“Sampai kapan? Apa kamu jangan mulai menyayangi dia juga? Aku sayang banget sama kamu Yuka,” kata Edward seperti seseorang yang sedang merengek.
“Aku lebih menyayangi kamu, Kak. Hanya saja, aku akan mencari waktu bagaimana menjelaskan semuanya ke Liam,” jawab Yuka tegas.
Edward mendekatkan wajahnya ke Yuka, ia tak perlu menunduk mengingat tinggi keduanya tak jauh berbeda. Ia semakin merapatkan tubuhnya padaYuka, membuat jantung Yuka berdebar-debar, dan Edward merasakan debaran itu. “Aku ...”
“Apa?”
“Apa ya, aku bingung,” jawab Edward. Bibirnya terasa kelu dan sulit untuk mengungkapkan yang sebenarnya dirasakan. Ia benar-benar merasa akan gila. “Kamu benar-benar sayang aku?”
“Kamu belum pikun, kan? Nanya kok diulang-ulang. Seharusnya aku yang nanya berulang-ulang seperti itu, karena aku ini perempuan. Setiap saat, hanya aku yang mengulang-ulang apa yang kurasakan. Aku nggak pernah mendengar kamu mengatakan perasaan kamu berulang kali, kamu hanya mengatakan dua kali kalau kamu sayang aku, Kak.” Perkataan Yuka serupa busur yang langsung menembus jantung, tajam, tapi Edward mengakuinya. Edward meletakkan telunjuknya di bibir Yuka.
“Jadi, cuma itu yang mau kamu dengar dari aku?”
Yuka mengangguk. “Iya. Apa Kakak, sayang sama aku?”
"Aku sayang kamu, Adik Tiri. Aku ingin bercinta dengan kamu, memiliki kamu seutuhnya, dan--"
Tok ... Tok ...Tok!
Belum selesai Edward berbicara, suara pintu yang diketuk dari luar membuat keduanya tersentak kaget. Edward segera menjauh dari tubuh Yuka, ia takut jika crew kostum masuk dan melihat dirinya dan Yuka berposisi seperti barusan, mereka akan berpikir jika ia benar-benar seorang homo. Apalagi, Yuka anak baru, nggak mungkin kan dibilang modusin aktor baru, dan ternyata Edward memang seorang homo!
“Yuka! Udah siap belum? Mau take nih!”
'Brengsek! Selalu aja ada halangannya! Kenapa crew itu mengetuk di saat aku mau mengungkap apa yang kurasakan?!' umpat Edward dalam hatinya.
“Iya, sebentar lagi,” jawab Yuka dari dalam.
“Cepat bersiap-siap.”
“Siap-siap? Terus kamu di situ, ngeliatin aku ganti pakaian?”
“Memang nggak boleh, kan aku sudah lihat semuanya,” jawab Edward sembari tersenyum nakal.
“Enak aja, nggak! Balik badan!”
Edward mendengus kesal kemudian berbalik memunggungi Yuka. Wangi tubuh Yuka mengusik penciuman Edward, ingin rasanya ia berbalik dan memeluk Yuka. Jika saja bukan di lokasi syuting, mungkin ia sudah melakukannya.
“Aku ...,” ujar Edward pelan. “sangat menyayangi Yuka Winata,” lanjutnya. Keduanya saling memunggungi, tapi Yuka mendengar jelas apa yang dikatakan Edward barusan. “Rasa benci itu udah hilang, dan segalanya berubah menjadi takut kehilangan kamu. Aku Cin--"
…
Abangku, Canduku
Jadi Gak Konsen
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 69 Episodes
Comments