Mengendalikan Mesin Administrasi

Udara dingin yang biasanya mengisi ruang kerja mendiang Emir Nayyirah terasa membakar pipi Sayyidah Yasmeen Azmira. Ia berdiri membelakangi singgasana yang kini kosong, menatap Khalī Tariq yang baru saja menyelesaikan perintah pertamanya: memanggil tiga Wazir utama Emirat.

Khalī Tariq kembali dengan cepat, ekspresi elang gurunnya yang biasa kini diselimuti lapisan baru berupa kewaspadaan dan kebingungan yang sangat tersamar.

“Tiga Wazir utama, Wazir Khalid, Wazir Abbas, dan Wazir Ghanim, sudah menanti di aula utama, Sayyidah,” lapor Tariq, suaranya dalam dan teredam.

Yasmeen mengangguk. Tiga nama itu adalah loyalis yang pernah bekerja untuk Jaddīnya (Kakeknya), orang-orang pragmatis yang hanya akan mengikuti kekuasaan sah. Memenangkan mereka berarti mengendalikan mesin administrasi.

Ia melangkah mendekati Tariq. “Khalī Tariq, jangan biarkan siapa pun mengganggu pertemuan ini. Termasuk Abīku.”

Tariq mengangguk, namun raut wajahnya tampak rumit.

“Hamba tahu, Sayyid Zahir sedang tidak tenang setelah wafatnya Emir. Hamba akan pastikan ia tidak mengganggu urusan administrasi istana, sesuai perintah Sayyidah,” ujar Tariq, suaranya sedikit ragu, menyeimbangkan antara menghormati ayah kandung tuannya dan menuruti perintah tuannya.

Yasmeen memiringkan kepala, mata hijaunya memancarkan kesadaran yang terlalu tua untuk anak berusia sepuluh tahun. Ia tahu keraguan Tariq. Loyalitas pada Zahir adalah tradisi; loyalitas padanya adalah darah murni Emirat. Dalam kehidupan yang lalu, Tariq selalu ragu sebelum akhirnya harus berdarah-darah di masa tuanya untuk melindungi keputusan bodoh Yasmeen.

Kali ini tidak akan ada keraguan.

“Tariq,” bisiknya, menurunkan suaranya sehingga hanya pria itu yang bisa mendengarnya, “semalam, Jaddī berkata padaku bahwa hanya darah murni Nayyirah yang bisa menyelamatkan gurun ini dari badai pasir yang diciptakan oleh mereka yang haus akan kekuasaan. Siapa yang lebih Nayyirah di antara kami?”

Pria itu menegang, kata-kata itu menyentuh sumpah terbesarnya. Zahir adalah menantu yang diizinkan menikahi puteri Emir, tetapi Yasmeen adalah darah cucu tunggal sang Emir. Darah. Itulah segalanya di Emirat gurun ini.

“Hamba hanya melayani Emir Nayyirah, dan sekarang, penerus sahnya,” ucap Tariq, nada suaranya tegas tanpa cela. Kehati-hatian telah digantikan oleh ketegasan.

“Aku tahu itu,” balas Yasmeen. Senyum kecil yang nyaris tak terlihat tersungging di bibirnya. “Bagus. Dengarkan. Sebelum kita membahas masalah pajak atau perairan, ada satu hal yang paling penting: sambutan tamu.”

“Sambutan tamu, Sayyidah?”

“Permaisuri Hazarah dari Kota Agung Azhar akan mengirimkan utusan dalam beberapa hari untuk membawaku pergi, seolah aku adalah barang yang bisa mereka beli. Mereka akan menggunakan kedok pendidikan. Abīku akan menerima mereka, mengira aku akan pergi.”

Tariq menghela napas. Semua orang tahu niat jahat itu. Mereka membutuhkan Nayyirah untuk perdamaian perbatasan. Yasmeen, sebagai calon pengantin Harith Al-Qaim, adalah kunci stabilitas politik mereka. Zahir, yang diangkat menjadi wali, tampaknya sudah bersepakat untuk menyerahkannya.

“Apa yang harus kami lakukan?”

“Ambil alih sepenuhnya urusan penyambutan utusan dari Abī. Alasan yang bisa kau gunakan adalah: Emir Jaddī datang dalam mimpiku dan berpesan bahwa hanya ia yang harus memilih cara aku dididik. Dan ia memilih aku untuk tetap di Nayyirah,” kata Yasmeen, suaranya dingin dan pasti. “Jaddī memberiku otoritas untuk menolak usulan mereka. Buat ini terlihat seperti perintah spiritual. Jangan pernah biarkan Abī terlibat lagi dalam urusan tamu istana. Jelas?”

Tariq menunduk, nyaris membungkuk di hadapan otoritas spiritual dan darah yang begitu kuat. “Hamba akan melaksanakan, Sayyidah.”

Ia melangkah mundur, ekspresinya kini tidak lagi terbagi. Di mata Yasmeen, Tariq kini sepenuhnya miliknya, tameng pertama di kehidupan ini. Ini memberinya kekuatan yang ia butuhkan.

*

Lima menit kemudian, ruang kerja itu terisi. Tiga Wazir duduk di hadapan meja besar marmer, tampak gelisah melihat seorang anak kecil memimpin mereka. Yasmeen, didampingi Umm Shalimah yang berdiri gugup, duduk di kursi besar Jaddīnya—kursi yang terlalu besar, membuat kakinya menggantung di udara.

Yasmeen mencondongkan tubuh sedikit. “Aku sudah memanggil kalian karena wasiat Jaddī. Aku tidak akan meninggalkan Nayyirah.”

Para Wazir saling pandang. Sebelum Wazir Khalid (Wazir Administrasi) sempat bicara, pintu terbuka keras.

Sayyid Zahir berdiri di ambang pintu, raut wajahnya tertekuk antara keprihatinan palsu dan amarah yang nyata.

“Apa-apaan ini, Yasmeen?” tanyanya, nada suaranya disengaja agar terdengar sabar dan kecewa. “Mengapa kau mengadakan rapat penting tanpa sepengetahuan Abī? Para Wazir ini punya pekerjaan, Nak. Jangan jadikan peninggalan Jaddīmu sebagai mainan.”

Zahir melangkah masuk, bermaksud duduk di kursi samping yang biasanya digunakan Emir saat rapat informal. Ini adalah upaya untuk merebut kendali pertemuan.

Yasmeen menatap Abīnya lurus-lurus. Peran seorang Ayah penyayang adalah topeng terbaikmu, Abī. Tapi di kehidupan ini, aku akan mencabutnya.

“Aku sedang tidak bermain, Abī,” jawab Yasmeen, suaranya tajam seperti pecahan kaca. “Dan aku mengadakan pertemuan ini sebagai Sayyidah Nayyirah, pewaris sah tunggal dari kakekku, berdasarkan hukum istana yang Abī sendiri setujui.”

Wazir Khalid tersedak. Tidak ada anak berusia sepuluh tahun yang berani berbicara dengan presisi hukum seperti itu.

“Tentu saja kau pewarisnya,” Zahir memaksakan senyum yang menakutkan. “Tapi aku adalah walimu! Dan akulah yang bertanggung jawab atas urusan politik istana selama kau belum cukup umur.”

“Lalu, mengapa urusan kedatangan Utusan Permaisuri Hazarah harus Abī yang urus?” tanya Yasmeen dingin, menyinggung langsung poin yang membuat Zahir senang—peluangnya untuk bernegosiasi dan mendapatkan imbalan dari Azhar karena berhasil 'menyerahkan' Nayyirah.

“Tentu saja, karena ini urusan diplomatik. Tugas Abī adalah menjamin keamananmu di Kota Agung dan mengatur transisinya—”

“Tidak akan ada transisi, Abī,” potong Yasmeen. Dia melompat turun dari kursi besar itu. Untuk pertama kalinya, dia menghadapi Abīnya dengan berani. “Jaddī sudah memutuskan. Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap tinggal di Nayyirah. Dan utusan itu, siapa pun mereka, akan diurus oleh Wazir Khalid, sesuai instruksiku. Tugas Abī di istana ini sebagai Wali—telah dicabut oleh darah Emirat.”

Kata-kata terakhir itu menusuk tepat ke jantung harga diri Zahir. Zahir hanyalah seorang menantu. Darahnya bukan darah Emirat. Dia mengendalikan Emirat melalui hubungan, bukan keturunan.

“Kau berani bicara begitu pada Abīmu?” Zahir bertanya pelan, matanya menyipit berbahaya. Dia meremehkan betapa cepatnya Yasmeen tumbuh dewasa, atau betapa hancurnya dirinya oleh rasa pengkhianatan di masa lalu.

“Jika Abī terus mengancam warisan yang diamanahkan Jaddī padaku, maka aku akan menganggap Abī bukan lagi Ayah, tapi musuh istana,” balas Yasmeen, suaranya lirih namun penuh ancaman. Ia menggigil sedikit di dalam, tetapi ekspresinya tak berubah.

Aku adalah Yasmeen yang dulu, tapi aku bukan lagi yang rapuh. Jika harus kehilangan hati nurani demi hidup, aku akan melakukannya.

Keheningan mematikan melingkupi ruangan itu. Wazir Abbas berdeham canggung, sementara Wazir Ghanim menghindari tatapan Zahir. Tariq berdiri kokoh di dekat pintu, tidak bergerak.

Zahir akhirnya mengerti. Dia tidak hanya kalah dalam argumen; dia kehilangan panggung dan otoritas yang ia pegang di mata para pejabat istana.

Ia menarik napas panjang, memasang kembali topengnya. “Baik. Kau berhak menentukan ke mana arah kakimu melangkah, Sayyidah . Aku hanya khawatir tentang reputasimu. Jangan sampai kau terlihat gila dan haus kekuasaan.”

Ia membungkuk kecil, penghinaan yang dingin. “Aku akan biarkan kau bermain politik dengan para Wazir. Jika kau butuh Abī, aku ada di kamar baca.”

Zahir berbalik, melangkah cepat, menyembunyikan tangannya yang terkepal. Ia tidak melihat wajah Yasmeen. Jika ia melihat, ia akan tahu bahwa di mata gadis itu tidak ada setetes pun ketakutan, hanya tekad untuk menghancurkannya.

Setelah pintu tertutup di belakang Zahir, Wazir Khalid dengan hati-hati memecah keheningan.

“Sayyidah,” katanya, “urusan Utusan Azhar adalah urusan besar. Jika Sayyidah menolak datang, kita harus siap menghadapi tekanan diplomatik. Mengalihkan tugas ini dari Sayyid Zahir akan menimbulkan konflik. Apakah ini keputusan mutlak?”

Yasmeen kembali ke kursinya. “Mutlak,” tegasnya. “Wazir Khalid, buat mereka menunggu. Alasan apa pun, entah itu kondisi cuaca, tradisi, atau pemakaman ulang Jaddīku. Ulur waktu minimal dua minggu. Katakan kepada mereka, Nayyirah tidak akan pernah diurus oleh seorang anak yang dididik di istana asing.”

Ia menoleh pada Wazir Abbas. “Kau urus keuangan dan perbatasan. Tidak ada pergerakan aset. Tidak ada pinjaman.”

Yasmeen mengeluarkan serangkaian perintah mendesak. Ia tahu apa yang harus dilakukan Wazir: mengunci Nayyirah. Para Wazir, terkesima oleh kejelasan dan kepastian dalam perintah gadis kecil itu—perintah yang bahkan lebih terperinci daripada Emir Nayyirah di tahun-tahun terakhirnya—hanya bisa mengangguk dan menulis.

Mereka telah melihat pertunjukan otoritas, dan itu adalah pertunjukan yang mengesankan.

Setengah jam kemudian, para Wazir telah pergi, menyisakan Yasmeen, Umm Shalimah, dan Khalī Tariq di ruangan sunyi itu.

“Sayyidah benar-benar… dewasa,” gumam Umm Shalimah, mengelus kepala Yasmeen.

Yasmeen bersandar ke sandaran kursi, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Kepalanya pusing, hasil dari berakting penuh amarah dan wibawa yang bukan miliknya. Aku hanya gadis berusia sepuluh tahun, Tuhan. Tapi aku harus bertarung seperti seorang ratu perang yang telah bertempur selama dua dekade.

“Khalī Tariq, kumpulkan pengawal utama,” perintahnya lirih. “Katakan pada mereka untuk bersiap siaga di sekitar istana. Malam ini akan panjang.”

“Baik, Sayyidah,” jawab Tariq, kini loyalitasnya sekuat besi gurun.

Tariq membungkuk dan segera melangkah cepat keluar, meninggalkan ruang kerja. Kepergiannya memunculkan bunyi tapak kaki yang berat dan disiplin.

Yasmeen bangkit, kakinya kini menyentuh lantai. Ia merasa ingin menyentuh lukisan Jaddīnya di dinding, mencari kekuatan terakhir. Ia melangkah menuju ambang pintu besar yang baru saja ia lalui, dan di dekat kaki pintu itu, terlipat di atas lantai marmer gelap, tergeletak selembar perkamen tipis.

Surat itu tampak tua, terlipat rapi namun sudah lusuh di sudut-sudutnya, dan tintanya berwarna ungu pudar. Itu bukan kertas resmi istana. Umm Shalimah dan Yasmeen menukik bersamaan.

Yasmeen lebih cepat. Ia meraih perkamen itu, jemarinya yang dingin menyentuh permukaan kertas yang kasar.

“Surat apa ini, Sayyidah? Apakah itu wasiat dari istana Azhar?” tanya Umm Shalimah dengan napas tertahan.

Yasmeen menggeleng. Matanya memindai tulisan tangan yang ia kenal—tulisan Zahir. Tapi kontennya membuatnya terpaku. Itu adalah surat perjanjian yang ditujukan kepada klan Al-Muntasir yang kini berada di Kota Agung.

Jantungnya mencelos ke dasar perut. Ini tidak pernah ada di kehidupan lamaku.

Di bawah tawa pudar dan basah tinta ungu yang menandakan sebuah kesepakatan rahasia, tertera tandatangan Sayyid Zahir yang ia kenali. Tepat di sampingnya, ada janji: Penyerahan hak milik sumur perak di Pegunungan Selatan.

Ia membacanya lagi, lalu menemukan kalimat kecil di bagian bawah yang nyaris tak terbaca:

“...akan diserahkan sepenuhnya, efektif tiga hari setelah keberangkatan Sayyidah ke Kota Agung Azhar.”

Napas Yasmeen terhenti. Ini bukan hanya upaya untuk menjualnya sebagai pengantin. Zahir sudah menyiapkan semuanya, secara rahasia, untuk merampok Nayyirah begitu ia pergi. Dan kali ini, rencananya jauh lebih maju dan berbahaya dari yang ia ingat.

Terpopuler

Comments

Melody Aurelia

Melody Aurelia

aku bayanginya ko lucu, bocil ngasih perintah orang2 tua

2025-11-14

1

Melody Aurelia

Melody Aurelia

mulai tegang, penuh intrik politik sepertinya ini

2025-11-14

1

Melody Aurelia

Melody Aurelia

kasian baru 10 tahun udah ngurus pemerintahan

2025-11-14

1

lihat semua
Episodes
1 Kelahiran Kembali
2 Langkah Pertama Sayyidah
3 Mengendalikan Mesin Administrasi
4 Merumuskan Rencana Balasan
5 Sama Berbahayanya
6 Kelemahan Paling Mematikan
7 Senjata Tersembunyi
8 Racun di Balik Kotak Gaharu
9 Tumbuhnya Benih Kebencian
10 Kepanikan yang Tersembunyi
11 Pertempuran Emosional
12 Yang Berpaling dan yang Berkhianat
13 Skandal yang Disiapkan
14 Drama Roobbatun
15 Meludahkan Ancaman
16 Yang Akan Datang
17 Membeli Waktu dengan Harga Diri
18 Darah di Lantai Penjara
19 Umpan untuk Sang Emir
20 Keputusan yang Membakar Nayyirah
21 Benih Kebencian
22 Ketetapan Sayyidah Yasmeen
23 Pengadilan Sayyid Zahir
24 hakim yang tak terkalahkan
25 Sedingin Baja
26 Mencoba Menyerang Nayyirah Secara Politik
27 Bibit Masa Depan yang Kejam
28 Menjadi Janda Sebelum Menjadi Istri
29 Anak Sekecil Ini, Melawan Dunia
30 Ujian Sang Penguasa
31 Simbol Pangeran Malik
32 Politik Cerdas
33 Memicu Kekacauan Administrasi
34 Mawar Hitam di Sarang Hiu
35 Selamatkan Logistik
36 Bergerak Dalam Konvoi Senyap
37 Menghilangkan Jejak Kelembutan
38 Menyia-nyiakan Kartu Terbaik
39 Serigala Muda yang Menyamar
40 Kekacauan di Ruang Kertas Istana
41 Pesta Mawar Hitam dan Topeng Gadis Kecil
42 Kesepakatan dengan Iblis
43 Selamat Datang di Kandang Ular
44 Guru Privat yang Mematikan
45 Membunuh Cinta Demi Nyawa
46 Pilihan Sang Iblis
47 Tumbal Sang Pangeran
48 Harga Sebuah Nyawa
49 Sang Umpan dan Pangeran
50 Iblis Bernama Zayd
51 Diplomasi Ujung Pisau
52 Negosiasi Berdarah
53 Ratu, Pion, dan Utang Darah
54 Bunga Berduri dan Guru Kejam
55 Sang Guru dan Kematian Sultan
56 Deklarasi Perang
57 Pertaruhan Hati dan Takhta
58 Sang Wali dan Boneka Bernyawa
59 Pencurian, Permata, dan Pangeran Sandera
60 Pengorbanan Sang Pangeran Baper
61 Hadiah Perpisahan Sang Wali Tertinggi
62 Rantai yang Putus
63 Warisan dari Liang Kubur
64 Tamu di Sayap Matahari Terbenam
65 Darah di Lantai Marmer
66 Air Lebih Manis daripada Pengantin
67 Ratu Tanpa Mahkota
68 Dansa di Atas Bara Api
69 Poker Maut dengan Sang Sultan
70 Umpan Berdarah di Sarang Serigala
71 Umpan Berdarah dan Kebohongan Besar
72 Runtuhnya Sang Dewa Perang
73 Abi yang Kembali dari Neraka
74 Pangeran yang Mengingat Masa Lalu
75 Hantu Masa Lalu dan Pintu yang Terkunci
76 Rahasia di Balik Darah
77 Pangeran yang Mengingat Segalanya
78 Papan Catur yang Terbakar
79 Sandiwara Berdarah
80 Ratu Drama dan Surat Berdarah
81 Darah yang Terpotong
82 Bayangan yang Terkubur
83 Negosiasi Darah dan Petisi Tua
84 Pedang di Atas Tahta
85 Neraka bagi Sang Permaisuri
86 Sang Martir yang Bangkit
87 Jebakan Emas
88 Harga Sebuah Pengkhianatan
89 Mahkota Terakhir
90 Sang Emirah dan Janji Gurun (TAMAT)
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Kelahiran Kembali
2
Langkah Pertama Sayyidah
3
Mengendalikan Mesin Administrasi
4
Merumuskan Rencana Balasan
5
Sama Berbahayanya
6
Kelemahan Paling Mematikan
7
Senjata Tersembunyi
8
Racun di Balik Kotak Gaharu
9
Tumbuhnya Benih Kebencian
10
Kepanikan yang Tersembunyi
11
Pertempuran Emosional
12
Yang Berpaling dan yang Berkhianat
13
Skandal yang Disiapkan
14
Drama Roobbatun
15
Meludahkan Ancaman
16
Yang Akan Datang
17
Membeli Waktu dengan Harga Diri
18
Darah di Lantai Penjara
19
Umpan untuk Sang Emir
20
Keputusan yang Membakar Nayyirah
21
Benih Kebencian
22
Ketetapan Sayyidah Yasmeen
23
Pengadilan Sayyid Zahir
24
hakim yang tak terkalahkan
25
Sedingin Baja
26
Mencoba Menyerang Nayyirah Secara Politik
27
Bibit Masa Depan yang Kejam
28
Menjadi Janda Sebelum Menjadi Istri
29
Anak Sekecil Ini, Melawan Dunia
30
Ujian Sang Penguasa
31
Simbol Pangeran Malik
32
Politik Cerdas
33
Memicu Kekacauan Administrasi
34
Mawar Hitam di Sarang Hiu
35
Selamatkan Logistik
36
Bergerak Dalam Konvoi Senyap
37
Menghilangkan Jejak Kelembutan
38
Menyia-nyiakan Kartu Terbaik
39
Serigala Muda yang Menyamar
40
Kekacauan di Ruang Kertas Istana
41
Pesta Mawar Hitam dan Topeng Gadis Kecil
42
Kesepakatan dengan Iblis
43
Selamat Datang di Kandang Ular
44
Guru Privat yang Mematikan
45
Membunuh Cinta Demi Nyawa
46
Pilihan Sang Iblis
47
Tumbal Sang Pangeran
48
Harga Sebuah Nyawa
49
Sang Umpan dan Pangeran
50
Iblis Bernama Zayd
51
Diplomasi Ujung Pisau
52
Negosiasi Berdarah
53
Ratu, Pion, dan Utang Darah
54
Bunga Berduri dan Guru Kejam
55
Sang Guru dan Kematian Sultan
56
Deklarasi Perang
57
Pertaruhan Hati dan Takhta
58
Sang Wali dan Boneka Bernyawa
59
Pencurian, Permata, dan Pangeran Sandera
60
Pengorbanan Sang Pangeran Baper
61
Hadiah Perpisahan Sang Wali Tertinggi
62
Rantai yang Putus
63
Warisan dari Liang Kubur
64
Tamu di Sayap Matahari Terbenam
65
Darah di Lantai Marmer
66
Air Lebih Manis daripada Pengantin
67
Ratu Tanpa Mahkota
68
Dansa di Atas Bara Api
69
Poker Maut dengan Sang Sultan
70
Umpan Berdarah di Sarang Serigala
71
Umpan Berdarah dan Kebohongan Besar
72
Runtuhnya Sang Dewa Perang
73
Abi yang Kembali dari Neraka
74
Pangeran yang Mengingat Masa Lalu
75
Hantu Masa Lalu dan Pintu yang Terkunci
76
Rahasia di Balik Darah
77
Pangeran yang Mengingat Segalanya
78
Papan Catur yang Terbakar
79
Sandiwara Berdarah
80
Ratu Drama dan Surat Berdarah
81
Darah yang Terpotong
82
Bayangan yang Terkubur
83
Negosiasi Darah dan Petisi Tua
84
Pedang di Atas Tahta
85
Neraka bagi Sang Permaisuri
86
Sang Martir yang Bangkit
87
Jebakan Emas
88
Harga Sebuah Pengkhianatan
89
Mahkota Terakhir
90
Sang Emirah dan Janji Gurun (TAMAT)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!