03. Kekhawatiran Mami Mia

Sebelum pulang.

Seiring malam yang semakin larut, acara pertunangan pun berakhir dengan lancar dan tamu-tamu mulai berpamitan. Kedua keluarga mengucapkan terima kasih kepada tamu yang sudah hadir.

Keluarga Nancy akhirnya berpamitan. "Jeng Mia, terima kasih banyak, ya. Akhirnya rencana kita menjodohkan mereka berjalan lancar," ucap Nyonya Rachel-ibunda Nancy tampak bahagia sambil memeluk Mama Mia.

"Sama-sama, Jeng." Mami Mia tersenyum hangat seraya membalas pelukan calon besannya.

Sementara Ayah Nancy, Tuan Feriawan melakukan hal yang sama dengan Papi Baim.

Nancy yang bergelayut manja di lengan Darrel itupun dengan terpaksa melepaskan tangannya, "Aku pulang dulu, ya, Rel," ucapnya lirih seolah enggan untuk berpisah.

"Hu'um..." Darrel tersenyum sembari menganggukkan kepala, tangannya menggenggam erat tangan Nancy, dan mengusapnya lembut.

Setelah mobil keluarga Nancy berlalu, Mami Mia menghela napas lega. Ia lalu memandang Darrel berharap semoga kebahagiaan selalu menyertai putra sulungnya itu.

Namun, ketidakhadiran Darren, masih menyisakan teka-teki besar baginya. Mami Mia, terlihat sangat khawatir. "Aneh sekali, kenapa Bang Ren tidak hadir bahkan sampai acara selesai?" Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

"Pi, mami takut terjadi sesuatu sama Bang Ren?" bisik Mami Mia pada Papi Baim.

Papi Baim hanya menggelengkan kepala, berusaha menenangkan istrinya. "Mami tenang saja ya, nanti kita mampir ke bengkel Bang Ren. Mungkin ada sesuatu yang urgent, sehingga dia tidak bisa datang."

Akhirnya mereka sekeluarga meninggalkan hotel. Darrel dan Danish ikut dengan mobil orangtuanya, sementara Davin si bungsu mengendari motor sport-nya.

Sesampai di depan bengkel Darren, ruko dua lantai itu tertutup rapat. Bahkan lampu di lantai atas yang biasa digunakan Darren untuk beristirahat atau menginap, sudah padam. Berarti Darren tidak ada di tempat tersebut.

"Sepertinya Bang Ren nggak ada di sini deh, Mi. Buktinya lampunya sudah nggak nyala di lantai dua," ujar Danish.

Mami Mia menghela napas panjang, sambil memandang ruko yang tampak sepi itu.

"Sebaiknya kita segera pulang, barangkali Bang Ren sudah ada di rumah," pungkas Papi Baim.

*

*

"

Kembali di rumah

Semua mata tertuju pada Zeya, termasuk Darrel yang juga menatapnya serius, menunggu kelanjutan ucapannya. Mami Mia, yang sudah tidak sabar, mendekati sang menantu dan mengguncang kedua bahunya. "Apa kata Bang Ren, Sayang? Katakan, cepat!"

Zeya mengerjapkan mata, ia terkejut dengan reaksi ibu mertuanya itu.

Papi Baim segera menarik tangan istrinya dari pundak Zeya. "Mi, kendalikan dirimu."

"Ze, coba katakan dengan jelas, Bang Ren bilang apa?" tanya Papi Baim dengan lembut seraya menatap menantunya.

Zeya menghela napas sebelum menjawab, "Bang Ren bilang akan keluar kota karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan."

Zeya meniupkan napasnya lega. "Ya Tuhan, maafkan hamba yang sedikit berbohong," gumamnya dalam hati.

"Maaf, Ze harus ke kamar. Sepertinya Zana dan Zando sudah ngantuk sekali. Permisi." Zeya lalu membawa kedua anaknya ke lantai atas menuju ke kamarnya.

Mami Mia tampak tidak puas dengan jawaban Zeya. Ia merasa aneh, seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Tidak biasanya putra keduanya itu bersikap seperti itu.

Papi Baim berusaha menenangkan sang istri dengan mengusap lembut punggungnya. "Kita ke kamar yuk, Mi. Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur. Besok kita bisa bertanya pada Kakak, apa yang terjadi dengan Bang Ren."

Mami Mia pun menurut, tetapi sebelum masuk ke kamarnya, ia menoleh ke arah Darrel yang sejak tadi hanya berdiri diam mendengarkan, tanpa sedikitpun mengeluarkan suara. Namun, sebagai seorang ibu, ia tahu putra sulungnya itu merasakan kekecewaan dan kekhawatiran yang sama dengannya.

"Sebaiknya Abang tidur, ya. Pasti sangat capek, kita bisa bicarakan ini besok lagi," ucapnya lembut sambil tersenyum.

"Iya, Mi." Darrel mengangguk, lalu naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.

*

Daniel baru saja tiba di rumah dan langsung masuk setelah melihat mobil Papi Baim sudah berada di garasi. Mami Mia, yang sedang menuju ke kamar, mengurungkan niatnya, lalu bergegas menghampiri putra ketiganya itu dengan mata berbinar penuh harapan.

"Sayang, apa benar Bang Ren pergi keluar kota karena ada pekerjaan?" tanyanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi, berharap mendapatkan jawaban yang pasti dari Daniel.

"Kakak baru datang, Mi. Biarkan dia duduk dulu," tegur Papi Baim, mencoba meredakan situasi.

"Mami hanya khawatir, Pi," sahut Mami Mia berusaha membela diri

"Katakan, Kak. Jangan membuat mami penasaran," desak Mami Mia.

Daniel menggaruk kepalanya, tampak bingung. Sesaat kemudian menatap ke lantai atas, lalu kembali menatap orangtuanya dengan pandangan yang ambigu. "Mi, Pi... Lebih baik kita bicara di tempat lain, karena ini mengenai Bang Ren," kata Daniel, suaranya pelan seakan tak ingin yang lain mendengarnya.

Mami Mia dan Papi Baim saling pandang dengan tatapan tak mengerti. Namun, Papi Baim kemudian mengangguk. "Baiklah, kita ngobrol di ruang kerja papi saja," katanya, lalu membimbing sang istri masuk ke ruang kerjanya, diikuti oleh Daniel di belakangnya.

Suasana menjadi sangat tegang, dan rasa keingintahuan Mami Mia semakin memuncak. Daniel menatap kedua orangtuanya dengan serius, lalu mengambil napas dalam sebelum berbicara. "Sejujurnya, Bang Ren memang ada masalah, Mi, Pi. Tapi kakak tidak bisa mengatakan apa-apa tanpa izin darinya..."

"Apa-apaan ini, Kak?" sambar Mami Mia cepat. "Kenapa tidak mau bilang? Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?" suaranya mulai meninggi.

Papi Baim meletakkan tangan pada bahu istrinya, memberi isyarat untuk menahan diri. "Kakak, tolong beritahu kami apa yang sebenarnya terjadi."

Daniel memijat pelipisnya, dia merasa lelah, tetapi tidak tega melihat wajah kedua orangtuanya yang tampak khawatir. Dia lalu melanjutkan ucapannya.

"Sebenarnya... Bang Ren pergi bukan karena pekerjaan. Tapi dia bilang, butuh waktu sendiri untuk menata hatinya."

Mami Mia tersentak kaget sambil mengernyit bingung, sementara Papi Baim meminta klarifikasi. "Apa maksudnya, Kak? Bicaralah yang jelas biar kami paham."

"Bang Ren, dia...." Daniel tampak ragu.

Terpopuler

Comments

bibuk Hannan & Afnan

bibuk Hannan & Afnan

Darrel dan Darren kembar, lalu Daniel dan si bungsu Danish, katanya anaknya lima satu lagi namanya siapa thor,

2025-11-19

2

Patrick Khan

Patrick Khan

nama nya hampir sm q kadang bingung 🤭danil daren darel trs sapa lg😁

2025-10-12

2

Rusmini Mini

Rusmini Mini

terlukaaaa hati terasa tertusuk duri bila Nancy tertawa dgn Darrel

2026-03-28

1

lihat semua
Episodes
1 01. Kenyataan menyakitkan
2 02. Aku ingin menjadi diriku sendiri
3 03. Kekhawatiran Mami Mia
4 04. Pengalaman baru
5 05. Ingin memulai semuanya dari nol
6 06. Darren difitnah
7 07. Usaha Darren
8 08. Bengkel Darren perlahan semakin dikenal
9 09. Semuanya sudah berakhir
10 10. Darren dijebak
11 11. Bebas
12 12. Tidak yakin
13 13. Akhirnya kebenaran menemukan jalannya
14 14. Pilihan sulit
15 15. Apa kamu yakin akan tetap bersamaku?
16 16. Harus siap dengan konsekuensinya
17 17. Dilamar
18 18. Rencana Pak Haris
19 19. Terpesona
20 20. Mimpi buruk
21 21. Hancur berkeping-keping
22 22. Keputusan Darren
23 23. Menghilang tanpa jejak
24 24. Konflik batin Ajeng
25 25. Semangat baru
26 26. Obrolan bersama
27 27.
28 28.
29 29. Kedatangan Ajeng
30 30. Talak sekaligus lamaran
31 31. Ajeng mencoba memprovokasi
32 32. Restu
33 33. Sarapan bersama
34 34. Sikapku tergantung bagaimana sikapmu terhadapku
35 35. Sah
36 36. Semoga kalian selalu berbahagia
37 37. Belum pengalaman
38 38. Indahnya kebersamaan
39 39. Pernikahan Ajeng
40 40. Insecure
41 41. Selamat datang di keluarga kami
42 42. Kisah Darren
43 43. Kejutan apalagi yang akan kamu berikan padaku?
44 44. Kejutan lagi?
45 45.
46 46.
47 47.
48 48.
49 49.
50 50. Tranding
51 51.
52 52. Resepsi
53 53. Apa kamu amnesia?
54 54. Seandainya
55 55.
56 56.
57 57. Salah paham
58 58. Kamu adalah prioritasku sekarang
59 59. Membanding-bandingkan
60 60. Kecewa
61 61.
62 62.
63 63. Live Bareng
64 64. Ambisi Ajeng
65 65. Pertengkaran
66 66. Sehari bersama Bu-mer
67 67.
68 68. Kembali ke Surabaya
69 69. Masalah
70 70. Pagi yang Tak Terduga
71 71.
72 72.
73 73.
74 74.
75 75. Ini yang terbaik
76 76. Ambisi Ajeng
77 77. Apa hubungannya denganku?
78 78.
79 79.
80 80. Hamil
81 81. Kegilaan Ajeng
82 82.
83 83. Partner terbaik
84 84. Anugerah terindah
85 85.
86 86.
87 87. Berbagi kebahagiaan
88 88. Maaf
89 89. Menemui Panji
90 90. Pelatihan montir gratis
91 91. Ungkapan syukur
92 92.
93 93.
94 94. Tasyakuran
95 95. Melahirkan
96 96. Kebahagiaan hakiki
97 Karya Baru
98 Sang pewaris tersembunyi
99 Dikira Montir Ternyata Sultan
100 Promo karya baru
Episodes

Updated 100 Episodes

1
01. Kenyataan menyakitkan
2
02. Aku ingin menjadi diriku sendiri
3
03. Kekhawatiran Mami Mia
4
04. Pengalaman baru
5
05. Ingin memulai semuanya dari nol
6
06. Darren difitnah
7
07. Usaha Darren
8
08. Bengkel Darren perlahan semakin dikenal
9
09. Semuanya sudah berakhir
10
10. Darren dijebak
11
11. Bebas
12
12. Tidak yakin
13
13. Akhirnya kebenaran menemukan jalannya
14
14. Pilihan sulit
15
15. Apa kamu yakin akan tetap bersamaku?
16
16. Harus siap dengan konsekuensinya
17
17. Dilamar
18
18. Rencana Pak Haris
19
19. Terpesona
20
20. Mimpi buruk
21
21. Hancur berkeping-keping
22
22. Keputusan Darren
23
23. Menghilang tanpa jejak
24
24. Konflik batin Ajeng
25
25. Semangat baru
26
26. Obrolan bersama
27
27.
28
28.
29
29. Kedatangan Ajeng
30
30. Talak sekaligus lamaran
31
31. Ajeng mencoba memprovokasi
32
32. Restu
33
33. Sarapan bersama
34
34. Sikapku tergantung bagaimana sikapmu terhadapku
35
35. Sah
36
36. Semoga kalian selalu berbahagia
37
37. Belum pengalaman
38
38. Indahnya kebersamaan
39
39. Pernikahan Ajeng
40
40. Insecure
41
41. Selamat datang di keluarga kami
42
42. Kisah Darren
43
43. Kejutan apalagi yang akan kamu berikan padaku?
44
44. Kejutan lagi?
45
45.
46
46.
47
47.
48
48.
49
49.
50
50. Tranding
51
51.
52
52. Resepsi
53
53. Apa kamu amnesia?
54
54. Seandainya
55
55.
56
56.
57
57. Salah paham
58
58. Kamu adalah prioritasku sekarang
59
59. Membanding-bandingkan
60
60. Kecewa
61
61.
62
62.
63
63. Live Bareng
64
64. Ambisi Ajeng
65
65. Pertengkaran
66
66. Sehari bersama Bu-mer
67
67.
68
68. Kembali ke Surabaya
69
69. Masalah
70
70. Pagi yang Tak Terduga
71
71.
72
72.
73
73.
74
74.
75
75. Ini yang terbaik
76
76. Ambisi Ajeng
77
77. Apa hubungannya denganku?
78
78.
79
79.
80
80. Hamil
81
81. Kegilaan Ajeng
82
82.
83
83. Partner terbaik
84
84. Anugerah terindah
85
85.
86
86.
87
87. Berbagi kebahagiaan
88
88. Maaf
89
89. Menemui Panji
90
90. Pelatihan montir gratis
91
91. Ungkapan syukur
92
92.
93
93.
94
94. Tasyakuran
95
95. Melahirkan
96
96. Kebahagiaan hakiki
97
Karya Baru
98
Sang pewaris tersembunyi
99
Dikira Montir Ternyata Sultan
100
Promo karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!