Bab 6

"Apa Nak, jadi Papa tidak membelamu lagi?" suara Sena tercekat, bibirnya tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Tangan itu langsung memeluk erat, mencoba menghapus rasa sakit hati sang anak meskipun itu tidak mungkin, hari Ara sudah terlanjur sakit dengan perlakuan ayahnya yang menang sudah lupa diri.

"Sayang, kuat ya Nak, suatu saat ayahmu pasti akan berubah," ucap Sena.

Anak itu hanya bisa diam, sambil menunduk, namun kemudian dengan perlahan ia mulai mengangkat wajahnya. "Ma, kalau boleh Ara meminta, bolehkah, kita pergi saja dari rumah itu, Ara sudah tidak mau bertemu sama Papa ...," pinta anaknya itu.

Seketika dunia Sena seperti berhenti berputar, ia tidak habis pikir jika anak sekecil Ara akan memilih jalan untuk menjauh dari pada bertahan. 'Astaga Mas Dirga, sedalam apa luka yang kau torehkan, apa tidak cukup hanya denganku kenapa harus Ara yang mengalaminya,' batin Sena.

Sena langsung mengajak pulang sang anak, di dalam perjalanan ia tidak mau sedikitpun melepas genggamannya untuk sang anak, untuk saat ini hanya seorang ibulah yang mampu menenangkan hati sang anak, di saat orang yang seharusnya menjadi rumah malah pergi meninggalkan.

"Anakku selama ada aku, kau akan baik-baik saja Nak," ucap Sena sambil fokus ke arah jalanan.

Sesampainya di rumah Ara benar-benar tidak mau diajak masuk, bayangan sang ayah yang tidak pernah ada dipihaknya mulai menari-nari di pikirannya, dia hanya seorang anak yang keluh kesahnya ingin di dengar, dan di perhatikan melalui kontan batin atau fisik, namun sayang Ara tidak mendapatkan itu.

"Kenapa Papa tidak membela Ara," gumamnya dengan tatapan nanar.

Sena yang mendengarnya langsung mengelus kepala sang anak. "Sayang, jangan mikirin itu lagi ya," ucapnya dengan lembut, namun tidak bisa membuat luka sang anak hilang begitu saja. "Ayo masuk Nak," ajak Sena segera.

Namun tangan Sena ditepis begitu saja oleh sang anak. "Mama masuk saja, aku gak mau tinggal di rumah ini lagi, aku sudah tidak mau bertemu dengan Papa, ayo Ma, segera kemasi barang-barang kita," desak putrinya itu.

Sena terdiam, memang benar kata sang anak semenjak kejadian semalam Dirga tidak ada pulang ataupun meminta maaf, dan hal itu menjadikan alasan kuat untuk pergi,membawa semua luka yang ada.

"Tunggu sebentar ya Nak, Mama kemasi semua baju," pamit Sena.

Langkah wanita itu mantap melangkah masuk, bukan untuk menjadi penghuni rumah itu lagi, melainkan untuk pergi tanpa pamit, sesampainya di kamar, Sena hanya bisa menulis surat yang berisi catatan kecil agar Dirga tidak perlu mencarinya lagi.

"Jika kau membaca surat ini mungkin kami berdua sudah pergi jauh, jangan pernah lagi temui atau cari kami, karena anak perempuanmu sudah merasa kecewa terhadap bapaknya sendiri, orang yang seharusnya menjadi garda terdepan, ternyata malah menancapkan pisau di hati gadis kecilmu," Senandung Cinta.

Setelah menulis surat untuk suaminya, Sena mulai berkemas dengan cepat-cepat, karena khawatir dengan anaknya yang menunggu di depan rumah. Tidak banyak barang yang diambil, hanya barang-barang kebutuhannya saja dan juga perhiasan hasilnya sendiri yang ia dapatkan dari kerja kerasnya.

Setelah itu ia mulai beralih ke kamar anaknya, sama halnya apa yang dilakukan dikamarnya sebelumnya, tak ada barang yang banyak, yang ia bawa hanya semuat kopernya saja. Selesai mengemas, ia pun langsung menyeret kedua koper besar itu keluar dari rumah, rumah yang sudah delapan tahun ini ia huni bersama keluarga kecilnya.

"Selamat tinggal, terima kasih sudah menjadi tempat ternyaman kita selama delapan tahun ini.

Sena keluar dengan hari tegar, mencoba untuk tidak tantrum meskipun luka yang ia terima tidak sebanding dengan pengorbanannya menjadi seorang istri.

"Sayang, makasih ya udah mau nungguin Mama," ucap Sena.

"Iya Ma," sahut Ara.

Sementara itu asisten rumah tangga mereka hanya bisa menangisi kepergian majikannya yang tidak tahu akan pergi kemana.

"Bu ... jangan pergi Bu," cegah asisten rumah tangganya itu.

"Bi Jum, kalau ada salah kata, tolong dimaafkan ya, maaf, aku harus pergi," ujar Sena singkat lalu mulai memasukkan sendiri koper-kopernya.

Mobil Sena mulai melaju, meninggalkan rumah yang penuh ketenangan, di dalam perjalanan, Sena tidak pernah mengalihkan pandangannya ke anaknya meskipun saat ini dirinya sedang menyetir, jemari lentik itu selalu mengelus bahu tangan Ara memastikan anaknya sedang baik-baik saja.

"Nak, kau tidak lapar, kita berhenti sebentar untuk makan."

Dengan cepat Ara menggelengkan kepalanya. "Kita belum keluar dari kota ini Ma," sahutnya seolah tidak mau lagi menginjakkan kakinya di kota ini.

Sena hanya bisa mengelus dada, sedalam itukah luka yang tengah dihadapi oleh anaknya.

☘️☘️☘️☘️

Malam harinya, angin malam masuk menyelinap melalui celah jendela, suasana rumah besar itu terasa sepi, apalagi disaat tuan rumah mulai menginjakkan kaki di dalam rumahnya, rumah yang ia datangi ketika ada inginnya saja, rumah yang saat ini jarang ia pijak.

Namun tatapannya sekarang mulai heran, harinya mulai berdebar, seperti ada yang kurang dari rumah ini, dimana istri yang setiap malam selalu menyambutnya dengan senyuman, dimana rengekan Ara yang selalu menuntutnya untuk pulang cepat.

Semuanya terasa hambar, rumah ini serasa kosong tak berpenghuni. "Ma ... Mama ... Ara ... Papa pulang Nak ...," ucap Dirga seolah sambil melangkah ke ruang tengah tempat Ara dan Sena bermain sambil menunggu dirinya pulang.

Lagi-lagi yang ia dapat hanya kesunyian, cemilan dan minuman hangat yang biasanya tersaji di meja sekarang kosong tak berjalan dalam hati. "Sebenarnya mereka ada di mana?"

"Sena ... Ara ....!" teriaknya semakin menggema. "Sebenarnya kalian ada di mana sih, apa kalian berdua marah padaku!" teriaknya kembali.

Tidak puas di ruang tengah langkah kaki Dirga langsung menaiki anakan tangga dengan cepat, dan sesampainya di kamar utama jantung Dirga seperti dihantam kilatan dahsyat yang benar-benar mengguncang hatinya.

"Astaga, ini kenapa, dimana keberadaan anak dan istriku," ucap Dirga risau bahkan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Dirga mulai beranjak ke meja rias, yang memang Sena selalu meninggalkan sesuatu jika dirinya telat pulang ataupun ada keperluan mendesak, dan hal itu membuat Dirga langsung menuju di sana.

Seketika tatapan Dirga tertuju kepada surat kecil yang ditinggalkan oleh sang istri, tangannya langsung terulur, namun dunianya seolah berhenti ketika membaca surat tertulis itu.

"Tidak ....!" teriak Dirga hampir putus asa.

Entah kenapa hatinya merasa hancur padahal dia sendiri yang sudah bermain api dan lebih memilih wanita baru yang ada di dalam kehidupannya. "Sena tolong jangan pergi aku tidak mau kehilangan kalian berdua," ucapnya terdengar sedikit egois.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Eka

Eka

dirga kamy akan menyesal telah menyakiti wanita2 yg begitu tulus mencintai dan menyayanggi mu,swmoga saja anak yg dikandung ika anaknya cacat ya thor

2025-11-10

1

Nurhartiningsih

Nurhartiningsih

dih...nggak ingin kehilangan tapi selingkuh sampai hamil dodol emang

2025-11-16

1

Nina Priyantina

Nina Priyantina

laki laki egois hanya mementingkan kesenangannya aja tidak kasian sama anaknya

2026-01-08

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 6
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 23
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51
52 Bab 52
53 Bab 53
54 Bab 54
55 Bab 54
56 Bab 56
57 Bab57
58 Bab 58
59 Bab 59
60 Bab 60
61 Bab 61
62 Bab 62
63 Bab 63
64 Bab 64
65 Bab 65
66 Bab 66
67 Bab 67
68 Bab 68
69 Bab 69
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72
73 Bab 73
74 Bab 74
75 Bab 75
76 Bab 76
77 bab 77
78 Bab 78
79 Bab 79
80 Bab 80
81 Bab 81
82 Bab 82
83 Bab 83
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86
87 Bab 87
88 Bab 88
89 Bab 89
90 Bab 90
91 Bab 91
92 Bab92
93 Bab 93
94 Bab 94
95 Bab 95
96 Bab 96
97 Bab 97
98 Bab 98
99 Bab 99
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 Draft
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 Bab108
109 Promo buku baruku
110 Promo Karya baruku lagi Genre Horor
111 Promo Karya temen Author
112 Promo karya baruku
113 Promosi karya baruku
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 6
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 23
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51
52
Bab 52
53
Bab 53
54
Bab 54
55
Bab 54
56
Bab 56
57
Bab57
58
Bab 58
59
Bab 59
60
Bab 60
61
Bab 61
62
Bab 62
63
Bab 63
64
Bab 64
65
Bab 65
66
Bab 66
67
Bab 67
68
Bab 68
69
Bab 69
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72
73
Bab 73
74
Bab 74
75
Bab 75
76
Bab 76
77
bab 77
78
Bab 78
79
Bab 79
80
Bab 80
81
Bab 81
82
Bab 82
83
Bab 83
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86
87
Bab 87
88
Bab 88
89
Bab 89
90
Bab 90
91
Bab 91
92
Bab92
93
Bab 93
94
Bab 94
95
Bab 95
96
Bab 96
97
Bab 97
98
Bab 98
99
Bab 99
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
Draft
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
Bab108
109
Promo buku baruku
110
Promo Karya baruku lagi Genre Horor
111
Promo Karya temen Author
112
Promo karya baruku
113
Promosi karya baruku

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!