SIMPANAN KAPTEN 2

"Ja-jas hujan? K-KB?" Azura menyebutkan kembali dua hal yang membuat tubuhnya menegang, mendengarnya.

Bukan karena azura tidak mengetahuinya, namun hal itu erat kaitannya dengan hubungan suami istri, dan hal itu yang memicu ketegangan dalam dirinya. Biar bagaimanapun, ini hal baru baginya.

"Iya, apa kau tidak memahami dua hal itu?" Ujar Regan dengan senyum nakal. Ia berniat menggoda sang dokter cantik itu.

Azura masih terdiam dengan wajah yang mulai memerah karena malu. Melihat reaksi azura, Regan semakin tersenyum nakal. Ia bisa menebak, ini akan menjadi pertama bagi dokter cantik itu, dan rasanya Regan semakin tidak sabar.

"Jas hujan adalah alat kontrasepsi yang harus saya gunakan saat ingin menggenjotmu nanti, dan KB adal...,"

"I-iya, Kapten! sa-saya sudah tau," selah Azura.

Ia tidak ingin mendengar penjelasan pria itu lebih lanjut lagi. Sebab penggunaan bahasanya sangat eksplisit dan membuat sekujur tubuh azura terasa ngilu saat mendengarnya.

"Baiklah kalau begitu! Sampai jumpa besok, Dokter Azura Claire calon istriku!"

Wajah memerah Azura begitu candu dipandangan Regan. Entah mengapa, reaksi malu dan gugup gadis itu, betul-betul menarik atensinya. Dia menyukainya.

Jika dibandingkan dengan tatapan Ratu yang penuh tipu daya, dia lebih menyukai tatapan polos gadis cantik itu.

Keesokan harinya, seperti rencana semalam. Regan dan Azura berangkat ke kota untuk mengeksekusi rencana mereka.

Hari ini, Azura meminta ijin pada atasannya untuk menyelesaikan persoalan terkait ibunya, yang sudah diketahui oleh atasannya dan diberikan ijin.

Ia berangkat bersama Regan yang sudah menunggunya. Regan termasuk, seorang yang sudah sangat lama bertugas di Papua dan sangat mengetahui medan di sana. Hal ini yang membuat Ia betah, jika bertugas disana.

Selain Ia mencintai pekerjaannya, Ia juga menyukai alam di ketinggian puncak Jayawijaya yang dingin dan asri itu.

Regan juga, akrab dengan penduduk disana, sehingga Ia diterima dengan sangat baik oleh penduduk asli setempat.

Perjalanan dari pos ke kota memakan waktu satu setengah Jam. Dalam perjalanan, azura hanya terdiam saat mereka berpapasan dengan suku asli disana yang terus bertegur sapa dengan Regan layaknya keluarga.

Regan juga membagi beberapa snack dan beberapa hal yang Ia sengaja bawa didalam mobil, untuk dibagikan pada mereka.

Senyuman manis yang terus menghiasi wajah tampan pria itu, yang kini hanya menggunakan celana panjang berbahan Levis, dengan Kaos Over Size berwarna putih, yang dipadukan dengan topi baseball berwarna merah marun, pria itu terlihat sangat menawan.

Hidung mancung, bibir merah basah, membuat Azura tak sengaja menggigit bibirnya, kala melihat senyuman sang kapten yang jika berada di pos kerap kali memasang wajah dingin.

"Tampan," gumam Azura tanpa sadar. Ia segera menepuk jidatnya, kala tersadar dengan kata-katanya.

Namun atensinya teralihkan, karena sapaan seorang pemuda setempat pada sang kapten tampan yang sedang berada di kursi kemudi.

"Eh, kaka regan, ko mo ke?"

("Kak Regan, kamu mau kemana?")

"Ah, sa mo ke kota dulu, ada keperluan. Ko tunggu ee, nanti sa balik, sa belikan ko baju baru. Ko pu baju itu, su tra laku skali," balas Regan sambil tertawa kecil.

("Oh, saya mau ke kota, ada keperluan. Kamu tunggu saya yah, nanti pas kembali, saya belikan kamu baju baru. Bajumu yang itu, udah jelek,")

"Ah Iyo kah? Terimakasih lagi kakak!"

("Beneran? Makasih yah kak!")

"Iyo sama-sama Bro! Daa...," Mereka lalu melanjutkan perjalanan.

("Iya sama-sama Bro! Dadah...,")

Mendengar Regan fasih menggunakan dialek Papua, membuat azura tersenyum manis. Ia sangat menyukai Regan dalam mode ini. Ini jelas, Regan yang sangat berbeda, dengan sang Kapten Regan yang Ia kenal.

"Bagaimana gak di tugasin disini terus, toh orangnya sudah seperti orang sini. Dia tahu bagaimana mendekatkan diri dengan penduduk sini. Bahkan obrolan mereka begitu akrab, aku kagum," batin azura dengan seulas senyuman manis, hingga memamerkan deretan gigi putih bersih miliknya.

"Mau sampai kapan, kamu tersenyum seperti itu. Bisa kering gigimu," ujar Regan yang melihat senyuman di wajah Azura.

Azura segera tersadar, namun tetap tidak dapat menyembunyikan senyumannya.

"Mereka siapa Kapten?" Akhirnya azura memberanikan diri untuk berbicara, setelah diam yang hampir seribu tahun, ehh 🤭🤣

"Oh, mereka pemuda-pemuda setempat. Saya sering mengunjungi mereka untuk sekedar berbagi cerita dan membagikan hal-hal yang sekiranya mereka butuhkan."

"Disini mereka kebanyakan tidak sekolah, oleh sebab itu, saya sering membawakan buku, agar mereka bisa belajar membaca tulis. Yah, itu ajah sih!" jawab Regan dengan full senyuman. Terlihat jelas, pria itu begitu menyukai apa yang Ia lakukan.

"Asik yah," ujar azura.

"Banget. Definisi memiliki keluarga ditempat yang bagi semua orang berbahaya dan tempat konflik. Kau akan mengetahui kebenarannya yang begitu kontras dengan cerita diluar sana, setelah kau berada disini. Selamat bergabung Dokter azu...,"

"Zura, panggil saja saya zura!" potong Azura sembari tersenyum manis.

"Selamat bergabung Ra, saya lebih suka, memanggilmu dengan panggilan itu."

"Tidak masalah, itu artinya hanya Kapten yang memanggilku seperti itu. Dan menjadi berbeda itu, ada baiknya. Aku menyukai panggilan itu," balas Azura, sembari menggigit bibirnya, menahan rasa malu karena terlalu terbawa suasana, hingga berani mengatakan hal itu.

Regan hanya tersenyum manis. Ia menyadari, Azura pun menyukai kedekatannya dengan penduduk sana. Tidak seperti Ratu yang bahkan tidak sudi untuk menginjakkan kaki disana.

Dan Regan pun, tidak ingin memaksanya, sebab hubungan mereka hanyalah status, keduanya sama-sama tidak memiliki perasaan apapun.

Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, sebab mereka berhenti beberapa kali karena bertegur sapa, akhirnya mereka sampai di kota Wamena.

Kota itu berada di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut. Kota Wamena masih memiliki udara yang segar dan jauh dari polusi udara seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia. Tidak heran, suhu udara disana, terasa lebih dingin.

Mereka segera pergi ke kantor KUA untuk melangsungkan akad nikah. Untuk Regan Ia sudah memiliki walinya sendiri, yakni sepasang suami-isteri yang sudah Ia anggap seperti keluarganya saat berada di tempat tugas.

Sedangkan untuk Azura, mereka menggunakan wali hakim. Acaranya berlangsung hikmad, setelah menyiapkan beberapa keperluan yang harus mereka penuhi. Seperti baju dan perlengkapan lainnya seperti mempersiapkan mahar.

Azura sangat terkejut dengan mahar yang diberikan Regan untuknya. Mahar satu milyar bukanlah jumlah yang kecil untuk dirinya yang hidup pas-pasan, dan berusaha sekuat tenaga untuk meraih prestasi gemilang agar dapat menyelesaikan kuliahnya dengan jalur beasiswa.

Setelah proses nikahnya selesai, kini keduanya resmi menjadi suami istri. Hati Azura terasa sakit, karena harus mengambil keputusan sejauh ini. Namun, hal baik lainnya yang datang, membuat rasa sakit itu tersamarkan.

Ia menghubungi adiknya, untuk bertanya tentang kondisi sang ibu, dan jawaban yang Ia harapkan akhirnya terdengar dari seberang sana, bahwa kondisi sang ibu sudah membaik, setelah melakukan kemoterapi.

Ia bahkan sempat berbicara dengan ibunya. Hal itu yang membuat azura tidak menyesali keputusannya.

Kini, Ia hanya harus menjalankan perannya sebagai istri siri seorang Kapten Regan dengan baik. Dan tetap menjaga kerahasian hubungan ini, demi kebaikan bersama.

Setelah resmi menjadi suami istri. regan mengajak azura ke sebuah tempat indah di kota Wamena. Sebuah padang rumput luas, yang jika dilihat hamparannya indah bagai permadani berwarna merah ke unguan.

"Ini bulan Oktober 'kan?" tanya Regan.

"Iyah Kapten, emang napa?"

"Kita pergi ke Padang rumput Oktober yah," ujar Regan sekenanya.

"Apa, Padang rumput apa?" tanya azura tidak paham dengan arah pembicaraan sang kapten.

"Kita akan pergi untuk melihat padang rumput disini yang hanya akan bermekaran di bulan Oktober, sehingga rumput itu, dinamakan rumput Oktober. Bagus banget tau, semoga kamu suka yah," ujar Regan sembari menyunggingkan senyum tipis.

"Rumput, yang hanya mekar dibulan Oktober. Emang ada yang kek gitu disini?" Regan segera mengangguk, mengiyakan.

"Banyak hal bagus disini, tapi hari ini, kita hanya akan kesana, nanti kalau ada waktu luang, saya akan mengantarmu untuk mengunjungi banyak tempat bagus lainnya."

Azura mengangguk dengan senyuman. Regan dihadapannya ini, benar-benar Regan yang sangat berbeda dari biasanya. Namun, Ia menyukai hal ini.

Setelah tiba disana, azura membelalakkan matanya tak percaya dengan pemandangan indah yang berada dihadapannya.

"Sumpah, ini berasa diluar negeri gak sih? Bagus banget," cicit Azura yang segera berjalan mendekati rumput yang jika dilihat dari dekat, berwarna ungu, namun jika dilihat dari jauh, berwarna merah dan sangat indah dipandang mata.

Azura berbalik menatap Regan lekat-lekat. Air matanya perlahan menetes.

"Kita nikahnya, disaat bunga ini sedang mekar yahh, manis sekali kapten."

Regan menatap wajah cantik itu dan tersenyum lembut, "Hmm," Regan berdehem sambil mengangguk.

"Makasih, udah bawa aku kesini Kapten!" Regan hanya mengangguk sambil memandang ke depan.

Seakan menerawang jauh ke depan sana, entah bagaimana hubungan yang sudah terikat diantara mereka, berjalan nantinya. Ia hanya mengharapkan yang terbaik.

Dia ingin sosok istri yang benar-benar bisa melakukan tugasnya sebagai istri. Bukan hanya partner ranjang, namun juga selalu ada disaat dirinya membutuhkan dukungan moral dan perhatian.

Tanpa sadar, Regan telah menggantungkan harapan besarnya pada Azura, yang baru saja Ia nikahi secara siri.

"Ehh tunggu bentar yah, aku kesana dulu!" Ujar Regan sembari menunjuk ke arah, beberapa ibu-ibu yang sedang berdiri disana.

Azura mengangguk dan terus mengabadikan momen itu, dengan kamera handphonenya. Ada banyak foto dan video yang Ia buat. Hatinya membuncah dengan kebahagiaan.

Dan itulah tujuan utama regan membawa gadis itu kesana. Untuk mengatasi kegundahan dalam hatinya, paskah pernikahan mereka yang merupakan sebuah keterpaksaan bagi dokter cantik itu.

"Ra...," bisik regan, yang ternyata sudah berada dibelakang gadis yang sejak tadi sibuk menikmati pemandangan hamparan rumput Oktober di hadapannya.

"Ka-Kapten!" ujar azura sedikit terkejut, karena merasakan hembusan nafas pria itu di tengkuk lehernya.

"Nih," regan menyodorkan seikat bunga kehadapannya.

Azura segera menerima bunga itu sambil mengamatinya dengan seksama. Bunga yang kelopaknya terlihat seperti terbuat dari bahan plastik, namun batang dan daunnya, masih segar dan terlihat seperti bunga hidup.

"Ini... Bunga kok kek gini? Ini bunga hidup apa mati sih?" bingung azura.

"Itu namanya bunga Edelweiss Papua, atau orang sini sering menyebutnya bunga abadi. Ada juga yang menyebutnya bunga plastik karena tampilannya yang seperti terbuat dari plastik. Bunga ini mampu bertahan hingga 8 tahun lamanya. Hebat 'kan?" ucap regan yang hanya mendapatkan anggukan dari azura yang masih tidak percaya dengan bunga yang baru pertama kali Ia lihat ini.

"Ini bunga, hanya ada disini. Kamu gak akan nemuin bunga ini ditempat lain. Hanya ada di Papua." azura terkagum dengan pengetahuan seorang Kapten regan tentang tempat itu.

"Karena kita baru nikah, meskipun hanya nikah siri. Aku mau hubungan kita abadi, seperti nama bunga ini,

bunga abadi." Ucap azura dengan nada lirih.

Regan menghela nafas panjang, tak mampu menjawab ucapan itu. Karena baginya Ia hanya ingin menikmati kemolekan tubuh sang dokter cantik itu. Dan untuk abadinya, dia memiliki istri dan itu sangat tidak mungkin.

Namun entahlah, Ia pun tidak ingin menyakiti hati gadis itu, dengan menolak mentah-mentah harapan gadis cantik itu.

Setelah mengitari kota Wamena yang tidak begitu luas. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Karena kelelahan, mereka kembali ke hotel yang sudah mereka singgahi pagi tadi, untuk meletakkan bawaan mereka, sebelum melakukan semua yang ingin mereka lakukan.

Setelah mengajak gadis itu berjalan-jalan, guna meredam getaran kegelisahan dan rasa frustasinya, kini azura menjadi lebih santai dan tidak setegang tadi.

"Kita balik ke hotel yah?! Aku agak lelah. Juga gerah, ingin mandi." ucap regan.

"Ya udah hayuk, aku juga rasanya lengket banget ini, habis masuk ke rerumputan tadi," ujar azura sembari tertawa lepas. Merasa lucu pada dirinya sendiri, yang seperti orang udik, saat berada disana.

Regan pun tak dapat menahan tawanya, mengingat tingkah azura tadi, yang terlihat begitu menyukai berada disana, meskipun kini badannya memerah karena terlalu lama berada dekat dengan rerumputan itu.

...***...

Azura memutuskan untuk mandi lebih dulu. Sebab Ia sudah sangat lelah dan ingin segera berbaring. Setelah azura, regan pun gantian membersihkan tubuhnya.

Namun, regan sangat lama berada didalam sana. Bukan karena mandinya yang lama, namun ada sesuatu yang lain yang membuncah dalam hatinya.

Iya segera menghembuskan nafas kasar.

"Gila, belum juga lihat tubuhnya, udah bangun ajah kamu tong! Apa aku sepengen itu yahh! Tapi gadis itu, sepertinya belum pernah melakukannya. Akan sangat sulit mendekatinya, kalau dia belum siap." gumam regan sembari mengacak-acak rambutnya.

Ia sudah tidak dapat mengendalikan hasrat berci ntanya. Apalagi berada satu kamar dengan azura, regan kepayahan, menahan gejolak hasratnya yang semakin meninggi.

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

Ratu kamu ceraiin baru bisa Abadi Regan tapi kalau aparat ala bisa istri siri 🤭

2026-03-22

0

Wang Lee

Wang Lee

Enak aja, mana ada abadi nikah sirih

2025-10-16

1

Wang Lee

Wang Lee

Ngak kok, tolong ajarin dong

2025-10-16

1

lihat semua
Episodes
1 SIMPANAN KAPTEN 1
2 SIMPANAN KAPTEN 2
3 SIMPANAN KAPTEN 3
4 SIMPANAN KAPTEN 4
5 SIMPANAN KAPTEN 5
6 SIMPANAN KAPTEN 6
7 SIMPANAN KAPTEN 7
8 SIMPANAN KAPTEN 8
9 SIMPANAN KAPTEN 9
10 SIMPANAN KAPTEN 10
11 HAZELLA
12 SIMPANAN KAPTEN 11
13 SIMPANAN KAPTEN 12
14 SIMPANAN KAPTEN 13
15 SIMPANAN KAPTEN 14
16 SIMPANAN KAPTEN 15
17 SIMPANAN KAPTEN 16
18 SIMPANAN KAPTEN 17
19 SIMPANAN KAPTEN 18
20 SIMPANAN KAPTEN 19
21 SIMPANAN KAPTEN 20
22 SIMPANAN KAPTEN 21
23 SIMPANAN KAPTEN 22
24 SIMPANAN KAPTEN 23
25 SIMPANAN KAPTEN 24
26 SIMPANAN KAPTEN 25
27 SIMPANAN KAPTEN 26
28 SIMPANAN KAPTEN 27
29 SIMPANAN KAPTEN 28
30 SIMPANAN KAPTEN 29
31 SIMPANAN KAPTEN 30
32 SIMPANAN KAPTEN 31
33 SIMPANAN KAPTEN 32
34 SIMPANAN KAPTEN 33
35 SIMPANAN KAPTEN 34
36 SIMPANAN KAPTEN 35
37 SIMPANAN KAPTEN 36
38 SIMPANAN KAPTEN 37
39 SIMPANAN KAPTEN 38
40 SIMPANAN KAPTEN 39
41 SIMPANAN KAPTEN 40
42 SIMPANAN KAPTEN 41
43 SIMPANAN KAPTEN 42
44 SIMPANAN KAPTEN 43
45 SIMPANAN KAPTEN 44
46 SIMPANAN KAPTEN 45
47 SIMPANAN KAPTEN 46
48 SIMPANAN KAPTEN 47
49 SIMPANAN KAPTEN 48
50 SIMPANAN KAPTEN 49
51 SIMPANAN KAPTEN 50
52 SIMPANAN KAPTEN 51
53 SIMPANAN KAPTEN 52
54 SIMPANAN KAPTEN 53
55 SIMPANAN KAPTEN 54
56 SIMPANAN KAPTEN 55
57 SIMPANAN KAPTEN 56
58 SIMPANAN KAPTEN 57
59 SIMPANAN KAPTEN 58
60 SIMPANAN KAPTEN 59
61 SIMPANAN KAPTEN 60
62 SIMPANAN KAPTEN 61
63 SIMPANAN KAPTEN 62
64 SIMPANAN KAPTEN 63
65 SIMPANAN KAPTEN 64
66 SIMPANAN KAPTEN 65
67 SIMPANAN KAPTEN 66
68 SIMPANAN KAPTEN 67
69 SIMPANAN KAPTEN 68
70 SIMPANAN KAPTEN 69
71 SIMPANAN KAPTEN 70
72 SIMPANAN KAPTEN 71
73 SIMPANAN KAPTEN 72
74 SIMPANAN KAPTEN 73
75 SIMPANAN KAPTEN 74
76 SIMPANAN KAPTEN 75
77 SIMPANAN KAPTEN 76
78 SIMPANAN KAPTEN 77
79 SIMPANAN KAPTEN 78
80 SIMPANAN KAPTEN 79
81 SIMPANAN KAPTEN 80
82 SIMPANAN KAPTEN 81
83 SIMPANAN KAPTEN 82
84 SIMPANAN KAPTEN 83
85 SIMPANAN KAPTEN 84
86 SIMPANAN KAPTEN 85
87 SIMPANAN KAPTEN 86
88 SIMPANAN KAPTEN 87
89 SIMPANAN KAPTEN 88
90 SIMPANAN KAPTEN 89
91 SIMPANAN KAPTEN 90
92 SIMPANAN KAPTEN 91
93 SIMPANAN KAPTEN 92
94 SIMPANAN KAPTEN 93
95 SIMPANAN KAPTEN 94
96 SIMPANAN KAPTEN 95
97 SIMPANAN KAPTEN 96
98 SIMPANAN KAPTEN 97
99 SIMPANAN KAPTEN 98
100 SIMPANAN KAPTEN 99
101 SIMPANAN KAPTEN 100
102 SIMPANAN KAPTEN 101
103 SIMPANAN KAPTEN 102
104 SIMPANAN KAPTEN 103
105 SIMPANAN KAPTEN 104
106 SIMPANAN KAPTEN 105
107 SIMPANAN KAPTEN 106
108 SIMPANAN KAPTEN 107
109 SIMPANAN KAPTEN 108
110 SIMPANAN KAPTEN 109
111 SIMPANAN KAPTEN 110
112 SIMPANAN KAPTEN 111
113 SIMPANAN KAPTEN 112
114 SIMPANAN KAPTEN 113
115 SIMPANAN KAPTEN 114
116 SIMPANAN KAPTEN 115
117 SIMPANAN KAPTEN 116
118 SIMPANAN KAPTEN 117
119 SIMPANAN KAPTEN SEASON 2
Episodes

Updated 119 Episodes

1
SIMPANAN KAPTEN 1
2
SIMPANAN KAPTEN 2
3
SIMPANAN KAPTEN 3
4
SIMPANAN KAPTEN 4
5
SIMPANAN KAPTEN 5
6
SIMPANAN KAPTEN 6
7
SIMPANAN KAPTEN 7
8
SIMPANAN KAPTEN 8
9
SIMPANAN KAPTEN 9
10
SIMPANAN KAPTEN 10
11
HAZELLA
12
SIMPANAN KAPTEN 11
13
SIMPANAN KAPTEN 12
14
SIMPANAN KAPTEN 13
15
SIMPANAN KAPTEN 14
16
SIMPANAN KAPTEN 15
17
SIMPANAN KAPTEN 16
18
SIMPANAN KAPTEN 17
19
SIMPANAN KAPTEN 18
20
SIMPANAN KAPTEN 19
21
SIMPANAN KAPTEN 20
22
SIMPANAN KAPTEN 21
23
SIMPANAN KAPTEN 22
24
SIMPANAN KAPTEN 23
25
SIMPANAN KAPTEN 24
26
SIMPANAN KAPTEN 25
27
SIMPANAN KAPTEN 26
28
SIMPANAN KAPTEN 27
29
SIMPANAN KAPTEN 28
30
SIMPANAN KAPTEN 29
31
SIMPANAN KAPTEN 30
32
SIMPANAN KAPTEN 31
33
SIMPANAN KAPTEN 32
34
SIMPANAN KAPTEN 33
35
SIMPANAN KAPTEN 34
36
SIMPANAN KAPTEN 35
37
SIMPANAN KAPTEN 36
38
SIMPANAN KAPTEN 37
39
SIMPANAN KAPTEN 38
40
SIMPANAN KAPTEN 39
41
SIMPANAN KAPTEN 40
42
SIMPANAN KAPTEN 41
43
SIMPANAN KAPTEN 42
44
SIMPANAN KAPTEN 43
45
SIMPANAN KAPTEN 44
46
SIMPANAN KAPTEN 45
47
SIMPANAN KAPTEN 46
48
SIMPANAN KAPTEN 47
49
SIMPANAN KAPTEN 48
50
SIMPANAN KAPTEN 49
51
SIMPANAN KAPTEN 50
52
SIMPANAN KAPTEN 51
53
SIMPANAN KAPTEN 52
54
SIMPANAN KAPTEN 53
55
SIMPANAN KAPTEN 54
56
SIMPANAN KAPTEN 55
57
SIMPANAN KAPTEN 56
58
SIMPANAN KAPTEN 57
59
SIMPANAN KAPTEN 58
60
SIMPANAN KAPTEN 59
61
SIMPANAN KAPTEN 60
62
SIMPANAN KAPTEN 61
63
SIMPANAN KAPTEN 62
64
SIMPANAN KAPTEN 63
65
SIMPANAN KAPTEN 64
66
SIMPANAN KAPTEN 65
67
SIMPANAN KAPTEN 66
68
SIMPANAN KAPTEN 67
69
SIMPANAN KAPTEN 68
70
SIMPANAN KAPTEN 69
71
SIMPANAN KAPTEN 70
72
SIMPANAN KAPTEN 71
73
SIMPANAN KAPTEN 72
74
SIMPANAN KAPTEN 73
75
SIMPANAN KAPTEN 74
76
SIMPANAN KAPTEN 75
77
SIMPANAN KAPTEN 76
78
SIMPANAN KAPTEN 77
79
SIMPANAN KAPTEN 78
80
SIMPANAN KAPTEN 79
81
SIMPANAN KAPTEN 80
82
SIMPANAN KAPTEN 81
83
SIMPANAN KAPTEN 82
84
SIMPANAN KAPTEN 83
85
SIMPANAN KAPTEN 84
86
SIMPANAN KAPTEN 85
87
SIMPANAN KAPTEN 86
88
SIMPANAN KAPTEN 87
89
SIMPANAN KAPTEN 88
90
SIMPANAN KAPTEN 89
91
SIMPANAN KAPTEN 90
92
SIMPANAN KAPTEN 91
93
SIMPANAN KAPTEN 92
94
SIMPANAN KAPTEN 93
95
SIMPANAN KAPTEN 94
96
SIMPANAN KAPTEN 95
97
SIMPANAN KAPTEN 96
98
SIMPANAN KAPTEN 97
99
SIMPANAN KAPTEN 98
100
SIMPANAN KAPTEN 99
101
SIMPANAN KAPTEN 100
102
SIMPANAN KAPTEN 101
103
SIMPANAN KAPTEN 102
104
SIMPANAN KAPTEN 103
105
SIMPANAN KAPTEN 104
106
SIMPANAN KAPTEN 105
107
SIMPANAN KAPTEN 106
108
SIMPANAN KAPTEN 107
109
SIMPANAN KAPTEN 108
110
SIMPANAN KAPTEN 109
111
SIMPANAN KAPTEN 110
112
SIMPANAN KAPTEN 111
113
SIMPANAN KAPTEN 112
114
SIMPANAN KAPTEN 113
115
SIMPANAN KAPTEN 114
116
SIMPANAN KAPTEN 115
117
SIMPANAN KAPTEN 116
118
SIMPANAN KAPTEN 117
119
SIMPANAN KAPTEN SEASON 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!