SIMPANAN KAPTEN

SIMPANAN KAPTEN

SIMPANAN KAPTEN 1

Udara dingin pegunungan menusuk tulang. Di balik jendela tenda komandonya, Kapten Regan Adiaksa Putro memejamkan mata, mencoba menghalau dingin yang merambat ke dalam jiwanya.

Bayangan Ratu, istrinya, kembali menghantuinya. Kata-kata dingin Ratu masih bergema di telinganya.

"Pernikahan ini hanya di atas kertas. Jangan mengharapkan hal lebih dari itu, sebab ada hati yang harus kujaga. Aku mencintai pria lain, dan dia sedang menungguku."

Pernikahan mereka yang berawal dari sebuah perjodohan yang la paksakan untuk menyetujuinya demi menyenangkan ibunya, kini terasa seperti kutukan. Sebuah penjara es di puncak gunung tertinggi. Sebuah penjara emas yang memisahkannya dari sentuhan wanita.

Suara sapaan membuyarkan lamunannya. Sertu Bima, anak buahnya yang setia, masuk dengan wajah serius.

"Kapten, ada laporan dari klinik lapangan. Salah satu dokter muda kita membutuhkan pinjaman besar untuk ibunya yang sakit keras. Kondisinya cukup mendesak."

Regan mengerutkan dahi, menggosok hidungnya yang terasa dingin.

"Siapa namanya?"

"Dokter Azura, Kapten. Ia sedang bertugas di klinik, menolong seorang prajurit yang terluka. Namun, Ia terlihat tidak dapat fokus, karena beban pikirannya." jawab Sertu Bima.

Dia kemudian, melanjutkan dengan penjelasan tentang apa yang sedang menimpa Azura, dan mengapa wanita itu sangat membutuhkan uang secepatnya.

Regan terdiam sejenak.

"Panggil dia ke sini," perintahnya.

Ia memikirkan betapa sulitnya menjadi dokter muda di klinik terpencil itu, jauh dari fasilitas memadai.

Beberapa saat kemudian, Azura Claire, nama sang dokter muda yang cantik itu, telah berdiri di hadapannya.

Dokter muda, dengan wajah khas wanita blasteran, terlihat lelah dan sedih, hingga membuatnya tak kuasa untuk berbicara.

Mata Azura yang biasanya berbinar, kini sayu dan redup. Kesedihan terpancar jelas dari raut wajahnya, kontras dengan dinginnya tenda komando. Regan menyuruh Sertu Bima pergi.

Tatapannya menilai Azura dari atas hingga bawah.

"Saya tahu tentang ibumu," katanya, suaranya berat dan rendah, seakan beradu dengan dinginnya angin gunung.

"Saya bisa membantumu. Tapi..." Ia sengaja menjeda kalimatnya, membuat Azura semakin cemas.

"...ada syaratnya."

Azura hanya terdiam beberapa saat sambil meremat ujung jas putih yang Ia kenakan. Ia tertunduk sedalam dalamnya. Khawatir akan syarat apa, yang akan ditawarkan oleh Sang Kapten tampan itu.

"I-iya Kapten!" jawab Azura gugup.

"Iya, apa?" cecar Regan.

"Saya akan mendengarkan syaratnya, Kapten! Kalau saya bisa atau mampu melakukannya, saya pasti melakukannya, demi ibu saya," ujar Azura, sembari berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

"Saya akan menanggung semua biaya perawatan ibumu, hingga sembuh. Termasuk uang bulanan ibu dan adikmu," tandas Regan dengan tatapan tajam, yang membuat Azura terus saja menunduk, tidak ingin bertemu pandang dengan pria itu.

"Namun, aku membutuhkan partner ranjang. Apa kau bersedia?" ungkap sang Kapten to the point.

Bak bergelantungan di tepi jurang dalam yang siap menerkamnya. Azura mematung tanpa tahu harus bagaimana menyelamatkan dirinya. Seketika, oksigen menipis, Ia sangat kesulitan untuk bernafas.

Tawaran itu, tentu sangat menggiurkan bagi masalah yang Ia hadapi saat ini. Namun, apakah Ia harus melakukannya?

Biar bagaimanapun, ibunya adalah seorang yang sangat penting dalam hidupnya. Keputusannya untuk mengikuti satgas ke tempat terpencil itu adalah usahanya agar dapat memenuhi kebutuhan perawatan ibunya yang sedang berjuang melawan penyakit mematikan yang sudah memasuki stadium akhir.

Besar harapan, ibunya akan segera pulih dari penyakitnya, namun sebagai gantinya, Ia harus merelakan mahkotanya direnggut oleh seorang pria beristri yang sudah pasti hanya ingin mencicipi tubuhnya tanpa ada ikatan diantara mereka.

"Ya Tuhan, tolong aku! Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengambil tawaran tak bermoral ini? Mengapa aku harus berada dalam pilihan yang begitu sulit, seperti ini?" jerit hati Azura, semakin menenggelamkan dirinya dalam keputusasaan.

Regan menatap Azura dengan tatapan datar. Ia tidak berniat meralat ucapannya. Membuat Azura semakin tertekan.

"Kau boleh memikirkannya, lalu kembali padaku esok hari dengan jawabanmu! Sekarang, kembali ke tendamu. Malam sudah semakin larut!"

ujar Regan dengan nada yang sedikit lebih keras, agar wanita yang sedang berperang dengan pikirannya sendiri itu, dapat mendengarkannya.

Azura hanya mengangguk dan segera berlalu dari hadapan sang Kapten, tanpa sepatah katapun.

Setibanya, Azura ditendanya, salah seorang prajurit segera menghampirinya.

"Dokter Azura ada telepon dari adikmu, tolong ke tenda monitoring, karena adik anda akan segera menelpon kembali!"

Baru saja azura ingin menenangkan guncangan hatinya yang disebabkan oleh tawaran sang Kapten, Ia harus menghadapi guncangan berikutnya, tentang kondisi ibunya.

Dengan langkah gemetar, karena udara dingin dan juga beban pikiran yang memeluknya erat, Azura menuju tenda monitoring untuk mendengar apa yang akan disampaikan adiknya tentang kondisi terkini ibunya.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Nazirah adiknya kembali menghubunginya.

"Halo dek!" sapa Azura dengan suara bergetar.

"Kakak gimana sih, aku kan udah bilang, ibu butuh obat itu segera. Kata dokter, sebelum pagi obatnya sudah harus disuntikan ke tubuh ibu untuk mengurangi rasa sakitnya. Mana uang yang aku minta? Awas saja, kalau ibu sampai kenapa-napa, itu salahmu, kau harus bertanggung jawab. Percuma ibu menyekolahkanmu sampai setinggi itu, tapi malah jadi tidak berguna, disaat seperti ini." Cecar Nazirah tanpa membalas sapaan kakaknya.

"Sabar dek, kakak juga lagi nyari! Sudah malam begini, kalaupun ada, disini gak ada jaringan internet. Kakak gak bisa ngirim malam-malam begini, harus ke kota besok pagi." balas azura, dengan nada sedih.

"Pokoknya aku gak mau tau yahh, malam ini juga udah harus ada duitnya. Kalau gak, jangan pulang sekalian! Dan kalau ibu ada apa-apa, itu karena salah kakak! Dasar anak durhaka!" teriak adiknya, yang lalu memutuskan panggilan mereka tanpa pamit.

Deghh...

Hati Azura bergemuruh. Tubuhnya bergetar tak kuasa menerima kata-kata bak belatih yang ditikamkan adiknya tepat di jantungnya.

Namun, lebih menyakitkan dari itu, kondisi ibunya yang semakin drop tanpa Ia bisa melakukan apa-apa. Ya, dia sebenarnya bisa melakukan apa-apa itu, namun haruskah Ia menjual dirinya, demi pengobatan ibunya.

Selepas mengakhiri panggilan itu, Azura jatuh terduduk disana. Kakinya seperti tidak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Ia kini berada di persimpangan, tanpa tahu arah dan tujuan. Hatinya sakit, menerima semua umpatan adiknya yang Ia terima tanpa membantahnya sedikitpun.

"Kapten Regan, hanya dia yang bisa menolongku saat ini. Aku harus menemuinya." guman azura. Ia segera bangkit dan menuju tenda komando milik Kapten Regan kembali.

Setelah melapor pada penjaga disana, Ia dipersilahkan masuk untuk menemui sang Kapten yang masih duduk terdiam disana menatap malam pekat diluar tendanya. Semilir angin yang sesekali menerpa wajah tampannya, membuatnya betah berlama-lama ditempat duduknya itu.

"Ma-maaf kapten, saya kembali lagi mengganggu anda," ucap azura pelan, nyaris seperti berbisik.

Namun, karena jarak yang cukup dekat, Kapten Regan dapat mendengarnya dengan jelas.

"Jadi apa jawabanmu?" balas Regan tanpa basa basi.

"Saya akan mengambil tawaran i-itu Kapten," jawab azura gugup. Ia tidak yakin dengan pilihannya ini, tapi Iapun tidak memiliki pilihan lain saat ini.

"Baiklah, berikan nomor rekening keluargamu yang bisa saya gunakan untuk mentransfer biaya pengobatan ibumu! Sebelumnya, berapa yang kau butuhkan?" tanya Regan tanpa berfikir panjang, dan mengabaikan kegelisahan hati sang dokter cantik itu.

"Sa-saya membutuhkan 50 juta untuk biaya obat dan penanganan medis ibu saya Kapten." tukasnya.

Azura segera memberikan nomor rekening ibunya pada Regan.

"Baiklah." Regan segera mengontak atik telepon satelit yang Ia raih, dari atas nakas dan melakukan panggilan dari sana.

Azura masih mematung ditempatnya, tanpa tahu harus berbuat apa lagi. Berdiri dengan kaki dan tangan yang bergetar. Ia masih tak percaya akan keputusannya ini. Pikirannya sedang sangat kacau. Namun atensinya dikejutkan dengan suara berat dan dalam sang kapten.

"Dim, kirim 100 juta ke nomor rekening yang saya berikan itu! Sekarang juga. Nanti kirim buktinya pada saya!"

Azura membelalakkan matanya, mendengar nominal yang disebutkan sang Kapten. Ia ingin menginterupsi perkataan sang Kapten. Namun pria itu segera mengangkat tangannya, menahan laju suaranya yang sudah berada diujung lidahnya.

"Banyak sekali. Padahal ibu hanya membutuhkan...," Gumamannya terhenti karena panggilan dari sang Kapten, yang ternyata sudah mengakhiri panggilannya, dengan entahlah siapa.

"Dokter Azura!"

"I-iya Kapten!"

"Saya sudah melakukan tugas saya, sekarang giliranmu!"

Degh...

Azura tertegun sesaat, Ia tidak menyangka, segalanya akan berjalan secepat ini. Seluruh hati tubuh dan jiwa raganya, belum mampu menerima ini semua. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Berusaha menetralkan kekalutan hatinya.

"Dokter Azura !" Regan kembali menyebutkan nama itu, nama yang akan terus Ia sebut di hari-harinya yang akan datang.

Azura mengela nafas panjang, "I-iya Kapten!"

"Apa yang membuatmu begitu gugup, tidakkah kau senang, salah satu masalahmu telah teratasi?" tanya Regan dengan senyum smirk diwajahnya.

Bak menelan batu besar, suara azura tercekat di tenggorokannya. Berbagai pikiran buruk mulai bercokol dalam benaknya. Ia sulit untuk menjawab pertanyaan sesimpel itu.

"Baiklah dengarkan saya! Saya tahu, akan haram bagimu untuk melakukan hal ini. Saya sudah memikirkannya. Jadi saya putuskan, untuk menikahimu secara siri. Namun, satu hal yang kau harus ingat. Segala yang akan kita jalani nantinya, hanyalah sebuah kesepakatan tanpa menggunakan perasaan. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tapi...," Regan menjeda kata-katanya.

Azura akhirnya mengangkat wajahnya dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca. Namun, air mata itu masih tertahan disana.

"Kau tidak boleh berhubungan dengan pria lain, selagi kau menjadi istri siri saya. Saya akan pastikan, kau tidak akan kekurangan. Saya akan memenuhi semua kebutuhanmu. Dan menjalankan tugas saya sebagai suami, kecuali cinta. Itu hal yang tidak dapat saya berikan. Apa sampai disini kau sudah paham?"

Azura hanya mengangguk tanpa kata. Ia ingin memprotes setiap perkataan pria itu dan ingin berjanji akan menggantikan uangnya, namun keberaniannya seperti mengkhianatinya dan pergi meninggalkannya.

Sehingga Ia hanya bisa terdiam seribu bahasa, mendengar setiap tutur kata pria yang sangat Ia segani itu.

"Baiklah, jika tidak ada yang ingin kau katakan, kau bisa kembali dan persiapkan dirimu. Besok kita akan ke KUA dan melangsungkan pernikahan sirinya. Jadi, persiapkan dirimu."

Mendengar perkataan Regan itu, airmata azura akhirnya menetes, Ia tidak menyangka, pria yang begitu Ia kagumi sejak lama. Menganggap dirinya begitu rendah, sehingga ingin menukarkan dirinya dengan uang, dan memanfaatkan keputusasaannya dengan cara seperti ini.

Setelah terdiam begitu lama, azura akhirnya membuka suara.

"Bagaimana dengan istrimu Kapten?" Regan segera menoleh dan memicingkan matanya.

"Dia tidak akan tahu, karena ini akan menjadi rahasia kita berdua. Kita akan berinteraksi seperti biasa, jika berada didepan semua orang. Termasuk rekan kerja dan keluargamu, tidak ada yang boleh tahu tentang hal ini. Apa kau paham?"

"Bagaimana jika ketahuan? Karirku pasti akan hancur!" ucap azura pelan.

"Saya sudah katakan, ini akan menjadi rahasia kita berdua. Maka segalanya akan baik-baik saja." azura membuang nafas kasar lalu kembali menunduk.

"Baiklah Kapten!"

"Dan... Satu lagi, Saya tidak suka menggunakan jas hujan. Sebaiknya, kau menggunakan KB, untuk mencegah kehamilan," suara berat dan dalam itu, membuat Azura yang tertunduk lesu, berakhir mengangkat wajahnya dan menatap kedua manik yang begitu menawan dengan bulu mata yang lentik, namun menyorot tajam bak laser yang mampu membunuh dari kejauhan.

"Apa? Ja-jas hujan? K-KB?"

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

dokter kalah cepat dgn kapten, seperti nya Kapten lebih hatam apa doyan jajan di luar karna faktor istri yg mau nya steril 🤭

2026-03-22

0

Wang Lee

Wang Lee

Aku ngak tau, jangan tanyak saya.

2025-10-14

1

Wang Lee

Wang Lee

Sekarang iya, ngak..Tahun depan

2025-10-14

1

lihat semua
Episodes
1 SIMPANAN KAPTEN 1
2 SIMPANAN KAPTEN 2
3 SIMPANAN KAPTEN 3
4 SIMPANAN KAPTEN 4
5 SIMPANAN KAPTEN 5
6 SIMPANAN KAPTEN 6
7 SIMPANAN KAPTEN 7
8 SIMPANAN KAPTEN 8
9 SIMPANAN KAPTEN 9
10 SIMPANAN KAPTEN 10
11 HAZELLA
12 SIMPANAN KAPTEN 11
13 SIMPANAN KAPTEN 12
14 SIMPANAN KAPTEN 13
15 SIMPANAN KAPTEN 14
16 SIMPANAN KAPTEN 15
17 SIMPANAN KAPTEN 16
18 SIMPANAN KAPTEN 17
19 SIMPANAN KAPTEN 18
20 SIMPANAN KAPTEN 19
21 SIMPANAN KAPTEN 20
22 SIMPANAN KAPTEN 21
23 SIMPANAN KAPTEN 22
24 SIMPANAN KAPTEN 23
25 SIMPANAN KAPTEN 24
26 SIMPANAN KAPTEN 25
27 SIMPANAN KAPTEN 26
28 SIMPANAN KAPTEN 27
29 SIMPANAN KAPTEN 28
30 SIMPANAN KAPTEN 29
31 SIMPANAN KAPTEN 30
32 SIMPANAN KAPTEN 31
33 SIMPANAN KAPTEN 32
34 SIMPANAN KAPTEN 33
35 SIMPANAN KAPTEN 34
36 SIMPANAN KAPTEN 35
37 SIMPANAN KAPTEN 36
38 SIMPANAN KAPTEN 37
39 SIMPANAN KAPTEN 38
40 SIMPANAN KAPTEN 39
41 SIMPANAN KAPTEN 40
42 SIMPANAN KAPTEN 41
43 SIMPANAN KAPTEN 42
44 SIMPANAN KAPTEN 43
45 SIMPANAN KAPTEN 44
46 SIMPANAN KAPTEN 45
47 SIMPANAN KAPTEN 46
48 SIMPANAN KAPTEN 47
49 SIMPANAN KAPTEN 48
50 SIMPANAN KAPTEN 49
51 SIMPANAN KAPTEN 50
52 SIMPANAN KAPTEN 51
53 SIMPANAN KAPTEN 52
54 SIMPANAN KAPTEN 53
55 SIMPANAN KAPTEN 54
56 SIMPANAN KAPTEN 55
57 SIMPANAN KAPTEN 56
58 SIMPANAN KAPTEN 57
59 SIMPANAN KAPTEN 58
60 SIMPANAN KAPTEN 59
61 SIMPANAN KAPTEN 60
62 SIMPANAN KAPTEN 61
63 SIMPANAN KAPTEN 62
64 SIMPANAN KAPTEN 63
65 SIMPANAN KAPTEN 64
66 SIMPANAN KAPTEN 65
67 SIMPANAN KAPTEN 66
68 SIMPANAN KAPTEN 67
69 SIMPANAN KAPTEN 68
70 SIMPANAN KAPTEN 69
71 SIMPANAN KAPTEN 70
72 SIMPANAN KAPTEN 71
73 SIMPANAN KAPTEN 72
74 SIMPANAN KAPTEN 73
75 SIMPANAN KAPTEN 74
76 SIMPANAN KAPTEN 75
77 SIMPANAN KAPTEN 76
78 SIMPANAN KAPTEN 77
79 SIMPANAN KAPTEN 78
80 SIMPANAN KAPTEN 79
81 SIMPANAN KAPTEN 80
82 SIMPANAN KAPTEN 81
83 SIMPANAN KAPTEN 82
84 SIMPANAN KAPTEN 83
85 SIMPANAN KAPTEN 84
86 SIMPANAN KAPTEN 85
87 SIMPANAN KAPTEN 86
88 SIMPANAN KAPTEN 87
89 SIMPANAN KAPTEN 88
90 SIMPANAN KAPTEN 89
91 SIMPANAN KAPTEN 90
92 SIMPANAN KAPTEN 91
93 SIMPANAN KAPTEN 92
94 SIMPANAN KAPTEN 93
95 SIMPANAN KAPTEN 94
96 SIMPANAN KAPTEN 95
97 SIMPANAN KAPTEN 96
98 SIMPANAN KAPTEN 97
99 SIMPANAN KAPTEN 98
100 SIMPANAN KAPTEN 99
101 SIMPANAN KAPTEN 100
102 SIMPANAN KAPTEN 101
103 SIMPANAN KAPTEN 102
104 SIMPANAN KAPTEN 103
105 SIMPANAN KAPTEN 104
106 SIMPANAN KAPTEN 105
107 SIMPANAN KAPTEN 106
108 SIMPANAN KAPTEN 107
109 SIMPANAN KAPTEN 108
110 SIMPANAN KAPTEN 109
111 SIMPANAN KAPTEN 110
112 SIMPANAN KAPTEN 111
113 SIMPANAN KAPTEN 112
114 SIMPANAN KAPTEN 113
115 SIMPANAN KAPTEN 114
116 SIMPANAN KAPTEN 115
117 SIMPANAN KAPTEN 116
118 SIMPANAN KAPTEN 117
119 SIMPANAN KAPTEN SEASON 2
Episodes

Updated 119 Episodes

1
SIMPANAN KAPTEN 1
2
SIMPANAN KAPTEN 2
3
SIMPANAN KAPTEN 3
4
SIMPANAN KAPTEN 4
5
SIMPANAN KAPTEN 5
6
SIMPANAN KAPTEN 6
7
SIMPANAN KAPTEN 7
8
SIMPANAN KAPTEN 8
9
SIMPANAN KAPTEN 9
10
SIMPANAN KAPTEN 10
11
HAZELLA
12
SIMPANAN KAPTEN 11
13
SIMPANAN KAPTEN 12
14
SIMPANAN KAPTEN 13
15
SIMPANAN KAPTEN 14
16
SIMPANAN KAPTEN 15
17
SIMPANAN KAPTEN 16
18
SIMPANAN KAPTEN 17
19
SIMPANAN KAPTEN 18
20
SIMPANAN KAPTEN 19
21
SIMPANAN KAPTEN 20
22
SIMPANAN KAPTEN 21
23
SIMPANAN KAPTEN 22
24
SIMPANAN KAPTEN 23
25
SIMPANAN KAPTEN 24
26
SIMPANAN KAPTEN 25
27
SIMPANAN KAPTEN 26
28
SIMPANAN KAPTEN 27
29
SIMPANAN KAPTEN 28
30
SIMPANAN KAPTEN 29
31
SIMPANAN KAPTEN 30
32
SIMPANAN KAPTEN 31
33
SIMPANAN KAPTEN 32
34
SIMPANAN KAPTEN 33
35
SIMPANAN KAPTEN 34
36
SIMPANAN KAPTEN 35
37
SIMPANAN KAPTEN 36
38
SIMPANAN KAPTEN 37
39
SIMPANAN KAPTEN 38
40
SIMPANAN KAPTEN 39
41
SIMPANAN KAPTEN 40
42
SIMPANAN KAPTEN 41
43
SIMPANAN KAPTEN 42
44
SIMPANAN KAPTEN 43
45
SIMPANAN KAPTEN 44
46
SIMPANAN KAPTEN 45
47
SIMPANAN KAPTEN 46
48
SIMPANAN KAPTEN 47
49
SIMPANAN KAPTEN 48
50
SIMPANAN KAPTEN 49
51
SIMPANAN KAPTEN 50
52
SIMPANAN KAPTEN 51
53
SIMPANAN KAPTEN 52
54
SIMPANAN KAPTEN 53
55
SIMPANAN KAPTEN 54
56
SIMPANAN KAPTEN 55
57
SIMPANAN KAPTEN 56
58
SIMPANAN KAPTEN 57
59
SIMPANAN KAPTEN 58
60
SIMPANAN KAPTEN 59
61
SIMPANAN KAPTEN 60
62
SIMPANAN KAPTEN 61
63
SIMPANAN KAPTEN 62
64
SIMPANAN KAPTEN 63
65
SIMPANAN KAPTEN 64
66
SIMPANAN KAPTEN 65
67
SIMPANAN KAPTEN 66
68
SIMPANAN KAPTEN 67
69
SIMPANAN KAPTEN 68
70
SIMPANAN KAPTEN 69
71
SIMPANAN KAPTEN 70
72
SIMPANAN KAPTEN 71
73
SIMPANAN KAPTEN 72
74
SIMPANAN KAPTEN 73
75
SIMPANAN KAPTEN 74
76
SIMPANAN KAPTEN 75
77
SIMPANAN KAPTEN 76
78
SIMPANAN KAPTEN 77
79
SIMPANAN KAPTEN 78
80
SIMPANAN KAPTEN 79
81
SIMPANAN KAPTEN 80
82
SIMPANAN KAPTEN 81
83
SIMPANAN KAPTEN 82
84
SIMPANAN KAPTEN 83
85
SIMPANAN KAPTEN 84
86
SIMPANAN KAPTEN 85
87
SIMPANAN KAPTEN 86
88
SIMPANAN KAPTEN 87
89
SIMPANAN KAPTEN 88
90
SIMPANAN KAPTEN 89
91
SIMPANAN KAPTEN 90
92
SIMPANAN KAPTEN 91
93
SIMPANAN KAPTEN 92
94
SIMPANAN KAPTEN 93
95
SIMPANAN KAPTEN 94
96
SIMPANAN KAPTEN 95
97
SIMPANAN KAPTEN 96
98
SIMPANAN KAPTEN 97
99
SIMPANAN KAPTEN 98
100
SIMPANAN KAPTEN 99
101
SIMPANAN KAPTEN 100
102
SIMPANAN KAPTEN 101
103
SIMPANAN KAPTEN 102
104
SIMPANAN KAPTEN 103
105
SIMPANAN KAPTEN 104
106
SIMPANAN KAPTEN 105
107
SIMPANAN KAPTEN 106
108
SIMPANAN KAPTEN 107
109
SIMPANAN KAPTEN 108
110
SIMPANAN KAPTEN 109
111
SIMPANAN KAPTEN 110
112
SIMPANAN KAPTEN 111
113
SIMPANAN KAPTEN 112
114
SIMPANAN KAPTEN 113
115
SIMPANAN KAPTEN 114
116
SIMPANAN KAPTEN 115
117
SIMPANAN KAPTEN 116
118
SIMPANAN KAPTEN 117
119
SIMPANAN KAPTEN SEASON 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!