Pagi itu aula utama Istana Fangsu sunyi.
Murong Chunhua duduk di dipan rendah berhias ukiran teratai. Rambutnya tergerai, wajah pucatnya semakin menegaskan keindahan yang bagai lukisan.
Seorang tabib tua berlutut di hadapannya.
Tangan keriput itu memegang pergelangan Chunhua, tetapi gemetar tak terkendali.
Dia bisa merasakan tatapan tajam Nona Su yang berdiri di samping putri, menekannya seperti tombak di tengkuk.
Tabib menelan ludah.
Biasanya ia bisa membaca nadi pasien hanya dalam sekejap, tetapi kali ini denyut sang putri begitu samar, nyaris tak terdeteksi.
Seolah tubuh wanita itu hanya bayangan yang terbuat dari kabut.
“Lama sekali.” Suara Chunhua terdengar lembut, tetapi dingin.
Tabib itu merasa tekanan yang lebih berat, tatapan Su Yin makin tajam.
Setelah tiga napas, tabib buru-buru melepaskan tangan Chunhua, lalu membungkuk. “Yang Mulia, udara ibu kota akhir-akhir ini sangat dingin. Tubuh Anda terkena angin. Hamba akan menuliskan resep obat untuk mengusir hawa dingin itu.”
Chunhua mengangguk dua kali. “Baik.”
Tabib segera merapikan alatnya dan bergegas pergi, seperti dikejar hantu. Namun, ketika membuka pintu, ia terperanjat. Seorang pria masuk dengan langkah mantap—Feng Jun.
Dia segera menghentikan langkahnya, menunduk dalam-dalam sambil mengangkat kotak obat.
“Hamba memberi hormat pada Tuan Feng,” ucapnya dengan nada penuh hormat, tapi tidak serendah suaranya saat memanggil Putri Agung.
Dia melihat bibir Feng Jun berwarna pucat, perban putih melilit lehernya, kemudian teringat perkataan rekannya beberapa hari lalu. Ia segera bergidik.
"Sang Putri, benar-benar tidak berbelas kasih. Sudah lebih dari satu minggu dan Tuan Feng masih terlihat setengah mati," batinnya.
Feng Jun menoleh sekilas, sorot matanya tenang. Ia mengangguk ringan, lalu melangkah pergi tanpa berkata banyak.
Setelahnya, dia bergegas keluar tanpa berani menoleh lagi.
“Yang Mulia, semoga Anda sehat pagi ini,” sapa Feng Jun.
Chunhua menatapnya penuh perhatian. “Duduklah. Bagaimana keadaanmu? A…
Harem Sang Putri
16. Agenda Baru
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 66 Episodes
Comments