4. Bab 4

...“Baru hari pertama masuk kerja… dan sudah harus menghadapi badai,”...

...-Revana-...

Saat Adrian dan ibu Revana sedang berbincang, Revana datang membawa kantong berisi makanan. Ia baru saja keluar sebentar untuk membelikan makanan untuk ibunya.

"Ibu, ini Revana bawakan makanan. Ibu pasti lapar, kan?" kata Revana dengan tersenyum, lalu senyum Revana memudar saat melihat Adrian duduk di samping ibunya. Ia terkejut dan bingung dengan kehadiran pria itu.

"Pak Adrian? Sedang apa Bapak di sini?" kata revana dengan nada bingung.

Adrian dan ibu Revana menoleh ke arah Revana. Adrian tersenyum canggung, sementara ibu Revana tampak lega melihat putrinya datang.

"Revana, Nak, ini Pak Adrian datang menjenguk ayahmu. Beliau sangat baik sudah mau meluangkan waktunya." jawab Bu Mira ramah.

Revana menatap Adrian dengan tatapan menyelidik. "Oh, begitu. Terima kasih, Pak, sudah datang."

Revana meletakkan kantong makanan di kursi dan duduk di samping ibunya. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Adrian. Ia takut pria itu akan mengatakan sesuatu yang aneh di depan ibunya.

"Saya hanya ingin memberikan dukungan kepada kalian. Saya tahu ini adalah masa yang sulit bagi kalian." sahut Adrian canggung.

"Saya tidak menyangka Bapak punya waktu untuk hal-hal seperti ini. Bukankah Bapak sangat sibuk?" Revana menatap Adrian menyelidik.

Adrian menghela napas. "Saya memang sibuk, tapi saya selalu punya waktu untuk orang-orang yang saya pedulikan."

Revana terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia merasa bingung dengan sikap Adrian yang tiba-tiba menjadi perhatian.

Bu Mira menatap keduanya bergantian, senyum tipis terulas di kedua sudut bibirnya. "Sudahlah, Nak, jangan begitu. Pak Adrian sudah baik mau datang. Sebaiknya kita tawarkan beliau minum atau makan sesuatu." ucap Bu Mira mencairkan suasana.

"Baiklah, Bu." balas Revana enggan.

Revana menawarkan Adrian minuman dan makanan yang ia bawa. Adrian menerima tawaran itu dengan senang hati.

Suasana di ruang tunggu menjadi canggung dan tegang. Revana merasa tidak nyaman dengan tatapan Adrian yang terus mengarah padanya. Ia berusaha menghindari kontak mata dengan pria itu.

Tiba-tiba, seorang dokter keluar dari ruang operasi. Revana, ibunya, dan Adrian langsung berdiri menghampiri dokter itu.

"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Pasien sekarang sedang dipindahkan ke ruang pemulihan." Dokter itu berucap sambil tersenyum lega.

Revana dan ibunya langsung saling memeluk dengan haru. Mereka sangat bersyukur karena operasi ayah Revana berjalan sukses.

"Terima kasih banyak, Dokter sudah menyelamatkan ayah saya." ucap Revana dengan mata berkaca-kaca.

Dokter tersenyum hangat. "Sama-sama. Ini sudah menjadi tugas saya. Sekarang, kalian bisa melihat pasien di ruang pemulihan setelah ia sadar."

Revana dan ibunya mengangguk senang. Mereka tidak sabar untuk melihat ayah Revana dan memastikan keadaannya baik-baik saja.

Adrian juga tersenyum lega melihat kebahagiaan di wajah Revana. Ia merasa senang karena bisa memberikan dukungan kepada gadis itu.

"Saya ikut senang mendengar kabar baik ini, Revana. Semoga ayahmu segera pulih." ucap Adrian tulus.

Revana menatap Adrian dengan tatapan lembut. "Terima kasih, Pak. Bapak sudah banyak membantu kami."

Setelah itu, Revana dan ibunya berpamitan kepada Adrian dan pergi menuju ruang pemulihan. Adrian menatap kepergian Revana dengan tatapan penuh harap. Ia berharap, setelah ini, hubungan mereka bisa menjadi lebih baik.

☘️☘️

Setelah beberapa minggu penuh kekhawatiran, akhirnya senyum kembali menghiasi wajah Revana. Ayahnya berangsur pulih, dan kedua orang tuanya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Mereka merasa, suasana tenang di desa akan lebih mendukung proses pemulihan sang ayah. Berat bagi Revana melepas mereka, namun ia mengerti, yang terpenting adalah kesehatan ayahnya. Kini, Revana kembali sendiri di rumahnya, siap untuk kembali beraktivitas.

Suasana kantor pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Begitu Revana melangkah masuk, aroma kopi hangat di pantry tak mampu menutupi hawa tegang yang menyelimuti ruangan. Langkah kakinya sempat terhenti ketika terdengar suara keras dari ruang rapat besar di lantai dua.

“Kenapa laporan ini bisa berantakan begini?!” suara Adrian, sang CEO, menggema. Nada suaranya tajam, menusuk telinga siapa pun yang mendengarnya.

Beberapa karyawan yang lalu-lalang hanya bisa saling pandang. Wajah mereka jelas menunjukkan kecemasan. Revana, yang baru kembali setelah seminggu absen karena merawat ayahnya, merasakan degupan jantungnya semakin cepat.

“Sepertinya… aku datang di saat yang salah,” gumamnya lirih, sambil menarik napas panjang.

Tak menunggu lama, ia mengetuk pintu ruang rapat. Pintu terbuka, memperlihatkan Adrian yang berdiri di ujung meja dengan wajah merah padam. Beberapa kepala divisi tertunduk, seolah takut untuk menatap langsung.

“Kalau begini terus, jangan harap perusahaan ini bisa bertahan! Minggu depan kita sudah harus presentasi ke investor, tapi laporan keuangan dan progres proyek malah penuh dengan data tidak sinkron. Ini keterlaluan!”

“Maaf, Pak… mungkin ada kesalahan input dari tim saya. Kami akan segera perbaiki—” Raka, salah satu kepala divisi keuangan berusaha menjelaskan.

namun dengan cepat Adrian menyela penuh penegasan. “SEGERA?! Seharusnya ini sudah selesai dari kemarin, Raka! Jangan memberi saya alasan basi.”

Revana memberanikan diri masuk, berdiri dengan sopan di dekat pintu.

“Permisi, Pak Adrian… saya sudah kembali bekerja hari ini.”

Adrian sempat menoleh. Wajahnya masih tegang, namun sorot matanya berubah sedikit ketika melihat Revana.

“Kamu akhirnya masuk juga. Baik. Duduk di meja kerjamu. Aku butuh semua data dari divisi dikompilasi ulang, bersih, rapi, sebelum jam lima sore. Pastikan semua tim melaporkan ke kamu.”

Revana mengangguk, meski dalam hatinya sedikit gugup.

“Baik, Pak. Saya akan urus.” jawab Revana.

Adrian lalu kembali menatap para kepala divisi dengan dingin.

“Dan kalian semua, mulai sekarang Revana yang akan jadi filter laporan. Tidak ada lagi data mentah masuk ke meja saya tanpa dicek olehnya. Mengerti?”

Serentak semua menjawab, “Mengerti, Pak.”

Revana melangkah keluar, masih bisa mendengar suara pintu rapat tertutup keras di belakangnya. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri.

“Baru hari pertama masuk kerja… dan sudah harus menghadapi badai,” bisiknya sambil menyalakan komputer.

Para kepala divisi keluar dari ruang rapat dengan wajah muram. Beberapa menghela napas panjang, sebagian lain menggerutu pelan. Revana yang baru saja menata dokumennya di meja ikut menoleh.

“Gila… marahnya kayak singa lepas kandang.” ucap Raka lirih sambil berjalan.

“Ya salah siapa? Laporan keuangan nggak rapi, jadinya kita semua kena semprot.” sahut Dina, kepala divisi pemasaran.

Raka melirik Revana. “Sekarang sih semua dilempar ke sekretaris kesayangan bos.”

Revana terdiam. Ia menatap mereka sekilas, kemudian memilih tersenyum tipis.

“Saya hanya menjalankan perintah. Kalau memang semua data harus lewat Saya dulu, berarti saya juga butuh kerja sama kalian. Kalau tidak… kita semua yang kena omel.” jawab Revana.

Dina menatap Revana sejenak, lalu mengangguk.

“Ya sudah. Saya harap kamu bisa bekerja sama dengan baik Rev.”

“Baik Bu Dina, Saya mengerti. Jadi, mulai siang ini, kirimkan semua laporan ke saya. Saya akan rangkum dan cek ulang sebelum sampai ke Pak Adrian.”

Para kepala divisi saling berpandangan. Meski awalnya enggan, mereka akhirnya setuju.

Beberapa jam kemudian, tumpukan dokumen dan file digital memenuhi meja Revana. Tangannya sibuk mengetik, matanya fokus membaca data demi data. Sekali-sekali ia menyesap kopi hitam yang sudah hampir dingin.

Adrian keluar dari ruangannya. Wajahnya masih serius, tapi kali ini tanpa teriakan. Ia berdiri di dekat meja Revana, memperhatikan.

“Kamu baru saja kembali, tapi langsung dibebani hal sebesar ini. Keberatan?”

Revana berhenti mengetik, lalu menatap bosnya itu dengan tenang.

“Tidak, Pak. Justru saya senang bisa membantu. Lagipula… setelah seminggu absen, saya merasa harus menebus banyak hal yang tertinggal.”

Adrian menatapnya cukup lama, lalu menarik napas.

“Hm. Baik. Pastikan semua selesai sebelum jam lima. Investor butuh data yang rapi. Aku tidak mau ada celah.”

Revana menatap Adrian ragu.“Baik, Pak. Bisa saya tanyakan sesuatu?”

“Apa?”

“Kalau semua laporan masuk ke saya dulu, berarti saya juga perlu wewenang untuk menolak laporan yang tidak sesuai. Apakah saya bisa mendapatkan izin langsung dari Bapak?”

Adrian menaikkan alisnya. Sorot matanya sempat berubah, seolah menimbang permintaan itu. Lalu, tanpa ragu ia mengangguk.

“Kamu berani sekali. Tapi itu bagus. Anggap saja mulai hari ini, kau bukan hanya sekretaris, tapi juga quality control. Jangan buat aku menyesal mempercayaimu.”

Revana menahan senyum. “Terima kasih, Pak.”

Adrian menatapnya sekali lagi, lalu kembali masuk ke ruangannya. Meski pintu tertutup, Revana masih bisa merasakan atmosfer tegas yang mengitari pria itu. Tapi di sisi lain, ada rasa aneh—seolah Adrian mulai menunjukkan bahwa ia benar-benar mengandalkan dirinya.

Revana menghela napas panjang.

“Ini baru hari pertama… tapi aku merasa, badai yang sebenarnya belum benar-benar datang.”

Terpopuler

Comments

Sri Yekti

Sri Yekti

semangar Revana....

2026-08-17

0

Dehan_1

Dehan_1

semoga kamu bisa hadapi semua badai yg akan datang Rev...💪

2025-12-31

0

lihat semua
Episodes
1 1. Bab 1
2 2. Bab 2.
3 3. Bab 3
4 4. Bab 4
5 5. Bab 5
6 6. Bab 6
7 7. Bab 7
8 8. Bab 8
9 9. Bab 9
10 10. Bab 10
11 11. Bab 11
12 12. Bab 12.
13 13. Bab 13
14 14. Bab 14.
15 15. Bab 15
16 16. Bab 16
17 17. Bab 17
18 18. Bab 18
19 19. Bab 19
20 20. Bab 20
21 21. Bab 21
22 22. Bab 22
23 23. Bab 23
24 24. Bab 24
25 25. Bab 25
26 26. Bab 26
27 27. Bab 27
28 28. Bab 28
29 29. Bab 29
30 30. Bab 30
31 31. Bab 31.
32 32. Bab 32
33 33. Bab 33
34 34. Bab 34
35 35. Bab 35
36 36. Bab 36
37 37. Bab 37
38 38. Bab 38
39 39. Bab 39
40 40. Bab 40
41 41. Bab 41
42 42. Bab 42
43 43. Bab 43
44 44. Bab 44
45 45. Bab 45
46 46. Bab 46
47 47. Bab 47
48 48. Bab 48
49 49. Bab 49
50 50. Bab 50
51 51. Bab 51
52 52. Bab 52
53 53. Bab 53
54 54. Bab 54
55 55. Bab 55
56 56. Bab 56
57 57. Bab 57
58 58. Bab 58
59 59. Bab 59
60 60. Bab 60
61 61. Bab 61
62 62. Bab 62
63 63. Bab 63
64 64. Bab 64
65 65. Bab 65
66 66. Bab 66
67 67. Bab 67
68 68. Bab 68
69 69. Bab 69
70 70. Bab 70
71 71. Bab 71
72 72. Bab 72
73 73. Bab 73
74 74. Bab 74
75 75. Bab 75
76 76. Bab 76
77 77. Bab 77
78 78. Bab 78
79 79. Bab 79
80 80. Bab 80
81 81. Bab 81
82 82. Bab 82
83 83. Bab 83
84 84. Bab 84
85 85. Bab 85
86 86. Bab 86
87 87. Bab 87
88 88. Bab 88
89 89. Bab 89
90 90. Bab 90
91 91. Bab 91
92 92.Bab 92
93 93. Bab 93
94 94. Bab 94
95 95. Bab 95
96 96. Bab 96
97 97. Bab 97
98 98. Bab 98
99 99. Bab 99
100 100. Bab 100
101 101. Bab 101
102 102. Bab 102
103 103. Bab 103
104 104. Bab 104
105 105. Bab 105
106 106. Bab 106
107 107. Bab 107
108 108. Bab 108
109 109. Bab 109
110 110 Bab 110
111 111. Bab 111
112 112. Bab 112
113 113. Bab 113
114 114. Bab 114
115 115. Bab 115
116 116. Bab 116
117 117.Bab 117
118 118. Bab 118
Episodes

Updated 118 Episodes

1
1. Bab 1
2
2. Bab 2.
3
3. Bab 3
4
4. Bab 4
5
5. Bab 5
6
6. Bab 6
7
7. Bab 7
8
8. Bab 8
9
9. Bab 9
10
10. Bab 10
11
11. Bab 11
12
12. Bab 12.
13
13. Bab 13
14
14. Bab 14.
15
15. Bab 15
16
16. Bab 16
17
17. Bab 17
18
18. Bab 18
19
19. Bab 19
20
20. Bab 20
21
21. Bab 21
22
22. Bab 22
23
23. Bab 23
24
24. Bab 24
25
25. Bab 25
26
26. Bab 26
27
27. Bab 27
28
28. Bab 28
29
29. Bab 29
30
30. Bab 30
31
31. Bab 31.
32
32. Bab 32
33
33. Bab 33
34
34. Bab 34
35
35. Bab 35
36
36. Bab 36
37
37. Bab 37
38
38. Bab 38
39
39. Bab 39
40
40. Bab 40
41
41. Bab 41
42
42. Bab 42
43
43. Bab 43
44
44. Bab 44
45
45. Bab 45
46
46. Bab 46
47
47. Bab 47
48
48. Bab 48
49
49. Bab 49
50
50. Bab 50
51
51. Bab 51
52
52. Bab 52
53
53. Bab 53
54
54. Bab 54
55
55. Bab 55
56
56. Bab 56
57
57. Bab 57
58
58. Bab 58
59
59. Bab 59
60
60. Bab 60
61
61. Bab 61
62
62. Bab 62
63
63. Bab 63
64
64. Bab 64
65
65. Bab 65
66
66. Bab 66
67
67. Bab 67
68
68. Bab 68
69
69. Bab 69
70
70. Bab 70
71
71. Bab 71
72
72. Bab 72
73
73. Bab 73
74
74. Bab 74
75
75. Bab 75
76
76. Bab 76
77
77. Bab 77
78
78. Bab 78
79
79. Bab 79
80
80. Bab 80
81
81. Bab 81
82
82. Bab 82
83
83. Bab 83
84
84. Bab 84
85
85. Bab 85
86
86. Bab 86
87
87. Bab 87
88
88. Bab 88
89
89. Bab 89
90
90. Bab 90
91
91. Bab 91
92
92.Bab 92
93
93. Bab 93
94
94. Bab 94
95
95. Bab 95
96
96. Bab 96
97
97. Bab 97
98
98. Bab 98
99
99. Bab 99
100
100. Bab 100
101
101. Bab 101
102
102. Bab 102
103
103. Bab 103
104
104. Bab 104
105
105. Bab 105
106
106. Bab 106
107
107. Bab 107
108
108. Bab 108
109
109. Bab 109
110
110 Bab 110
111
111. Bab 111
112
112. Bab 112
113
113. Bab 113
114
114. Bab 114
115
115. Bab 115
116
116. Bab 116
117
117.Bab 117
118
118. Bab 118

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!