Langkah Pertama Sayyidah

“Berani sekali kau bicara begitu pada abuki sendiri?!”

Nada suara Sayyid Zahir Al-Muntasir meninggi. Wajah yang biasanya tenang dan berwibawa kini tampak retak oleh amarah. “Yasmeen, sebagai seorang putri, sudah seharusnya kau bersikap lembut dan tahu sopan santun!”

Sayyidah Yasmeen Azmira menatapnya datar, matanya tajam seperti pasir hitam gurun di malam hari.

“Dulu, saat Jaddī masih hidup, beliau tidak pernah mengajariku begitu,” ucapnya pelan tapi jelas. “Beliau berkata, dunia ini keras pada perempuan. Karena itu, perempuan harus belajar berdiri sendiri, kuat, dan menjaga harga dirinya.”

Ucapan itu membuat wajah Sayyid Zahir kaku sesaat, seolah tersedak udara. Emir tua itu, Abī dari mendiang Sayyidah Ameera, memang dikenal aneh di mata para bangsawan gurun.

Ia menikahi wanita dari keluarga prajurit rendah, hanya memiliki satu anak perempuan, dan tidak pernah mengambil selir.

Ketika putrinya wafat muda, ia tidak mencari keturunan lain. Sebaliknya, ia mengangkat cucunya, Sayyidah Yasmeen, sebagai pewaris tunggal Emirat Nayyirah. Bahkan gelar bangsawan dan seluruh kekayaan keluarga ia serahkan padanya.

Dan kini, semuanya berada di tangan Yasmeen, cucu perempuan yang seharusnya hanya menjadi pelengkap dalam istana lelaki.

Sayyid Zahir mengepalkan tangan di balik jubahnya. Semua itu seharusnya jadi milikku.

Namun Yasmeen tidak memberinya waktu untuk bicara.

“Urusan ini biar aku yang putuskan sendiri,” ucapnya dingin. “Abī sebaiknya pulang saja… temani Roobbatun Mehra dan anak-anak Abī.”

Sayyid Zahir tertegun. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk membalas.

Ia memaksa tersenyum kaku. “Baiklah. Kau istirahatlah. Nanti Abī datang lagi.”

Ia membungkuk sedikit, lalu berbalik pergi. Langkahnya tenang, tapi urat di pelipisnya menegang.

Yasmeen tidak menatap kepergiannya.

Umm Shalimah, pengasuh yang sudah bersamanya sejak kecil, baru sadar setelah semuanya terjadi. Ia buru-buru mengikuti dan mengantarkan Sayyid Zahir keluar dengan hormat.

Sayyid Zahir masih bisa menampilkan senyum ramah. “Umm Shalimah tak perlu repot. Yasmeen hanya sedang banyak pikiran. Temani dia baik-baik.”

“Baik, Tuan,” jawab Umm Shalimah sopan, menunduk.

Begitu punggung pria itu menghilang di balik lengkungan gerbang batu pasir, Umm Shalimah menarik napas panjang. “Ya Allah…” gumamnya lega. “Hari ini Putri sungguh berbeda…”

Namun di balik keterkejutan itu, ada sedikit kepuasan.

Kata-kata Putri tadi memang… sangat menyejukkan hati.

Umm Shalimah melangkah cepat kembali ke kamar Yasmeen, tapi sebelum ia sempat bicara, sang putri sudah membuka suara lebih dulu.

“Umm Shalimah,” bisiknya lirih, “tadi malam aku bermimpi. Emir Jaddī datang menemuiku.”

Mata Umm Shalimah langsung berbinar. “Emir Nayyirah? Arwah beliau memberi Putri petunjuk?”

Yasmeen mengangguk pelan. Tatapannya menerawang. “Beliau bilang, aku tidak boleh meninggalkan Emirat Nayyirah. Dan siapa pun yang berani mengincar warisan Emir… tangannya harus dipotong.”

Umm Shalimah menutup mulut, air matanya menetes tanpa sadar. “Alhamdulillah… akhirnya roh Emir masih menjaga Putri…”

Ia tahu betul, Emir Nayyirah dulu sangat mencintai cucu semata wayangnya itu dan selama setahun terakhir, Sayyid Zahir semakin terang-terangan mencoba mengambil alih urusan istana.

Beberapa pelayan sudah mulai beralih loyalitas, mencium peluang kekuasaan. Namun, Umm Shalimah tak pernah berani bicara, karena tidak ingin menghancurkan bayangan “Abī penyayang” dalam hati Yasmeen.

Sekarang, sepertinya Tuhan sendiri yang membukakan mata sang putri.

Yasmeen menghela napas. “Umm, suruh pelayan ke aula depan. Panggil semua pejabat istana, aku ingin bicara di ruang kerja Emir.”

Umm Shalimah segera menunduk dalam. “Baik, Sayyidah. Tapi izinkan hamba bantu Sayyidah bersiap dahulu.”

---

Di waktu yang sama, Sayyid Zahir melangkah cepat menuju halaman barat. Udara sore gurun terasa panas membakar, tapi hatinya jauh lebih membara.

Begitu ia memasuki kediamannya, seorang wanita cantik berselendang merah delima menyambutnya bersama dua anak kecil.

“Sayyid, kau pulang cepat hari ini?” Mehra menyambut dengan senyum lembut. “Tidak makan malam dengan Sayyidah Yasmeen?”

Zahir tidak menjawab. Ia hanya melepas sorbannya dan berjalan melewati mereka tanpa menoleh.

Kedua anak kecil itu memandangi Abī mereka dengan kagum. Putra sulungnya, Zain, berusia lima tahun, cerdas dan tampan, sangat mirip dengannya. Putrinya, Ruqayyah, berumur empat tahun, lembut dan manis seperti ibunya.

Namun Zahir hanya melambaikan tangan seolah mereka tak ada.

“Aku ke ruang baca. Jangan ganggu.”

Nyonya Mehra menunduk, menelan rasa malu. “Zain, Ruqayyah, Abīmu sedang sibuk. Mari kita makan malam dulu.”

Tapi ia tahu betul, Zahir tak pernah benar-benar “sibuk.”

Ia hanya tak tahan berada di bawah bayangan keluarga Ameera dan Emir Nayyirah yang sudah wafat. Semua kekayaan dan kekuasaan rumah ini mengalir dari mereka, bukan darinya.

Ia tahu dulu Zahir menikah masuk ke keluarga besar ini, demi kedudukan dan kini, Zahir sudah menunggu terlalu lama untuk merebutnya.

---

Ruang baca yang tenang dipenuhi aroma dupa kayu gaharu. Zahir duduk, wajahnya tenggelam dalam bayangan lampu minyak. Matanya penuh kebencian.

Ia masih ingat jelas bagaimana dulu Emir Nayyirah menatapnya dingin dan berkata, “Anak dari keluarga kami harus menyandang nama kami. Tapi cucumu bukan darah murni Nayyirah. Biarlah ia menyandang namamu sendiri.”

Rasa malu dan dendam yang terpendam itu membusuk dalam dirinya selama bertahun-tahun.

Kini, ia punya anak laki-laki sendiri dan ia tidak akan membiarkan warisan Emirat jatuh ke tangan seorang perempuan lagi.

“Faris,” panggilnya pelan.

Seorang pria muda masuk, mengenakan pakaian pelayan, wajahnya waspada. “Tuan.”

Zahir menatapnya tajam. “Aku ingin kau lakukan sesuatu untukku. Tidak perlu ada yang tahu.”

Faris menunduk dalam, menunggu perintah. Tapi ketika mendengar isi instruksi itu, matanya melebar kaget.

Namun, tatapan Zahir dingin dan penuh ancaman membuatnya tak berani membantah.

“Baik, Tuan,” jawabnya pelan.

---

Sementara itu, di aula besar istana Emirat Nayyirah, Sayyidah Yasmeen berdiri di depan pintu kayu besar berukir ayat-ayat kaligrafi lama. Tempat ini dulu milik Jaddīnya.

Sekarang, tempat ini akan menjadi titik awal kebangkitannya.

Ia menatap langit senja di atas kubah emas yang memantulkan cahaya kemerahan. Angin gurun berhembus lembut, membawa wangi dupa dan pasir hangat.

“Salam hormat untuk Sayyidah!”

Suara berat dan lantang terdengar di antara barisan prajurit bersenjata lengkap yang berjaga di depan ruang pertemuan Emirat Nayyirah.

Yasmeen menarik napas pelan, menenangkan diri sebelum menoleh. Dua puluh prajurit membungkuk memberi hormat, wajah mereka keras dan disiplin.

Di barisan terdepan berdiri seorang pria berkulit gelap dengan sorot mata tajam seperti elang gurun. Tubuhnya tegap, berdiri kokoh bagaikan menara batu di tengah badai pasir.

Itu adalah Tariq Ibn Malik, kepala pasukan pribadi Emirat—lelaki yang dulu dikenal sebagai tangan kanan Emir Nayyirah, Jaddīnya.

Tariq ini masih keponakan jauh dari mendiang Emir Nayyirah, Ayahnya Emir dan Neneknya Tariq adalah kakak beradik.

Tariq masuk istana saat berusia lima belas tahun. Karena keberanian dan kesetiaannya, ia diangkat menjadi pemimpin pasukan pengawal pribadi saat usianya dua puluh lima tahun.

Kini, meski hanya bergelar panglima tingkat menengah, wibawanya di istana tak bisa disepelekan.

Setelah Emir Nayyirah wafat, Yasmeen menjadi satu-satunya pewaris Emirat Nayyirah. Ia masih muda, tapi darah bangsawan mengalir deras di dalam dirinya—dan Tariq tahu itu.

Secara garis keturunan, Tariq adalah sepupu almarhum ibunda Yasmeen, Sayyidah Ameera. Artinya, ia adalah Khalī bagi Yasmeen.

Namun, karena menghormati aturan istana, ia tak pernah menyebut hubungan itu di depan umum.

Sekarang pun, di hadapan penguasa kecil yang baru berusia sepuluh tahun itu, ia tetap membungkuk dalam-dalam.

Yasmeen menatapnya lama.

Ia ingat jelas dalam hidup sebelumnya—dialah lelaki yang dulu selalu berdiri di belakangnya, yang menjaga dari bayangan kematian sampai napas terakhir.

Waktu ia menikah dengan keluarga Emir Harith dan hidup di istana Kota Agung Azhar, Tariq ikut mendampingi bersama dua ratus pasukan pribadi.

Ia tak pernah banyak bicara, tapi tatapannya selalu siap menebas siapa pun yang berani menyentuh tuannya.

Namun, di usia senjanya, lelaki itu meninggal dengan luka di dada karena melindunginya dari pembunuh bayaran.

Dalam kehidupan yang lalu, ia sempat menggenggam tangan Tariq yang berlumur darah, mendengar kalimat terakhirnya di bawah sinar bulan gurun.

“Selama Sayyidah selamat... aku tak menyesal mati.”

Sekarang, ketika melihat sosok yang sama berdiri di hadapannya, wajahnya terasa panas dan matanya mulai basah.

Yasmeen melangkah cepat ke arahnya. Tangan kecilnya, yang seputih pualam dan bergetar halus, menggenggam tangan kasar penuh bekas luka itu.

“Khalī Tariq...”

Suaranya bergetar, parau oleh air mata yang tertahan.

Tariq tertegun.

Ia bahkan tak sempat menunduk lebih dalam, hanya bisa menatap gadis kecil itu dengan bingung.

Bahkan wajah kerasnya yang biasanya tak bergeming di medan perang kini tampak kaku dan memerah.

“Sayyidah... t-tidak pantas memanggil hamba begitu,” ucapnya tergagap, tampak benar-benar canggung. “Hamba tak berhak—”

“Tidak perlu bicara begitu,” ucap Yasmeen pelan, namun tegas. “Di dunia ini, hanya sedikit orang yang tulus padaku. Dan Khalī adalah salah satunya.”

Itu adalah senyuman pertama Yasmeen sejak hari ia terbangun kembali—hari di mana ia menyadari hidupnya bukan lagi yang dulu.

Senyuman itu lembut, tapi juga mengandung tekad.

Khalī Tariq nyaris lupa bernapas; anak perempuan kecil itu kini memancarkan aura yang membuat orang ingin tunduk tanpa paksaan.

“Sayyidah... datang ke ruang kerja Emir untuk sesuatu?” tanyanya hati-hati.

Ia pikir mungkin Yasmeen datang karena rindu pada Emir Nayyirah.

Namun jawaban Yasmeen membuatnya tertegun.

“Khalī Tariq,” katanya, suaranya berubah serius, “panggil para penasehat ke ruang kerja Jaddī. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting.”

Tariq mengangkat kepala dengan ekspresi terkejut.

Ruang kerja itu dulunya tempat Emir Nayyirah menerima para penasehat dan menulis kebijakan Emirat. Setelah wafatnya sang pemimpin, tidak ada satu pun yang berani menggunakan ruangan itu tanpa izin khusus Sultan.

Dan kini, gadis kecil itu… hendak menggunakannya?

Namun, melihat sorot mata Yasmeen—tenang, tajam, dan matang di luar usia—Tariq tiba-tiba merasa seolah sedang menatap Emir Nayyirah muda.

Wajah yang sama, tekad yang sama.

Ia menunduk lagi, tangannya mengepal di dada.

“Perintah Sayyidah… akan segera dilaksanakan.”

Saat langkah-langkahnya menjauh, Yasmeen berdiri di hadapan pintu ruang bacaan peninggalan Jaddīnya.

Di dalam sana, masih tergantung lukisan pemandangan padang gurun saat matahari tenggelam—lukisan kesayangan sang Emir Nayyirah.

Angin gurun bertiup dari jendela terbuka, membawa aroma dupa dan pasir panas.

Yasmeen melangkah masuk ke ruang besar itu—ruang yang dulu menjadi tempat Jaddīnya membaca surat kerajaan dan membuat keputusan besar bagi Emirat Nayyirah.

Udara di dalam terasa berat, mengandung aroma kayu gaharu dan tinta. Cahaya matahari sore menembus jendela ukiran emas, membias di lantai marmer, membuat ruangan itu tampak seperti ruang suci.

Yasmeen menatap tempat duduk besar di ujung ruangan.

Tangannya perlahan mengepal.

“Jaddī,” bisiknya lembut, “aku sudah kembali. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut warisanmu.”

---

📌NOTE:

- Khalī \= Paman dari pihak ibu

- Roobbatun \= Panggilan untuk Ibu Tiri

Terpopuler

Comments

Melody Aurelia

Melody Aurelia

khas banget... ide cowo lebih unggul dari cewek, kesel jadinya

2025-11-14

2

Melody Aurelia

Melody Aurelia

Thor tanggung jawab... bawangnya kebanyakan disini... ku menangissss👍

2025-11-14

1

zaxviq

zaxviq

patriarki sekali lagi ide ini memang menguasai, keren Thor.

2025-11-21

2

lihat semua
Episodes
1 Kelahiran Kembali
2 Langkah Pertama Sayyidah
3 Mengendalikan Mesin Administrasi
4 Merumuskan Rencana Balasan
5 Sama Berbahayanya
6 Kelemahan Paling Mematikan
7 Senjata Tersembunyi
8 Racun di Balik Kotak Gaharu
9 Tumbuhnya Benih Kebencian
10 Kepanikan yang Tersembunyi
11 Pertempuran Emosional
12 Yang Berpaling dan yang Berkhianat
13 Skandal yang Disiapkan
14 Drama Roobbatun
15 Meludahkan Ancaman
16 Yang Akan Datang
17 Membeli Waktu dengan Harga Diri
18 Darah di Lantai Penjara
19 Umpan untuk Sang Emir
20 Keputusan yang Membakar Nayyirah
21 Benih Kebencian
22 Ketetapan Sayyidah Yasmeen
23 Pengadilan Sayyid Zahir
24 hakim yang tak terkalahkan
25 Sedingin Baja
26 Mencoba Menyerang Nayyirah Secara Politik
27 Bibit Masa Depan yang Kejam
28 Menjadi Janda Sebelum Menjadi Istri
29 Anak Sekecil Ini, Melawan Dunia
30 Ujian Sang Penguasa
31 Simbol Pangeran Malik
32 Politik Cerdas
33 Memicu Kekacauan Administrasi
34 Mawar Hitam di Sarang Hiu
35 Selamatkan Logistik
36 Bergerak Dalam Konvoi Senyap
37 Menghilangkan Jejak Kelembutan
38 Menyia-nyiakan Kartu Terbaik
39 Serigala Muda yang Menyamar
40 Kekacauan di Ruang Kertas Istana
41 Pesta Mawar Hitam dan Topeng Gadis Kecil
42 Kesepakatan dengan Iblis
43 Selamat Datang di Kandang Ular
44 Guru Privat yang Mematikan
45 Membunuh Cinta Demi Nyawa
46 Pilihan Sang Iblis
47 Tumbal Sang Pangeran
48 Harga Sebuah Nyawa
49 Sang Umpan dan Pangeran
50 Iblis Bernama Zayd
51 Diplomasi Ujung Pisau
52 Negosiasi Berdarah
53 Ratu, Pion, dan Utang Darah
54 Bunga Berduri dan Guru Kejam
55 Sang Guru dan Kematian Sultan
56 Deklarasi Perang
57 Pertaruhan Hati dan Takhta
58 Sang Wali dan Boneka Bernyawa
59 Pencurian, Permata, dan Pangeran Sandera
60 Pengorbanan Sang Pangeran Baper
61 Hadiah Perpisahan Sang Wali Tertinggi
62 Rantai yang Putus
63 Warisan dari Liang Kubur
64 Tamu di Sayap Matahari Terbenam
65 Darah di Lantai Marmer
66 Air Lebih Manis daripada Pengantin
67 Ratu Tanpa Mahkota
68 Dansa di Atas Bara Api
69 Poker Maut dengan Sang Sultan
70 Umpan Berdarah di Sarang Serigala
71 Umpan Berdarah dan Kebohongan Besar
72 Runtuhnya Sang Dewa Perang
73 Abi yang Kembali dari Neraka
74 Pangeran yang Mengingat Masa Lalu
75 Hantu Masa Lalu dan Pintu yang Terkunci
76 Rahasia di Balik Darah
77 Pangeran yang Mengingat Segalanya
78 Papan Catur yang Terbakar
79 Sandiwara Berdarah
80 Ratu Drama dan Surat Berdarah
81 Darah yang Terpotong
82 Bayangan yang Terkubur
83 Negosiasi Darah dan Petisi Tua
84 Pedang di Atas Tahta
85 Neraka bagi Sang Permaisuri
86 Sang Martir yang Bangkit
87 Jebakan Emas
88 Harga Sebuah Pengkhianatan
89 Mahkota Terakhir
90 Sang Emirah dan Janji Gurun (TAMAT)
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Kelahiran Kembali
2
Langkah Pertama Sayyidah
3
Mengendalikan Mesin Administrasi
4
Merumuskan Rencana Balasan
5
Sama Berbahayanya
6
Kelemahan Paling Mematikan
7
Senjata Tersembunyi
8
Racun di Balik Kotak Gaharu
9
Tumbuhnya Benih Kebencian
10
Kepanikan yang Tersembunyi
11
Pertempuran Emosional
12
Yang Berpaling dan yang Berkhianat
13
Skandal yang Disiapkan
14
Drama Roobbatun
15
Meludahkan Ancaman
16
Yang Akan Datang
17
Membeli Waktu dengan Harga Diri
18
Darah di Lantai Penjara
19
Umpan untuk Sang Emir
20
Keputusan yang Membakar Nayyirah
21
Benih Kebencian
22
Ketetapan Sayyidah Yasmeen
23
Pengadilan Sayyid Zahir
24
hakim yang tak terkalahkan
25
Sedingin Baja
26
Mencoba Menyerang Nayyirah Secara Politik
27
Bibit Masa Depan yang Kejam
28
Menjadi Janda Sebelum Menjadi Istri
29
Anak Sekecil Ini, Melawan Dunia
30
Ujian Sang Penguasa
31
Simbol Pangeran Malik
32
Politik Cerdas
33
Memicu Kekacauan Administrasi
34
Mawar Hitam di Sarang Hiu
35
Selamatkan Logistik
36
Bergerak Dalam Konvoi Senyap
37
Menghilangkan Jejak Kelembutan
38
Menyia-nyiakan Kartu Terbaik
39
Serigala Muda yang Menyamar
40
Kekacauan di Ruang Kertas Istana
41
Pesta Mawar Hitam dan Topeng Gadis Kecil
42
Kesepakatan dengan Iblis
43
Selamat Datang di Kandang Ular
44
Guru Privat yang Mematikan
45
Membunuh Cinta Demi Nyawa
46
Pilihan Sang Iblis
47
Tumbal Sang Pangeran
48
Harga Sebuah Nyawa
49
Sang Umpan dan Pangeran
50
Iblis Bernama Zayd
51
Diplomasi Ujung Pisau
52
Negosiasi Berdarah
53
Ratu, Pion, dan Utang Darah
54
Bunga Berduri dan Guru Kejam
55
Sang Guru dan Kematian Sultan
56
Deklarasi Perang
57
Pertaruhan Hati dan Takhta
58
Sang Wali dan Boneka Bernyawa
59
Pencurian, Permata, dan Pangeran Sandera
60
Pengorbanan Sang Pangeran Baper
61
Hadiah Perpisahan Sang Wali Tertinggi
62
Rantai yang Putus
63
Warisan dari Liang Kubur
64
Tamu di Sayap Matahari Terbenam
65
Darah di Lantai Marmer
66
Air Lebih Manis daripada Pengantin
67
Ratu Tanpa Mahkota
68
Dansa di Atas Bara Api
69
Poker Maut dengan Sang Sultan
70
Umpan Berdarah di Sarang Serigala
71
Umpan Berdarah dan Kebohongan Besar
72
Runtuhnya Sang Dewa Perang
73
Abi yang Kembali dari Neraka
74
Pangeran yang Mengingat Masa Lalu
75
Hantu Masa Lalu dan Pintu yang Terkunci
76
Rahasia di Balik Darah
77
Pangeran yang Mengingat Segalanya
78
Papan Catur yang Terbakar
79
Sandiwara Berdarah
80
Ratu Drama dan Surat Berdarah
81
Darah yang Terpotong
82
Bayangan yang Terkubur
83
Negosiasi Darah dan Petisi Tua
84
Pedang di Atas Tahta
85
Neraka bagi Sang Permaisuri
86
Sang Martir yang Bangkit
87
Jebakan Emas
88
Harga Sebuah Pengkhianatan
89
Mahkota Terakhir
90
Sang Emirah dan Janji Gurun (TAMAT)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!