Happy reading guys :)

•••

Pagi ini langit kota Jakarta tampak lebih berwarna—seolah-olah Tuhan sengaja menuangkan beragam rona ke dalam kanvas alam setelah beberapa jam lalu diguyur oleh hujan deras. Gradasi lembut antara biru muda, jingga hangat, serta semburat merah muda berpadu indah di cakrawala, menciptakan sebuah pemandangan yang begitu menenangkan bagi siapa saja yang menyempatkan waktu untuk memandanginya.

Akan tetapi, itu tidak berlaku untuk Naresha, karena hari ini adalah awal dari sebuah kehancuran dari segala hal yang telah dirinya bangun dan pertahanan.

Di dalam sebuah ruangan kamar mewah berukuran besar yang didominasi oleh perpaduan warna putih dan hitam, terlihat sosok Naresha sedang mengembuskan napas panjang beberapa kali sambil menatap pantulan dirinya di kaca cermin meja rias.

“Kenapa jadi gini, sih? Aku masih mau bebas ke mana-mana, tapi kenapa sekarang justru kejebak di tempat ini … dan sebentar lagi malah akan segera nikah sama orang yang selama ini aku benci. Ya Tuhan, aku benar-benar ngerasa bingung banget sekarang,” batin Naresha, menggigit bibir bawahnya cukup kencang sambil mulai memberikan jambakan di rambut panjangnya—berusaha menghilangkan rasa pusing serta nyeri yang tiba-tiba saja melanda.

Beberapa menit berlalu, suara pintu masuk kamar sedang dibuka oleh seseorang dari arah luar terdengar, membuat Naresha spontan mengalihkan pandangan ke arah kanan, sebelum pada akhirnya merebahkan kepala di atas meja riasnya setelah melihat kehadiran sang mama di sana.

Gayatri yang telah rapi dengan balutan kebaya modern berwarna dusty pink melangkahkan kaki masuk ke dalam, menghampiri tempat sang anak semata wayang berada sekarang sambil mengukir senyuman manis penuh akan harapan.

“Sayang, kenapa?” tanya Gayatri dengan suara sangat lembut, seraya menggerakkan tangan untuk memberikan elusan di punggung Naresha yang sudah tertutupi oleh kebaya kutu baru modern berwarna putih, “Kamu harusnya hari ini bahagia, loh, bukan sedih kayak gini.”

Naresha diam sejenak, mengeratkan gigitan pada bibir bawahnya sebelum pada akhirnya secara perlahan-lahan mulai membuka suara—dengan masih dalam posisi yang sama. “Gimana aku mau bahagia, Ma? Mama sama papa aja maksa aku buat nikah secepat ini … aku masih muda banget, loh, Ma … Aku masih punya banyak hal yang pengin dikejar, dan … aku juga belum siap buat jadi istri … Apalagi buat cowok yang selama ini aku benci.”

Gayatri menghela napas pelan saat mendengar ucapan Naresha, lalu perlahan-lahan tetapi penuh kepastian mulai menggerakkan tangan untuk menyentuh dagu putrinya itu—membawanya naik agar menatap wajah serta matanya. “Kamu tahu, kan, kenapa Mama sama papa sampai ngelakuin hal ini? … Dan kami berdua nggak asal ambil keputusan, Sayang. Mama sama papa udah berdiskusi panjang-lebar soal ini dari beberapa bulan lalu … dan menurut Mama sama papa, cuma jalan ini yang bisa bimbing dan nyelamatin kamu dari semuanya.”

“Tapi, Ma—”

“Sayang … percaya sama Mama. Selama ini Mama nggak pernah, kan, ambil keputusan yang ngebuat kamu menderita? Kamu itu anak Mama … Mama mau yang terbaik buat kamu. Jadi, tolong, ya, kali ini kamu juga percaya sama Mama kayak sebelum-sebelumnya,” potong Gayatri, sorot matanya menunjukkan harapan serta kasih sayang sangat mendalam.

Naresha ingin kembali melancarkan proses, tetapi sesegera mungkin mengurungkan niat saat melihat sorot mata sang mama. Ia kembali menggigit bibir bawahnya cukup kencang, sebelum pada akhirnya dengan sangat pasrah menganggukkan kepala pelan sebagai jawaban.

Senyuman manis Gayatri kembali mengembang saat melihat anggukan yang telah diberikan oleh Naresha, kemudian dirinya mulai membantu sang anak untuk melanjutkan persiapan sebelum beberapa puluh menit lagi acara sakral pada pagi hari ini dimulai.

“Walaupun aku nerima pernikahan ini, tapi lihat aja … Kaizen, gue pastiin lu nyesel karena udah nikahin gue.”

•••

Suara langkah kaki beberapa orang sedang menuruni anak tangga terdengar memenuhi seluruh ruangan yang berada di dalam lantai satu sebuah rumah mewah nan megah, membuat Kaizen yang sedang mengobrol bersama sang kakak sontak mengalihkan pandangan.

Dari tempatnya berada, Kaizen dapat melihat sosok Naresha yang telah rapi mengenakan kebaya kutu baru modern berwarna putih sedang melangkah turun dengan ditemani oleh Gayatri di samping kanan.

Remaja laki-laki itu sempat terdiam beberapa saat dengan bibir merah mudanya sedikit terbuka, seakan dirinya sedang melihat seorang bidadari yang turun dari kayangan di depan sana. Namun, itu tidak berlangsung lama, karena Kaizen spontan membelalakkan mata sempurna kala tiba-tiba saja mendapatkan sikutan cukup kencang pada lengan kirinya.

Tanpa menunggu waktu lama, Kaizen refleks menoleh ke arah kiri, lantas memutar bola mata malas saat melihat Kenan Wiratma Atmaja—sang kakak kandung—tengah mengangkat kedua alis beberapa kali guna memberikan godaan kepada dirinya.

Kenan—seorang pria dewasa berumur 25 tahun yang memiliki rambut hitam panjang bermodelkan Messy Man-Bun—sontak terkekeh pelan saat melihat reaksi yang sedang ditunjukkan oleh sang adik kandung.

“Dek, katanya ceweknya jelek dan kamu mau karena terpaksa … tapi, kok, Kakak lihat dia cantik dan kamu … kelihatan terpana gitu?” goda Kenan dengan suara sangat pelan.

Kaizen tidak merespons godaan dari sang kakak, dan justru mengalihkan pandangan ke arah sang kakak ipar yang tengah asyik mengobrol bersama sang mama. “Kak Sela, ini sopirnya disumpel dulu mulutnya … bikin naik darah aja.”

Arsela Dianisa—perempuan cantik berumur 24 tahun yang memiliki potongan rambut panjang bermodelkan curtains—sontak menoleh ke arah Kaizen, sebelum pada akhirnya terkekeh geli saat melihat ekspresi yang sedang ditunjukkan oleh adik iparnya itu. “Aduh, Adik Iparku Yang Paling Ganteng Ini … sopirnya Kakak ngapain kamu, Ganteng?”

Pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Sela itu penuh akan godaan, tetapi Kaizen tidaklah mempermasalahkan akan hal itu, berbeda sekali saat sang kakak kandung yang melakukannya.

“Dia bikin aku lupa sama kalimat yang udah aku latih dari tadi pagi, Kak,” jawab Kaizen, suaranya terdengar sedikit manja—suara yang sangat jarang dirinya tunjukkan selain kepada tiga orang perempuan yang sangat dirinya percayai serta sayangi.

Sela segera mengalihkan pandangan ke arah sang suami setelah mendengar jawaban dari Kaizen. “Sayang, nggak boleh gitu, ih … nanti kalau acara ini gagal … nggak aku kasih jatah selama satu minggu, loh.”

Kenan spontan langsung terdiam saat mendengar ancaman yang telah diberikan oleh sang istri, tetapi tangannya bergerak memberikan pukulan pelan di paha sang adik kandung.

“Argh! Aduh sakit banget … aku bisa lumpuh ini nanti,” keluh Kaizen sambil memegangi serta memberikan elusan lembut di pahanya, agar Kenan benar-benar mendapatkan hukuman dari Sela.

Mendengar keluhan yang sedang diberikan oleh Kaizen, Kenan sontak melebarkan mata, lantas refleks memberikan elusan lembut di paha sang adik agar sang istri tercinta tidaklah marah kepadanya.

Meninggalkan tempat Kaizen, Naresha yang saat ini sedang berdiri di tengah-tengah kedua orang tuanya sontak memutar bola mata penuh rasa malas.

“Kekanak-kanakan banget … Kehidupanku ke depannya gimana? Ketemu waktu di sekolah aja udah buat muak, dan ini … harus ketemu dia setiap saat kalau kami berdua udah sah jadi suami-isteri,” batin Naresha, menggigit bibir bawah cukup kencang saat berbagai macam bayangan buruk tentang kehidupannya bersama Kaizen di masa depan mulai hadir dan berputar-putar di dalam benaknya.

Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama, lantaran Naresha segera kembali tersadar ke dunia nyata saat mendengar suara seorang pria paruh baya yang begitu sangat asing di telinganya.

“Kedua mempelai udah datang? Bisa kita mulai akadnya sekarang?” tanya pria paruh baya itu, menatap ke arah keluarga Kaizen dan Naresha berada sambil memperbaiki letak kacamatanya.

Ardan menatap ke arah Radit sejenak, seakan sedang memberikan kode kepada sahabat serta rekan bisnisnya itu sebelum pada akhirnya menganggukkan kepala pelan.

“Bisa, Pak Ustaz. Silahkan dimulai,” ucap Ardan penuh kemantapan. Suaranya terdengar tenang, meskipun di baliknya terselip emosi yang tak bisa sepenuhnya untuk ditebak—antara haru, cemas, dan juga merasa bersalah karena harus mengambil keputusan ini untuk membawa sang anak sulung kembali ke jalan yang benar.

Setelah mengatakan hal itu, Ardan, Radit, Kenan, dan tentu saja Kaizen melangkahkan kaki mendekati meja yang telah disiapkan beberapa jam lalu.

Kaizen mengembuskan napas panjang beberapa kali, sebelum pada akhirnya mendudukkan tubuh di hadapan pria paruh baya yang akan menjadi penghulu untuk pernikahannya pada pagi hari ini.

Beberapa detik kemudian, Naresha mulai mendudukkan tubuhnya di samping kanan Kaizen dengan dibantu serta dituntut oleh sang mama. Ia melirik sekilas ke arah cowok itu, sebelum pada akhirnya menundukkan kepala dan menggenggam erat kedua tangan di atas pangkuannya—berusaha tetap kuat lantaran tidak ingin homeschooling.

Genggaman pada kedua tangan Naresha semakin bertambah kuat, saat gadis berparas cantik itu mendengar sang papa mulai mengucapkan kalimat akad nikah dengan suara penuh ketegasan dan keyakinan.

“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Kaizen Wiratma Atmaja dengan putri saya, Naresha Ardhanari Renaya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 10 gram dibayar tunai.”

Hening sejenak sesudah Ardhan menyelesaikan kalimatnya.

Kaizen menarik napas sangat panjang, sebelum akhirnya mengeratkan genggaman pada tangan Ardhan dan mulai membuka suara. “Saya terima nikah dan kawinnya Naresha Ardhanari Renaya binti Ardhan Renaya dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Penghulu mengukir senyuman tipis dan mengalihkan pandangan ke arah para anggota keluarga Naresha dan Kaizen berada. “Bagaimana para saksi? Sah?”

“Sah!”

To be continued :)

Episodes
1 Ketua OSIS Vs Ketua Geng
2 Perjodohan
3 Pertemuan Tak Terduga
4 Rencana Menikah
5 Pernikahan Naresha—Kaizen
6 Tinggal Bersama
7 Tidur Bersama
8 Masalah Dompet
9 Berita Hangat
10 Kangen?
11 Perdebatan
12 Balas Dendam?
13 Lupa
14 Masalah Seragam Olahraga
15 Perdebatan Kecil
16 Laporan Tak Terduga
17 Hukuman Selesai
18 Party
19 Berangkat Bareng
20 Gosip?
21 Handphone Kaizen
22 Meeting Dadakan
23 Permintaan Mama
24 Perjanjian
25 Bertemu Kakek-Nenek Naresha
26 Dinner
27 Naresha VS Elvira
28 Setelah Acara
29 Sarapan Bersama
30 kopi Dari Kaizen
31 Sedikit Perbedaan
32 Laporan Naresha
33 Reaksi Kaizen
34 Naresha Sakit?
35 Kekhawatiran Kaizen
36 Naresha Yang Manja
37 Kedatangan Sekar Dan Sela
38 Pelukan
39 Kembali Seperti Semula
40 Pujian Untuk Kaizen
41 Kekhawatiran Naresha?
42 Sedikit Curiga
43 Kembali Seperti Semula
44 kalung
45 Penyelidikan
46 Cewek Gue?
47 Kaizen Sakit
48 Perubahan?
49 Kekhawatiran
50 Kejadian Tidak Terduga
51 Pernyataan
52 Kebersamaan
53 Hadiah
54 Mandi Bareng
55 Pelukan Pembawa Kenikmatan
56 Keputusan Naresha
57 Sarapan Penuh Cinta
58 Hukuman?
59 Obrolan Dewasa
60 Double date?
61 Kenikmatan Untuk Kaizen Dan Naresha
62 Pagi Setelah Kenikmatan
63 Taruhan Manis
64 Cemburu
65 Papi Kaizen
66 Kaizen Yang Posesif
67 Shopping
68 Keromantisan Kaizen Dan Naresha
69 Chat Manja
70 Cidera
71 Kaizen Posesif
72 Kangen Mabuk
73 Tanda Cinta
74 Ulang Tahun
75 Kekhawatiran Naresha
76 Janji
77 Sumpah Kaizen
78 Bentuk Cemburu
79 Ulang Tahun Keenan
80 Pijitan Kaizen
81 Masalah Handphone
82 Cemburu
83 Ketua Valefor Yang Posesif
84 Kaizen Yang Manja
85 Girls day
86 10 Oktober?
87 Kemesraan Di Pagi Hari
88 Pertandingan Final
89 Rencana
90 Ulang Tahun Kaizen-Naresha
91 Ide
92 Heboh
93 jujur
94 Overprotektif
95 Manja
96 Anak?
97 Live streaming
98 Pagi Yang Indah
99 Console game
100 Olahraga
101 Setelah Malam Panjang
102 Kedatangan Kaizen
103 Mabuk
104 Harapan
105 Malam Panjang
106 Pusing
107 Bucin
108 Malu
109 Obrolan Penting
110 Keputusan Naresha
111 Penjelasan Naresha
112 Berendam Bersama
113 Pelukan Manja
114 Pamer Suami
115 Bucin Di Kantin
116 Peluk Dan Cium
117 Mesum?
118 Setelah Cuddle
119 Masakan Kaizen
120 Olahraga Panjang
121 Imut Dan Cantik
122 Tanda merah
123 Pangeran
124 Mantan?
125 Mantan Naresha?
126 Mimpi Buruk
127 Minum Susu
128 Keceplosan
129 Minum Susu Lagi?
130 Malu
131 Kaizen Si Pemikat Wanita
132 Cemburu
133 Olahraga
134 Nakal Di Ruangan Mertua
135 Ketahuan
136 Godaan dan Ancaman
137 Kaizen Yang Random
138 Serangan Pagi Hari
139 Kaus Kaizen
140 Godaan Naresha
141 Tingkah Naresha
142 Teror
143 Godaan Naresha
144 Masak Bersama
145 Rapat penting
146 Rencana Gila
147 Kekhawatiran Naresha
148 Drama
149 Naresha Mode Perawat
150 Pembalasan
151 Luka Tusuk
152 Permintaan Nael
153 Godaan Pagi Hari
154 Kebahagiaan?
155 Akhir Dari Semuanya
Episodes

Updated 155 Episodes

1
Ketua OSIS Vs Ketua Geng
2
Perjodohan
3
Pertemuan Tak Terduga
4
Rencana Menikah
5
Pernikahan Naresha—Kaizen
6
Tinggal Bersama
7
Tidur Bersama
8
Masalah Dompet
9
Berita Hangat
10
Kangen?
11
Perdebatan
12
Balas Dendam?
13
Lupa
14
Masalah Seragam Olahraga
15
Perdebatan Kecil
16
Laporan Tak Terduga
17
Hukuman Selesai
18
Party
19
Berangkat Bareng
20
Gosip?
21
Handphone Kaizen
22
Meeting Dadakan
23
Permintaan Mama
24
Perjanjian
25
Bertemu Kakek-Nenek Naresha
26
Dinner
27
Naresha VS Elvira
28
Setelah Acara
29
Sarapan Bersama
30
kopi Dari Kaizen
31
Sedikit Perbedaan
32
Laporan Naresha
33
Reaksi Kaizen
34
Naresha Sakit?
35
Kekhawatiran Kaizen
36
Naresha Yang Manja
37
Kedatangan Sekar Dan Sela
38
Pelukan
39
Kembali Seperti Semula
40
Pujian Untuk Kaizen
41
Kekhawatiran Naresha?
42
Sedikit Curiga
43
Kembali Seperti Semula
44
kalung
45
Penyelidikan
46
Cewek Gue?
47
Kaizen Sakit
48
Perubahan?
49
Kekhawatiran
50
Kejadian Tidak Terduga
51
Pernyataan
52
Kebersamaan
53
Hadiah
54
Mandi Bareng
55
Pelukan Pembawa Kenikmatan
56
Keputusan Naresha
57
Sarapan Penuh Cinta
58
Hukuman?
59
Obrolan Dewasa
60
Double date?
61
Kenikmatan Untuk Kaizen Dan Naresha
62
Pagi Setelah Kenikmatan
63
Taruhan Manis
64
Cemburu
65
Papi Kaizen
66
Kaizen Yang Posesif
67
Shopping
68
Keromantisan Kaizen Dan Naresha
69
Chat Manja
70
Cidera
71
Kaizen Posesif
72
Kangen Mabuk
73
Tanda Cinta
74
Ulang Tahun
75
Kekhawatiran Naresha
76
Janji
77
Sumpah Kaizen
78
Bentuk Cemburu
79
Ulang Tahun Keenan
80
Pijitan Kaizen
81
Masalah Handphone
82
Cemburu
83
Ketua Valefor Yang Posesif
84
Kaizen Yang Manja
85
Girls day
86
10 Oktober?
87
Kemesraan Di Pagi Hari
88
Pertandingan Final
89
Rencana
90
Ulang Tahun Kaizen-Naresha
91
Ide
92
Heboh
93
jujur
94
Overprotektif
95
Manja
96
Anak?
97
Live streaming
98
Pagi Yang Indah
99
Console game
100
Olahraga
101
Setelah Malam Panjang
102
Kedatangan Kaizen
103
Mabuk
104
Harapan
105
Malam Panjang
106
Pusing
107
Bucin
108
Malu
109
Obrolan Penting
110
Keputusan Naresha
111
Penjelasan Naresha
112
Berendam Bersama
113
Pelukan Manja
114
Pamer Suami
115
Bucin Di Kantin
116
Peluk Dan Cium
117
Mesum?
118
Setelah Cuddle
119
Masakan Kaizen
120
Olahraga Panjang
121
Imut Dan Cantik
122
Tanda merah
123
Pangeran
124
Mantan?
125
Mantan Naresha?
126
Mimpi Buruk
127
Minum Susu
128
Keceplosan
129
Minum Susu Lagi?
130
Malu
131
Kaizen Si Pemikat Wanita
132
Cemburu
133
Olahraga
134
Nakal Di Ruangan Mertua
135
Ketahuan
136
Godaan dan Ancaman
137
Kaizen Yang Random
138
Serangan Pagi Hari
139
Kaus Kaizen
140
Godaan Naresha
141
Tingkah Naresha
142
Teror
143
Godaan Naresha
144
Masak Bersama
145
Rapat penting
146
Rencana Gila
147
Kekhawatiran Naresha
148
Drama
149
Naresha Mode Perawat
150
Pembalasan
151
Luka Tusuk
152
Permintaan Nael
153
Godaan Pagi Hari
154
Kebahagiaan?
155
Akhir Dari Semuanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!