04. Pengalaman baru

"Dia kenapa, Kak?" Mami Mia mulai panik.

"Bang Ren... Dia baru saja ditolak cintanya oleh seorang gadis, hanya karena pekerjaannya sebagai montir," jawab Daniel.

Mami Mia terkejut, dengan reflek tangannya menutup mulut, berusaha meredam emosinya. "Hanya karena itu?" tanyanya tak percaya.

"Apa salahnya pekerjaan montir? Itu pekerjaan yang baik dan halal," imbuhnya, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Kasihan sekali, putra mami." Air mata mulai membasahi pipi Mami Mia. Hatinya hancur mendengar cerita tentang putranya. Ia merasa bersalah karena tak mampu menjadi penghibur putranya di saat sedang terpuruk.

Papi Baim merengkuhnya dalam pelukan, berusaha menguatkan istrinya. "Sudahlah, Mi. Bang Ren pasti bisa melewati ini." ucapnya seraya mengeratkan pelukan dan menepuk-nepuk pundak sang istri. Sementara Daniel menatap keduanya dengan pandangan tak terbaca, lalu pamit keluar dari ruang kerja papinya.

"Tunggu, Kak. Siapa gadis yang berani menolak Bang Ren?" Mami Mia bertanya, jiwa keponya terus meronta.

"Bukan siapa-siapa, Mi. Lagipula, Bang Ren sedang berusaha untuk melupakannya," jawab Daniel cepat, berusaha mengelak. Dia tidak ingin maminya tahu bahwa gadis itu adalah Nancy. Mami Mia pasti akan sangat syok dan merasa bersalah.

*

*

*

Kereta yang membawa Darren berhenti di stasiun tujuan. Dia turun dari kereta dengan langkah gontai. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tiga dini hari. Udara dingin langsung menyapanya terasa menusuk tulang. Dia mengusap wajahnya yang tampak lelah serta rasa kantuk yang masih menyerangnya.

Tiba-tiba perutnya berbunyi, berteriak minta diisi. Dia ingat belum makan malam. "Astaghfirullah, kenapa aku sampai lupa mengisi perutku?" ucapnya sambil mengusap perutnya yang terasa lapar.

Sambil menyeret kopernya, Darren menyusuri area sekitar stasiun. Dia berharap ada warung atau kedai yang masih buka di jam-jam seperti ini. Matanya kemudian menangkap sebuah warung kaki lima yang berada di seberang stasiun.

Dengan langkah cepat, Darren mendekati warung tersebut dan langsung disambut aroma sedap yang membangkitkan selera makannya. Ia memesan makanan untuk mengganjal perutnya yang lapar. "Pak, mie instan rebus satu dan kopi hitam satu, ya," ucapnya pada pedagang.

"Baik, Mas. Mohon ditunggu sebentar, ya," sahut pedagang dengan ramah.

"Buka dua puluh empat jam ya, Pak?" tanya Darren mencoba membuka obrolan.

"Enggak, Mas. Saya baru buka. Biasanya jam segini para pedagang sayur-mayur yang mampir," jawab pedagang itu sambil menyiapkan pesanan.

Beberapa saat kemudian, pedagang itu meletakkan semangkok mie instan kuah dan segelas kopi hitam di atas meja. "Silakan dinikmati, Mas."

Darren tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Ia langsung menyantap mie instan kuah yang masih panas dengan lahap, sambil meniupnya sesekali. Dalam beberapa suapan, semangkok mie instan kuah itu pun habis, mengisi perutnya yang lapar.

Darren menikmati kopinya dan gorengan yang masih hangat sambil melanjutkan obrolan bersama bapak pedagang tersebut. Hingga sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang. Dia pun pamit setelah membayar makanan dan minuman yang dipesannya.

Darren menuju masjid terdekat untuk membersihkan diri, kemudian mengikuti sholat subuh berjamaah. Selesai sholat, dia bergegas keluar, tetapi dirinya dibuat terkejut karena tidak mendapati kopernya yang dia letakkan di dekat pintu masuk. Darren pun hanya bisa menghela napas pasrah sambil menggaruk kepalanya bagian belakang dengan kasar.

"Ada apa, Mas?" tanya salah seorang bapak jamaah masjid, yang melihat ekspresi Darren tampak frustrasi.

"Koper saya hilang, Pak. Saya letakkan di sini tadi," jawab Darren dengan nada kecewa, sambil menunjuk tempat di mana kopernya tadi dia tinggalkan.

Si bapak itu mengangguk simpatik. "Coba kita cari dulu, siapa tahu ada yang melihat dan menyimpannya," sarannya. Bersama-sama, mereka mencari di sekitar masjid, tetapi koper Darren tetap tidak ditemukan.

"Kalau begitu, coba Mas tanya sama pengurus masjid atau orang-orang di sekitar sini. Semoga ada yang melihat," usul bapak itu.

"Sudahlah, tidak apa-apa, Pak. Lagian tidak ada benda berharga di dalamnya, hanya beberapa pakaian dan peralatan mandi saja," kata Darren.

"Sepertinya masnya bukan orang sini, ya?" tanya bapak itu lagi.

"Iya, Pak. Saya baru tiba dari Jakarta. Saya ke sini merantau," jawab Darren.

"Walah, apa nggak ke balik to, Mas? Biasanya orang berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk mengadu nasib, ini malah dari sana kemari?" Si bapak tersebut berkelakar sambil tersenyum simpul.

"Karena di sana sudah banyak para perantau, maka saya mencoba peruntungan di sini, Pak," jawab Darren dengan senyum pula. "Tapi tidak apa-apa, ini pengalaman baru bagi saya, dan saya siap dengan apa pun yang akan terjadi," tambahnya optimis.

Si bapak mengangguk mengerti. "Bagus kalau begitu, Mas. Semoga masnya cepat beradaptasi dan menemukan jalan rejeki yang tepat di sini. Kalau butuh bantuan, jangan ragu untuk bertanya, ya," katanya sambil menepuk bahu Darren.

"Terima kasih, Pak. Saya akan ingat itu," jawab Darren dengan rasa terima kasih.

*

*

*

Hari minggu suasana di kediaman keluarga Papi Baim tampak santai. Mami Mia dibantu Zeya-menantunya menyiapkan sarapan di dapur. Kabut mendung masih menghiasi wajah wanita yang masih cantik meski sudah memiliki lima orang anak yang kini telah tumbuh dewasa itu.

"Sayang, apa kamu juga tahu kalau Bang Ren baru saja ditolak cintanya oleh seorang gadis? Apa Ze, tahu siapa gadis itu?" tanya Mami Mia pelan.

Zeya mengangguk ragu-ragu. "Tapi maaf, Mi. Ze nggak tahu siapa gadis itu," sahut Zeya sambil senyum meringis.

Mami Mia menghela napas kasar, seraya melanjutkan pekerjaannya. "Memangnya Kakak nggak ngasih tahu? Bukankah selama ini kalian selalu terbuka dalam hal apapun?" tanyanya lagi.

"Iya sih, Mi. Tapi, Ze tidak punya wewenang untuk menceritakannya," jawab Zeya.

Mami Mia tidak bisa memaksa, ia tahu bagaimana karakter menantunya yang tak mau ikut campur urusan orang lain.

Menu sarapan telah tersaji di meja makan. Semua anggota keluarga tampak menempati tempat duduknya masing-masing. Mereka menikmati sarapan sambil diselingi obrolan dan candaan ringan.

Selesai sarapan mereka berkumpul di ruang tamu untuk menikmati waktu bersama. Papi Baim membaca koran, sementara Mami Mia dan Zeya membersihkan sisa-sisa sarapan di meja makan. Daniel menemani anak-anaknya bermain di luar, menikmati hari libur mereka. Suasana hangat dan penuh cinta memenuhi rumah itu, membuat semua orang merasa nyaman dan bahagia.

Darrel menghampiri sang adik-Daniel mengajaknya berbincang sambil tetap mengawasi anak-anak yang sedang bermain.

"Apa yang ingin Abang tanyakan?" tanya Daniel.

"Katakan padaku apa yang terjadi pada Ren. Kenapa dia tidak datang pada saat pertunanganku. Kamu pasti tahu, kan?" kata Darrel.

Daniel menatap kakak sulungnya itu dengan pandangan serius. "Abang serius ingin tahu apa yang terjadi pada Ren?"

Darrel mengangguk. Daniel tersenyum tipis. "Dia sedang sedih, baru saja ditolak oleh gadis yang dicintainya. Dia tidak mungkin berpura-pura bahagia sementara hatinya sedang terluka."

"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Darrel. "Lagipula cinta tidak harus memiliki bukan?" imbuhnya.

"Jelas ada, karena dia...." Ucapan Daniel terhenti, dia menoleh ke arah seseorang yang datang menghampiri mereka.

Terpopuler

Comments

vj'z tri

vj'z tri

tega banget ini author nya sama Darren 🥹🥹🥹 selain ce nya koper juga ninggalin Darren 😢

2026-01-26

1

Arifin Nur Karim

Arifin Nur Karim

tumben ada cerita pendek jagoannya shaleh, menunaikan shalat subuh...😄🙏

2026-01-05

1

vj'z tri

vj'z tri

aminnnn semoga bertemu jodoh yang lebih baik 🤗🤗🤗🤗

2026-01-26

1

lihat semua
Episodes
1 01. Kenyataan menyakitkan
2 02. Aku ingin menjadi diriku sendiri
3 03. Kekhawatiran Mami Mia
4 04. Pengalaman baru
5 05. Ingin memulai semuanya dari nol
6 06. Darren difitnah
7 07. Usaha Darren
8 08. Bengkel Darren perlahan semakin dikenal
9 09. Semuanya sudah berakhir
10 10. Darren dijebak
11 11. Bebas
12 12. Tidak yakin
13 13. Akhirnya kebenaran menemukan jalannya
14 14. Pilihan sulit
15 15. Apa kamu yakin akan tetap bersamaku?
16 16. Harus siap dengan konsekuensinya
17 17. Dilamar
18 18. Rencana Pak Haris
19 19. Terpesona
20 20. Mimpi buruk
21 21. Hancur berkeping-keping
22 22. Keputusan Darren
23 23. Menghilang tanpa jejak
24 24. Konflik batin Ajeng
25 25. Semangat baru
26 26. Obrolan bersama
27 27.
28 28.
29 29. Kedatangan Ajeng
30 30. Talak sekaligus lamaran
31 31. Ajeng mencoba memprovokasi
32 32. Restu
33 33. Sarapan bersama
34 34. Sikapku tergantung bagaimana sikapmu terhadapku
35 35. Sah
36 36. Semoga kalian selalu berbahagia
37 37. Belum pengalaman
38 38. Indahnya kebersamaan
39 39. Pernikahan Ajeng
40 40. Insecure
41 41. Selamat datang di keluarga kami
42 42. Kisah Darren
43 43. Kejutan apalagi yang akan kamu berikan padaku?
44 44. Kejutan lagi?
45 45.
46 46.
47 47.
48 48.
49 49.
50 50. Tranding
51 51.
52 52. Resepsi
53 53. Apa kamu amnesia?
54 54. Seandainya
55 55.
56 56.
57 57. Salah paham
58 58. Kamu adalah prioritasku sekarang
59 59. Membanding-bandingkan
60 60. Kecewa
61 61.
62 62.
63 63. Live Bareng
64 64. Ambisi Ajeng
65 65. Pertengkaran
66 66. Sehari bersama Bu-mer
67 67.
68 68. Kembali ke Surabaya
69 69. Masalah
70 70. Pagi yang Tak Terduga
71 71.
72 72.
73 73.
74 74.
75 75. Ini yang terbaik
76 76. Ambisi Ajeng
77 77. Apa hubungannya denganku?
78 78.
79 79.
80 80. Hamil
81 81. Kegilaan Ajeng
82 82.
83 83. Partner terbaik
84 84. Anugerah terindah
85 85.
86 86.
87 87. Berbagi kebahagiaan
88 88. Maaf
89 89. Menemui Panji
90 90. Pelatihan montir gratis
91 91. Ungkapan syukur
92 92.
93 93.
94 94. Tasyakuran
95 95. Melahirkan
96 96. Kebahagiaan hakiki
97 Karya Baru
98 Sang pewaris tersembunyi
99 Dikira Montir Ternyata Sultan
100 Promo karya baru
Episodes

Updated 100 Episodes

1
01. Kenyataan menyakitkan
2
02. Aku ingin menjadi diriku sendiri
3
03. Kekhawatiran Mami Mia
4
04. Pengalaman baru
5
05. Ingin memulai semuanya dari nol
6
06. Darren difitnah
7
07. Usaha Darren
8
08. Bengkel Darren perlahan semakin dikenal
9
09. Semuanya sudah berakhir
10
10. Darren dijebak
11
11. Bebas
12
12. Tidak yakin
13
13. Akhirnya kebenaran menemukan jalannya
14
14. Pilihan sulit
15
15. Apa kamu yakin akan tetap bersamaku?
16
16. Harus siap dengan konsekuensinya
17
17. Dilamar
18
18. Rencana Pak Haris
19
19. Terpesona
20
20. Mimpi buruk
21
21. Hancur berkeping-keping
22
22. Keputusan Darren
23
23. Menghilang tanpa jejak
24
24. Konflik batin Ajeng
25
25. Semangat baru
26
26. Obrolan bersama
27
27.
28
28.
29
29. Kedatangan Ajeng
30
30. Talak sekaligus lamaran
31
31. Ajeng mencoba memprovokasi
32
32. Restu
33
33. Sarapan bersama
34
34. Sikapku tergantung bagaimana sikapmu terhadapku
35
35. Sah
36
36. Semoga kalian selalu berbahagia
37
37. Belum pengalaman
38
38. Indahnya kebersamaan
39
39. Pernikahan Ajeng
40
40. Insecure
41
41. Selamat datang di keluarga kami
42
42. Kisah Darren
43
43. Kejutan apalagi yang akan kamu berikan padaku?
44
44. Kejutan lagi?
45
45.
46
46.
47
47.
48
48.
49
49.
50
50. Tranding
51
51.
52
52. Resepsi
53
53. Apa kamu amnesia?
54
54. Seandainya
55
55.
56
56.
57
57. Salah paham
58
58. Kamu adalah prioritasku sekarang
59
59. Membanding-bandingkan
60
60. Kecewa
61
61.
62
62.
63
63. Live Bareng
64
64. Ambisi Ajeng
65
65. Pertengkaran
66
66. Sehari bersama Bu-mer
67
67.
68
68. Kembali ke Surabaya
69
69. Masalah
70
70. Pagi yang Tak Terduga
71
71.
72
72.
73
73.
74
74.
75
75. Ini yang terbaik
76
76. Ambisi Ajeng
77
77. Apa hubungannya denganku?
78
78.
79
79.
80
80. Hamil
81
81. Kegilaan Ajeng
82
82.
83
83. Partner terbaik
84
84. Anugerah terindah
85
85.
86
86.
87
87. Berbagi kebahagiaan
88
88. Maaf
89
89. Menemui Panji
90
90. Pelatihan montir gratis
91
91. Ungkapan syukur
92
92.
93
93.
94
94. Tasyakuran
95
95. Melahirkan
96
96. Kebahagiaan hakiki
97
Karya Baru
98
Sang pewaris tersembunyi
99
Dikira Montir Ternyata Sultan
100
Promo karya baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!