Bab 4 : Pil-pil Perusak

Pil-pil Perusak

Agni menempelkan telepon genggamnya di telinga.

Tak lama terdengar suara yang sangat dirindunya di ujung telepon sana. “Halo Ma,” sapa Anggi lemah. “Anggi! Kamu kemana aja sih, Mama telepon kamu sejak semalam tapi kamu ga angkat … kamu lagi apa sih?” cerocos Agni, “Mama khawatir tau!” Anggi terbatuk pelan, lalu tertawa dan menjawab, “Iya Ma, maaf … semalam ga bisa angkat telepon … sibuk tugas orientasi soalnya.”  Agni berdecak, “Sebenarnya yang kalian lakukan di orientasi itu ngapain sih? Mama telpon kamu di dini hari juga ga kamu jawab, apa sibuk sampai dini hari gitu Nggi?”

“Kalau itu, Anggi sudah tidur Ma,” ujar Anggi meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya baik dari bekas pukulan senapan maupun bekas peluru cat semalam, ia tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, ia tak mau membuat mamanya khawatir. “Kamu sudah minum obat batuknya belum? Gimana kondisimu sekarang?” tanya Agni. “Sudah … Anggi baik-baik aja Ma,” jawab Anggi.

“Ma, besok jadi jemput Anggi ‘kan?”

“Oh iya tentu saja, Mama bawain selimut---“

“Selimutnya ga jadi Ma, taro di rumah aja.”

“Loh kenapa?”

“Ya besok ‘kan Anggi pulang.”

“Oiya … eh besok si kembar mau bawa makanan-makanan buat kamu tuh.”

“Hehehe … emang mereka tau gitu, Anggi suka apa.”

“Katanya sih tau … atau sok tau mereka ya? Hahaha,” tawa Agni, Anggi pun ikut tertawa meski sambil menahan nyeri di tubuhnya. “Orientasi terakhir hari ini, mau ngapain lagi Nggi?” tanya Agni. “Katanya hanya pesta perpisahan orientasi saja nanti malam Ma, ada api unggun, makan-makan, pesta kecil gitu lah,” jawab Anggi. “Oh syukurlah, bukan sesuatu yang berat ya,” sahut Agni. “Iya Ma, katanya ada bagi-bagi penghargaan juga untuk mahasiswi baru yang bisa bertahan di masa orientasi ini … aku salah satunya Ma,” urai Anggi.

“Waah … keren … anak Mama memang hebat!” puji Agni. Anggi tertawa, “Ma, Anggi mau tidur dulu bentar ya, semalam kurang tidur, besok telpon Anggi lagi ya Ma.” Agni menggeleng, “Ga, ga … maunya ntar malam Mama telepon kamu lagi, bukan besok … ntar malam, jam delapan atau jam sembilan, inget?” Anggi nyengir, “Oke, oke Ma … jam delapan atau jam sembilan ntar malam.”

“Ya sudah kalau mau tidur dulu Sayang … baik-baik ya Nggi ….”

“Ok Ma … love you Ma.”

“Love you Nggi.”

Agni mematikan teleponnya lalu memandang foto Anggi di profilnya. Agni tersenyum bangga. “Jadilah sarjana Nggi, untuk membanggakan Mama dan almarhum Papa. Mama dan Papa ingin kamu sukses dan bahagia, apa pun Mama akan perjuangkan buat kamu,” gumam Agni lalu mengecup foto putri sulungnya itu.

Sedang di tenda, Anggi memegangi tulang rusuk bawahnya, ia menjerit pelan ketika tulang rusuk itu ia tekan dan ia bisa merasakan perut atasnya seperti membengkak. Ia meminum obat pereda sakit yang didapatnya dari salah satu kating yang menyediakan obat-obatan. Lalu memejamkan matanya untuk beristirahat.

...***...

Api unggun di tengah lapangan itu telah menyala besar.

Semua mahasiswi baru telah berkumpul membentuk setengah lingkaran di depan api unggun sedang para kating mereka berdiri berseberangan di hadapan mereka. “Selamat malam para mahasiswi baru yang sudah ga lagi lemah! Selamat kalian telah berhasil melalui masa orientasi ini dengan baik!” cetus Boba pada mahasiswi baru yang masih tampak tegang. “Hey mana tepuk tangannya?” seru Ovi, setelah diingatkan maka para mahasiswi baru itu baru bertepuk tangan.

“Hahaha, kenapa kalian tegang? Kalian pikir kami masih akan menguji kalian ya? Tenang malam ini tidak ada lagi ujian, malam ini saatnya kita bersenang-senang!!” teriak Boba, setelah mendengar itu para mahasiswi baru itu bernafas lega dan berteriak gembira. “Akhirnya semua berakhir Nggi! Yeaay!” sorak Dina seraya merangkul Anggi. Anggi meringis sakit dalam rangkulan Dina.

“Tenang! Tenang! Dengar dulu … sebelum kita mulai acara senang-senangnya, kami dari kating kalian ingin mengucapkan, selamat datang di persaudaraan sesama saudari di satu jurusan! Kalian luar biasa!” teriak Boba diikuti tepuk tangan dari para kating. Para mahasiswi baru itu tersenyum bangga.

“Dan seperti janji kami, malam ini kami akan memberikan penghargaan untuk kalian yang telah berhasil survive di permainan semalam. Pertama-tama kami panggil untuk maju ke depan sini, Anggita! Ayo maju,” panggil Boba. “Hah, beneran ada penghargaannya? Kirain becanda,” gumam Anggi terkejut namanya dipanggil. “Udah maju sana … buruan,” dorong Dina tertawa. Anggi melangkah maju diiringi tepuk tangan para kating juga rekan seangkatannya.

Boba, Ovi dan Evelyn menyambut Anggi, memeluknya. Anggi cukup kaget juga melihat perubahan perlakuan mereka yang sebelumnya begitu kasar, ia pun tersenyum. Evelyn memasangkan sebuah bros berbentuk mawar kecil di jaketnya sembari berkata, “Ga semuanya dapat bros ini … jadi lo harus bangga Nggi.” Anggi baru tersadar setelah melihat memang tidak semua kating memakai bros mawar ini.

"Ini hanya untuk orang-orang tangguh … selamat ya!” rangkul Evelyn lalu menepu-nepuk bahu Anggi disusul Ovi dan Boba. “Ok, selanjutnya, gue panggil untuk maju ke depan … Dina!” teriak Boba. Dina tampak sumringah, dengan cepat ia sudah berada di depan dan bros mawar itu pun disematkan di dadanya. Dina terlihat bangga. Kemudian Boba memanggil tiga nama lainnya untuk menerima penghargaan tersebut.

“Baiklah, acara penghargaan telah selesai … sekarang waktunya party!! Keluarkan pestanya Gaes!” seru Boba pada rekan-rekannya. Maka para kating berjaket kuning biru itu mengeluarkan alat pemutar musik dengan kotak pengeras suaranya di atas meja. “Apakah itu diperbolehkan di tempat perkemahan seperti ini?” tanya Anggi pada Dina. “Hey Nggi, relax … masa orientasi udah lewat, yang penting sekarang kita having fun!” cetus Dina. Para kating itu pun mengeluarkan minuman-minuman soda berkaleng-kaleng beserta makanan ringannya.

“Pesta dimulai!!” teriak Boba disambut sorak-sorai semuanya.

Musik pun berdentam mengiringi pesta orientasi malam itu. Para mahasiswi baru itu menikmati pesta mereka dan berjoget-joget mengikuti irama mengelilingi api unggun yang menyala. “Ayo Nggi joget sama gue! Kita ke deket api unggun yuk! Gabung sama yang lain!” ajak Dina. Anggi menggeleng, “Lo aja gih … gue lagi ga bisa joget.” Dina tertawa, “Halah, tinggal joget aja ikutin musik … ga usah takut salah, ga akan ada yang nilai kok!”

Dina menarik tangan Anggi dan mulai bergoyang, “Kalau gitu kita joget di sini aja Nggi, ayo dong.” Anggi tertawa melihat Dina, ia pun mulai menggoyangkan badannya meski awalnya ragu karena sakit yang dirasakannya tapi untung saja ia telah meminum obat pereda rasa sakit sebelumnya tadi, sehingga rasa sakit itu tidak terlalu terasa. “Nah gitu, jangan malu-malu Nggi,” seru Dina lalu memutar tubuhnya. Mereka tertawa-tawa lepas berdua, bergoyang di pojok lapangan perkemahan.

Di kejauhan Evelyn memperhatikan mereka lalu mengeluarkan dari kantong jaketnya sebuah plastik kecil berisikan butiran-butiran pil berwarna kuning sebesar kuku kelingking.

“Apa itu Eve?” tanya Boba di sebelahnya.

“Bukan apa-apa, hanya vitamin penambah semarak pesta,” kilah Evelyn, “lo mau?” Boba menggeleng.

“Lo dapat dari mana?” tanya Boba lagi.

“Dari pergaulan yang luas hehehe,” sahut Evelyn asal lalu berjalan menuju tempat minuman-minuman kaleng disediakan.

“Apa yang mau lo lakukan dengan pil-pil itu Eve?” bisik Boba yang menyusul berjalan di sampingnya. “Tenang Ba, tidak akan ada yang terluka kok,” sahut Evelyn santai. “Tapi Eve, pil itu ilegal kalau dosen sampai tau kita bisa di D-O!” timpal Boba. Ovi merangkul Boba, “Ba, tenang … ga akan ada yang tahu, kalau kita ga ngomong … Eve hanya ingin membuat pesta malam ini jadi semakin meriah aja hahaha.”

Evelyn mengambil satu kaleng soda, membukanya lalu mengambil empat butir pil dan menggerusnya kemudian memasukkan empat butir pil yang telah hancur itu ke dalamnya serta mengocok-ngocoknya. “Eve! Gila lo … pil sebanyak itu kalau bercampur soda bisa bahaya!” cetus Boba mengingatkan. “Tenang Ba … lihat tuh, si Ovi udah nelen satu pake soda, ga apa-apa kok,” tunjuk Evelyn pada Ovi. “Ba … ini cuma pil pemberi hepi doang kali … santai Ba,” ujar Ovi menepuk-nepuk bahu Boba yang terlihat gelisah.

Evelyn kembali berjalan, kini ia menghampiri Anggi dan Dina yang sedang berjoget tertawa-tawa. “Halo Sistah … gimana? Menikmati pestanya?” tanya Evelyn bergabung dengan mereka berdua. Dina mengangguk cepat, “Iya Kak, pestanya seru!” Evelyn merangkul Anggi, “Kalau lo gimana Nggi? Senang?” Anggi tersenyum dan mengangguk. Evelyn menyodorkan kaleng minuman yang telah diisi pil itu pada Anggi.

“Udah gue bukain kalengnya, ayo kita minum bareng,” cetus Evelyn. Anggi mengangguk menerima minuman kaleng tersebut. Sedang Boba menatap cemas. Ovi memberikan satu kaleng untuk Dina. Dan mereka semua mengangkat kaleng itu. “For our sisterhood!!” teriak Ovi diikuti yang lainnya.

Mereka pun meminum soda itu.

“Ayo habiskan dong minuman kalengnya! Gue udah capek-capek bawain dan bukain kalengnya buat kalian tadi,” bujuk Evelyn berpura-pura merajuk. Karena tak enak hati, maka Anggi dan Dina pun meminum soda kaleng itu hingga habis. Boba menghela nafasnya sembari menggeleng pelan. Evelyn dan Ovi saling tersenyum culas ketika melihat Anggi meminum habis soda kaleng itu.

Dari pemutar musik itu kini terdengar lagu “Celebrate The Good Times” yang popular, tak ayal, lagu ini pun disambut meriah oleh semua orang yang seketika serempak bergoyang. Begitu pun Anggi, Dina, Evelyn, Ovi dan Boba yang resah.

...***...

Sementara itu.

Agni sedang menelpon putri sulungnya tepat di jam 9 malam. Ia bertolak pinggang dengan wajah kesal. Teleponnya menyambung tetapi Anggi tidak mengangkatnya. “Hih anak ini … kebiasaan deh!” kesal Agni lalu menelpon lagi. Telepon itu menyambung tetapi sampai telepon itu putus sendiri tetap tidak diangkat oleh Anggi. Agni merasa kesal pada putri sulungnya itu, tapi sesungguhnya yang dirasakan olehnya adalah sebuah rasa kekhawatiran.

“Ma, ini ‘kan malam orientasi terakhir … mungkin Kak Anggi lagi ada acara sama teman-temannya, jadi ga sempat angkat teleponnya, tinggalin pesan aja,” saran Anindya melihat mamanya gelisah seperti itu.

Agni mendesah, lalu mencoba menelepon lagi.

...***...

Di pesta orientasi.

Pil-pil berwarna kuning itu bekerja cepat. Unsur kimiawi yang terkandung di dalam pil tersebut pecah di lambung Anggi. Dosis yang tinggi dan bercampur dengan soda merubahnya menjadi racun yang tersebar cepat bersama aliran darah ke seluruh tubuhnya. Anggi merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Tiba-tiba ia merasakan jantungnya berdebar cepat, sepuluh kali lebih cepat dari yang ia biasa rasakan. Pandangan matanya seketika memburam, isi kepalanya mendadak seperti dibentur-benturkan ke dinding, rahangnya gemetar hebat hingga ia kesulitan bicara.

“Nggi, Nggi lo kenapa?” seru Dina terkejut melihat kondisi Anggi yang mendadak gagap dan sempoyongan tak terkendali. Anggi ingin meminta tolong tetapi tak bisa. Ia tidak kuat menahan gempuran racun di dalam tubuhnya itu hingga ia muntah. “Kak tolong!!” teriak Dina memeluk Anggi. Boba segera menghampiri untuk membantu tetapi Ovi memegangi tangannya, menggeleng cepat. Boba menepis tangan Ovi, menatap Ovi tajam dan berkata, “Vi … gue ga mau jadi bagian ini, gue ga ikut-ikutan, ini rencana kalian!” kemudian Boba berjalan pergi meninggalkan mereka.

Sedang Evelyn menarik Dina untuk menjauh dari Anggi, “Udah tenang Din, biarkan dia … dia lagi enjoy tuh.”

Dina mengerutkan kening, “Enjoy gimana sih Kak? Kondisinya mengkhawatirkan gitu! Kita harus cepat panggil ambulan!”

Dina mengeluarkan telepon genggamnya tapi dengan cepat Evelyn merebutnya. Dina terkejut. “Hey kalau lagi pesta, tidak boleh ada hape!” tegas Evelyn lalu mengantongi telepon genggam Dina.

“Jangan Kak … kembalikan hape saya Kak! Anggi butuh pertolongan cepat! Plis Kak!” mohon Dina.

Evelyn tidak mendengarkan, ia malah mentertawakan Anggi yang menunduk dan duduk bersimpuh lemah sembari memegangi dadanya. “Hey, lagi ngapain lo Nggi? Mengheningkan cipta? Hahaha,” ledek Evelyn.

Dalam kesakitan dan kekalutan semua organ tubuhnya, Anggi bisa merasakan nada getar dari telepon genggamnya yang disimpan di dalam kantong jaketnya. Ia tahu mamanya sedang menelponnya. Berkelebat wajah mamanya tetapi Anggi tidak bisa mengkoordinasikan tangannya untuk bisa mengambil telepon genggam itu dari kantong jaketnya.

Tangannya mendadak kaku dan mati rasa. Kepalanya semakin berputar cepat, detak jantungnya tidak bisa ia kendalikan. Berkelebat bayang wajah mamanya lagi kini bersama adik kembarnya. Anggi hanya bisa menyebut nama mereka dalam hati, karena kini rahangnya mengatup hebat membuatnya tak bisa bicara sama sekali.

Airmata pun mengalir dari mata Anggi begitu saja.

Suara musik keras terus terdengar dari pengeras suara. Mengiringi tarian sukacita semua orang dalam gerakan lambat. Semua bersorak-sorak tenggelam dalam keriuhan pesta. Tidak ada seorang pun menyadari apa yang sedang terjadi di pojok lapangan yang minim penerangan itu. Seorang gadis sedang berjuang antara hidup dan matinya.

Tiba-tiba Dina mendekat dan merogohkan tangannya ke dalam kantong celana Evelyn untuk mengambil paksa telepon genggamnya. Evelyn terkejut marah, “Hey kurang ajar, berani-beraninya lo ya!” Dina terus merogoh kantong celana Evelyn, berteriak, “Kembalikan hape saya Kak! Kasian Anggi!” Evelyn menolak maka mereka berdua pun bergumul.

Ovi datang membantu Evelyn. Dari belakang ia menjambak rambut Dina, terus membantingnya lalu dengan cepat Ovi mencengkeram kerah jaket Dina, menyeretnya ke pojok gelap di bawah pepohonan. “Udah lo diem di sini! Jangan macem-macem! Anggi lagi hepi, jangan ganggu dia!” tandas Ovi.

“Kak … wajahnya pucat dan dia muntah … tubuhnya juga sempoyongan, itu bukan hepi namanya,” tukas Dina. Ovi mencekik leher Dina, bicara dekat di depan wajah Dina, “Sok tau … jangan ngajarin gue!” Dalam jarak sedekat itu, Dina bisa melihat mata Ovi yang sayu dengan pupil matanya yang mengecil. “Apa pun yang Kakak pake itu, pasti kalian masukkan juga ke dalam minuman kalengnya Anggi bukan?” tanya Dina curiga.

Plak!

“Aduh!” pekik Dina memegangi pipinya. “Jangan ikut campur! Atau gue gampar lagi!” ancam Ovi. Dina mengangguk gemetar. “Vi! Sini! Bantuin gue! Cepet!” panggil Evelyn panik. Ovi menoleh dan terkejut melihat Anggi kejang-kejang hebat di tanah.

“Ya Tuhan … Anggi …” desis Dina sedih.

Terpopuler

Comments

Risa Virgo Always Beau

Risa Virgo Always Beau

Kasihan Anggi kesakitan banget ya

2026-05-17

7

Risa Istri Cantik

Risa Istri Cantik

Anggi ngga jadi minta bawakan selimut

2026-05-17

7

checangel_

checangel_

Seketika pembaca ingin menekan tombol pemanggil darurat semesta fiksi😭

2025-11-12

11

lihat semua
Episodes
1 ​Kata Pengantar
2 Bab 1 : Keluarga Adalah Yang Terpenting
3 Bab 2 : Waktunya Berburu
4 Bab 3 : Gotcha!
5 Bab 4 : Pil-pil Perusak
6 Bab 5 : Hujan Deras Dihatiku
7 Bab 6 : Berantakan
8 Bab 7 : Tidak Ada Bukti
9 Bab 8 : Akan Kutunjukkan Betapa Remuk Redamnya Hatiku
10 Bab 9 : Luka
11 Bab 10 : Mentari Pagi yang Baru
12 Bab 11 : Jejak yang Hilang
13 Bab 12 : Dunia yang Tersembunyi
14 Bab 13 : Kembali ke Dunia Nyata
15 Bab 14 : Rumah, Kedamaian, dan Harapan
16 Bab 15 : Bisikan dari Hutan
17 Bab 16 : Echoes of Stone
18 Bab 17 : Bayangan Mengintai
19 Bab 18 : Rahasia di Balik Kegelapan
20 Bab 19 : Kenangan dari Jantung Hutan
21 Bab 20 : Jejak Cahaya di Kehidupan Sehari-hari
22 Bab 21 : Tahun-Tahun yang Berlalu
23 Bab 22 : Jejak yang Tak Lekang
24 Bab 23 : Kisah dari Hutan Ribu
25 Bab 24 : Jejak Awan di Langit Sore
26 Bab 25 : Menuju Hutan Ribu
27 Bab 26 : Senandung di Ketinggian
28 Bab 27 : Ketika Awan Berbisik Kata Bijak
29 Bab 28 : Simfoni Angin dan Awan
30 Bab 29 : Jejak Angin Menuju Hutan Kenangan
31 Bab 30 : Menembus Kabut Kenangan
32 Bab 31 : Semangat yang Tak Pernah Padam
33 Bab 32 : Ìlmu yang Menuntun Langkah
34 Bab 33 : Jejak Ilmu di Hutan Ribu
35 Bab 34 : Inspirasi dari Belahan Dunia Lain
36 Bab 35 : Langkah Mantap Menuju Esok
37 Bab 36 : Transendensi Naratif dalam Leksikon Akademis
38 Bab 37 : Implikasi Epistemologis dan Arah Penelitian Lanjutan
39 Bab 38 : Kearifan Lokal Mengiringi Langkah
40 Bab 39 : Undangan dari Alam
41 Bab 40 : Manyusuri Jalan Nan Takana
42 Bab 41 : Kabar dari Jantung Rimbo
43 Bab 42 : Manjalajah Rimbo Saribu
44 Bab 43 : Misteri Danau Hitam
45 Bab 44 : Melodi Pemulihan
46 Bab 45 : Bunga Pemulih dan Perpisahan
47 Bab 46 : Rencana di Bawah Bintang
48 Bab 47 : Menghadapi Kegelapan di Puncak
49 Bab 48 : Harmoni yang Pulih
50 Bab 49 : Sapaan dari Rimba Sunda
51 Bab 50 : Ikatan dengan Dunia Gaib
52 Bab 51 : Lidah yang Menjelajah Pulau
53 Bab 52 : Ketika Mantra Banyuwangi Bergema
54 Bab 53 : Menyusuri Jejak Kegelapan
55 Bab 54 : Menyusuri Kegelapan Gua
56 Bab 55 : Mata Air yang Merana
57 Bab 56 : Warisan Mantra dari Nenek Sesepuh
58 Bab 57 : Mendaki Puncak Suci
59 Bab 58 : Pertarungan di Puncak
60 Bab 59 : Kedamaian yang Kembali Merajai
61 Bab 60 : Harmoni yang Abadi
62 Bab 61 : Kenangan yang Abadi
63 Bab 62 : Panggilan Alam yang Kedua
64 Bab 63 : Menyusuri Jejak Kerusakan
65 Bab 64 : Menghadapi Para Perusak Hutan
66 Bab 65 : Melapor pada yang Berwenang
67 Bab 66 : Tantangan di Puncak Tertinggi
68 Bab 67 : Pertempuran di Jantung Kegelapan
69 Bab 68 : Kemenangan Cahaya dan Kembalinya Keseimbangan
70 Bab 69 : Kembali ke Rumah, Kembali ke Kehidupan
71 Bab 70 : Jejak Langkah di Tanah Sendiri
72 Bab 71 : Kekuatan dari Puncak Tertinggi
73 Bab 72 : Kekuatan yang Baru Terbangkitkan
74 Bab 73 : Konfrontasi di Hutan Gelap
75 Bab 74 : Janji Ilmu dari Sang Guru
76 Bab 75 : Bisikan Ombak Siberut
77 Bab 76 : Sosok di Balik Senja
78 Bab 77 : Menguasai Bayangan Diri
79 Bab 78 : Mengalir Bersama Kekuatan Air
80 Bab 79 : Merangkai Angin dalam Genggaman
81 Bab 80 : Menari Bersama Angin
82 Bab 81 : Menyempurnakan Keheningan yang Tak Terlihat
83 Bab 82 : Menjelajahi Keheningan Samudra
84 Bab 83 : Cahaya Pemurnian dan Keheningan yang Menyegarkan
85 Bab 85 : Harmoni yang Terukir dalam Jiwa
86 Bab 86 : Menuju Rimba Sunda Sekali Lagi
87 Bab 87 : Pertemuan dengan Penjaga Tanah Borneo
88 Bab 88 : limu Leluhur dari Tanah Borneo
89 Bab 89 : Menghadapi Inti Kegelapan di Danau Ungu
90 Bab 90 : Memanggil Kekuatan Leluhur Dayak
91 Bab 91 : Kembalinya Cahaya dan Keseimbangan di Tanah Sunda
92 Bab 92 : Bisikan dari Tanah Jawa
93 Bab 93 : Menuju Tanah Para Dewa
94 Bab 94 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa 1
95 Bab 95 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa 2
96 Bab 96 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa 3
97 Bab 97 : Bisikan dari Negeri Tirai Bambu
98 Bab 98 : Puncak yang Menanti
99 Bab 99 : Gema Kebenaran di Puncak Semeru
100 Bab 100 : Pertempuran di Puncak Para Dewa
101 Bab 101 : Warisan Penjaga Tanah Jawa
102 Bab 102 : Mengemban Amanah Penjaga
103 Bab 103 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa (Bagian 1)
104 Bab 104 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa (Bagian 2)
105 Bab 105 : Pertemuan dengan Sang Kera Sakti yang Merana
106 Bab 106 : Membebaskan Sang Legenda yang Terkurung
107 Bab 107 : Kebebasan Sang Kera dan Kedamaian Gunung Agung
108 Bab 108 : Sang Kera Sakti dan Keajaiban Zaman Now
109 Bab 109 : Pertemuan Tak Terduga di Puncak Para Dewa (Bagian 1)
110 Bab 110 : Kekuatan Humor dan Kehangatan Persahabatan
111 Bab 111 : Ketika Sang Kera Meniru Gaya Terbang Manusia Besi
112 Bab 112: Ketika Sang Kera Mencoba Selfie dengan Manusia Besi
113 Bab 113 : Ketika Sang Kera Menjelaskan Cara Kerja Tongkat Ajaib kepada Manusia B
114 Bab 114: Ketika Sang Kera Mencoba Memakai Armor Manusia Besi dan Hampir Meledak
115 Bab 115: Ketika Sang Kera Menjelaskan Cara Kerja Tongkat Ajaib I
116 Bab 116: Ketika Sang Kera Menjelaskan Cara Kerja Tongkat Ajaib II
117 Bab 117: Pertemuan dengan Sang Raja dan Si Burung Ajaib yang Cerewet
118 Bab 118: Ketika Sang Kera Menjelaskan Cara Kerja Ponsel kepada Raja Jawa
119 Bab 119: Ketika Sang Kera Mencoba Memasak Rendang dengan Ponsel
120 Bab 120: Ketika Sang Kera Mencoba Bermain Tik Tok dan Hampir Menjadi Viral
121 Bab 121: Ketika Sang Kera Mencoba Memasak Rendang dengan Ponsel
122 Bab 122: Ketika Sang Kera Memesan Ojol dan Hampir Tersesat di Dunia Maya
123 Bab 123 Ketika Sang Kera Kembali dengan Kejutan dan Hampir Membuat Kakek Jantung
124 Bab 124 Ketika Sang Kera Mencoba Mengantar Penumpang
125 Bab 125 Ketika Sang Kera Mencoba Memasak Rendang
126 Bab 126 Ketika Sang Kera Mencoba Karaoke
127 Bab 127 Ketika Sang Kera Mencoba Bermain Petak Umpet
128 Bab 128 Ketika Sang Kera Mencoba Membuat Kopi
129 Bab 129 Hampir Membakar Beranda
130 Bab 130 Hampir Membakar Beranda
131 Bab 131 Ketika Sang Kera Mencoba Bermain Gitar
132 Bab 132 Ketika Sang Kera Mencoba Bermain Gamelan dan Hampir Memanggil Petir Sung
133 Bab 133 Ketika Sang Kera Mencoba Menari Piring dan Hampir Membuat Piring Terbang
134 Bab 134 Ketika Sang Kera Mencoba Membuat Kopi dan Hampir Membakar Beranda
135 Bab 135 Ketika Sang Kera Mencoba Memasak Rendang dengan Ponsel dan Hampir Membak
136 Bab 136 Ketika Sang Kera Mencoba Membuat Kopi dan Hampir Membakar Beranda
137 Bab 137 Ketika Sang Kera Mencoba Membuat Kopi dan Hampir Membakar Beranda
138 Bab 138 Perpisahan yang Penuh Harapan
139 Bab 139 Kembali ke Kehidupan yang Lebih Tenang
140 Bab 140 Menuliskan Jejak Petualangan
141 Bab 141 Gema dari "Bisikan dari Rimba
142 Bab 142 Jejak yang Tak Pernah Usai
143 Bab 143 Misteri Mata Air Bromo
144 Bab 144 Arca Kegelapan di Bromo
145 Bab 145 Air Suci Bromo Kembali Mengalir
146 Bab 146 Kejutan di Tepi Sungai
147 Bab 147 Sapaan dari Jalan Setapak
148 Bab 148 Senja dan Busur di Tepi Sungai
149 Bab 149 Langkah Bersama di Bawah Rembulan Senja
150 Bab 150 Malam di Penginapan dan Tawa yang Menggema
151 Bab 151 Pagi di Kaki Gunung Suci
152 Bab 152 Mendaki Puncak yang Bergetar
153 Bab 153 Memurnikan Tanah yang Tercemar
154 Bab 154 Artefak Kegelapan dan Rencana Pemurnian
155 Bab 155 Kedamaian yang Kembali Bersemi di Agung
156 Bab 156 Persimpangan Jalan di Tanah Dewata
157 Bab 157 Kabar Buruk dari Rimba Saribu
158 Bab 158 Jejak Kegelisahan di Rimba Saribu
159 Bab 159 Jejak yang Tersembunyi di Hutan Ribu
160 Ringkasan Eksekutif
161 Bab 160: Persekutuan Lintas Dimensi di Gerbang Borneo
Episodes

Updated 161 Episodes

1
​Kata Pengantar
2
Bab 1 : Keluarga Adalah Yang Terpenting
3
Bab 2 : Waktunya Berburu
4
Bab 3 : Gotcha!
5
Bab 4 : Pil-pil Perusak
6
Bab 5 : Hujan Deras Dihatiku
7
Bab 6 : Berantakan
8
Bab 7 : Tidak Ada Bukti
9
Bab 8 : Akan Kutunjukkan Betapa Remuk Redamnya Hatiku
10
Bab 9 : Luka
11
Bab 10 : Mentari Pagi yang Baru
12
Bab 11 : Jejak yang Hilang
13
Bab 12 : Dunia yang Tersembunyi
14
Bab 13 : Kembali ke Dunia Nyata
15
Bab 14 : Rumah, Kedamaian, dan Harapan
16
Bab 15 : Bisikan dari Hutan
17
Bab 16 : Echoes of Stone
18
Bab 17 : Bayangan Mengintai
19
Bab 18 : Rahasia di Balik Kegelapan
20
Bab 19 : Kenangan dari Jantung Hutan
21
Bab 20 : Jejak Cahaya di Kehidupan Sehari-hari
22
Bab 21 : Tahun-Tahun yang Berlalu
23
Bab 22 : Jejak yang Tak Lekang
24
Bab 23 : Kisah dari Hutan Ribu
25
Bab 24 : Jejak Awan di Langit Sore
26
Bab 25 : Menuju Hutan Ribu
27
Bab 26 : Senandung di Ketinggian
28
Bab 27 : Ketika Awan Berbisik Kata Bijak
29
Bab 28 : Simfoni Angin dan Awan
30
Bab 29 : Jejak Angin Menuju Hutan Kenangan
31
Bab 30 : Menembus Kabut Kenangan
32
Bab 31 : Semangat yang Tak Pernah Padam
33
Bab 32 : Ìlmu yang Menuntun Langkah
34
Bab 33 : Jejak Ilmu di Hutan Ribu
35
Bab 34 : Inspirasi dari Belahan Dunia Lain
36
Bab 35 : Langkah Mantap Menuju Esok
37
Bab 36 : Transendensi Naratif dalam Leksikon Akademis
38
Bab 37 : Implikasi Epistemologis dan Arah Penelitian Lanjutan
39
Bab 38 : Kearifan Lokal Mengiringi Langkah
40
Bab 39 : Undangan dari Alam
41
Bab 40 : Manyusuri Jalan Nan Takana
42
Bab 41 : Kabar dari Jantung Rimbo
43
Bab 42 : Manjalajah Rimbo Saribu
44
Bab 43 : Misteri Danau Hitam
45
Bab 44 : Melodi Pemulihan
46
Bab 45 : Bunga Pemulih dan Perpisahan
47
Bab 46 : Rencana di Bawah Bintang
48
Bab 47 : Menghadapi Kegelapan di Puncak
49
Bab 48 : Harmoni yang Pulih
50
Bab 49 : Sapaan dari Rimba Sunda
51
Bab 50 : Ikatan dengan Dunia Gaib
52
Bab 51 : Lidah yang Menjelajah Pulau
53
Bab 52 : Ketika Mantra Banyuwangi Bergema
54
Bab 53 : Menyusuri Jejak Kegelapan
55
Bab 54 : Menyusuri Kegelapan Gua
56
Bab 55 : Mata Air yang Merana
57
Bab 56 : Warisan Mantra dari Nenek Sesepuh
58
Bab 57 : Mendaki Puncak Suci
59
Bab 58 : Pertarungan di Puncak
60
Bab 59 : Kedamaian yang Kembali Merajai
61
Bab 60 : Harmoni yang Abadi
62
Bab 61 : Kenangan yang Abadi
63
Bab 62 : Panggilan Alam yang Kedua
64
Bab 63 : Menyusuri Jejak Kerusakan
65
Bab 64 : Menghadapi Para Perusak Hutan
66
Bab 65 : Melapor pada yang Berwenang
67
Bab 66 : Tantangan di Puncak Tertinggi
68
Bab 67 : Pertempuran di Jantung Kegelapan
69
Bab 68 : Kemenangan Cahaya dan Kembalinya Keseimbangan
70
Bab 69 : Kembali ke Rumah, Kembali ke Kehidupan
71
Bab 70 : Jejak Langkah di Tanah Sendiri
72
Bab 71 : Kekuatan dari Puncak Tertinggi
73
Bab 72 : Kekuatan yang Baru Terbangkitkan
74
Bab 73 : Konfrontasi di Hutan Gelap
75
Bab 74 : Janji Ilmu dari Sang Guru
76
Bab 75 : Bisikan Ombak Siberut
77
Bab 76 : Sosok di Balik Senja
78
Bab 77 : Menguasai Bayangan Diri
79
Bab 78 : Mengalir Bersama Kekuatan Air
80
Bab 79 : Merangkai Angin dalam Genggaman
81
Bab 80 : Menari Bersama Angin
82
Bab 81 : Menyempurnakan Keheningan yang Tak Terlihat
83
Bab 82 : Menjelajahi Keheningan Samudra
84
Bab 83 : Cahaya Pemurnian dan Keheningan yang Menyegarkan
85
Bab 85 : Harmoni yang Terukir dalam Jiwa
86
Bab 86 : Menuju Rimba Sunda Sekali Lagi
87
Bab 87 : Pertemuan dengan Penjaga Tanah Borneo
88
Bab 88 : limu Leluhur dari Tanah Borneo
89
Bab 89 : Menghadapi Inti Kegelapan di Danau Ungu
90
Bab 90 : Memanggil Kekuatan Leluhur Dayak
91
Bab 91 : Kembalinya Cahaya dan Keseimbangan di Tanah Sunda
92
Bab 92 : Bisikan dari Tanah Jawa
93
Bab 93 : Menuju Tanah Para Dewa
94
Bab 94 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa 1
95
Bab 95 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa 2
96
Bab 96 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa 3
97
Bab 97 : Bisikan dari Negeri Tirai Bambu
98
Bab 98 : Puncak yang Menanti
99
Bab 99 : Gema Kebenaran di Puncak Semeru
100
Bab 100 : Pertempuran di Puncak Para Dewa
101
Bab 101 : Warisan Penjaga Tanah Jawa
102
Bab 102 : Mengemban Amanah Penjaga
103
Bab 103 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa (Bagian 1)
104
Bab 104 : Langkah Awal di Tanah Para Dewa (Bagian 2)
105
Bab 105 : Pertemuan dengan Sang Kera Sakti yang Merana
106
Bab 106 : Membebaskan Sang Legenda yang Terkurung
107
Bab 107 : Kebebasan Sang Kera dan Kedamaian Gunung Agung
108
Bab 108 : Sang Kera Sakti dan Keajaiban Zaman Now
109
Bab 109 : Pertemuan Tak Terduga di Puncak Para Dewa (Bagian 1)
110
Bab 110 : Kekuatan Humor dan Kehangatan Persahabatan
111
Bab 111 : Ketika Sang Kera Meniru Gaya Terbang Manusia Besi
112
Bab 112: Ketika Sang Kera Mencoba Selfie dengan Manusia Besi
113
Bab 113 : Ketika Sang Kera Menjelaskan Cara Kerja Tongkat Ajaib kepada Manusia B
114
Bab 114: Ketika Sang Kera Mencoba Memakai Armor Manusia Besi dan Hampir Meledak
115
Bab 115: Ketika Sang Kera Menjelaskan Cara Kerja Tongkat Ajaib I
116
Bab 116: Ketika Sang Kera Menjelaskan Cara Kerja Tongkat Ajaib II
117
Bab 117: Pertemuan dengan Sang Raja dan Si Burung Ajaib yang Cerewet
118
Bab 118: Ketika Sang Kera Menjelaskan Cara Kerja Ponsel kepada Raja Jawa
119
Bab 119: Ketika Sang Kera Mencoba Memasak Rendang dengan Ponsel
120
Bab 120: Ketika Sang Kera Mencoba Bermain Tik Tok dan Hampir Menjadi Viral
121
Bab 121: Ketika Sang Kera Mencoba Memasak Rendang dengan Ponsel
122
Bab 122: Ketika Sang Kera Memesan Ojol dan Hampir Tersesat di Dunia Maya
123
Bab 123 Ketika Sang Kera Kembali dengan Kejutan dan Hampir Membuat Kakek Jantung
124
Bab 124 Ketika Sang Kera Mencoba Mengantar Penumpang
125
Bab 125 Ketika Sang Kera Mencoba Memasak Rendang
126
Bab 126 Ketika Sang Kera Mencoba Karaoke
127
Bab 127 Ketika Sang Kera Mencoba Bermain Petak Umpet
128
Bab 128 Ketika Sang Kera Mencoba Membuat Kopi
129
Bab 129 Hampir Membakar Beranda
130
Bab 130 Hampir Membakar Beranda
131
Bab 131 Ketika Sang Kera Mencoba Bermain Gitar
132
Bab 132 Ketika Sang Kera Mencoba Bermain Gamelan dan Hampir Memanggil Petir Sung
133
Bab 133 Ketika Sang Kera Mencoba Menari Piring dan Hampir Membuat Piring Terbang
134
Bab 134 Ketika Sang Kera Mencoba Membuat Kopi dan Hampir Membakar Beranda
135
Bab 135 Ketika Sang Kera Mencoba Memasak Rendang dengan Ponsel dan Hampir Membak
136
Bab 136 Ketika Sang Kera Mencoba Membuat Kopi dan Hampir Membakar Beranda
137
Bab 137 Ketika Sang Kera Mencoba Membuat Kopi dan Hampir Membakar Beranda
138
Bab 138 Perpisahan yang Penuh Harapan
139
Bab 139 Kembali ke Kehidupan yang Lebih Tenang
140
Bab 140 Menuliskan Jejak Petualangan
141
Bab 141 Gema dari "Bisikan dari Rimba
142
Bab 142 Jejak yang Tak Pernah Usai
143
Bab 143 Misteri Mata Air Bromo
144
Bab 144 Arca Kegelapan di Bromo
145
Bab 145 Air Suci Bromo Kembali Mengalir
146
Bab 146 Kejutan di Tepi Sungai
147
Bab 147 Sapaan dari Jalan Setapak
148
Bab 148 Senja dan Busur di Tepi Sungai
149
Bab 149 Langkah Bersama di Bawah Rembulan Senja
150
Bab 150 Malam di Penginapan dan Tawa yang Menggema
151
Bab 151 Pagi di Kaki Gunung Suci
152
Bab 152 Mendaki Puncak yang Bergetar
153
Bab 153 Memurnikan Tanah yang Tercemar
154
Bab 154 Artefak Kegelapan dan Rencana Pemurnian
155
Bab 155 Kedamaian yang Kembali Bersemi di Agung
156
Bab 156 Persimpangan Jalan di Tanah Dewata
157
Bab 157 Kabar Buruk dari Rimba Saribu
158
Bab 158 Jejak Kegelisahan di Rimba Saribu
159
Bab 159 Jejak yang Tersembunyi di Hutan Ribu
160
Ringkasan Eksekutif
161
Bab 160: Persekutuan Lintas Dimensi di Gerbang Borneo

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!