Putus Sekolah

Satu bulan telah berlalu. Suasana kehilangan Ana dan Edwin di dalam rumah sudah mulai tak begitu membuat Yuka, Edward, dan Imah larut dalam kesedihan.

Beberapa hari yang lalu, Edward menerima surat pengumuman dari sebuah majalah remaja yang menyatakan bahwa ia lulus dalam pemilihan Cover Boy majalah tersebut. Ia diharuskan mengikuti karantina selama satu bulan untuk mengikuti tahap berikutnya.

Edward memang pernah iseng-iseng mengirimkan foto-fotonya ke redaksi majalah tersebut, dan ia benar-benar tak mengingat hal itu. Ketika menerima surat pengumuman tersebut, Edward sendiri seolah tak percaya jika ia bisa lulus menjadi semi finalis, mengingat yang mengikuti ajang tersebut pastilah ribuan orang.

Edward menanggapi pengumuman itu biasa saja seolah bukan hal yang terlalu istimewa.

“Mas?”

Imah memasuki kamar Edward, ia memanggil Edward yang terlihat bengong tanpa melakukan apapun di kamar.

“Eh, kenapa, Mbak?”

“Kok bengong?”

“Bingung. Besok ... aku akan pergi untuk karantina.”

“Karantina untuk pemilihan Cover Boy itu, Mas? Kok bingung, bukannya senang?”

“Aku bingung. Kalau aku pergi karantina selama sebulan, gimana dengan Mbak Imah sama satu anak menyebalkan itu?”

“Mas ... pergi aja. Mbak Imah kan udah terbiasa mengurus Yuka. Siapa tahu Mas Edward bisa jadi pemenangnya, lumayan kan? Bisa jadi fotomodel terkenal, jadi artis, apalagi ... Mas Edward ganteng kayak bule, udah gitu tinggi. Mbak yakin pasti Mas Edward menang,” jawab Imah antusias membayangkan jika majikannya akan menjadi model terkenal dan ia menjadi managernya. Membayangkan hal itu membuat Imah tersenyum-senyum sendiri.

“Iya deh. Doain menang, Mbak. Kalau aku menang ... aku bisa menghasilkan uang untuk Mbak sama ...,” Edward terdiam sesaat, kemudian melanjutkan kalimatnya, “Yuka.”

“Pasti Mbak Imah doain, Mas. Allah juga akan membantu umatnya yang mau berusaha. Mas jangan pernah menyerah.”

***

Sudah beberapa hari Edward pergi ke daerah Bandung untuk mengikuti karantina dari pemilihan cover boy majalah TOP TEEN.

Semua lawan yang dihadapinya memiliki nilai plus di atas rata-rata, bahkan ia merasa dirinya tak ada apa-apanya dibandingkan yang lain. Meski tinggi badannya merupakan salah satu yang tertinggi di antara lainnya, ia masih belum percaya diri.

Edward meninggalkan rumah dengan berat hati dan perasaan khawatir. Meski mulutnya selalu berkata kasar pada Yuka, dalam hati kecilnya ia begitu memerhatikan Yuka.

Sifat labilnya terkadang timbul jika mengingat kematian Ana, ia terkadang menyalahkan Yuka. Ia selalu berkata kepada Yuka, jika bukan karena menikahi ayahnya, maka ibunya Edward tak akan mungkin meninggalkannya.

Lagi-lagi Edward akan tersadar dan menyesal setelah melihat wajah Yuka yang memerah menahan tangis ketika dimarahi olehnya.

Edward sendiri sudah hampir dua bulan meninggalkan bangku sekolah. Tak ada lagi gairah untuk menuntut ilmu, yang ada di pikirannya saat ini, ia harus menghasilkan uang apapun caranya agar bisa menghidupi kebutuhan sehari-hari yang semakin lama semakin mahal.

Ia pun berpikir, uang tabungan yang ada peninggalan ayah tirinya lambat laun pasti akan habis, sedangkan keadaan perusahaan masih juga belum stabil. Ia tak mau dirinya, Imah, dan Yuka semakin terpuruk. Ia laki-laki juga seorang kepala keluarga, bagaimana mungkin ia membiarkan keluarga kecilnya menderita dan terpuruk dalam kesusahan? Tidak! Ia tak akan membiarkannya.

Saat sedang istirahat, Edward memutuskan keluar dari dalam ruangan.

Ia menghampiri seorang satpam penjaga gedung dan meminta sebatang rokok milik satpam tersebut. Satpam itu tak berkedip memandang Edward. Edward merasa risih diperhatikan seperti itu.

“Ada apa, Pak?” tanya Edward sambil menyulut rokok dan melirik satpam itu dengan ujung ekor matanya.

“Nggak ada apa-apa. Cuma dari sekian semi finalis yang saya lihat, Mas paling tinggi di antara mereka, belum lagi postur tubuhnya proporsional, wajahnya juga ganteng kayak bule. Saya sama Mas, kalah tinggi.”

Satpam itu ternyata terkagum-kagum melihat tubuh Edward yang tinggi tegap ditunjang wajah indo yang diwariskan Ana dan Ayah kandungnya.

“Bisa aja si Bapak. Banyak kok yang lebih dari saya. Saya kalau nggak memikirkan keluarga, nggak mau ikut karantina begini. Awalnya saya cuma iseng-iseng aja kirim foto,”-Edward berhenti sejenak dan mengisap rokok yang berada di antara sela jarinya, kemudian kembali melanjutkan kata-katanya-“saya berat meninggalkan keluarga saya di rumah.”

“Lho, Mas ini udah berkeluarga?” tanya satpam itu dengan mimik heran.

“Belum. Saya memikirkan adik saya dan pembantu setia saya, yang saya tinggalkan di rumah. Orangtua saya udah meninggal sebulan yang lalu. Saya harus bisa berpikir untuk menjadi berguna.”

“Jadi ... Mas tulang punggung?”

“Bukan sekedar tulang punggung, saya juga kepala keluarga.”

“Hebat,” ujar satpam itu. Ia terlihat kagum dengan gaya bicara Edward yang terlihat sangat dewasa. Hanya sejak pertama ia berbicara, tak sekalipun ia melihat Edward tertawa ataupun tersenyum. “Sudah lama merokok, Mas?”

“Dulu saya nggak merokok, nggak boleh sama mendiang Ibu. Karena stres-lah yang membuat saya merokok. Alasan klise ya, merokok menjadi alasan untuk kata ‘stres’. Mau gimana lagi ... saya belum siap.”

“Hidup itu seperti sebuah teka-teki. Kita nggak akan pernah bisa menebak dengan tepat jika nggak berpikir keras lebih dahulu. Jangan menyerah, karena pertarungan yang sesungguhnya baru dimulai ...”

“Maksudnya?”

“Ya, maksud saya ... pertarungan akan segera dimulai setelah selesai masa karantina. Jika saja Mas berhasil meraih juara, tentu untuk ke depannya, masa depan Mas sudah bisa dipastikan cerah. Setahu saya, para pemenang yang sebelumnya sudah menjadi model dan aktor terkenal lho."

"Majalah ini majalah bergengsi, siapapun akan melirik Mas jika sudah berhasil memenangkan kompetisi ini. Tak perlu menjadi juara satu, menjadi finalis saja sudah dilirik oleh Production House, rumah-rumah mode, dan akan ada banyak tawaran iklan maupun sinetron. Saya yakin, Mas pasti bisa memenangkannya.”

“Aamin. Semoga aja.”

Cukup lama Edward berbincang-bincang dengan satpam tersebut, hingga waktu istirahat pun berakhir dan ia harus kembali ke dalam ruangan untuk mengikuti latihan lainnya. Edward mematikan puntung rokok kedua yang dimintanya dari satpam tersebut sebelum masuk ke dalam ruangan.

Di waktu senggangnya terkadang Edward menyempatkan diri menelpon ke rumah menanyakan keadaan Imah dan Yuka. Imah mengabarkan jika dua hari yang lalu, Yuka sempat panas dan kejang-kejang, Imah membawanya ke klinik terdekat dan keesokkan harinya keadaan Yuka membaik.

Edward memberitahu jika beberapa hari lagi penentuan akan disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta. Imah terdengar begitu senang dan ia mengatakan jika ia dan Yuka tak akan melewatkan acara tersebut.

Beberapa peserta karantina tampak kurang menyukai Edward dan menganggapnya saingan yang sangat berat.

Latihan sudah selesai beberapa jam yang lalu, Edward kini berada di dalam mess bersama peserta-peserta lainnya. Ia masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri sejenak di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang entah ke mana.

Teman sekamarnya menyapa Edward namun Edward tak menggubris. Ia sibuk dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Hey! Melamun?”

Edward baru tersadar ketika bahunya ditepuk agak kencang oleh teman sekamarnya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Sebentar lagi waktu makan malam, kamu nggak mau makan?”

“Nanti aja. Masih capek,” jawab Edward singkat.

“O.K. Aku duluan ya. Nggak tanggungjawab kalau makannya keburu habis,” canda teman sekamarnya.

“Nggak apa-apa.”

Edward memandangi punggung teman sekamarnya yang berbalik dan berjalan menuju pintu kemudian menghilang saat pintu kembali tertutup.

Ia jenuh, sangat jenuh. Ia ingin pulang, namun tugasnya masih belum selesai. Ya, setidaknya tinggal beberapa hari lagi, setelah penentuan hasil maka ia bisa pulang.

Mempelajari cara berjalan di catwalk, belajar akting, dan menunjukkan bakat yang dimilikinya—kebetulan ia suka menyanyi.

Saat diminta menunjukkan bakat apa yang akan ditunjukkan di depan penonton saat hari ‘H’ berlangsung, Edward hanya menjawab jika ia akan memainkan sebuah gitar dan bernyanyi di atas panggung.

Perlahan ia bangkit dari tempat tidur dan mengintip keluar melalui jendela. Keadaan di luar begitu sepi, lapangan basket yang berada di tengah-tengah pun terlihat lengang—tak seperti biasanya—ia melihat terkadang beberapa kawan-kawan sekarantinanya bermain basket di sana saat acara bebas setelah makan malam. Ia berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar.

Edward melewati ruang makan yang tampak ramai oleh kawan-kawannya yang sedang makan sambil bercakap-cakap dan berjalan keluar menuju ke arah lapangan basket.

Sebuah bola basket teronggok tak tersentuh di atas sebuah pot besar yang berada tak jauh dari lapangan.

Ia mengambilnya dan mulai men-dribble bola tersebut. Kenangan itu muncul secara tiba-tiba—kenangan sewaktu ia dan Ayah kandungnya—bermain bersama dengannya di sebuah lapangan dekat rumahnya.

Segalanya seolah kembali ke kenangan beberapa tahun silam.

Terang ... suasana lapangan yang tadinya gelap mendadak terang dan cahaya lampu menyorot ke arah dirinya dan ... Ayah?

Edward kecil berlari mendekap bola basket yang berada di dalam pelukannya, seorang pria tinggi, bertubuh kekar, memakai kaos dan celana panjang trainning, serta berwajah seperti orang-orang timur tengah mengejarnya di belakang. “Hey ... jangan curang seperti itu, berikan bolanya pada Ayah, ayolah ... Edward!”

Edward kecil tertawa terbahak-bahak dan tetap mendekap bola itu di dadanya. Pria itu mendapatkan dirinya dan memeluk dengan erat, membiarkan Edward kecil meronta-ronta di dalam dekapannya.

“Aku tak mau memberikan bola ini kepada Ayah, karena ... pasti aku tak bisa mendapatkan kembali bola ini jika Ayah yang memainkannya.”

“Hey ... jangan curang. Hahaha ... kamu harus berusaha, sesulit apapun kamu harus bisa mendapatkannya, Sayang.”

Edward terus meronta kemudian melempar bola itu sehingga teerpental jauh dan lepas dari genggamannya. Ayahnya terus menggelitiki tubuh Edward sehingga keduanya terjatuh di atas lantai bersemen di lapangan basket. Keduanya berguling-guling sambil tertawa.

Napas Edward terengah-engah kecapaian karena tertawa dan berusaha melepaskan diri dari dalam pelukan ayahnya, sesekali tangan mungil mencubit kedua pipi ayahnya dengan gemas.

“Ayah ...,” panggil Edward seraya menatap wajah ayahnya.

“Hmmm ... ya?”

“Nanti kalau tubuhku sudah lebih besar dari Ayah, aku pasti bisa merebut bola itu setiap kali bermain dengan Ayah. Iya, kan?”

“Ya, pasti. Kamu akan tumbuh lebih besar dari Ayah, bahkan bisa lebih tinggi dari Ayah. Kamu tak boleh curang seperti tadi. Laki-laki tak boleh curang, harus sportif. Kamu harus berusaha untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan dengan cara yang benar. Ayah sayang sama kamu, kelak ... kamu yang akan menjaga Ibu menggantikan Ayah, jika—“

“Jika?”

“Jika Ayah pergi ...,”

“Ayah nggak boleh pergi, Ayah akan selalu ada buat aku dan Ibu.”

“Tapi ... semuanya pasti akan pergi jika Tuhan berkehendak lain, Sayang. Apalagi—“

“Apalagi?” tanya Edward membeo setiap kalimat yang diucapkan ayahnya.

“Apalagi ... ada sesuatu yang belum kamu ketahui sampai hari ini, dan kamu akan mengetahuinya jika tepat pada waktunya.”

Hari itu terakhir ia bercanda dengan ayahnya karena setelahnya ia tak pernah lagi bisa bercanda.

Selama berbulan-bulan ayahnya berada di rumah sakit menjalani perawatan karena penyakit yang semakin lama semakin membuat kesehatan ayahnya memburuk. Penyakit kanker paru-paru telah merebut Ayah dari sisinya, untuk selamanya. Dan ia menggantikan posisi Ayah menjaga Ibu, seperti yang telah dikatakan sebelumnya dan segalanya terjadi.

Puk...!

Edward tersadar dari lamunannya, tubuhnya seakan kembali tertarik dari lompatan dimensi lain dan ia tersentak melihat seorang pemuda menepuk pundak dan berdiri di sebelahnya. Pemuda itu adalah kawan sekamarnya di mess.

“Apa yang dilamunkan? Sempat aku melihatmu men-dribble bola basket itu, setelahnya kamu terdiam seperti memikirkan sesuatu. Apa ada yang mengusik pikiranmu?” tanya pemuda itu sambil menyodorkan sebungkus rokok pada Edward.

Edward mengangkat wajahnya dan menatap pemuda itu. “Darimana kamu mendapatkan rokok, bukankah kita dilarang menyimpan rokok?” ujarnya.

Pemuda itu tersenyum manis sangat manis kemudian senyumannya berubah menjadi tawa kecil.

“Ayolah, banyak tempat yang bisa digunakan untuk menyembunyikan sebungkus rokok. Lagipula hari sudah malam, para pengajar tentunya juga udah pada tidur. Temani aku merokok,” pintanya.

Agak ragu Edward menerima tawaran pemuda itu. Kemudian keduanya duduk bersila di pinggir lapangan basket sambil mengisap sebatang rokok dan memainkan asap-asap membentuk bulatan-bulatan.

Pemuda itu—Liam—ia berasal dari Singkawang, dan ia sendiri bukan berasal dari keluarga kaya. Ia bercerita pada Edward jika ia mengikuti pemilihan cover boy dengan harapan ia dapat mengubah perekonomian keluarganya.

Ibunya hanya memiliki sebuah kedai kopi kecil di daerah Singkawang dan harus menghidupi adik-adiknya yang masih kecil berjumlah 6 orang. Besar harapannya untuk dapat memenangkan pemilihan cover boy ini, ia tak ingin kembali tanpa hasil.

Ayahnya seorang penjudi dan pemabuk, sering berlaku kasar kepada ibu dan adik-adiknya. Beberapa bulan yang lalu, ayahnya tertangkap polisi karena kedapatan menjual sabu-sabu di sebuah diskotik murah dan kecil yang berada di daerahnya.

Sekarang ... Liam memutuskan untuk berhenti sekolah—sama seperti dirinya—untuk berjuang agar dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Liam juga bercerita, ia membantu ibunya menjaga kedai kopi hingga sore hari, setelahnya ia mengamen ke toko-toko, kedai-kedai lain, dan di mana saja yang mau memberinya uang demi perut!

“Aku masih lebih beruntung darimu, ternyata masih ada yang lebih berat dari kehidupan yang kujalani. Kuharap ... aku masih bisa bertemu denganmu dan menjadi kawan setelah acara menyebalkan ini berakhir. Kurasa, kamu bisa menjadi teman yang baik ...”

“Kuharap, Sob. Bumi terus berputar tiap harinya, sama seperti nasib yang terus merayap secara perlahan tanpa tahu halangan apa yang menghadang setiap waktu. Kamu—aku—kita sama-sama berjuang untuk keluarga. Ayolah sedikit bersemangat, Sob. Bukankah kita—para lelaki—memang sudah ditakdirkan untuk menghadapi kehidupan yang lebih keras dibandingkan para perempuan? Kita ini lelaki bukan banci!”

“Hahaha ... kamu benar. Bahkan ... banci aja masih mau berjuang untuk hidup. Thanks.”

Malam itu, ia bersyukur setidaknya ia masih bisa mendapatkan seseorang yang mau mendengar apa yang ada di hatinya.

Selesai merokok, keduanya berbaring dengan kedua tangan dilipat ke belakang menjadi bantal untuk kepala keduanya—seraya menatap ke arah langit. Hening. Tak ada lagi kalimat yang terucap dari keduanya, hanya tatapan penuh harap menatap jauh ke langit, berharap hari esok lebih baik dari sebelumnya.

Episodes
1 Awal Mula
2 Adegan Panas yang Terlihat
3 Putus Sekolah
4 Sembilan Tahun Kemudian
5 Kesal
6 Desiran Hangat
7 Lagi-lagi Desiran Hangat Itu
8 Gara-gara Sekamar
9 Tawaran Film Panas
10 Terima, Apa Tidak?
11 Benci Diantara Rasa
12 Aku Suka Sentuhan Kamu
13 Jangan Mau Disentuh Pria Lain
14 Cemas
15 Lupa Jika Dia Luka?
16 Sayang Kamu ...
17 Gara-gara Tidak Ingat Janji
18 Aku Mencintainya, Bu ...
19 Malinda dan Ancamannya
20 Dilema Rasa
21 Aku Siapa Kamu?
22 Jangan Panggil Aku Malinda!
23 Ciuman dan Rasa Cemburu
24 Nggak Ada yang Bisa Menggantikanmu
25 Aku Nggak Perjaka, Masalah?
26 Hukuman Nikmat dan Pernyataan Edward
27 Bimbang
28 Aktor Dadakan
29 Jadi Gak Konsen
30 Ich Liebe Dich, Yuka ( I Love You)
31 Ingin Menjadi Milikmu, Yuka
32 Aku, Ingin Jadi Milikmu
33 Adegan yang Membuat Yuka Panas
34 Dia Mencintaimu Sejak 10 Tahun yang Lalu
35 Ketakutan Edward
36 Gadis itu, Kamu ...
37 Nggak Masalah Dia itu Cewek
38 Liam, Ketangkap Basah
39 Resmi Pacaran?
40 Aku Ini Cewek Lho!
41 Ada Rahasia Apa?
42 Kejutan Tidak Terduga
43 Ternyata Rencana Dia?
44 Tidak Bisa Kembali Pada Liam
45 Cembur Terus, Kak?
46 Inilah Kebenarannya
47 Seutuhnya Untukmu
48 Akan Menikah Secepatnya
49 Edward Hilang?
50 Tangis Ditengah Hujan
51 Terpaksa Bersembunyi Sementara
52 Permintaan Simon Pada Malinda
53 Mencoba Menyelesaikan Masalah
54 Jangan Membuat Masalah
55 Kita Sudah Selesai Vania
56 Susah Ngomong Sama Perempuan Depresi!
57 Bercinta Selagi Ngambek
58 Masa Bahagia
59 Fans Edan?
60 Aku Masih Mau Kamu, Kok!
61 Di Bawah Tekanan
62 Aku Tidak Tinggal Diam
63 Malinda Dan Mantan Suami
64 Foto-foto Edward Tersebar
65 Saling Meminta Bantuan
66 Kamu Harus Tahu, Bram ...
67 Bertemu Bram
68 Bram Bertemu Vania
69 Semuanya Selesai (Ending)
Episodes

Updated 69 Episodes

1
Awal Mula
2
Adegan Panas yang Terlihat
3
Putus Sekolah
4
Sembilan Tahun Kemudian
5
Kesal
6
Desiran Hangat
7
Lagi-lagi Desiran Hangat Itu
8
Gara-gara Sekamar
9
Tawaran Film Panas
10
Terima, Apa Tidak?
11
Benci Diantara Rasa
12
Aku Suka Sentuhan Kamu
13
Jangan Mau Disentuh Pria Lain
14
Cemas
15
Lupa Jika Dia Luka?
16
Sayang Kamu ...
17
Gara-gara Tidak Ingat Janji
18
Aku Mencintainya, Bu ...
19
Malinda dan Ancamannya
20
Dilema Rasa
21
Aku Siapa Kamu?
22
Jangan Panggil Aku Malinda!
23
Ciuman dan Rasa Cemburu
24
Nggak Ada yang Bisa Menggantikanmu
25
Aku Nggak Perjaka, Masalah?
26
Hukuman Nikmat dan Pernyataan Edward
27
Bimbang
28
Aktor Dadakan
29
Jadi Gak Konsen
30
Ich Liebe Dich, Yuka ( I Love You)
31
Ingin Menjadi Milikmu, Yuka
32
Aku, Ingin Jadi Milikmu
33
Adegan yang Membuat Yuka Panas
34
Dia Mencintaimu Sejak 10 Tahun yang Lalu
35
Ketakutan Edward
36
Gadis itu, Kamu ...
37
Nggak Masalah Dia itu Cewek
38
Liam, Ketangkap Basah
39
Resmi Pacaran?
40
Aku Ini Cewek Lho!
41
Ada Rahasia Apa?
42
Kejutan Tidak Terduga
43
Ternyata Rencana Dia?
44
Tidak Bisa Kembali Pada Liam
45
Cembur Terus, Kak?
46
Inilah Kebenarannya
47
Seutuhnya Untukmu
48
Akan Menikah Secepatnya
49
Edward Hilang?
50
Tangis Ditengah Hujan
51
Terpaksa Bersembunyi Sementara
52
Permintaan Simon Pada Malinda
53
Mencoba Menyelesaikan Masalah
54
Jangan Membuat Masalah
55
Kita Sudah Selesai Vania
56
Susah Ngomong Sama Perempuan Depresi!
57
Bercinta Selagi Ngambek
58
Masa Bahagia
59
Fans Edan?
60
Aku Masih Mau Kamu, Kok!
61
Di Bawah Tekanan
62
Aku Tidak Tinggal Diam
63
Malinda Dan Mantan Suami
64
Foto-foto Edward Tersebar
65
Saling Meminta Bantuan
66
Kamu Harus Tahu, Bram ...
67
Bertemu Bram
68
Bram Bertemu Vania
69
Semuanya Selesai (Ending)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!